Klub Pemikat Hati

Klub Pemikat Hati
Teledor Bilal


__ADS_3

Fastabi keluar kamar setelah mendengar suara ayah dan ibunya di ruang tamu. Tidak lama itu dirinya mendengar namanya dipanggil oleh ibunya.


Dirinya tidak melihat ayah ibunya semenjak pulang berolahraga kemarin.


Ditambah semalam dirinya tidak keluar kamar sama sekali.


" Abi! Sini, sini, sini! Duduk disini!" Ibunya menepuk-nepuk sofa disampingnya.


Fastabi menuruni tangga dengan sehelai handuk yang masih tersampir di bahunya untuk mengelap rambutnya yang masih basah.


" Ada apa bu?"


" Isss! Kau ini ya! Kemarin kami nunggu lama tapi tidak pulang-pulang. Dihubungi malah tidak diangkat-angkat"


" Maksudnya?"


" Lah, waktu itu kan sudah diberitahu bahwa kita akan pergi untuk menemui kiai"


Fastabi segera mengerti maksud ibunya itu.


" Lihat ini" Ibunya memperlihatkan foto seorang gadis di ponselnya. Fastabi malah nyaris terbahak melihat foto itu.


" Kenapa mukanya seperti ini sih? Ini ya orangnya? Pilihan ayah dan ibu"


Nyonya Muiz melihat lagi foto itu di ponselnya. Alisnya mengerut.


" Habis dia gerak-gerak pas ibu foto. Kok dia di foto ini malah melongo sih?"


" Ibu kau tidak ahli soalnya" Celetuk tuan Muiz sembari memindahkan chanel TV yang barusan dirinya tonton.


" Kalau mau ngambil gambar sebaiknya ibu menyuruh Rifa'i saja"


" Nih ambil. Baca dengan penuh penghayatan! Punya kau sudah ibu buat berdua dengan adik kau malam kemarin karena ibu pikir pasti kau tidak mau membuatnya" Nyonya Muiz menyodorkan lembaran kertas kepada Fastabi.


" Apa ini?" Fastabi mengeja. Lalu menjentikkan telunjuknya ke ujung kertas itu


" Berhentilah mencampuri urusanku yang satu ini bu saat ini aku belum siap menikah. Lagi pula aku juga punya kriteria" Fastabi melongos dan beranjak meninggalkan ibunya.


" Fastabi! Kok ngomong seperti itu sih? Bukannya mau bersyukur sudah dibantu. Mau kau jadi bujang lapuk, hah? Hoh, bujang lapuk! Sini dulu dengarkan ayah ini bicara" Kali ini ayahnya yang balas kesal dengannya.


Fastabi hanya diam menaiki tangga. Dia semakin muak. Bahkan ibunya sudah ikut-ikutan dan sudah bersengkongkol dengan ayahnya.


Mereka terlalu ikut campur.


Bukan hanya Lasti saja yang sudah mereka intimidasi. Ada banyak lagi jika mereka tidak suka walau belum tentu jelas adanya.


Selain itu mereka juga sudah menjodohkannya dengan beberapa orang gadis pilihan mereka sebelum-sebelumnya.


Dan mereka tetap mencobanya sampai detik ini seperti dengan si Siti, Siti apa tadi namanya. Siti Hajar apa Siti Sarah tadi namanya. Dengus Fastabi.


Waktu dirinya ingin menikah, mereka malah melarangnya dan terlalu pemilih soal menantu. Kali ini saat dirinya benar-benar ingin fokus dengan bisnisnya malah diusik lagi dengan hal-hal seperti itu segala.

__ADS_1


...🌷🐝...


" Bu" Panggil Bilal, adik bungsu Fastabi yang waktu itu sedang mencari sesuatu di meja di sudut ruang.


" Emh?" Sahut nyonya Muiz sembari memijit-mijit kepalanya sendiri. Dirinya masih belum beranjak dari sofa semenjak berbicara dengan Fastabi tadi.


" Bu"


" Iya Bilal" " Yaaaah, HP kamu berdering nih"


" Tolong angkat bu" Jawab Tuan Muiz yang waktu itu sedang memanaskan mobilnya di garasi.


" Nggak ah sungkan soalnya pak kiai yang nelpon" Nyonya Muiz menyerahkan ponsel tersebut pada suaminya.


" Bu "


" APAAAA?!" " Kau suka sekali menaikan tensi darah ibu ini Bilal!"


Bilal terdiam. Kali ini memperlihatkan secarik kertas yang ditemuinya di atas meja.


" Bu, ini kan riwayat hidup bang Fastabi semalam. Kenapa masih ada disini?"


" Apanya?"


" Riwayat hidup bang Fastabi yang kita buat malam kemarin"


" Salinannya ya?" Tanya nyonya Muiz sambil mendekati Bilal.


" Oh. Berarti ibu memberikan amplop kosong dong!" Kini nyonya Muiz malah terbahak.


" Jadi ibu kasih yang di amplop itu?"


" Ya iyalah"


" Aduh, di situ ada tugasku masalahnya bu"


" Yang bener? Makanya periksa dulu. Tapi biarlah dulu palingan si Sarah baca makalah kau. Sini kertas itu biar ibu suruh ayah ngasih ke pak kiai"


Bilal malah menggaruk kepalanya.


" Bu, kalian nulis apa di riwayat hidup Abi? Yang diberikan dengan Sarah" Tanya tuan Muiz sembari meletakan ponselnya kembali ke atas meja.


" Anu yah, tugas kuliah ku" Bilal menjawab.


" Aduh kau ini Bilal. Belajarlah yang teliti. Ibu ini juga, tidak pakai ngecek segala. Pantesan pak kiai tadi ngomong" Keluh tuan Muiz.


" Nanya bagaimana ya?" Tanya Bilal.


" Kata pak kiai, isi amplop itu bukan riwayat hidup abang kau"


Fastabi menuruni tangga. Seketika ibu, ayah, dan adiknya diam. Ibunya bahkan mengalihkan topik. Padahal di pintu kamar tadi dirinya sampai cekikikan mendengar keributan yang ditimbulkan oleh adiknya.

__ADS_1


Moodnya sudah mulai membaik sehingga Fastabi memutuskan untuk pergi ke PT sawitnya seorang diri dengan mengunakan jeep kesayangannya.


Sebelumnya dirinya pura-pura bertanya dengan ibunya mengapa ada keributan.


" Tidak apa-apa bi. Biasa adik kau ini teledornya minta ampun. Tugas kuliahnya entah kemana"


Fastabi mendengus sembari melihat Bilal yang sedang uring-uringan kesana kemari.


...🌷🐝...


Fastabi menghubungi Rifa'i setelah sampai di tujuan untuk menemuinya. Sahabatnya yang akhir-akhir ini menjadi kaki tangannya itu tiba sekitar tiga puluh menit kemudian sembari membawa kue onde-onde pesanan Fastabi.


Fastabi sudah menunggunya di sebuah bangku di bawah batang sawitnya yang semakin meninggi.


" Ku dengar kau akan dijodohkan dengan santri pesantren kemarin?" Rifa'i langsung merundungnya dengan pertanyaan setelah menutup kasar pintu mobil tuanya.


" Issss kau ini!"


" Tidak apa-apa joook! Memang sudah waktunya"


" Baru akan dita'arufkan" Balas Fastabi yang tentunya sedikit kesal.


" Kenapa? Tidak suka dengan yang satu ini?"


" Entahlah. Wajahnya saja aku belum tau"


" Sudahlah ajak Palwina saja menikah. Saya sudah bosan menyampaikan kirim salam darinya. Lagian anak kades itu lumayanlah, mana dokter pula! Enaklah kalau aku mau cabut gigi. Kan bisa gratis" Rifa'i menepuk-nepuk punggung Fastabi.


" Kau aja ajak anak gadis Haji Sulai menikah. Aku yang malah sudah bosan melihat motor kau terparkir di depan rumahnya setiap kali aku lewat kesini. Jangan mau enak-enak gratis doang ya "


" Idiiiiih. Aku megang tangannya juga nggak pernah"


" Takut ya?"


Rifa'i terbahak "Haji Sulai galak joook! Setiap ngapel Zubaidah saja dia ikut-ikutan duduk di ruang tamu. Padahal setiap kesana sudahku beli gula kopi, rokoknya"


" Itu artinya kode untuk segera menikah"


Rifa'i nyengir " Ngumpul duit dulu. Siapa tau mintanya besar" " Kau dululah yang nikah. Biar aku dengan Zubai bisa jadi penyambut tamu"


Fastabi mendengus.


" Apa masih patah hati karena Uly?"


" Haha. Bisa aja! Belum bertemu yang cocok aja"


" Apa karena Lasti?"


" Menurut kau?"


" Iya ya? Wah, kau memang parah jok! Banyak cewek cantik, bahenol lainnya. Ini, istri orang yang kau kenang! Aku saja andaikan duda atau bujang tua, tidak mau sama dia"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2