KUMPULAN CERITA HOROR...!!!

KUMPULAN CERITA HOROR...!!!
TEROR SANG PENUNGGU...!!!!


__ADS_3

#Teror_Sang_Penunggu...!!!


⚠️Kisah nyata seorang saudara, hanya saja nama semua tokoh dalam cerita saya samarkan⚠️


***


Pagi itu Akia bersiap untuk berangkat kerja, dia seorang anggota Damkar alias Pemadam Kebakaran di kotanya. Tempatnya cukup jauh dari rumah, sementara motornya juga tengah diservice. Jadilah dia meminta bantuan ke kakaknya. Indira.


“Jadi nganterin, Mbak?” tanya Akia sambil bersiap.


Sementara itu yang ditanya menganggukkan kepala. “Jadi. Sekalian Mbak berangkat juga.”


“Ayo!” ajak Indira.


Keduanya segera bergegas menaiki motor seusai berpamitan dengan orang tua.


“Pulang nanti sekalian jemput ya, Mbak!” ucap Akia setengah berteriak. Takut suaranya teredam bunyi berisik jalanan di pagi hari.


Indira terlihat menganggukkan kepala sambil terus menyetir.


“Tapi, nanti aku chat juga. Mastiin, Mbak bisa jemput atau enggak,” sambung Akia yang lagi-lagi hanya mendapat anggukkan dari kakaknya.


Dalam hati Akia merasa heran dengan tingkah kakaknya yang dari tadi diajak mengobrol sama sekali tak bersuara, hanya menjawab dengan gelengan atau anggukan. Cukup aneh, tapi Akia berusaha berpositif thinking. Mungkin, karena tiba-tiba mood kakaknya buruk? Atau memang karena sedang fokus menyetir–meski biasanya tetap menjawab dan ceria.


“Nanti jemput ya, Mbak,” ucap Akia kembali mengulang kalimatnya saat di atas motor tadi. Takut kakaknya tidak terlalu jelas mendengar ucapannya.


Indira mengacungkan jempolnya. “InsyaAllah. Kalo Mbak udah selesai dan nggak sibuk, bakal tak jemput.”


Akia yang melihat ekspresi ceria itu mengernyitkan dahi, berbeda sekali dengan kakaknya tadi saat berkendara motor.


“Kenapa?” tanya Indira bingung melihat ekspresi adiknya.


“Eh, nggak, Mbak. Nggak papa,” jawab Akia sambil nyengir. Lalu meraih tangan kakaknya untuk dia cium.


“Aku kerja dulu, Mbak hati-hati ke tempat kerjanya,” sambung Akia. Lalu keduanya berpisah untuk melakukan pekerjaan masing-masing.


Akia yang baru saja sampai di tempat kerjanya, baru menyadari bahwa hijabnya sudah berantakan karena ditiup angin saat naik motor tadi. Hingga akhirnya gadis berumur 21 tahun itu memutuskan untuk ke kamar mandi.


Sebelum memasuki kamar mandi dari tempat kerja yang baru beberapa hari ini dia tempati, Akia berdeham kecil. Seolah memberikan salam permisi saat akan memasuki kamar mandi.


Sangat sepi, tidak ada orang lain selain Akia di dalam kamar mandi tersebut.


Akia dengan segera berkaca, membenarkan hijabnya. Melepas jarum pentul pada dagu, lalu menyelipkan beberapa rambut yang keluar dari hijab. Setelah memastikan tidak ada lagi rambut yang keluar dari sela-sela hijabnya, dia segera kembali memasang jarum pentul pada bagian dagu.

__ADS_1


Setelah dirasa benar, Akia bergegas keluar kamar mandi. Mengembuskan napas kasar, seolah lepas dari suasana mencekam. Kemudian gadis itu segera memulai pekerjaannya.


Sore pun tiba, Indira menjemput adiknya. Keduanya segera pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, om Akia terus menatapnya. Seolah ada sesuatu yang ganjil, apalagi Akia tahu kalau adik dari ibunya itu merupakan indigo¹.


“Kenapa, Om?” tanya Akia bingung.


“Nggak. Tapi, kamu harus tetep jaga diri ya, habis ini,” jawab omnya yang makin membuat Akia bingung dan sedikit merasa takut.


Hingga malam pun tiba, Akia memutuskan untuk istirahat di kamar. Omnya sendiri yang memang masih di rumahnya bersama sang istri, merasakan sesuatu yang ganjil. Dia putuskan untuk keluar rumah.


Betapa terkejutnya om Akia saat melihat segerombolan makhluk berbulu, mata merah dengan kuku-kukunya yang sangat tajam dan panjang. Tengah berdiri di depan rumah, sekitar ada lima makhluk dengan ukuran yang berbeda–seperti sebuah keluarga.


Hati om Akia pun tidak enak, beliau memberanikan diri untuk mengajak berkomunikasi sang makhluk.


“Kenapa ada di sini?” tanya om Akia lewat hati.


Namun, tak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Hanya terus memandangi ke dalam rumah dengan tatapan tajam.


“Tolong, jangan mengacau atau menyakiti yang ada di sini,” sambung om Akia. Lalu masuk ke dalam rumah, beliau bertekad untuk memberitahu keponakannya untuk membaca beberapa doa dan surat.


Namun, sayangnya om Akia lupa sampai besok pagi. Di mana Akia yang libur kerja memutuskan untuk duduk di teras depan rumah sambil bermain handphone.


Begitu padangan mata Akia lepas dari handphone, dia melihat lima makhluk berbulu lebat dengan badan besar tengah menatap nyalang ke arahnya. Mereka secara bersamaan berusaha untuk meraih leher Akia.


Kuku-kukunya yang tajam dan panjang membuat Akia ketakutan, dia menjerit sekuatnya sambil berusaha melepaskan diri dari lima makhluk mengerikan tersebut.


Hingga, pada saat Akia sibuk menghalangi tangan-tangan mereka. Salah satu dari makhluk tersebut dengan sekuat tenaga melayangkan puk*ulan ke perut Akia.


Sontak Akia terkejut bersamaan dengan rasa sakit dan nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh dan syarafnya. Akia menangis, menjerit sekuat tenaga. Membuat para tetangga bergegas keluar rumah dan melihat Akia yang tengah memegangi perut dengan tangis meraung.


“Akia, istighfar!” ucap sang Ibu sambil memapah sang anak ke rumah pakde Akia yang jaraknya hanya dua rumah dari rumah mereka.


Ibu Akia terus memapah Akia yang masih bertingkah ketakutan bersama dua sepupunya.


Saat sampai di rumah Pakde, Akia segera diperiksa.


“Sudah, enggak papa. InsyaAllah habis ini sembuh, jangan lupa buat terus berdoa,” ucap Pakde menenangkan setelah berhasil memeriksa.


Kemudian Pakde tersenyum tipis. “Nggak papa, tadi ada yang mampir sebentar. Udah pergi sekarang,” sambung pakde lirih ke arah ibu Akia.


Akia yang sudah lebih tenang meski masih bungkam segera di bawa ke dalam rumah. Dia enggan menceritakan kejadian yang baru saja dia alami.

__ADS_1


Selanjutnya Akia dirawat di rumah sakit seusai menjalani pemeriksaan karena mengeluh perutnya sakit dan terus sama muntah.


Hari berikutnya om Akia datang menjenguk setelah dia keluar dari rumah sakit, apa yang beliau khawatir benar-benar terjadi.


“Om mau tanya, kemarin kamu didatangi sosok berbulu dengan kuku-kuku yang panjang?” tanya om Akia lirih.


Keponakannya itu terkejut, segera menganggukkan kepala.


“Ada sekitar lima makhluk 'kan?” tanya om Akia yang lagi-lagi diangguki keponakannya.


Lalu, segeralah om Akia menceritakan semua apa yang beliau lihat malam itu.


“Kamu di tempat kerja ngapain?” Om Akia kembali bertanya.


Akia diam sejenak, mengingat-ngingat.


“Aku enggak aneh-aneh, aku cuma masuk kamar mandi buat benerin hijab pagi itu,” jawab Akia merasa tidak pernah melakukan hal-hal aneh.


“Udah permisi?”


“Aku berdeham, lalu membenarkan hijab. Sehabis itu segera keluar.”


Om Akia terdengar menghela napas. “Lain kali uluk salam (memberi salam). Jangan cuma deham, mereka merasa marah karena kedatangan kamu yang tiba-tiba, bisa saja mereka sedang kumpul atau bagaimana. Lalu, kamu masuk tanpa mereka ketahui. Apalagi, mereka itu mirip dengan kita, memiliki keluarga, kelompoknya masing-masing,” jelas om Akia membuat gadis itu terdiam.


“Dia juga aneh banget, Om. Pagi itu wajahnya datar banget, tumben juga enggak ngajak ngobrol pas bonceng motor,” celetuk Indira yang baru saja mendengarkan penjelasan Om.


Akia sontak menatapnya bingung. “Hah? Bukannya Mbak yang lebih banyak diem? Aku sepanjang jalan ajak obrol, Mbak. Tapi, Mbak cuma angguk-angguk sama geleng-geleng kepala. Mbak keliatan beda.”


Indira sama bingungnya, kedua kakak beradik itu saling menatap.


“Sudah, sudah. Nggak papa, yang penting sekarang Akia sudah mendingan. Nanti jangan lupa buat makan dan tetep jaga kesehatan, dari dokternya juga diperingatkan nggak boleh makan pedes-pedes dulu!” ucap om Akia sambil beranjak dari duduk dan pamit untuk kembali menyusul istri dan anaknya yang tengah berada di ruang keluarga.


Indira menepuk pelan punggung tangan adiknya seraya berkata, “Jangan pernah ulangi lagi, lain kali harus uluk salam seperti kata om. Kamu tau 'kan, kita hidup di dunia ini bukan hanya ada manusia, tapi juga berdampingan sama mereka.” Indira menggerakkan kedua tangannya seperti tanda petik. “Mereka juga punya kehidupan sama seperti kita, tentunya akan marah jika merasa terusik. Jadi, alangkah baiknya kita harus tetap saling menghargai dan menghormati,” lanjut Indira.


Akia mengangguk setuju, dia berjanji untuk lebih hati-hati dalam bertindak. Agar semuanya tetap merasa nyaman dan tidak ada yang terganggu, diam-diam Akia meminta maaf dalam hati atas perilaku dia kemarin yang membuat 'mereka' marah.


***


Catatan:


- Indigo : karakter manusia yang dicirikan dengan kecerdasan dan kemampuan spiritual yang tinggi, seperti dalam melihat masa depan, melakukan telepati, berkomunikasi dengan alam ghaib, dan membaca pikiran.


- deham : tiruan bunyi seperti batuk kecil tertahan.

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca. InsyaAllah saya akan hadir kembali dengan cerpen-cerpen horor, entah itu dari kisah nyata, atau dari imajinasi saya sebagai. 🌻


__ADS_2