
KONTRAKAN YANG HOROR ( part 1 )
Sebut saja namanya Mas Wardi dan juga istrinya yaitu Mba Yuna, mereka adalah sepasang suami istri yang baru beberapa hari menikah. Setelah melangsungkan pernikahannya, mereka pun memutuskan untuk tinggal di sebuah kontrakan.
Awal cerita.
Hari itu adalah hari pertama Mas Wardi dan juga istrinya menghuni sebuah kontrakan yang berada di lingkungan yang sangat padat di ibu kota. Kontrakan itu milik sepasang suami-istri yang juga tinggal di daerah tempat yang sama. Letak bangunan kontrakan tersebut terletak di tepi jalan kampung yang sangat sempit dengan penduduk yang sangat padat dan juga ramai.
Bangunan kontrakan itu berdiri dengan bangunan dua lantai, masing-masing bangunan tersebut memiliki dua kamar, yaitu dua kamar di lantai atas dan dua kamar di lantai bawah. Karena berada di wilayah yang sangat padat penduduk, masing-masing kamar berdesain sangat sederhana yang terdiri dari ruang depan, dua kamar tidur, dapur dan juga ruangan kamar mandi.
Ruangan di lantai atas masih kosong tidak berpenghuni, sedangkan ruangan di lantai bawah di huni oleh keluarga Mas Wardi dan juga istrinya Mba Yuna. Sebenarnya ruangan kontrakan tersebut tidak terlalu srek di huni oleh Mas Wasdi dan juga istrinya, tapi karena kondisi ekonomi yang belum mampu, akhirnya mereka terpaksa memutuskan untuk mengontrak di tempat tersebut.
Lagi pula harga sewa kontrakan tersebut tergolong murah dan juga letak kontrakannya tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya saat ini, ya lumayan sih, itung-itung mengirit ongkos, katanya. Hari-hari pertama di kontrakan tersebut mulai di lalui oleh Mas Wardi juga Mba Yuna istrinya. Tetangga sebelah kontrakannya, sebut saja namanya Ibu Halimah dan suaminya yaitu Pak Candra pun sangat ramah, jadi selama Mas Wardi pergi bekerja, istrinya tak sungkan berkunjung ke tetangga sebelahnya tersebut untuk sekedar menghilangkan rasa bosan disaat suaminya pergi bekerja.
Tak terasa. Beberapa minggu telah berlalu, kini Mas Wardi dan juga istrinya telah terbiasa dengan lingkungan barunya di kontrakannya tersebut dan mereka pun mulai tampak betah tinggal disana. Hingga pada suatu malam tepatnya di malam musim penghujan, malam itu entah kenapa Mba Yuna tidak bisa tertidur sedangkan suaminya Mas Wardi sudah sedari tadi dia terlelap tidur, mungkin karena kecapean setelah seharian tadi kerja.
Jam di dinding kamar telah menunjukan pukul 00:23 tengah malam, namun dirinya entah kenapa tidak bisa tertidur, sedangkan di luaran hujan cukup deras, sesekali terdengar suara petir menyambar. Mba Yuna melirik kembali pada suaminya, dia masih tampak tidur pulas, ia merasakan tenggorokannya kering, hingga dirinya pergi menuju dapur untuk mengambil air minum. Tapi,
Setibanya di dapur, ketika dirinya tengah meneguk air minum, tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas seperti suara dentuman di tembok, suara itu seperti suara kepalan tangan yang sedang memukuli lantai dan kemudian di susul suara seperti perabotan yang berjatuhan disana. Sementara itu dirinya hanya terdiam sejenak sambil menyimak dan selang kemudian suara itu pun menghilang.
Mba Yuna pun berlalu dari dapur untuk kembali ke kamar, tapi baru saja beberapa langkah dari ambang pintu dapur, terdengar kembali olehnya suara,
DUK... DUK... DUK...
Suara dentuman dari lantai atas itu kembali terdengar dan kali ini suaranya semakin keras dari sebelumnya. Sambil melanjutkan langkahnya ia sempat memandangi langit-langit yang terdapat suara dentuman tersebut, dia merasa yakin bahwa suara itu berasal dari salah satu kamar yang berada di lantai atas yang kini berada tepat di atas dirinya berdiri saat ini.
Mendengar hal demikian, ia pun mempercepat langkahnya menuju kembali ke kamar, dan setibanya disana dengan terpaksa Mba Yuna membangunkan suaminya dari tidurnya.
"Maaf, aku membangunkanmu Mas, aku takut."
__ADS_1
"Takut kenapa sayang?."
"Iii-itu Mas, ada suara dentuman dari lantai atas Mas, coba Mas dengar!."
Mas Wardi yang masih tampak mengantuk, dia sejenak terdiam untuk memastikan suara dentuman yang di katakan oleh istrinya barusan, ia pun mendengarnya suara dentuman tersebut membuat dirinya pun bangkit dan beranjak dari kamar menuju luar ruangan sambil menatap pada langit-langit yang terdapat suara dentuman tersebut disana.
"Suara apa itu ya?."
DUK... DUK... DUK...
Mas Wardi dan istrinya hanya terdiam mendengarkan secara seksama pada suara dentuman tersebut sambil memandangi langit-langit, dan kemudian,
BRAKKKKK...
Terdengar suara pintu seperti terbanting dari ruangan lantai atas tersebut membuat sontak istrinya menjerit dan merangkul pada tubuh Mas Wardi.
"Mas, aku takut."
"Tikus apaan sih Mas, masa suaranya kayak begitu, Mas ini ada-ada saja."
Mas Wardi mencoba menenangkan istrinya meski dalam hatinya ia pun merasa takut, namun dia sadar bahwa dirinya adalah seorang laki-laki yang tentunya harus berani dan mencoba untuk tetap tenang menghadapi kejadian seperti ini. Sampai beberapa saat kemudian, suara-suara itupun hilang dan mereka pun kembali kedalam kamarnya untuk kembali tidur dan bangun di pagi hari.
Pagi harinya, seperti biasa seusai sarapan pagi, Mas Wardi langsung pergi ketempat kerjanya (dia adalah seorang mandor di bangunan), sementara istrinya se-usai beres-beres, ia pergi ke tetangga kontrakannya yang berada di sebelah itu yaitu Ibu Halimah dan ia pun menceritakan pengalaman anehnya di malam tadi pada Ibu Halimah tersebut, membuat ia pun mengernyitkan keningnya mendengar cerita itu.
"Masa sih Mba, mungkin itu suara tikus kali."
"Apa Ibu selama tinggal di kontrakan ini, pernah mendengar yang aneh-aneh juga seperti yang saya alami, Bu?."
"Belum pernah sih Mba."
__ADS_1
Singkat cerita.
Dimalam berikutnya,
DUK... DUK... DUK...
BRUKKKK...
Suara dentuman dari lantai atas tersebut pun kembali terulang, kali ini disusul oleh suara seperti ada sesuatu yang rubuh disana. Kebetulan di malam tersebut mereka tengah asyik menonton acara televisi hingga larut malam. Mendengar lagi hal demikian, kali ini membuat Mas Wardi pun merasa jengkel, ia pun mengambil senter dan kemudian ia pergi kelantai atas demi mencari tahu sebenarnya suara apa itu disana.
Perlahan-lahan Mas Wardi berjalan mengendap-endap sambil mengarahkan senter yang ia genggamnya kesana-kemari, setelah dirinya berada di ruangan lantai atas tersebut. Suasana di ruang lantai atas tampak gelap gulita dan terasa sangat begitu lembab dan juga tercium bau apek, sepertinya ruangan tersebut sudah lama tidak ada yang menghuni, lantainya pun tampak kotor dengan debu-debu halus yang tampak bertebaran disana.
Mungkin karena ruangan tersebut tidak berpenghuni, jadi semua lampu di ruangan itu pun sengaja dimatikan oleh sang pemilik kontrakan tersebut. Perlahan-lahan Mas Wardi menghampiri sebuah kamar yang disana masih terdengar ada suara dentuman yang suaranya kini kadang terdengar kadang menghilang. Namun setibanya di balik pintu kamar tersebut, suara dentuman itupun tidak terdengar lagi.
Setelah beberapa waktu menunggu, namun suara dentuman itu tak juga lagi terdengar. Akhirnya Mas Wardi pun memberanikan diri meraih gagang pintu kamar tersebut berniat untuk membukanya, tapi nihil, pintu kamar tersebut ternyata dikunci. Kemudian Mas Wardi menggeserkan kursi yang kebetulan berada disana, ia pun mencoba mengintip dari lubang angin yang berada di atas pintu kamar tersebut dengan di terangi cahaya dari senternya.
Mas Wardi terus melihat-lihat kesana-kemari dari balik lubang angin tersebut, tapi di dalam sana tidak ada apa-apa, kamar itu tampak kosong. Tapi setelah beberapa menit kemudian, ketika ia mengarahkan senternya kesalah-satu sudut, cahaya senternya seperti menangkap sesuatu disana. Terlihat seperti sebuah lemari kecil tampak rubuh tergeletak disudut ruangan kamar tersebut.
Melihat itu, Mas Wardi pun merasa penasaran, dirinya mencoba melihat lebih teliti tapi pandangannya terbatas karena hanya bisa melihat dari lubang angin yang ukurannya pun juga sangat terbatas. Setelah yakin tidak ada sesuatu yang mencurigakan di dalam kamar tersebut, akhirnya dia pun kembali ke lantai bawah.
"Gimana Mas? Ada apa sebenarnya disana?."
Sesampainya di ruangan bawah, ia di tanyai oleh istrinya yang masih duduk di sofa menonton televisi.
"Gak ada apa-apa." jawab Mas Wardi pendek.
Dalam hatinya berkecamuk penuh dengan tanya, sebenarnya suara apa yang selalu berdentum-dentum di lantai atas tersebut, masih belum terpecahkan. Namun setelah malam itu, suara dentuman tersebut tidak pernah terdengar lagi, bahkan hingga beberapa waktu kedepannya pun suara dentuman tersebut tidak pernah terdengar lagi dan Mas Wardi pun tidak ambil pusing dengan kejadian yang terjadi saat itu.
__ADS_1
Bersambung.