
"Rina,,,?!"
" Rina,,!! kau bisa mendengarku?!" terdengar suara Hiro samar - samar memanggil ku.
" Tenanglah,,,?! tolong lepaskan tangannya,,?!" kata suster sambil mendorong Brankar menuju ruang operasi.
" Rina,,,?!" terdengar suara Hiro samar ditelinga ku.
"BLAM,,,," suara pintu tertutup.
" Hiro,,?!" panggil mama dan papaku.
" bagaimana Rina? mana dia?" tanya mama panik.
" baru saja masuk ruang operasi,,," jawab Hiro.
" papa..! bagaimana ini?!" kata mama sambil menangis.
" kalau tau begini aku gak akan izinin dia keluar rumah sakit, seandainya aku menemaninya,,,?!" kata mama sambil menagis tersedu - sedu.
"ma, tenang dulu,?!" kata papa.
" bagaimana kalau sampai terjadi apa - apa sama Rina?!" kata mama.
mendengar kata-kata itu Hiro semakin terpukul dan khawatir. Hiro yang tak tenang pun keluar dan duduk di taman rumah sakit. Yang ada dipikirannya hanya bayangan ku.
" sepertinya operasinya akan berlangsung lama,,," kata Gio.
Hiro tersadar dari lamunannya saat mendengar perkataan Gio.
__ADS_1
" kamu bisa masuk angin kalau tak pake jaket,,?!" kata Mia.
" tak masalah, ini gak sebanding dengan sakit yang dirasakannya,," kata Hiro.
" bodoh, apa gunanya kamu sakit,,?!" kata Gio.
" benar itu cuma akan membuat nona kelinci sedih,," kata Mia.
"andai saja aku lebih berhati-hati dengan kondisi tubuhnya,,," kata Hiro.
"dan, lebih memahami penyakitnya. aku pasti menyadari perubahan sekecil apapun dan tak kan begini jadinya," kata Hiro merasa bersalah.
" kamu tidak salah Hiro, ini salah kami. karna kami yang mengundang kalian.?!" kata Mia.
" aku sudah berjanji pada bibi, kalau aku tidak akan menemui Rina selama enam tahun sampai berhasil jadi dokter.. dan Rina juga mengerti janjiku itu tanpa menanyakan alasannya,,,,"kata Hiro terdiam sesaat.
" tapi,,, a,,aku sebenarnya sama sekali tidak yakin...?!" lanjut Hiro. " aku takut kalau kejadian seperti ini ada lagi, aku begitu khawatir sampai rasanya tak bisa meninggalkannya."
" bagaimana kalau,,, ka,, kalau dia sampai meninggal,," kata Hiro ketakutan.
" BODOH!!! KAMU BICARA AAPA,?!" teriak Gio.
" JANGAN BICARA YANG TIDAK-TIDAK!!! SEPERTI BUKAN HIRO SAJA!!!" teriak Mia.
" padahal nona kelinci sedang berjuang, kenapa Hiro malah mengatakan hal sekejam itu?!" kata Mia marah.
" kalau kamu setakut itu, sekalian saja putuskan dia!! BODOH!!" teriak Gio marah.
" gak perlu putus, kan Bodoh!!" Mia berteriak meninju Gio.
__ADS_1
"auw,,, sakit, habis omongan Hiro menyedihkan begitu?!" kata Gio membela diri.
tiba - tiba Gio mendekati Hiro dan menarik kerah bajunya dan berkata " kami semua juga khawatir tahu. dasar Hiro bodoh,,?! gak cuma kamu yang sedih,,?!"kata Gio.
" itu benar,," kata Mia.
Hiro tersadar dengan kata-kata mereka, Hiro menatap mereka, melihat hal yang sama, kekhawatiran kondisi Rina.
" HIRO,,!!!" teriak papa Rina.
" operasinya sudah selesai,,!" kata papa Rina.
Hiro langsung berlari masuk menuju ke kamar Rina.
" operasi nya berjalan lancar dan keadaannya sudah tenang, tapi masih harus dirawat di ICU dulu" kata papa Rina.
" dokter juga bilang kalau akan opnam lebih lama dari perkiraan, kamu tenang saja dia sudah tidak apa - apa kok,,,?!" kata papa Rina.
" iya,,, " jawab Hiro lega.
" Hiro,, anu,, sebenarnya nggak enak bilang begini,,"kata mama Rina.
" tapi apa bisa kamu pulang dulu? dan bibi berharap kamu gak menemui Rina sampai kondisinya membaik,,," kata mama Rina.
"mama,,,?!" kata papa Rina.
" maaf , tapi banyak yang bibi cemaskan" kata mama Rina lagi.
" baiklah, saya akan menunggu. tolong beri tau saya kalau dia sudah membaik," Kat Hiro sambil memaksakan senyumnya.
__ADS_1
Hiro pun pamitan dan pergi meninggalkan rumah sakit.