
Mereka berada di desa yang dimaksud oleh Sandya sebelumnya. Mereka beristirahat di pinggir jalan sembari makan di warung.
"Mbak, desa di belakang gunung apa masih ada? " tanya Sandya.
"Mbak ngapain kesana? Lebih baik jangan, " ucap Welas penjaga warung.
"Kenapa? " tanya Sandya.
"Desa itu tertutup, kayaknya gak bakal nerima orang seperti mbak dan mas nya, " jawab Welas.
"Kalau aku orang sana gimana? " tanya Sandya.
Welas terdiam kemudian bertanya kembali kepada Sandya. "Kalau mbaknya orang sana kenapa mbak masih tanya desa itu ada atau enggaknya"
"Aku mau mengunjungi kampung halaman, kata orang tua angkatku bahwa orang tua kandungku berasal dari sana, " jawab Sandya.
Welas mendekat membisikkan sesuatu kepada Sandya. "Mbak keluarga biasa atau keluarga itu?" tanya Welas.
"San! " panggil Risti.
Risti dan Rini kembali setelah buang air kecil yang kemudian disusul oleh Aldi yang telah kembali setelah mengecek keamanan mesin mobil.
"Kamu udah pesen? " tanya Aldi.
"Udah, duduk sini, " ucap Sandya menepuk-nepuk tempat di sampingnya.
"Cuma Aldi nih yang disuruh duduk, kita berdua enggak? Tau gini aku ngajak Arlan sama Hansel, " ucap ketus Risti.
"Dih manja, ngapain ngajak Hansel? " tanya Sandya.
"Buat dicomblangin sama Rini lah, apalagi, " balas Risti mengajak Rini duduk di sebelah Aldi.
"Memang kamu dasarnya usil," ucap Sandya.
Mereka makan yang dipesan oleh Sandya sebelumnya. Desa terakhir sebelum perjalanan panjang dimulai membuat Sandya dan yang lainnya harus bersiap. Welas memperhatikan Rini yang ditangkap mata oleh Sandya.
"Ada apa mbak Welas? " tanya Sandya.
"Itu, temannya mbak yang pakai kalung kayak kenal, " jawab Welas.
"Mbak kenal saya? " tanya Rini.
__ADS_1
"Bukan mbaknya, tapi kalung yang mbaknya pakai, " jawab Welas.
Rini terdiam mendengar jawaban Welas. Kalung emas biru adalah kalung turun-temurun dari keluarga ayahnya. Pak Toyo yang sebelumnya mengatakan bahwa kalung yang selalu dia pakai adalah kalung sakti.
"Mbak tahu kalung ini berasal dari mana? " tanya Rini.
"Hmmm, saya akan jawab tapi saya berpesan nanti kalau seumpama ada apa-apa dengan saya tolong gak usah bilang ke siapa-siapa, " jawab Welas.
"Maksud mbaknya giman? Kita gak ngerti, " ucap Risti menimpali.
"Dulu kata ibu saya, ada orang laki-laki yang keluar dari dalam hutan sana dengan berdarah-darah sembari membawa sebuah benda yang ada dalam genggamannya. Dia berlari tunggang-langgang tanpa memerdulikan luka yang dia derita sembari mengucapkan kata aneh, " ucap Welas.
"Kata aneh apa? " tanya Rini.
"Kayak kata sumpah tolak bala gitu, ibu saya gak denger sepenuhnya. Setelah mengucapkan kata itu, dia pun meninggal tepat di gapura desa. Dan pada saat di cek warga, benda yang digenggam laki-laki tersebut adalah sebuah kalung. Saya baru ingat detik-detik terakhir ada warga yang mendengar laki-laki tersebut mengucapkan kalimat 'kalung emas biru bakalan dadi kuncine saka kabehe kejadian' setelah itu dia baru meninggal, "ucap Welas.
" Apa artinya San? "tanya Aldi.
" Kalung emas biru akan menjadi kunci dari semua kejadian, "jawab Sandya.
" Mbaknya tahu siapa nama laki-laki tersebut? "tanya Rini.
Welas menggeleng. " Beberapa saat kemudian, ada pria yang lebih tua darinya datang dari luar dan membawa jasadnya. Kalung emas biru pun di bawa olehnya"
"Enggak, cuma ada yang aneh, " jawan Rini.
Aldi membayar makanan mereka kemudian menuju mobil untuk melanjutkan perjalanannya. Welas melihat dari warung ia jaga kepergian Sandya dan teman-temannya. Bayangan hitam melesat ke arah Welas kemudian pisau yang ada di meja menusuk perut Welas. Darah merembes dari pakaiannya hingga tubuhnya jatuh ke tanah meninggal dunia.
Mereka sampai di depan hutan dengan jalan yang cukup ekstrem. Aldi melajukan mobilnya melewati tengah hutan lebat. Semua mendadak sunyi dan Sandya paling benci dengan kesunyian yang tiba-tiba.
"San, " panggil Risti.
"Ada apa? " tanya Sandya.
Risti mengabaikan pertanyaan Sandya memberikan sesuatu kepada Rini dan Sandya.
"Berhenti sebentar Al, " pinta Risti.
Mobil berhenti sesuai dengan permintaan Risti untuk berhenti.
"Rin, San. Kalian pegang itu jangan sampai lepas sebelum kita lewati hutan ini, " ucap Risti.
__ADS_1
Risti membuka botol minum meneteskan beberapa air pada tisu kemudian menyuruh Aldi untuk memejamkan matanya. Tisu yang telah dibasahi air oleh Risti diusapkan pada kedua mata Aldi.
"Setelah ini kamu akan tahu apa yang ada di depan, gak usah kaget karena ada aku. Lanjutkan kayak biasa, " ucap Risti.
"Aku ngerti, " jawab Aldi membuka matanya.
Jalanan dipenuhi oleh sosok-sosok tak kasat mata berseliweran melakukan aktivitasnya. Di pinggir jalan banyak sosok tak kasat mata yang melihat ke arah mobil terutama Sandya dan Rini. Mereka tersenyum kemudian melesat mengerubungi mobil Aldi berusaha menarik Rini dan Sandya keluar.
Rini ketakutan sedangkan Sandya mendengar bisik-bisikan di telinganya yang terdengar tidak jelas dan salimg bersahutan. Benda yang diberikan Ristu hancur di tangan Sandya. Kalung emas biru seakan mengeluarkan kekuatannya dengan mengingat para makhluk tak kasat mata dan menjeratnya hingga membuat mereka kesakitan meronta-ronta memohon agar di lepaskan.
"San! " panggil Risti.
"San! " panggil Aldi panik.
Risti menyuruh Aldi fokus menyetir mobil sedangkan ia mulai khawatir di dalam hatinya mengenai Sandya.
"Rin, kamu bisa kan menggunakan kekuatan dari kalungmu? " tanya Risti.
"Enggak tahu mbak, kayaknya kalung ini berfungsi ketika nyawaku terancam, " jawab Rini.
Risti mengulurkan tangannya ingin menyentuh Sandya namun tiba-tina tangannya dicengkram erat oleh Sandya.
"Aku wes teko,"ucap Sandya dengan suara besar.
" Aku sudah datang, "ucap Sandya dengan suara besar.
Risti terkejut hingga menarik tangannya kembali. Rini yang sama halnya terkejut berusaha menjauh sedikit dengan Sandya. Telapak tangan Sandya seakan mengeluarkan energi besar yang mengahancurkan makhluk-makhluk tak kasat mata yang mengerubungi mobil. Makhluk tak kasat mata lainnya berubah menjadi waspada untuk mendekati mobil.
"Akhire wayae seng dienten-enteni teko"
"Akhirnya waktu yang di tunggu-tungggu datang"
"Apa maksudnya? " tanya Rini.
Sandya pingsan setelahnya. Mobil berjalan hingga Risti seketika berbicara.
"Firasatku gak enak, " ucapnya kemudian menoleh ke arah Aldi yang dibalas senyuman dan tatapan mengerikan.
Aldi yang telah dirasuki menginjak gas mobil secara penuh hingga mobil melaju kencang tak terkendali. Rini ketakutan begitupun dengan Risti.
"Pergi kamu! " perintah Risti.
__ADS_1
Rini melihat jurang di depan yang disusul oleh teriakannya. Risti mencoba mengambil alih namun tenaga Aldi lebih besar darinya. Mereka terjun ke jurang dan tanpa mereka sadari bawah sesuatu penghalang mirip seperti batas sesuatu mereka terobos dan suatu tempat berbeda dimana mereka berada selanjutnya.