
Lampu rumah ibu Wati tiba-tiba berkedip sebelum mati. Terdengar suara tetesan air namun semua orang tidak tahu asalnya. Air baskom yang berwarna hitam menunjukkan gelombang kecil yang menandakan tetesan air tertampung di dalam baskom.
Semua orang samar-samar melihat ke atas sebelum makhluk tak kasat mata melompat mencekik leher pak Toyo. Lidahnya panjang dengan tingkah layaknya hewan mencekik leher pak Toyo. Ibu Wati menjerit ketakutan namun berusaha membantu pak Toyo.
Sandya panik dengan berani memegang tangan makluk tersebut menghalangi usahanya mencekik leher pak Toyo. Apa yang dilakukan oleh Sandya dibalas teriakan dari makhluk tersebut yang menyemburkan cairan busuk yang ternyata adalah nanah ke wajah Sandya. Sandya terpental ketika tangannya ditepis oleh makhluk tersebut.
Sandya buru-buru membuka perbannya membuat aroma darah dari Sandya membuat mahkuk tersebut waspada. Kesempatan datang membuat pak Toyo mencekik leher makhluk tersebut dan membantingnya.
Mahkuk tersebut menggeliat meronta-ronta berusaha melepaskan cekikan pak Toyo.
"Cepat teteskan darahmu pada pisau!"ucap Pak Toyo.
Sandya menuruti perkataan Pak Toyo dengan meneteskan darahnya pada pisau yang kemudian diambil oleh pak Toyo. Makhluk tersebut menjerat tangan pak Toyo menggunakan lidah panjangnya.
Ibu Wati memiliki idenya sendiri membawa baskom berisikan tetesan darah Sandya sebelumnya kemudian menyiramkannya ke wajah makhluk tersebut membuatnya berteriak kesakitan.
Pak Toyo mendapatkan kesempatannya menusukkan pisau yang telah dilapisi oleh darah Sandya ke tubuh makhluk tersebut.
Teriakan panjang terdengar dengan darah hitam menggenang sebelum makhluk tersebut menghilang.
Semua orang bernafas lega termasuk pak Toyo yang bergulat langsung dengan makhluk tersebut. Lampu dirumah ibu Wati berkedip kemudian nyala seperti biasa.
Sandya menghampiri pak Toyo yang terengah-engah menahan kesakitan di lehernya.
"Bapak istirahat dulu,"ucap Sandya.
"Tidak usah repot-repot, sudah biasa saya seperti ini. Memang saya ditargetkan oleh mereka,"ucap pak Toyo.
Ibu Wati yang berada di dapur membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil guna mengkompres bekas cekikan yang berada di leher pak Toyo.
"Karena bapak membantu saya?"tanya Sandya.
Pak Toyo tidak menjawab pertanyaan Sandya membuat Sandya terdiam merasa bersalah karena membahayakan orang-orang disekitarnya.
"Tidak usah merasa bersalah, mereka menargetkan orang-orang yang ingin membantumu keluar dari lingkaran iblis,"ucap pak Toyo.
"Ibu Wati dan orang-orang yang aku sayangi, aku tidak ingin mereka terluka karena karmaku,"ucap Sandya.
"Ini bukan karmamu"
"Aku pernah berada di keadaan lebih gila lagi dari ini dan ada hubungannya dengan keluarga mu,"ucap pak Toyo.
"Bapak membahayakan nyawa bapak demi saya,"ucap Sandya.
__ADS_1
"Saya sudah memutuskan membantu dan mencari tahu asal muasal karma dari kedua keluarga ini yang berarti harus terjun dalam keadaan hidup dan mati,"ucap pak Toyo.
Rini pulang melihat Sandya bersama dengan ibu Wati serta orang tidak kenal berhenti sebentar sebelum dipanggil oleh pak Toyo.
"Kamu punya kemampuan khusus berguna unruk membantu temanmu,"ucap pak Toyo.
Rini paham arah pembicaraan kemudian bertanya bakat khusus apa yang dimaksud oleh pak Toyo.
"Kemampuan apa yang saya miliki yang dapat membantu kak Sandya?"tanya Rini.
"Kamu punya pusaka peninggalan leluhurmu kan..."tanya pak Toyo.
"Kalung ini maksud bapak?"tanya Rini.
Rini menunjukkan kalung yang ia pakai kepada pak Toyo. Kalung berliontin biru gelap dengan ukiran emas disekitarnya.
"Benar, bakatmu adalah mengendalikan aura positif dalam kalungmu. Aura positif yang kuat dapat membantu Sandya,"ucap pak Toyo.
Rini menganggukkan kepalanya mengerti maksud pak Toyo.
"Kalung apa yang dimiliki oleh Rini pak?"tanya Sandya.
"Kalung sakti emas biru. Jika hatinya tidak bersih maka tubuhnya tidak akan bisa menanggung aura positif yang besar dari kalung emas biru. Jika seseorang dekat dengannya maka hal-hal ghaib akan segan terhadap aura yang dipancarkan oleh kalung emas biru,"jawab pak Toyo.
"Saya bersamaan dengan teman-teman ingin ke sana satu bulan lagi,"ucap Sandya.
Pak Toyo mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Sandya.
"Satu bulan? Keturunan keluarga Joyo akan lahir pada bulan tersebut. Ketika dua keturunan keluarga menginjakkan kakinya disana, maka aku tidak akan pernah tahu hal gila macam apa yang akan terjadi,"batin pak Toyo.
"Baik, saya akan mengantarkan kalian,"balas Pak Toyo.
"Saya izin pulang buk,"ucap pak Toyo berpamitan.
"Terimakasih pak, telah membantu saya,"ucap ibu Wati.
"Sama-sama,"balas pak Toyo.
Pak Toyo pulang mengendarai motor kesayangannya. Sandya memiliki tatapan rumit kepada ibu Wati.
"Sudah, apapun yang terjadi aku tetap disisimu,"ucap ibu Wati.
Sandya memeluk ibu Wati mengungkapkan rasa terimakasih yang belum tentu ia bisa balas.
__ADS_1
"Semoga perjalanan mu ke sana lancar dan hal gila yang dimaksud pak Toyo tidak terulang kembali,"batin ibu Wati.
"Assalamualaikum....."
"Waalaikumsalam, kamu sudah pulang ndhuk.."ucap ibu Sri.
"Sudah buk,"jawab Dewi.
"Gimana kerjanya?"tanya ibu Sri.
"Alhamdulillah lancar,"jawab Dewi.
"Alhamdulillah...."
"Mandi sana gih setelah itu makan malam,"ucap ibu Sri.
Dewi berjalan ke arah kamar mengambil handuk kemudian ke kamar mandi. Suara guyuran air terdengar jelas menandakan seseorang berada di dalam kamar mandi.
Ibu Sri menyiapkan makan malam di dapur yang letaknya tak jauh dari kamar mandi. Dewi menikmati air yang membasahi sekujur tubuhnya yang terasa segar.
Lama kelamaan Dewi merasa aneh dikarenakan mencium aroma bangkai yang menyengat. Dewi mencari sumber bau bangkai yang ia pikir dari aroma tubuhnya namun air yang berada di dalam bak air mandilah yang mengeluarkan aroma bangkai.
Dewi terkejut namun berusaha tetap tenang mengambil handuk bersiap-siap untuk keluar sebelum perhatiannya teralihkan pada bak mandi yang mengeluarkan gelembung udara.
Rasa penasaran yang tak tertahankan membuatnya mendekati bak mandi tersebut. Dewi mengamati gelembung udara yang terus bermunculan meskipun bau busuk terus menyengat namun tidak menghentikan rasa penasarannya.
Ketika wajah Dewi tak jauh dari bak mandi, tiba-tiba rambutnya ditarik oleh sesuatu ke dalam air. Rasa mual tiba-tiba muncul inguj rasanya ia muntah namun sosok mengerikan perlahan-lahan mendekati wajah Dewi.
Bak mandi yang berukuran kecil seperti lautan di dalamnya ketika makhluk mengerikan mendekati wajah Dewi. Oksigen mulai habis membuat Dewi panik meronta-ronta ingin keluar dari dalam air.
Makhluk tersebut hanya memiliki wajah disertai rambut panjang mengelilinginya berwajah keriput dengan gigi omponnya. Ketika makhluk tersebut membuka mulutnya, Dewi semakin panik ketika ular berbisa keluar dari mulutnya.
Dewi berusah memanggil ibunya namun suaranya seperti diredam oleh sesuatu. Ibu Sri yang berada di dapur sedikit keheranan lantaran anaknya tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
Ibu Sri memanggil nama Dewi namun tidak ada balasan dari dalam. Ibu Sri berjalan mendekati pintu kamar mandi, saat ia ingin membuka gagang pintu, Dewi keluar dari dalam sembari bertanya kepada ibunya.
"Ada apa buk?"tanya Dewi.
"Tidak apa-apa, ibuk panggil gak dijawab,"ucap ibu Sri.
"Tadi Dewi keramas, gak kedengaran ibuk manggil,"balas Dewi.
Dewi meninggalkan ibunya di depan pintu kamar mandi. Ibu Sri penasaran lantas mengintip kamar mandi namun tidak menemukan apa-apa.
__ADS_1