
Risti terbangun terkejut melihat kedua temannya tertidur pulas termasuk Rini.
"Rin, bangun Rin! " panggil Risti.
Rini terbangun, begitupun dengan Sandya.
"Dimana Aldi? " tanya Sandya.
"Hmmm, kemungkinan di bawa sosok itu. Kita semua tertidur tanpa bangun, " jawab Risti.
"Maaf mbak, gimana hasilnya? " tanya Rini.
"Kalung emas biru adalah kunci dari menyelesaikan masalah ini, " jawab Risti.
"Apa maksudmu? " tanya Sandya.
"Keluarganya Rini adalah orang sakti, kalung emas biru ini mampu menghentikan perang santet kedua keluarga besar dan menjadi kunci dari kemenangan nanti, kalung ini pasti dicari oleh keluarga Joyo, " jawab Risti.
"Yaudah kita lanjutin perjalanan cari Aldi, " ucap Sandya.
Mereka meregangkan tubuhnya kemudian melanjutkan perjalannya. Hutan yang luas penuh dengan bahaya mereka lewati, malam hari mereka melihat siluet raksasa. Mengikuti siluet bayangan tersebut hingga menemukan tubuh Aldi yang terbaring dengan wajah pucatnya.
Sosok tinggi besar seakan menyiapkan ritual dengan menggunakan Aldi sebagai persembahannya.
"Aldi!!!!! " teriak Sandya keluar dari semak-semak.
Kawanan makhluk tersebut yang bertubuh tinggi merasa marah dengan kehadiran Sandya.
"Kau tercela!!!! " maki Sandya.
Sosok besar tersebut merupakan penguasa di sana. Kemarahan Sandya menimbulkan kebencian serta dendam yang ada di hatinya. Perasaan bersalah, keputusasaan dan kekecewaan muncul di dalam hati Sandya. Risti mengarahkan Rini untuk mundur menjauh dari Sandya.
Tubuh Sandya di selimuti aura hitam yang kemudian membentuk raksasa dalam sekejab beserta dengan pasukan sejenisnya. Matanya merah nyala dengan gigi taring runcing di mulutnya.
"Atmo!!"
"HAHAHAHAH. Aku keturunan terakhir keluarga Atmo, seluruh setan iblis ada dalam genggamanku. Aku memerintah dengan sesuka hati bahkan dengan mudah menghancurkanmu, " ucap Sandya.
Seakan perang antar makhluk halus, Sandya mengerahkan makhluk yang dipelihara kelurga Atmo untuk menyerang sosok tersebut. Risti mendekati Aldi yang tergeletak sekarat dengan jiwa yang entah dimana keberadaannya. Kalung emas biru di tangannya ia tempelkan pads tubuh Aldi. Matanya terpejam mencari keberadaan jiwanya.
Dalam alam roh, Risti melihat Aldi yang tengah di ikat di sebuah batu dengan tubuh terlentang tak berdaya. Seakan tahu ada orang mendeka, Aldi menoleh dan terkejut melihat Risti yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Jangan kesini, pergi! Bawa Sandya dan Rini keluar dari hutan terkutuk! " ucap Aldi.
Risti ingin menyentuh ikatan tersebut namun ia malah terpental.
"Aku tidak akan pernah kembali, jaga Sandya baik-baik, " ucap Aldi.
Risti yang muak dengan kalimat perpisahan yang terus-menerus di ucapkan oleh Aldi.
"Jangan ngaco! " marah Risti.
Risti mengingat perkataan kakeknya cara menyelamatkan jiwa seseorang yang tengah terikat. Satu per satu ikatan yang mengikag jiwa Aldi terputus. Risti menghirup nafas banyak-banyak karena merada kelelahan.
"Kita pergi sekarang, "ucap Risti membopong jiwa Aldi.
Sandya dipenuhi oleh luka disekujur tubuhnya. Makhluk besar yang menjadi musuhnya ia akui sebagai lawan yang kuat.
" Atmo! Kalian lemah tanpa bersatu dengan Joyo!! "ucap makhluk tersebut.
" Keluarga Atmo tetap menjadi pemenangnya!! "teriak Sandya.
Rini menghindari anak buah dari makhluk tersebut dan sesekali menyerang. Dirinya seakan dibantu oleh seseorang namun Rini tak dapat melihatnya.
Aldi memanggil Sandya yang tengah kerasukan akibat kemarahannya sendiri. Sandya mendengae suara yang amat ka sayangi menoleh ke sumber suara tersebut. Rini mengambil kalung emas biru yang ada di tangan Risti yang seketika rantai keluar mengikat makhluk tersebut.
Rini belum bisa mengendalikan sepenuhnya kalung emas biru hanya bisa menahan sebentar makhluk tersebut. Mengabaikan kelelahan fisik dan batinnya, Risti mengambil belati pusakanya melemparkannya ke arah makhluk tersebut hingga api berkobar membara membakarnya.
Sandya menghampiri Aldi yang terbangun, ia sangat khawatir mengenai keadaannya.
"Aku gak apa-apa, " ucap Aldi menenangkan Sandya.
Semua orang merasakan kelelahan hebat. Mereka berkumpul yang kemudian Aldi menceritakan pengalamannya.
"Ini adalah hutan terkutuk tempat dimana berkumpulnya makhluk halus. Kita seharusnya berbelok bukannya lurus. Kita memasuki hutan yang dimana kita bisa melihat segalanya dan ini semua adalah takdir dari kamu, San. Kamu adalah keturunan terakhri keluarga Atmo, aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya antara keluargamu dengan keluarga Joyo, "ucap Aldi.
" Aku tahu, apakah kalian punya cara agar bisa keluar dari hutan terkutuk? "tanya Sandya.
" Aldi aku temukan dirinya di ikat di sebuah batu di tengah sungai, asalkan kita mengikuti arusnya seharusnya kita bisa keluar, "jawab Risti.
Setelah beristirahat cukup lama, mereka melanjutkan perjalanan dengan mencari sungai terdekat. Perjalanan mereka jauh lebih aman dibandingkan sebelumnya dan makhluk halus kecil lainnya tidak berani mendekat akibat adanya Sandya.
Suara air terdengar, mereka bergeges ke sumber air tersebut. Sungai kembar ada di depan mereka.
__ADS_1
"Ketemu!! " ucap Sandya girang.
Mereka bergandengan tangan berjalan di sungai menuju ke tempat tengah-tengah dari sungai kembar tersebut yang merupakan tanah. Mencegah hal buruk terjadi, mereka bergandengan tangan erat atas perintah Aldi.
Arus yang deras membuat kaki Risti tersandung hingga ia terjatuh terseret oleh arus air. Sandya dan yang lainnya berlari mengejar Risti. Tubuh Risti terbentur pada sebuah batu besar yang membuatnya berhenti. Rini mengulurkan tangannya kepada Risti membantunya.
Mereka yang berpenampilan lusuh berjalan menyusuri sungai hingga menemukan sebuah jembatan tua. Mereka bertemu seorang kakek yang berdiri di pinggiran sungai.
Sandya berniat meminta tolong pada kakek tersebut dan dengan sambutan baik, ia diterima bersama dengan teman-temannya. Mereka dibawa melewati sebuah jalan setapak yang tak jauh dari tempat kakek tersebut berdiri.
Sebuah rumah megah sebagian yang tak terurus merupakan tempat yang dituju kakek tersebut.
"Ini rumah kakek? " tanya Risti.
"Tidak mbak, ini dulu rumah majikan saya, " jawab kakek tersebut.
Hujan turun deras turun. Sandya sedikit kikuk dengan kakek yang memanggil dirinya mbak. Sandya dan yang lain beristirahat di kamar dalam rumah tersebut.
"Maaf, karena majikan saya tidak ada jadi saya urus sendiri, " ucap kakek tersebut.
"Kemana kek? " tanya Risti.
Kakek tersebut tidak membalas pertanyaan Risti melainkan membalasnya dengan senyuman. Kakek tersebut memperkenalkan diri meminta mereka memanggilnya sebagau kakek Ji.
Sandya merebahkan tubuhnya di kasur. Rumah mewah nuansa kuno membuat siapapun akan merasakan hawa mistisnya termasuk Sandya.
"Atmo..... " gumam Sandya.
Terdengar suara kaca pecah dari ruangan di ujung. Sandya keluar mengeceknya menemukan Risti yang tak sengaja menjatuhkan gelas.
"Maaf, gak sengaja, " ucap Risti.
Sandya menghela nafas lega dan kembali ke kamarnya, saat ingin membuka pintu, kakek Ji memanggilnya. Sandya mendekat dan kakek Ji mengajaknya untuk ke sebuah bangunan tua di belakang kediaman. Kakek Ji memegang payung sembari membawa sebuah sesaji. Jalan yang becek akibat air hujan serta rumput yang tinggi membuat Sandya keheranan.
Bangunan cukup besar dengan pohon beringin besar disampingnya serta pohon randu disekeliling bangunan tersebut membuat Sandya heran. Pagar kayu dibuka oleh Kakek Ji.
Bangunan bernuansa jawa kuno dengan full kayu jati berukiran membuat Sandya berpikir berap uang yang dihabiskan dalam membangun tempat ini.
"Ini bangunan apa kek? " tanya Sandya.
"Makam keluarga besar Atmo, " jawab Kakek Ji.
__ADS_1