
Hari ini adalah hari dimana Dewi bekerja sebagai pelayan cafe di dekat kampus ternama di kotanya.
"Buk, Dewi berangkat kerja,"ucap Dewi berpamitan kepada ibunya.
"Iya, hati-hati di jalan,"jawab ibu Sri.
Dewi berjalan ke depan gang menunggu angkot yang biasanya lewat. Dewi melambaikan tangannya memberhentikan angkot.
"Pak cafe Lily,"ucap Dewi.
Supir angkot melajukan kendaraannya sesuai tujuan Dewi. Angkot masih sepi membuat Dewi sedikit bersantai. Dewi turun dari angkot setelah membayar upah.
"Semangat, hari pertama kerja,"batin Dewi.
Melangkahkan kakinya membuka pintu cafe tempat ia bekerja yang disambut oleh pegawai lama disana. Dewi sedikit canggung karena baru pertamakali bekerja.
"Pagi..."sapa Dewi.
"Pagi..."jawab lainnya.
Dewi diberi arahan oleh salah satu pegawai lama dari mulai bersih-bersih hingga melakukan pelayanan. Pelanggan mulai berdatangan tak selang beberapa waktu ketika para mahasiswa mulai datang ke kampus.
Cafe Lily penuh akan mahasiswa yang bercengkrama ataupun mengerjakan tugas dengan kawan-kawannya. Dua orang perempuan datang salah satu dari mereka mencari tempat duduk dan satunya memesan. Kebetulan Dewi yang melayaninya.
"Pagi..."ucap Dewi.
"Saya pesen dua,"ucapnya menunjuk menu yang berada di atas sembari menyebutkan nama pesanannya.
"Atas nama siapa kak?"tanya Dewi.
"Sandya"
"Silahkan ditunggu kak...,"ucap Dewi.
Dewi menyiapkan pesanan Sandya sedangkan Sandya duduk bersama dengan Risti.
"Cepek kuliah,"ucap Risti.
"Ya gak usah kuliah,"jawab Sandya.
"Ih kok gitu sih..."ucap Risti.
"Ini pesanannya kak..."ucap Dewi tiba-tiba.
"Terimakasih...."jawab Risti.
Sandya memperhatikan Dewi menatapnya seperti menyelidiki sesuatu sebelum disenggol oleh Risti.
"Kamu kenal?"bisik Risti.
"Enggak,"jawab Sandya.
Dewi yang merasa ia diperhatikan dalam oleh pelanggannya di depannya berusaha menghiraukannya. Apapun yang terjadi harus tetap profesional dalam bekerja.
"Apa aku berbuat salah? Mungkin karena aku pekerja baru jadi diperhatikan oleh pelanggan?"batin Dewi.
"Ya terus kenapa kamu lihat dia kayak ada dendam gitu,"ucap Risti berbicara pelan.
"Perasaan ku kayak ada hubungannya dengan dia tapi samar,"balas Sandya.
"Sudahlah aku malas berpikir masalahmu,"ucap Risti meminum kopi pesanannya.
"Nikmat...."puji Risti.
Sandya masih merenung kemudian teringat kejadian ketika berada di dalam bus.
__ADS_1
"Dia orang yang berada di dalam bus waktu itu, tapi kenapa aku merasakan keterikatan sesuatu kepadanya,"batin Sandya.
Suara ketukan pintu terdengar membuat pemilik rumah membukakan pintu.
"Pak Toyo, silahkan masuk pak...."ucap Ibu Wati mempersilahkan pak Toyo masuk.
Pak Toyo masuk ke dalam rumah ibu Wati setelah dipersilahkan masuk oleh pemilik rumah.
"Maaf pak, saya ingin tanya,"ucap ibu Wati.
"Saya tahu pertanyaan ibuk, saya kesini memang sendirian tapi saya tahu konsekuensinya,"ucap pak Toyo.
"Saya kebelakang dulu pak,"ucap Ibu Wati.
Pak Toyo menganggukkan kepalanya. Mengamati seisi rumah ibu Wati sebelum duduk bersila di lantai.
Bayangan sama persis dengan pak Toyo keluar dari tubuhnya melayang-layang diudara. Pak Toyo melihat ada jejak energi hitam di dalam rumah ibu Wati kemudian menelusuri seisi rumah mencari jejak energi hitam tersebut.
Ibu Wati kembali ke ruang tamu membawa teh melihat pak Toyo duduk bersila memejamkan matanya.
"Rogoh Sukmo terlalu berbahaya bila sendirian,"batin Ibu Wati.
Pak Toyo melihat jejak-jejak energi hitam dimulai dari kamar mandi, dapur rumah hingga salah satu kamar kost. Pak Toyo melihat lorong buntu tembok yang berada di dalam rumah yang konon tidak boleh dibangun.
Lorong sempit yang terlihat lebih gelap dan lebih pekat dibandingkan sumur tua yang berada di belakang. Pak Toyo ingin mendekatinya sebelum energi hitam menghempaskan jiwanya.
Pak Toyo terbatuk-batuk darah membuat ibu Wati panik. Ia ingin membangunkan pak Toyo namun takut akan resiko yang akan dihadapi pak Toyo bila dibangunkan secara paksa.
Lorong sempit tersebut ternyata bukan asal sumber energi hitam melainkan ruangan disampingnya yang mengeluarkan energi hitam pekat. Jiwa pak Toyo kembali ke raga nya setelah dirasa cukup. Nafasnya terengah-engah merasakan energi hitam yang begitu dahsyat.
"Diminum pak,"ucap ibu Wati memberikan teh hangat.
Pak Toyo meneguk teh hangat dari ibu Wati sebelum mengatur nafasnya bercerita tentang rumah ibu Wati.
"Sudah ada yang masuk. Kalau dipaksa takutnya malah bahaya,"ucap pak Toyo.
"Ada energi hitam pekat dirumah ibuk lebih pekat dari sumur tua di belakang. Saya tidak tahu semenjak kapan ia berada di sini namun ruangan disebelahnya sumber dari energi hitam,"ucap pak Toyo.
"Letaknya dimana ya pak ruangan yang dimaksud?"ucap ibu Wati.
"Lorong buntu ruangan sebelah kanan,"jawab pak Toyo.
"Itu ruangan anak kost perempuan namanya Sandya, ia anak baik-baik tidak mungkin berbuat buruk. Ia mengalami kejadian ghaib sama seperti saya kemarin, bahkan ustadz Rohman berbicara empat mata dengannya,"ucap ibu Wati menjelaskan ruangan yang dimaksud oleh pak Toyo.
"Anak yang ibu maksud mengenai garis darah keturunan?"tanya pak Toyo.
"Benar,"jawab ibu Wati.
"Boleh ketemu sama anaknya?"tanya pak Toyo.
"Hari ini kuliah, nanti saya bilangin anaknya suruh kerumah bapak,"ucap ibu Wati.
"Assalamualaikum...."ucap seseorang dari luar.
"Kebetulan anaknya pulang,"ucap ibu Wati.
Sandya mendengar ibu Wati tengah berbincang-bincang kemudian mendengar namanya disebutkan lantas menghampiri ibu Wati setelah dipanggil.
"Ada apa buk?"tanya Sandya.
"Pak Toyo ingin bicara sama kamu,"ucap ibu Wati.
Sandya melihat pak Toyo tengah menatap dirinya dengan tatapan menyelidik sebelum berkata kepada ibu Wati.
"Buk minta baskom isi air sama pisau buat memastikan sesuatu,"ucap pak Toyo.
__ADS_1
Ibu Wati ke dapur mengambilkan apa yang diminta oleh pak Toyo sedangkan Sandya duduk berhadapan dengan pak Toyo.
"Saya ingin memastikan sesuatu, nanti jangan terkejut bila tahu,"ucap pak Toyo.
Sandya tahu bahwa pak Toyo bukanlah orang sembarangan. Ibu Wati datang membawa baskom berisi air bersama dengan pisau dapur bersih.
"Telapak tanganmu,"ucap pak Toyo.
Sandya mengulurkan telapak tangannya ragu namun sebelum menariknya kembali telah dipegang erat oleh pak Toyo. Pak Toyo mengambil sebilah pisau menyayat kecil telapak tangan Sandya membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Percaya sama pak Toyo,"ucap ibu Wati menenangkan kekhawatiran Sandya.
Darah Sandya menetes bercampur dengan air yang berada di dalam baskom. Pak Toyo melepaskan tangan Sandya yang kemudian dibalut perban oleh ibu Wati yang telah siap siaga.
Air di dalam baskom mulai bergejolak hingga berubah warna merah yang kemudian hitam pekat.
"Balak e wes teko, lemah siji ora bisa di tinggali wong loro. Ora bisa mlayu ngindari nasib takdir turun temurun,"ucap pak Toyo.
"Bencana sudah datang, tanah satu tidak bisa ditinggali dua orang. Tidak bisa lari menghindari nasib takdir turun temurun,"ucap pak Toyo.
"Maksudnya gimana pak?"tanya Sandya.
"Kamu tahu meskipun saya tidak memberitahu, kamu diberitahu oleh setan yang menemuimu kan?"tanya pak Toyo.
Sandya menganggukkan kepalanya sedangkan ibu Wati tidak mengerti pembahasannya.
"Kamu keturunan keluarga Atmo dan kamu anak terkutuk generasi terakhir keluarga Atmo,"ucap pak Toyo.
Mendengar kalimat keluarga Atmo membuat ibu Wati terkejut bukan main. Dadanya berdegup kencang hatinya tidak tenang.
"Keluarga Atmo yang berkuasa di desa itu?"tanya ibu Wati.
"Benar, desa dengan sejarah berdarah mengerikan,"ucap pak Toyo.
"Tapi bagaimana mungkin Sandya keturunan keluarga Atmo?"tanya ibu Wati.
"Orang tua kandungnya yang menghapus ingatan dimana ketika keturunan anak terkutuk akan mendapatkan ingatan dari leluhurnya,"ucap pak Toyo.
"Saya masih tidak mengerti kenapa saya bisa berada di sini,"ucap Sandya.
"Orang tua kandungmu ingin menjauhkan mu dan memutus rantai kutukan yang menimpa tiap generasi keluarga Atmo. Kamu pasti ingin ke kampung halaman mu ingin mencari tahu silsilah keluarga mu kan?"ucap pak Toyo.
Sandya terdiam tidak ingin menjawab pertanyaan dari pak Toyo.
"Saya sarankan kamu tidak usah kesana. Pengorbanan orang tua kandungmu akan sia-sia dan aku melihat anak yang akan menjadi musuhmu akan lahir,"ucap pak Toyo.
"Siapa musuhku?"tanya Sandya.
"Kamu pasti tahu dan pernah ketemu karena semua ini telah direncanakan oleh iblis. Meksipun kamu berlari sejauh mungkin akan kembali ke benang yang telah ditentukan oleh mereka,"ucap Pak Toyo.
Sandya memutar otak nya mencari nama atau orang yang dimaksud oleh pak Toyo.
"Pelayan cafe itu?"batin Sandya.
"Dewi?"tanya Sandya.
"Bukan,"jawab pak Toyo.
"Tetapi adiknya yang masih berada di dalam kandungan ibunya. Sebentar lagi ia akan lahir dan kejadian berdarah akan terulang kembali,"ucap pak Toyo.
Pak Toyo tahu orang yang akan menjadi musuh Dewi karena ia pernah bertemu saat menjadi taxi online.
"Anda bisa membantu Sandya keluar dari lingkaran sial ini pak?"tanya ibu Wati.
Pak Toyo menerawang mengingat-ingat kejadian gila pada waktu itu yang dimana hidup matinya dipertaruhkan.
__ADS_1
"Bisa, asalkan mereka tidak dipertemukan ditempat yang sama. Karena keluarga Atmo dan keluarga Joyo tidak akan pernah bisa bersatu terlepas dari segala hubungan apapun,"ucap pak Toyo.