Kutukan Lahir Mati

Kutukan Lahir Mati
Mimpi Atau Petunjuk


__ADS_3

Mereka sampai dirumah dan Sela membuka secarik kertas pemberian dari dokter Siska.


"Anggap dirimu sebagai beliau dan teman-teman mu juga, " ucap Sela membaca surat tersebut.


"Maksudnya? " tanya Dika kurang paham arti dari isi surat pemberian dokter Siska.


"Besok kita agendakan ke rumah itu lagi sama Silvi dan Keyla, " jawab Sela.


Dika tak mengerti namun ia nenyetujuinya dan sedikit penasaran akan misteri ini. Malam hari Sela menghubungi Silvi dan Keyla. Silvi pun menyetujuinya setelah mendengarkan masalah yang Sela alami. Keyla berada di luar kota dan seketika pulang ketika Sela menelponnya. Sela menjatuhkan tubuhnya pada kasur menghela nafas panjang.


"Mamah sama Papah kan ngadopsi Mbak Sandya dari kecil dan aku gak pernah tahu dari mana asal-usulnya. Apa aku cek kamarnya saja ya? "ucap Sela.


Ia keluar dari kamarnya menuju kamar mendiang orang tuanya. Pintu ia buka. Nuansa kamar kosong terasa seketika. Sela melihat sekelilingnya mencari sesuatu yang ia rasa sebagai petunjuk. Meja rias antik membuat Sela terpesona. Ia duduk menghadap cermin tersebut dan melihat bayangannya sendiri.


"Kenapa sih ketika aku ngaca cantiknya pasti malam hari," ucap Sela. Ia dikejutkan dengan sosok bayangan hitam muncul di belakangnya. Ia menoleh dan tak melihat apa-apa. Namun ketika berbalik ia mendapati enam sosok dengan rupa mengerikan yang memiliki sama dengan wajahnya.


Sela berteriak dan menoleh kembali namun tak melihat apa-apa. Ia hendak berdiri namun terjatuh dan tanpa sengaja melihat pada kolong kasurnya. Sosok makhluk sama dengan dirinya melotot ke arahnya dengan wajah mengerikan. Sela berteriak dan tanpa sadar ia mendorong meja rias tersebut menggunakan kakinya. Suara mekanisme terdengar samar. Sela berdiri dan menoleh ke bekakang dengan jantung berdegub kencang. Melihat sebuah lubang di lantai dengan rasa penasaran ia memasukinya.


Sela berada di dalam ruangan tak terlalu luas di bawah sana. Aliran listrik menerangi ruangan dan menampilkan foto-foto album keluarganya dengan Sandya masih kecil.


Di dalam foto, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Benda-benda masa kecil milik Sandya tertata dan terjaga. Sela berjalan menuju lemari rak mengambil secarik kertas di atasnya.


"Aku tak ingin anakku mati meskipun kami tiada. Ia akan hidup selamanya sepanjang yang ia bisa, " ucap Sela membaca surat tersebut.


Rasa bingung dan takut menjalar di seluruh tubuhnya. Ia mulai memikirkan bahwa dirinya ada dua dan pernah hidup secara bersama-sama. Sela secara intuisi menoleh ke sudut gelap di sampingnya. Ia berjalan dan menaiki tangga gelap tersebut. Menyingkirkan rasa takutnya, ia terus melangkah hingga sebuah pintu terlihat dan ia buka.

__ADS_1


Lampu terang membuat Sela heran dan bingung sebelum ia menyadari bahwa dirinya berada di kamar Sandya.


"Dan ini, " ucap Sela melihat sekeliling kamar Sandya.


Ia melihat ranjang putih dimana Sandya dulu tidur di atasnya. Sela merasa bahwa dirinya harus mendorong ranjang tersebut. Ia melakukannya menemukan keramik yang tak menyatu dengan lainnya. Sela mendongkel lantai tersebut dan berhasil melakukannya. Ia terjun dari atas dan tiba di sebuah ruangan dimana sebuah meja panjang dengan buku di atasnya. Sela membuka buku tersebut menemukan nama yang sama yakni Sandya Atmo Kuncoro.


Sela melihat dimana foto yang sama seperti yang ia temukan pada buku di makam keluarga Atmo. Dalam foto tersebut memiliki tahun lebih lampau dari yang ia temukam sebelumnya. Sela membalikkan foto tersebut dimana nama-nama dari orang yang ada di dalam foto tertera.


"Aji, Ayu, dewi dan aku, " ucap Sela membaca nama-nama tersebut.


Sela mengambil foto beserta buku tersebut membawanya kembali ke atas melalui jalan sebelumnya. Sela meletakkan kedua foto dan buku di atas meja menyinarinya menggunakan lampu. Kedua foto ia gabungkan dan menemukan hasil mengejutkan dimana mereka yang ada di dalam foto berpose ditempat yang sama dalam jumlah tiga orang. Sela mulai merasa ketakutan ketika ia menemukan nama yang sama pada buku yang baru saja ia temukan yakni Sandya Atmo Kuncoro.


"Enggak mungkin! Jika ada orang yang hidup abadi maka semua di dunia ini akan ingin. Namun tak ada makhluk yang bernyawa dapat hidup abadi. Siapa sebenarnya Mbak Sandya! " ucap Sela frustasi.


Ia menoleh ketika mendengar suara dan terkejut ketika sosok perempuan melayang mencekik dirinya. Ia berambut panjang tergerai agak ikal, bermata putih serta leher sedikit panjang. Sela kesulitan bernafas. Makhluk tersebut menatap kedua buku yang ditemukan oleh Sandya. Ia seketika kesakitan dengan urat hitamnya mengeras. Cekikan yang dirasakan mulai mengendur. Sosok perempuan tersebut seakan terbelah dan jiwa sebenarnya muncul.


"Siapa kau dan aku? " tanya Sela.


"Namaku Dewi dan kau? Tanyakan pada dirimu sendiri, " balas makhluk tersebut sebelum roh jahat kembali merasukinya kembali merubah wujudnya dan menghilang.


Sela merasakan pusing. Kepalanya berdenyut. Pandangannya mulai kabur sesaat sebelum ia pingsan ia melihat sosok Sandya berdiri di hadapannya. Sela ingin menyentuh tubuh tersebut namun ia tak sadarkan diri terlebih dahulu.


"Tolong!! " ucap seseorang.


Sela terbangun mendengar suara tersebut. Ia melihat sekeliling dimana hutan belantara berada. Sela bingung. Ia melihat perempuan mengenakan kemben tengah berlari entah siapa yang mengejarnya. Ia mengikutinya hingga sampai ke sebuah rumah yang dikenali olehnya. Seketika Sela menyadari bahwa perempuan yang tengah berlari tersebut dikejar oleh seorang laki-laki. Ageman yang ia kenakan berkain bagus menunjukkan kastanya yang bukan dari kalangan orang biasa. Perempuan tersebut masuk ke dalam rumah besar. Pintu digedor-gedor oleh pria tersebut. Celurit ia acungkan yang kemudian ia tebas pintu rumah tersebut. Sela berteriak memaki pria tersebut. Sela berlari hendak menghentikan pria tersebut masuk namun ia tak bisa melakukannya.

__ADS_1


Pria misterius berjalan sembari membawa celurit mendekati perempuan yang tengah ketakutan tersebut. Ia mulai melakukan hal gila dengan membuka semua pakainnya dan merudapaksa wanita tersebut. Sela dengan marah berteriak memukul menendang namun usahanya sia-sia. Dia dengan kedua mata sendiri melihat seseorang diperkosa. Layaknya seekor hewan jantan yang tengah berada di puncak gairahnya, pria tersebut melakukan gerakan maju mundur dengan cepat. Nafasnya memburu melihat wanita yang ia perkosa. Ia hendak mencapai klimaksnya dengan gerakan yang ia percepat dan suara lega keluar dari mulutnya ketika cairan kejantanannya keluar.


Wanita yang ia perkosa telah pingsan. Apa yang ia lakukan telah dilakukannya berjam-jam. Sela melihat itu semua memiliki perasaan sedih, ngilu bahkan benci dengan dirinya sendiri. Ia seakan merasakan hal yang sama dengan wanita tersebut dimana ia merasakan sakit di area intimnya. Pria tersebut membawa tubuh wanita yang ia perkosa sebelumnya dengan sama-sama dalam keadaan telanjang menuju sebuah tempat dimana Sela tahu tempat apa itu. Tempat dimana ia menemukan buku misterius pertama.


Pria tersebut menendang pintu. Sela dapat menembus dinding dan melihat keadaan di dalamnya. Tempat dimana hanya terdadapat ruang kosong. Pria tersebut mengambil sebuah kain putih mengikatnya pada atap rumah yang kemudian ia kaitkan pada leher wanita yang ia perkosa. Ia menarik kain membuat wanita tersebut tercekik dan tertarik ke atas. Dia seakan psikopat gila yang akan melakukan sesuatu hal di luar nalar. Wanita tersebut kesulitan bernafas yang membuatnya tersadar.


Ia menatap nyalang pria yang ada di bawahnya. Seketika tubuh Sela lemas dan ia dapat mendengar percapakan mereka.


"Aku lebih baik mati bila menikah denganmu! " marah wanita tersebut.


"Mati? Aku telah merasakan tubuh indahmu dan kucumbu dengan perasaan dalam. Kau tak ingin menikah denganku? Ternyata kau hanya wanita murahan yang tak tahu balas budi. Apa kau lupa anak haram yang kau lahirkan? Siapa yang membantu menutupi dari keluarmu?" balas pria tersebut tersenyum mesum.


Wanita tersebut marah dan meronta-ronta ketika merasakan nafasnya mulai pendek.


"Tanpa keluargamu Atmo, kau hanyalah seorang pelacur hina yang tengah mengandung anak haram hasil hubungan gelapmu itu, " ucap pria tersebut menyulut emosi.


"Diam!! " teriak wanita tersebut marah.


"Aku mati dan lahir akan membalaskan dendamku padamu! Keluarga Joyo akan aku bantai! " marah wanita tersebut sesaat sebelum ia meninggal.


Pria tersebut tersenyum tak menanggapi ucapan terakhir dari wanita tersebut.


"Heh! Sandya Atmo Kuncoro, aku ingat namamu karena tubuh indahmu itu, " ucap pria tersebut yang tiba-tiba menoleh ke arah Sela yang membuatnya terkejut.


Ia mendekati Sela sesaat sebelum ia mengantuk dan tersadar kembali berada dalam pelukan Dika. Sela seketika mendorong Dika menjauh hingga terjatuh. Dika terkejut akan tindakan Sela. Dika hendak mendekati Sela kembali namun ditolak olehnya.

__ADS_1


"Stop!" ucap Sela menunjukkan gestur tangannya.


"Jangan mendekat dulu. Biarkan aku tenang, " ucap Sela memberikan alasannya.


__ADS_2