
"Rin! Rini! "
"Ris! Risti! "
Sandya memanggil-manggil kedua temannya yang tengah pingsan. Sandya mencari Aldi namun ia saat ini tak dapat menemukannya. Tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka.
Rini dan Risti terbangun samar-samar melihat Sandya yang tengah duduk di atas batu. Mobil mereka rusak parah penyok di beberapa bagian dengan asap mengepul di depan. Berjalan tertatih-tatih menuju ke tempat Sandya berada.
"Aldi mana? " tanya Risti.
"Aku gak tahu dia kemana, " jawab Sandya.
Sandya bertanya kepada Risti mengenai apa yang terjadi dan bagaimana bisa mereka terjatuh ke dalam jurang.
"Aku kesurupan dan Aldi pun sama? " tanya Sandya.
"Iya, mbak kesurupan, " jawab Rini.
Mereka berjalan menuju mobil yang ringsek. Mengeluarkan tas peralatan kemudian mereka bawa sembari mencari keberadaan Aldi. Risti membawa buku yang merupakan barang penting selain nyawanya sendiri.
"Kita nyari Aldi kemana? " tanya Risti.
"Coba cari disekitar. Kemungkinan Aldi sudah sadar dan mencari pertolongan, " jawab Sandya.
Mereka menyebar mencari dimana keberadaan Aldi. Hutan lebat dengan suasana sunyi seakan suara apapun dapat terdengar. Rini berjalan menuju ke tempat semak belukar di samping pohon di depannya yang tak jauh dari mobil ringsek.
"Apa ini? " tanya Rini melihat cairan menetes di pipinya.
Rini mendongak ke atas dan berteriak kencang hingga Risti dan Sandya menghampirinya.
"Aldi!!" teriak Sandya.
Aldi berada di atas dahan pohon dengan darah merembes keluar dari kepalanya. Tubuhnya penuh dengan luka.
"Bantu aku, " ucap Sandya.
Peralatan dikeluarkan dari dalam tas dan Sandya mulai memanjat pohon. Rindangnya pohon membuat tubuh Aldi tidak nampak terlalu jelas karena tertutupi oleh daun. Sandya berada tepat di depan wajah Aldi. Mencoba membawa tubuh Aldi untuk dibawa turun ke bawah. Cairan lengket jatuh pada punggung tangan Sanya yang membuatnya keheranan.
"Kenapa San! " tanya Risti.
__ADS_1
Sandya mencium cairan tersebut yang berbau amis dan terlihat seperti lendir. Cairan yang sama jatuh pada pipi Aldi yang membuat Sandya keheranan dan mendongak ke atas. Mata nyala terlihat jelas pada daun-daun tebal di atas. Sandya buru-buru membawa tubuh Aldi untuk turun karena firasatnya tidak enak.
"Cepetan lari! " ucap Sandya sembari menggendong Aldi.
Risti dan Rini yang terkejut akan perintah Sandya untuk lari dab mengurungkan niat untuk mengajukan pertanyaan. Mereka berlari kencang menjauhi pohon tersebut secepat mungkin.
Sosok besar turun dari pohon menginjakkan kakinya di tanah hingga membuat getaran hebat. Suara aneh keluar dari mulutnya. Berbulu lebat dengan mata merah menyala mengejar mereka dari belakang.
"Apa itu San! Setan atau apa! " ucap Risti.
"Kayaknya hewan tapi aku gak tahu pasti, tubuhnya gak normal sama sekali, " jawab Sandya.
Makhluk hitam besar seakan memanggil kawanannya untuk mengejar Sandya dan yang lain. Makhluk-makhluk berbulu yang sama namun dengan ukuran kecil mengejar dengan kecepatan tinggi. Ranting pohon menggores tangan Sandya dan sosok hitam besar beserta kawanannya berhenti sejenak ketika darah Sandya menetes ke tanah. Mereka seakan benci dan takut pada Sandya ketika mencium aroma darahnya. Mereka akhirnya pergi menjauh dari Sandya pergi ke arah hutan yang lain.
"Darahmu dibenci makhluk halus, " ucap Risti.
"Kamu bisa lihat mereka? " tanya Sandya.
"Aku ikut bersamamu berarti aku sudah menyiapkan semuanya. Mata batinku aku buka kembali dan meskipun tidak setajam dan sensitif sepertimu tapi lambat laun aku akan terbiasa, " jawab Risti.
Sandya yang baru menyadari bahwa Rini tengah diam sembari tubuhnya gemetar ketakutan.
Rini mengangguk. "Semenjak masuk ke hutan, aku bisa lihat semuanya dan samar-samar melihat kejadian di jalan itu mengenai kalung emas biruku ini, " jawab Rini menjelaskan kepada Risti.
"Gimana nih San, keadaannya kacau dan semua hal gak masuk akal baru saja terjadi, " ucap Risti mengeluh.
"Coba kita cari tempat aman dulu baru buat tenda, keadaan Aldi takutnya tambah membahayakan, " jawab Sandya.
Mereka berjalan menembus semak belukar. Sandya yang menggendong tubuh Aldi merasakan kelelahan dua kali lipat dari yang lainnya. Tanah kosong yang cukup aman untuk membuat tenda terlihat di depan. Sandya menurunkan Aldi dari punggungnya membantu Risti dan Rini yang tengah membuat tenda.
"Mbak San, kita kayak wifi. Makhluk-makhluk halus berusaha mendekat tapi seperti ketakutan akan sesuatu," ucal Rini.
"Mereka takut sama Sandya melebihi takutnya kepada kita berdua, " jawab Risti.
"Ohh... "
"San, latar belakangmu kayak apa hingga darahmu dibenci oleh mereka dan takut kepadamu, " tanya Risti yang benar-benar merasa heran.
"Aku gak tahu, mungkin di dalam tubuhku ada sesuatu yang mereka takuti, " jawab Sandya.
__ADS_1
Tenda telah disiapkan. Sandya membawa Aldi masuk ke dalam merebahkan tubuhnya pada matras. Sandya dengan lembut membersihkan luka-luka pada tubuh Aldi.
"Gimana San? " tanya Risti masuk ke dalam tenda.
"Bernafas kayak biasa, tapi gak bangun-bangun, " jawab Sandya.
"Apakah jiwanya di tahan oleh makhluk itu? " tanya Rini tiba-tiba.
Sandya dan Risti saling berpandangan kemudian mengangguk setuju.
"Terlalu beresiko, kita gak punya pengalaman apapun" ucap Sandya.
Lelah memikirkan cara menyelamatkan Aldi. Mereka tidur dengan tidak menurunkan kewaspadaan. Tengah malam, Rini terbangun dan keluar dari tenda mencari tempat untuk buang hajat. Menyelesaikan buang hajatnya, Rini merasa aneh karena menemukan sebuah kain lusuh yang tak jauh darinya.
"Apa ini? " tanya Rini pada dirinya sendiri sembari mengangkat kain lusuh tersebut.
Bau busuk tercium pada kain tersebut dengan reflek Rini mendongak ke atas dan sesuatu jatuh menimpa tubuhnya.
"AAAAA!!!!!! " teriak Rini.
Sandya dan Risti mendengar teriakan keras Rini segera keluar dari dalam tenda dan terkejut melihat tubuh Rini yang tertimpa oleh pocong. Matanya bertatapan dengan Rini dan sesuatu keluar dari mulutnya.
Sandya dengan sekuat tenaga mendorong pocong tersebut dari tubuh Rini dan Risti mencoba cara membantu Rini. Ulat-ulat keluar dari dalam tanah mengerubungi tubuh Rini mencoba membuatnya menjadi busuk.
"Aku tidak takut wujudmu! " marah Sandya.
Risti membaca mantra yang dia ingat kemudian Rini dapat di tarik oleh Sandya. Pocong tersebut melayang-layang di udara dengan wajah rusaknya. Sekumpulan pocong muncul dibalik pohon dan semak belukar dibelakangnya. Mereka mundur secara teratur atas arahan Sandya.
"Ris, kamu tahu cara menanganinya? " tanya Sandya.
"Aku gak cukup mampu melakukan itu, tapi Rini pasti bisa, " jawab Sandya.
"Kamu punya kalung sakti emas biru, kamu orang yang terpilih, " ucap Sandya menyakinkan kepada Rini.
Rini memejamkan hatinya dengan tulus meminta pertolongan. Seberkas cahaya biru keluar dari dalam kalung hingga rantai mengikat sekumpulan makhluk tersebut.
Mereka merasakan seakan ada api yang membakarnya. Mulut mereka mengeluarkan cairan hijau yang beraroma busuk guna melelehkan rantai dari kalung emas biru. Dalam hitungan detik makhluk halus tersebut hancur.
Mereka bernafas lega, namun suara benda di seret di tanah membuat mereka bertanya-tanya dan berbalik melihat Aldi dibawa oleh sesuatu.
__ADS_1
"Aldi!! " teriak Risti.