
Dika heran akan sikap Sela yang tiba-tiba menjauh dan mendorongnya. Silvi dan Keyla mendekati Sela yang tengah berusaha menenangkan dirinya tersebut.
"Kenapa? " tanya Silvi.
"Enggak, cuma mimpi buruk aja. Ayo kita berangkat, " jawab Sela menuruni ranjangnya diangguki oleh Dika yanh meraih kunci mobil.
Mereka akan berangkat menuju tempat tersebut. Di dalam perjalanan mereka melihat gapura desa hingga jembatan penghubung yang menghubungkan wilayah luar dengan desa yang mereka tuju. Tujuan Sela dan teman-temannya kali ini bukan rumah Atmo, melainkan rumah keluarga Joyo. Sela mengajak yang lainnya memasuki rumah tersebut. Mereka membuka pintu bersama-sama disusul hawa dingin menerpa mereka.
Mau tak mau mereka masuk ke dalam rumah tersebut dan Sela memerintahkan Silvi dan Keyla mencari ke seluruh kamar dimana ada ubin yang kosoh dibawahnya. Dika tak tahu harus apa namun ia mencoba mendekati Sela yang dibalas tepisan olehnya.
"Kamu kenapa? Apa salahku coba? " tanya Dika meminta penjelasan akan sikap Sela kepadanya.
Sela tak menggubris pertanyaan Dika, ia mendengar panggilan dari Silvi. Ia buru-buru menuju kamar dimana Silvi menemukan apa yang ia inginkan. Sela melihat sebuah lubang di bawah kasur dimana tempat tersebut gelap. Sela hendak turun namun dicegah oleh Dika, ia akhirnya memutuskan untuk memimpin jalan. Mereka memasuki lorong bawah tanah dengan pencahayaan handphone Dika. Mereka melangkah di tengah kesunyian dimana hanya ada keheningan yang ada. Terdapat cabang lorong yang membuat mereka berdebat kemana mereka akan pergi.
"Kita cek sama-sama satu per satu, gak mungkin kalau lorong ini panjang, " ucap Dika.
Keputusan diambil dengan Dika memimpin jalan mengecek lorong tersebut. Mereka tampak saling menatap melihat pintu di depan sana. Dika denhan berani memegang ganggang pintu tersebut dan membukanya. Dika terkejut ketika melihat sekelilingnya dimana ia berada di rumah keluarga Atmo. Dika segera memanggil Sela untuk melihat. Mereka semua naik dan Sela mengeceknya dan ternyata benar.
"Inu adalah rumah keluarga Atmo dan bagaimana mungkin terhubung melalui lorong di kediaman keluarga Joyo. Sepertinya hubungan kedua keluarga ini tak biasa, " ucap Sela.
Sela tak ada keinginan untuk mengecek keluarga Atmo setelah ia menemukan buku pertama. Mereka kembali menuruni anak tangga melanjutkan kembali ke lorong seblumnya. Mereka berjalan tampak lebih lama dan tak menemukan apapun. Keadaan semakin lembab dimana dinding-dinding mulai basah.
"Kita berada di dekat sumber mata air sepertinya, " ucap Silvi.
Keyla dan lainnya menganggukkan kepalanya setuju akan ucapan Silvi. Mereka heran apakah lorong ini akan menuju sungai di dekat desa. Namun tebakan meraka semua salah ketika melihat samar-samar cahaya matahari menerangi lorong. Dika membuka tanaman menjalar yang menutupi pintu. Mereka berada di dalam goa dimana ditengah-tengahnya terdapat sebuah danau. Keyla menyipitkam matanya ketika melihat sebuah pintu goa di dalam air.
"Lihatlah!" ucap Keyla menunjuk pintu goa tersebut.
Mereka melihat ke arah yang ditunjuk oleh Keyla. Masing-masing orang saling menatap memutuskan apakah ingin turun.
"Aku turun! " ucap Sela.
Silvi dan Keyla saling bertatap kemudian mengikuti Sela terjun ke dalam danau. Dika melakukan hal yang sama. Barang-barang mereka ditinggalkan di pinggiran. Mereka berenang menuju pintu goa tersebut. Mereka akhirnya naik ke permukaan. Nafas mereka memburu akibat berpacu dengan oksigen. Meraka melihat beberapa peti mati dan menganggap sebagai tempat pemakaman.
"Apakah ini semacam tempat makam leluhur mereka yang dijaga dan disembunyikan? " tanya Keyla.
"Mungkin dan yang menjaga kemungkinan dua keluarga itu, " jawab Silvi.
Tujuh peti mati tertutup rapat dengan penempatan posisi yang cukup aneh.
"Gak mungkin kalau ini fengshui kan?" ucap Silvi.
Sela melihat beberapa tanda di setiap peti mati tersebut ketika ia berada di tengah-tengahnya.
"Key! " panggil Sela.
Keyla menoleh dan mendekati Sela.
"Ada apa? " tanya Keyla.
"Pinjam kalungmu, " jawab Sela.
Keyla memberikan kalungnya kepada Sela. Silvi mendekat bersama Dika melihat apa yang dilakukan oleh Sela.
"Buku yang aku minta kamu bawa kan? "tanya Sela.
"Aku bawa tapi di atas, " jawab Silvi.
__ADS_1
"Yaudah gak apa-apa, " balas Sela.
"Seharusnya jika memang benar aku terlahir kembali maka buku peninggalan Mbak Sandya yang kedua adalah rahasia mengenai tujuh peti mati ini, " batin Sela.
"Key kamu berdiri disitu dan Silvi di samping Key jarak empat langkah. Kamu berdiri menghadapku, " ucap Sela menginstruksikan semuanya termasuk Dika yang berada di depannya.
Sela menjatuhkan kalung milik Keyla ke dalam mangkuk di bawahnya. Ia mengambil jepitan rambutnya menusukkannya ke lengannya hingga beradarah. Dika terkejut dan merampas jepitan rambut tersebut. Darah Sela menetes tepat pada kalung tersebut.
"Kamu lakukan apa yang aku lakukan, " ucap Sela.
"Tapi? " balas Dika.
"Cepat! " bentak Sela.
Dika melakukan hal yang sama seperti halnya Silvi dan Keyla yang tak keberatan sama sekali. Darah mereka menetes dan merasakan bahwa tubuh mereka seakan diputar hingga membuat siapapun pusing. Mekanisme tujuh peti aktif hingga tutup peti perlahan terbuka. Suara-suara aneh terdengar di telinga mereka namun tak ada yang berani membuka mata.
"Berhenti!" teriak Sela.
Mekanisme berhenti dan mereka semua membuka mata. Pemandangan seketika berubah dengan tujuh peti mati terbuka. Sela buru-buru mengecek peti mati tersebut. Semuanya memiliki nama yang yakni Sandya Atmo Kuncoro. Mereka terkejut namun tidak dengan Sela. Ia buru-buru melihat peti mati keenam dan membuka pakaian jasadnya sendiri. Luka-luka yang sama persis seperti Sandya ketika masih hidup. Mereka memandang Sela dan menjauh.
"Kamu siapa! " teriak Dika lantang.
Sela berniat menjelaskan namun peti mati tersebut berputar arah dan muncul peti mati yang lainnya dengan wajah-wajah yang sama persis dengan Silvi dan Keyla.
"Kau yang siapa!! " teriak Sela marah menunjuk Dika.
"Aku pacarmu, siapa lagi memangnya! " balas Dika tak kalah tingginya.
"Kita semua aku, Silvi dan Keyla adalah reinkarnasi dari kita sendiri puluhan tahun yang lalu hingga sekarang. Karena sumpahku kepada putra sulung keluarga Joyo mereka semua terikat denganku! " ucap Sela.
"Aku tak ada pilihan lain dan aku baru sadar di kehidupan keenam ini, " balas Sela.
"Kau egois Sela! " bentak Keyla.
"Aku egois? Aku diperkosa, dilecehkan hingga dibunuh? Kalian bilang aku egois? " tanya Sela.
"Apakah kau lupa kelakuanmu di kehidupan pertama? " tanya Silvi.
"Maksudmu? " balas Sela.
"Kaulah yang membunuh kami!" teriak Silvi dan Keyla.
Sebelum sesaat mereka ke rumah Sela, mereka telah mencari terlebih dahulu misteri tubuh mereka sendiri. Hingga mereka menemukan sebuah buku yang ditemukan di rumah lama Silvi dan kalung emas biru milik Keyla.
"Kami mati karenamu! " ucap Sela.
Sela seketika terhenyak mengingat ucapan Mbak Sandya yang mengatakan penyesalan dan kesempatan terakhir. Sandya adalah dirinya dan dirinya adalah Sandya karena mereka adalah sama. Satu orang Sandya lahir maka yang satunya harus mati. Sebelum menyelesaikan misi mencari tahu kematiannya sendiri, ia harus berhasil sebelum Sandya lahir kembali.
"Kami mati karena keegoisanmu!! " bentak Sela menangis.
Sela mencengkeram kepalanya dan rasa sakit menyerangnya. Ingatan yang hilang perlahan muncul.
"Kau harus melayaniku! "ucap pria paruh baya mendekati seorang wanita
"Aku anakmu!! "teriak wanita tersebut meronta-ronta.
Wanita tersebut adalah Sandya sendiri yang mengalami pemerkosaan oleh ayahnya sendiri. Setelah kejadian tersebut, perutnya semakin membuncit. Dasarnya ia berasal dari keluarga terpandang Atmo, ia dikucilkan. Seorang pemuda mendekatinya yang merupakan putra sulung keluarga Joyo. Ia dengan rela menerima bayi hasil hubungan gelap dengan ayahnya sendiri.
__ADS_1
Ayah dari Sandya mengetahui hubungan anaknya dengan sahabanya sendiri merasa kesal dan marah. Pada saat malam hari ia memasukkan racun pada makanan dan minuman sekeluarganya hingga semua orang mati. Pada saat itu Sandya masih di luar rumah bermain bersama kedua sahabat perempuannya. Ia pulang bersama dan menemukan bahwa rumah dalam keadaan sepi. Sandya bingung dan heran kemudian ia masuk ke dalam rumah. Ia terkejut ketika melihat ayahnya telanjang keluar dari kamarnya. Seketika ingatan kejadian yang lalu mulai teringat di dalam pikiran Sandya.
Sandya hendak berlari namun tubuhnya dikunci oleh ayahnya sendiri dan dimulailah pemerkosaan kedua kali oleh ayahnya sendiri. Kedua sahabatnya mendengar suara tidak beres dan mengintip dari celah kecil dirumahnya melihat Sandya tengah ditunggangi oleh ayahnya sendiri. Mereka hendak berteriak namun mereka tahan.
Mereka buru-buru berlari ke rumah Aji mengabarkan berita tersebut. Aji marah mengambil parang berangkat menuju ke rumah Sandya. Aji mendobrak pintu rumah namun tak menemukan siapapun. Sandya telah dibawa ke tempat terpencil jauh di tanah keluarga Atmo. Ayahnya melanjutkan persetubuhannya ditempat itu hingga membunuu putrinya sendiri.
Aji seketika terperanjat ketika mengingat bangunan yanh baru saja di bangun oleh kepala keluarga baru Atmo tersebut. Aji merasakan amarahnya akan meledak ketika melihat seluruh orang rumah keluarga Atmo telah tiada.
Ia berlari menuju bangunan tersebut dan menemukan Sandya telah tewas tergantung dengan kain putih. Cairan kejantanan seorang pria tercecer dimana-mana termasuk di tubuh Sandya.
Aji menebas kain tersebut dan menangkap tubuh Sandya. Ia menepuk-nepuk pipinya berusaha menyadarkan Sandya. Sandya terbangun dengan sisa tenaganya.
"Aku ingin kalian mati bersamaku! " ucap Sandya mengambil celurit dan menusuk tubuh Aji sebelum ia tewas.
Luka Aji parah namun ia menggunakan kain tersebut menutupinya. Ia sendiri tak memerdulikan luka yang ia derita. Ia menaruh jasad Sandya dengan perlahan membawa kembali celuritnya karena ia tahu kemana ayah Sandya pergi.
Pintu rumah keluarga Joyo di dobrak. Seluruh penghuni rumah terkejut ketika sosok pria paruh baya tersebut menebas kepala orang menggunakam celuritnya. Semua orang dikediaman ia bantai hingga menemukan kedua sahabat Sandya bersama dengan anaknya bersama dengan Sandya.
"Agung!! " teriak Aji dari luar yang kemudian masuk ke dalam rumah.
Sosok yang ia panggil menoleh ke arahnya.
"Dasar bajingan tua bejat!" marah Aji.
Mereka saling memukul satu sama lain hingga akhirnya ayah dari Sandya membunuh dua sahabat Sandya menggunakan celuritnya sebelum tewas. Mereka mengutuk Sandya sebelum nafas terakhirnya karena mereka berfikir bahwa Sandya dan ayahnya melakukan hal gila secara suka sama suka. Aji menghampiri anak Sandya memeluknya dengan erat.
"Aku juga ayahmu, " ucap Aji.
Pada saat itu juga Aji membawa kedua jasad teman Sandya dan Sandya sendiri menuju sebuah goa dibawah pohon besar. Anak dari Sandya dengan ayahnya melihat Aji menguburkan mereka semua. Pada saat setelah itu, Aji tewas akibat kekurangan darah.
Sela terperanjat dan tersadar kembali melihat Silvi dan Keyla.
"Kami minta maaf, " ucap Silvi dan Keyla secara tiba-tiba.
"Kalian... " ucap Sela terhenti karena tak kuasa menahan tangis.
Ia menatap ke arah Dika yang tengah berdiri melihatnya.
"Kamu Aji?" tanya Sela.
Dika menggeleng. "Aku Wahyu, anakmu sendiri, " ucap Dika.
Sela memeluk tubuh Dika dengan erat disertai tangisan hening. Dika berusaha menenangkannya.
"Karena Aji telah meninggal pada saat itu beserta cintanya. Apakah kamu tahu buku dan kalung milik Keyla dan Silvi? Benda itu merupakan mahar yang akan diberikan kepadamu, " ucap Dika.
"Mengapa Aji tak hidup kembali! " teriak Sela histeris ketika ingatan masa lalunya teringat semuanya.
"Karena ini bukan nyata! " balas Dika.
"Maksudmu? " tanya Sela.
"Kami semua adalah rasa tidak terimamu terhadap kenyataan yang kamu alami, " jawab Dika.
Ketiak kalimat tersebut terucap oleh Dika, kepala Sela berdenyut dan berdenging. Pusing seketika mendera kepalanya. Ia tak kuasa melihat semua hal tampak berputar hingga ia memejamkan matanya. Sela terhenyak membuka matanya. Pemandangan disekelilingnya aneh hingga sebuah suara menyadarkannya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? " ucap seorang pria lembut.
__ADS_1