
Bella merasa lelah setelah melakukan pemotretan selama beberapa jam, perutnya keroncongan sebab ia tak sempat sarapan.
"Gelaseehh bisa mati muda guee!" Keluh Bella.
Bella memutuskan untuk makan di kantin kantor saja, ya hitung hitung menghemat pengeluaran. Kekeh Bella dalam hati.
Bella berjalan ke arah kantin, namun di tengah perjalanan ia melihat seseorang yang ia kenal.
"Apa Naina juga bekerja disini? Mengapa ia berada di sini?" Gumam Bella penasaran.
"Apa mungkin Naina dan Rain masih memiliki hubungan? Ck, ngapain juga gue pikirin. Perut gue yang utama!" Dumel bella.
Bella merasa tujuan Bella dan Naina sama. Dan benar saja, ternyata Naina pun menuju kantin.
Dari kejauhan Bella melihat Rain yang sudah menunggu Naina, waah pasangan yang serasi bukan? Sinis Bella dalam hati, ia menyesal menginjakkan kaki disini.
Naina terlihat mengeluarkan bekal nya dan menyuapi Rain, namun Rain memilih untuk makan sendiri.
Pfftt.. Bella tak tahan untuk tidak tertawa, entah mengapa sangat menyenangkan melihat Rain yang menolak Naina secara terang terangan.
Semua mata tertuju kepada Bella yang tertawa sendiri, Bella hanya cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tak lama setelah itu pandangan Bella Dan iris Tajam Rain bertemu.
Rain menatap dengan tatapan terkejut, berbeda dengan Bella yang menatap dengan pandangan mengejek.
Rain mengalihkan pandangannya dari Bella dan menerima suapan Naina agar Bella merasa cemburu.
"What?" Kesal Bella.
Apa apaan dia! Bella yang sudah geram mulai berdiri hendak meninggalkan kantin tanpa menyentuh makanan nya. Namun seseorang datang membawa nampan di hadapan Bella.
"Lo umbrella model itu kan?" Tanya seseorang yang mungkin sedikit lebih dewasa dari pada Bella namun masih terlihat sangat tampan.
Mau tak mau Bella duduk kembali. "Iya gue Bella", ucap nya singkat.
"Kenalin gue dilan, manager marketing disini". Ucapnya sedikit sombong.
Bella berdecih dalam hati, segitu doang songong.
"Ohh.. senang berkenalan dengan anda". Ucap Bella dengan senyum terpaksa.
Kemudian iris mata Bella kembali bertemu dengan Rain. Rain menatap nya tajam dari kejauhan, entah mengapa Bella merasa merinding melihat nya. "Emang gue bikin salah apaan?" Gumam Bella.
"Lo bilang sesuatu? Tanya Dilan.
"Ah nggak kok". Gugup bella.
Dan apa ini, Rain berjalan ke arah nya dan Dilan yang membuat Bulu Kuduk bella meremang. "Ada apa dengan nya?" Protes Bella dalam hati.
"Selamat siang sir". Ucap Dilan beramah tamah dengan Rain, ah.. apa apaan dia.
"Bella, kamu ikut saya". Ucap Rain menarik paksa tangan Bella.
'T- tapi" ..
"Gak ada tapi tapian bell !"
Perdebatan antara Rain dan Bella membuat Dilan kikuk. Apa Bella adalah kekasih Rain? Jika hal itu benar maka tamatlah riwayat nya.
Sementara Naina yang ditinggal kan oleh Rain menatap nyalang kedua insan yang sedang berdebat itu.
"Kenapa Bell? Kenapa Lo selalu jadi penghalang hubungan gue sama Rain!". Batin Naina terisak miris.
Tangan bella Di tarik oleh Rain menuju ke ruangan nya.
"Ck! Lo apa apaan sih Rain?" Bentak Bella.
"Lo yang apa apaan!" Kesal Rain.
"Gue? Kenapa gue?" Tanya Bella.
Rain tergagap dengan pertanyaan Bella. Tak mungkin ia mengatakan bahwa ia cemburu melihat Bella dan Dilan bersama sementara Rain tadi bersama Naina.
__ADS_1
"Lupain". Ucap Rain seenaknya.
"What? Apasih Lo gak jelas banget! Lo tau gak kalo Lo udah ganggu jam makan siang gue!!" Kesal Bella.
Rain yang mendengar hal itu membuat hatinya melemah. Ia menduduk kan Bella di sofa.
"Sini duduk sini". Lembut nya menarik tangan Bella.
Hati Bella berdesir mendapat perlakuan seperti itu, kemudian ia hanya menurut saja.
"Gue bakal suruh sekretaris gue mesen makanan. Lo mau apa?" Tanya Rain.
"Apa aja". Sebut Bella yang membuat Rain mengangguk kan kepala.
"Jadi, tujuan Lo ngajak gue kesini apa?" Tanya Bella.
"Gue kangen aja sama Lo". Ucap rain tanpa beban. Hal itu membuat jantung Bella berdegup kencang. Rasa yang lama, rasa itu bukan nya berkurang justru semakin tumbuh.
Nggak! Gue gak bakal terpengaruh. yakin Bella dalam hati.
"Bell Lo gak kangen sama gue?" Tanya Rain.
"Buat apa gue kangen sama orang yang udah menghancurkan gue". Sinis Bella yang membuat Rain menunduk bersalah.
"Maafin gue". Lirih Rain.
"Kalo Lo lupa, Lo tadi ninggalin pacar Lo sendirian di kantin". Sindir bella yang membuat dahi Rain mengkerut bingung.
"Pacar gue? Elo?" Tanya rain.
"Dih kok gue, kepedean Lo. Lo lupa Lo tadi di kantin sama siapa?" Sinis Bella.
"Oh Naina, dia bukan pacar gue mbell..
Lo tau, kalo dulu bokap gue terikat hutang Budi sama bokap nya Naina, bokap gue juga udah terikat janji bakal jagain Naina dan ibunya kalo dia udah gak ada. Dan hal itu juga yang membuat bokap gue jodohin gue sama Naina, dan gue gak punya pilihan lain saat itu".
"Semenjak kedekatan mamalisa dan mamah nya Naina semua makin runyam, Naina semakin berani untuk datengin gue kemanapun. Jujur gue risih bell, Lo tau kan Naina yang kita kenal dulu gak kaya gitu. Tapi gue juga gak bisa berbuat apapun karena dia selalu mengungkit hutang Budi ayah gue".
"Jadi Lo maafin gue kan". Lirih rain lagi.
"Gue udah lupain semuanya". Ucap Bella.
"Tapi gue gak bisa lupain semuanya, gue gak bisa lupain Lo, kenangan kita, gue selalu rindu sama lo". Lirih Rain.
"Kenangan kita gak begitu banyak Rain, kenapa harus sulit?" Tanya Bella.
"Dengan sedikit kenangan udah cukup ngebuat gue tersiksa bell". Ucap rain menatap dalam iris mata bella, hal itu membuat jantung Bella terpompa dengan cepat.
"Jangan pergi lagi please".. lirih Rain yang mulai menarik Bella ke pelukannya. Bella tersentak dan ingin menolak namun ia merasa nyaman atas pelukan itu, pelukan yang sudah lama tak ia rasakan. Bella mulai melingkar kan tangan nya pada pinggang Rain, Dalam hati ia berharap agar bisa terus seperti ini.
Rain yang merasa Bella membalas pelukan nya sontak tersenyum.
"Janji jangan tinggalin gue". Pinta Rain penuh harap.
Tok.. tok..
"Ck, siapa sih ganggu aja". Kesal Rain yang membuat Bella melepaskan pelukannya dengan cepat.
"Apa yang barusan gue lakuin?" Tanya Bella dalam hati, Bella merutuki kebodohan nya, Dengan cepat ia mengingat nama Sean. Ya, ia tak ingin egois dengan memikirkan perasaan nya sendiri.
"Masuk". Ucap Rain kepada seseorang di luar pintu.
"Eh, maaf mengganggu sir, ini pesanan anda". Ucap maudy sungkan ketika melihat Rain dan Bella sedekat itu.
"Terimakasih". Ucap Rain dengan wajah tanpa ekspresi yang selalu ia tunjukan . Berbeda jika bersama Bella yang membuat nya begitu ekspresif.
"Makan sayang, mau aku suapin? ". Ucap rain dengan senyum jahil yang membuat Bella memukul pelan pundak Rain, wajah Bella sudah bersemu merah saat ini.
"Jangan ngaco". ucap Bella memperingati.
Maudy ternganga melihat Rain bisa semanis itu, pemandangan ini sangat mustahil ia lewatkan.
__ADS_1
"Kamu bisa keluar". Ucap Rain kepada Maudy, Maudy yang sadar diri pun mulai melangkah kan kakinya keluar masih dengan wajah terkejut.
"Itu pipi kamu kenapa merah?" Tanya Rain menahan tawa.
"Ha? Merah? Nggak gue make blush on ihhh". Ujar Bella gugup, sial batinnya.
Melihat Bella yang salah tingkah membuat tawa Rain pecah.
"Gemes banget gue ngeliat loo". Ucap Rain mengunyel unyel pipi Bella.
"Ck! Sakit Rain ihhh, Nyebelin banget Lo ah". Marah Bella.
"Sakit banget?" Khawatir Rain yang mulai mengelus elus pipi Bella, rasanya Bella ingin tenggelam saja merasa pipinya yang kembali bersemu merah.
"Ck nggak! Gak usah pegang pegang, alergi gue". Kesal Bella.
"Dulu juga Lo kemana mana nempelin gue bell, elahh".. ejek Rain yang membuat Bella ingin sekali tenggelam saat ini sangking malunya.
"Stop! Jangan bahas bahas itu!" Kesal Bella.
"Kenapa emang?", Ucap rain yang mulai mendekat kan wajah nya ke arah Bella.
"Ya ya karena.. karena gue marah!", Ucap Bella gugup karena jarak mereka sangat dekat saat ini.
Pffttt.. Rain tak tahan lagi untuk tidak tertawa. Mana ada orang marah ngaku marah sayanggg!! Gemas rain yang langsung mencium serta menggigit pipi Bella dengan gemas, seakan akan ia sedang mencium Ara adik kecilnya.
Deg
Tubuh Bella meremang kaku ketika rain mencium nya. Ia melotot ke arah Rain yang sedang menampilkan cengiran nya.
'Makanya jangan nge gemesin, kan gue jadi khilaf". Ucap Rain tanpa merasa berdosa.
"Raiiinn!!" Kesal Bella yang menjambak rambut Rain.
"Sakit mbell ih.. !!" Tawa rain menggema.
"Ehem"..
Sebuah deheman mengehentikan aksi Rain dan Bella.
"Naina? Ada apa?", Tanya rain kepada naina yang entah sejak kapan memasuki ruangan nya. Keberadaan Bella membuat nya tak sadar akan apapun.
Berbeda dengan Naina yang terbakar cemburu, rain justru terlihat begitu santai.
"Emm.. kayak nya gue keluar aja deh ya". Ucap Bella menengahi.
"Mau kemana? Disini aja". Ucap Rain sambil memegang erat tangan Bella, Bella hendak melepaskan nya namun rain justru menautkan jari jemari mereka.
"Rain.. om Abraham bilang nanti aku di anter pulang sama kamu". Ucap Naina
"Gue gak bisa, gue pulang sama Bella". Elak Rain.
"Rain.. Lo gak Inget"..
"Ck! Berisik Lo! Iya gue anterin". Ucap Rain begitu kesal. Karena ia tau apa yang akan di ucapkan oleh Naina.
Bella terlalu terlalu terkejut dengan semua ini, waktu tiga tahun ternyata membuat perubahan sebesar ini. Rain yang dulu bersikap lembut kepada Naina justru saat ini membentak Naina dengan kasar. Dan Naina yang dulunya cupu pendiam sekarang sudah berani mengancam seseorang.
Bella tersenyum sinis kepada Naina, Bella bukan lah orang baik yang dengan senang hati melihat kelakuan buruk seseorang.
Bella menyenderkan kepalanya pada bahu Rain dan memeluk nya dari samping. Hal itu membuat Naina semakin murka. Berbeda dengan Rain yang awalnya merasa terkejut, namun hal itu membuat hati Rain berdesir hebat. Dengan senang hati Rain mengelus puncak kepala Bella.
"Bell, Lo bisa kan tinggalin gue berdua sama Rain, ada hal penting yang mau gue bicarain". Sinis Naina.
Bella tersenyum menang melihat naina yang terlihat marah. Ya, emang itu tujuan nya.
"Oke". Ucap Bella yang membuat Rain ingin protes.
"Gue tinggal dulu". Ucap Bella yang membuat Rain menatap tajam ke arah Naina.
🌼🌼🌼
__ADS_1