LARA ( MENGEJAR CINTANYA)

LARA ( MENGEJAR CINTANYA)
26.LARA


__ADS_3

Sudah tiga jam lebih Bella duduk di depan ruang operasi dengan pandangan kosong.


"Bell.. Lo belum makan kan? Gue yakin kalo Sean dan Rain sadar mereka gak bakal suka kalo liat Lo gak makan". Ucap Shireen.


Sedangkan Bella hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun, ia tak menangis tak pula tersenyum. Ia merasa sangat hancur hingga air mata pun tak cukup untuk menunjukkan betapa hancurnya ia saat ini.


"Gimana bisa Lo tau kalo gue di culik?". Tanya Bella kepada Shireen.


Flashback on


Malam ini Shireen memiliki Janji untuk menginap di rumah Bella, namun yang ia lihat justru sekelompok orang yang terlihat membopong perempuan masuk ke dalam mobil. Setelah di perhatikan, Shireen terkejut melihat Naina yang membawa Bella dengan cara seperti itu, wanita yang di bopong itu adalah Bella.


Shireen mengikuti laju mobil Naina, namun ia kehilangan jejak. Hal itu membuat nya frustasi sehingga memutuskan untuk meminta Bantuan Rain.


Rain yang mendengar bahwa Bella di culik oleh Naina merasa sangat khawatir. Ia dan Shireen mencoba melacak ponsel Bella yang untungnya Bella selalu mengaktifkan GPS.


Rain memutuskan untuk mencari Bella sedangkan Shireen menghubungi pihak polisi.


Hingga akhirnya Rain menemukan sebuah gudang lama di tengah hutan. Bagaimana Naina tau tempat seperti ini? Batin nya.


Namun keberadaan Sean disitu memperjelas semuanya, Mereke telah bersekongkol. Rain merasa bodoh karena tak mencari tau informasi tentang siapa manusia berbahaya itu.


Tak ingin menunggu lama, Rain memutuskan untuk mengendap endap memasuki gudang tersebut.


Bug!


Sebuah balok kayu menghantam Rain hingga membuat kepalanya mengeluarkan darah cukup banyak. Rain merasa akan segera hilang kesadaran, namun ia harus menyelamatkan Bella saat ini. Dengan beberapa serangan Rain berhasil menjatuhkan beberapa anak buah Sean dan Naina.


Hingga akhirnya kejadian itupun terjadi.


Flashback off.


Bella yang mendengar cerita Shireen mulai memeluk nya mencari ketenangan, rasa takut kehilangan mendominasi di dalam dirinya.


Tak lama seorang pria dan wanita paruh baya yang Bella tebak adalah kedua orang tua Rain datang. Mereka menghampiri ruangan Rain dengan bercucuran air mata.


"Maafin mamah Rain, ini semua salah mamah, gak seharusnya mamah mendukung perjodohan kamu dengan anak kurang ajar itu". Tangis wanita paruh baya itu.


"Kalian teman teman Rain?" Tanya Abraham kepada Bella Dan Shireen.


"Iya om". Jawab Shireen.


"Terimakasih sudah memberikan pertolongan kepada anak saya". Lirih nya.


Shireen hanya mengangguk kan kepala. Berbeda dengan Bella yang menatap haru ibu nya Rain.


Bella mendekati wanita paruh baya tersebut dan memberikan pelukan. Pertemuan pertama bagi Bella dan Mamalisa, namun berhasil membuat mereka nyaman satu sama lain. Mereka sama sama menyalurkan kesedihan nya.


"Aku gak bakal maksa Tante buat bersikap sabar dan ikhlas karena posisi nya aku juga sulit untuk bersabar". Lirih Bella.


Mamalisa semakin mengeratkan pelukannya. Ia tak bisa berkata apapun, hingga untuk menanyakan siapa orang yang saat ini memeluk nya pun ia tak mampu.


Pintu ruangan Operasi Sean yang bersebelahan dengan ruang operasi Rain pun terbuka.


Bella sontak melepas halus pelukan nya dengan mamalisa dan menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan Sean dok? Baik baik aja kan?" Tanya Bella khawatir.


Dokter tersebut menampilkan raut kesedihan.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan lebih sayang kepadanya".


Deg


Bella merasa detak jantung nya melemah, Nyawa nya seperti di tarik paksa saat ini.


"Seaaann!!!" Histeris Bella lari menghampiri jenazah Sean.


"Kamu gak boleh tinggalin aku Sean gak boleehh!!!" Tangis Bella pecah.


"Kamu pernah janji sama aku kalo kamu gak bakal biarin aku hancur lagi, tapi kenapa kamu ingkar!! Kenapaa!!" Jerit Bella.


"Buka mata kamu Sean! Ini aku Bella!!Aku gak suka kamu becandain aku begini !!" Jerit Bella.


Bella memukul mukul dada Sean "Bangun Sean bangun! Ini gak lucu!!" Jerit Bella frustasi. Bella merasa begitu sesak.


Shireen yang melihat Bella pun menangis sedih.


"Bell.. udah biarin Sean tenang di sana, dia bakal sedih liat Lo begini". Ucap Shireen menasehati.


Bella memeluk jenazah Sean dan mengecup pipinya. "Kamu hiks.. kamu tega Sean, kamu tega!!_ Tangis Bella yang membuat Shireen, mamalisa dan Abraham yang melihat Bella ikut bersedih.


"Sayang.. kamu harus kuat ya". Ucap mamalisa yang menenangkan Bella.


Bella memeluk mamalisa untuk mencari ketenangan. Hingga Akhirnya Bella jatuh pingsan di pelukan mamalisa.


"Bella!!" Teriak Shireen terkejut.


🌼🌼🌼


Bella mengerjab kan matanya, bau obat menyeruak kedalam hidungnya. Ia mengingat ingat apa yang terjadi Sehingga ia terbaring di rumah sakit.


Seketika Bella teringat Rain dan Sean, hatinya kembali terasa nyeri.


"Hikss.. kenapa semua ini harus terjadi". Tangis Bella


Tak lama pintu ruangan terbuka, bella melihat Gultom dan Nita yang datang.


"Ayah hikss... Sean yaahh".. Tangis Bella.


"Kamu yang sabar ya sayang, Sean kan udah tenang disana, ayah juga sudah mengurus semua pemakaman nya". Ucap Gultom menenangkan.


Bella masih saja menangis sesuguk an. "Bagaimana Kondisi Rain?" Tanya Bella.


Gultom dan Nita sama sekali tak menjawab membuat Bella berlari tertatih tatih untuk menuju ke ruangan Rain.


"peluru yang masuk ke dalam tubuh pasien cukup dalam dan juga bekas pukulan di kepalanya juga begitu parah Sehingga Pasien mengalami koma, dan kemungkinan hidupnya hanyalah beberapa persen saja".


Deg

__ADS_1


Bella yang mendengar percakapan Abraham dan dokter seketika menegang. Kaki nya pun lemas seketika, air matanya kembali mengalir deras.


Mamalisa yang melihat Bella sudah menangis memeluk lututnya pun menghampiri Bella.


"Kamu ingin melihat Rain?". Tanya Mamalisa yang masih menghapus air matanya, mendengar anak nya dalam kondisi sekarat membuat hatinya begitu hancur.


Bella mengangguk kan kepalanya.


"Kemarilah".. ucap mamalisa.


"Rain sudah bisa di jenguk saat ini. Kita berdoa saja semoga ia bisa melewati masa masa koma nya". Ucap mamalisa sedih.


Bella langusung memasuki ruangan Rain.


Kaki Bella lemas melihat kondisi Rain yang seperti itu.


"Rain".. ucap Bella menggenggam tangan Rain.


"Ini aku Bella, kamu lama banget sih tidurnya hikss". Ucap Bella mulai memeluk Rain.


"Rain kamu marah ya sama aku, kok kamu gak bangunan bangun hiks"..


Bella menghembus kan nafasnya kasar. Ia hanya menangis sambil memeluk tubuh Rain yang di penuhi banyak alat medis.


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka membuat Bella mengarah kan pandangan nya. Bella semakin mengeluarkan air matanya ketika melihat Darren yang telah berdiri kaku.


Bella melihat Darren dengan pandangan terluka seolah olah ia sedang mengadu bahwa ia tidak baik baik saja. Darren yang mengerti langusung memeluk Bella erat.


"Rain pasti kuat mbell". Ujar Darren.


"Dia gak bakal ninggalin gue seperti Sean kan hiks". Tangis Bella.


"Sstt.. Lo harus percaya kalo Rain pasti bakal baik baik aja, Jangan nangis terus, Kasian Rain pasti sedih ngeliat Lo nangis".


"Lo inget gak kalo Rain pernah minta Lo buat bahagia terus?" Ucap Darren mengingat kan.


Yang terjadi justru tangis Bella semakin menjadi karena teringat kenangan nya bersama Rain.


🌼🌼🌼


"Kondisi pasien semakin lama semakin memburuk, Saat ini kita hanya bisa berdoa agar pasien cepat sembuh". Ucapan dokter tersebut membuat mamalisa dan Abraham meneteskan air matanya, mereka tak kan siap jika harus kehilangan putra yang mereka cintai.


"Saya sarankan untuk membawa pasien ke Jepang agar  mendapatkan perawatan yang lebih maksimal". Saran dokter lagi.


"Tetapi, apakah tidak akan berbahaya jika Rain di bawa perjalanan jauh?" Tanya Abraham.


"Tentu tidak pak, kita berdoa saja semoga jalan yang kita ambil benar". Ucap dokter menenangkan.


"Lakukan apapun yang terbaik". Ucap Abraham.


"Baiklah, kita tak memiliki banyak waktu". Ucap dokter tersebut.


🌼🌼🌼


Sudah dua Minggu Rain tak sadarkan diri, dan Bella selalu menjenguk Rain setiap hari.


Bella membuka pintu Ruangan Rain namun Nihil, Rain tidak ada. Bella kalang kabut melihat nya.


"Sus, pasien di ruangan ini kemana ya?" Tanya Bella kepada salah seorang suster yang melewati nya.


"Oh, pasien sudah di bawa ke Jepang beberapa jam yang lalu".


Deg


Mengapa tak ada yang memberitahu nya? Apakan Bella tidak cukup penting? Batin Bella miris.


Yang lebih mengganggu pikiran nya lagi saat ini adalah, apakah kondisi Rain semakin memburuk sehingga harus di pindahkan? Dan bagaimana cara Bella bisa menemani Rain?


Pikiran pikiran buruk terus saja masuk ke dalam pikiran Bella, air matanya entah sejak kapan luruh.


Bella pulang dengan langkah gontai. Ia merasa tak memiliki semangat hidup lagi. Apakah Rain akan meninggalkan nya? Batin Bella sakit.


🌼🌼🌼


Hari demi hari Bella lalui tanpa semangat, Bella masih sering mengunjungi Rumah Rain beberapa bulan ini hanya untuk memastikan apakah Rain sudah pulang atau belum, apakah Rain sudah sembuh atau belum.


Namun Abraham dan keluarganya  seperti menghilang begitu saja.


Bella melangkah kan kakinya menuju ruang tamu.


"Sudah bangun sayang?" Tanya Nita kepada Bella.


"Udah Tan". Ucap Bella.


"Ziuu.. jangan ganggu kak Bella sayang, duduk sini". Ucap Nita ketika melihat ziu yang mencoba mencari perhatian Bella.


"Gak papa Tante". Ucap Bella menengahi, sejujurnya Bella gemas melihat pipi ziu yang seperti mochi.


Sesekali Bella tertawa melihat ziu yang bertingkah konyol. Bella merasa sudah saat nya ia bangkit, ia tak boleh terus terusan terpuruk, Ia yakin Rain akan segera sembuh. Ucap bella meyakinkan dirinya.


"Bella keluar dulu Tante". Ucap Bella yang di angguki oleh Nita.


Bella berjalan menuju taman kota yang sedang  ramai sambil membawa Diary kesayangan nya, diary yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya, diary yang menjadi saksi bisu luka hidup serta kebahagiaan nya.


Bella duduk di bawah pohon rindang sambil menghirup dalam dalam udara pagi yang belum tercemar, Bella tersenyum dalam diamnya.


Lembaran kertas diary yang sudah agak menguning itu Bella buka pelan seakan akan kertas tersebut akan hancur jika ia membuka dengan kasar.


Bella mulai menulis di Lembaran kertas kecil itu.


diary


Beberapa orang mengatakan bahwa rindu itu indah, namun tahukan kau? Bahwa Rindu dan kamu itu seperti angin. Tak bisa kulihat, tapi kurasakan kehangatan juga kegelisahannya. Menyakitkan bukan?


Ah.. Sangat di sayangkan sekali karena Rasa sakit serta rinduku ini hanya kau yang punya penawarnya.


Tak bisakah kau segera menuntaskan Rindu ini?


Bella menutup diary nya dengan tangis kecil nya. Ia merutuki hidupnya yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


"Lo jelek kalo nangis". Suara seseorang berhasil menghentikan tangis Bella, ia buru buru menyeka air matanya.


"Darren?" Ucap Bella terkejut.


"Lo knapa bisa disini?" Tanya nya.


"Ini tempat umum, emang Lo doang yang bisa kesini". Dumel Darren.


Darren mengambil posisi duduk di sebelah Bella.


"Mbell, ada harga yang harus di bayar untuk setiap kebahagiaan. Jangan Pernah ngeluh, anggap aja ini semua sebagai bayaran untuk kebahagiaan Lo di masa mendatang". Ucap Darren.


Bella yang mulai merasa tertarik melihat ke arah Darren.


"Kalo Lo gak ngerasain sakit nya kehilangan, mungkin Lo gak pernah bisa bersyukur atas sebuah kehadiran".


"Kalo Lo gak pernah ngerasain sakitnya kehidupan, Lo juga gak bakal bisa mensyukuri sebuah kebahagiaan".


"Jangan pernah Lo berfikir kalo Lo sendirian, jangan berfikir kalo Lo yang paling tersakiti".


"Mbel.. Lo harus liat ke bawah, masih banyak orang yang lebih menderita daripada kehidupan kita".


"Apapun yang Lo rasain saat ini Lo harus bersyukur".


"Lo harus bersyukur atas rasa sakit yang Lo alami karena rasa sakit itu yang bakal ngebantu Lo menjadi lebih dewasa, rasa sakit itu yang bakal ngebuat Lo lebih menghargai sesuatu".


"Lo gak bakal pernah tau rasanya bangkit kalo Lo gak pernah jatuh kan?".  Ucap Rain mencoba membuka pikiran Bella.


"Tapi ini terlalu berat buat gue Darren hikss".. tangis Bella.


"Sstt.. jangan nangis".


"Lo fikir Rain mau ngeliat Lo menangisi dia setiap saat? Lo harus mulai lagi kehidupan Lo".


Bella mengangguk kan kepalanya, apa yang Darren katakan benar.


"Kalo ada apa apa jangan di Pendem sendiri bel, Lo punya keluarga, Lo punya gue bell. Lo bisa cerita apapun dan kapanpun". Ucap Darren.


Bella merasa sedikit demi sedikit beban nya mulai terangkat. Ternyata menceritakan masalah kita kepada seseorang akan lebih baik daripada memendam sendiri.


"Tunggu di sini". Ucap Darren yang membuat Bella bingung.


Darren pergi untuk membeli ice cream cup dan menyerahkan nya kepada Bella.


Bella tersenyum bahagia menerima nya. "Tumben Lo baik? Pasti ada maunya". Ledek Bella.


Darren hanya menggeleng kan kepalanya, Bella yang menyebalkan mulai kembali.


"Oh iya, ngomong ngomong Lo tau soal laskar yang dulu  pacaran sama Shireen? Mereka masih jalin hubungan sampai sekarang?" Tanya Bella lagi.


Darren sontak terdiam karena pertanyaan mendadak dari Bella.


"Ck, iya gue tau dan  ceritanya panjang". Ucap Darren.


"Ih ceritain gak mau tau!!" Kesal Bella.


Darren menghembus kan nafasnya kasar, tak ada gunanya melawan Bella.


"Laskar sama Shireen udah gak pacaran lagi karena"..


"Karena apa?"


"Laskar selingkuh". Ucap Darren yang membuat Bella melotot tajam.


"Berani banget!" Geram Bella.


"Saat itu Shireen benar benar dalam keadaan terpuruk". Lanjut darren


"Saat itu gue juga marah banget sama laskar, walaupun Laskar bilang ia hanya sekedar bermain main saja dengan selingkuhannya,  tetap saja hal itu tidak bisa di benarkan". Ucap Darren.


"Terus?" Tanya Bella.


"Emm.. gue gak tau semua berawal dari mana tapi yang jelas saat ini gue lagi Deket sama Shireen".


"What!!!" Bella terkejut.


"Ck! Berisik Lo!" Dumel Darren.


"Hal itu juga yang ngebuat hubungan gue sama Laskar sedikit renggang. Gue gak bermaksud buat mengkhianati temen gue, tapi rasa itu muncul gitu aja".  Ucap Darren dengan sedikit panik


"Ck, lagian si laskar juga bukan siapa siapanya Shireen lagi kan? Dan asal Lo tau, sebelum Shireen jadian sama laskar dia itu udah suka sama Lo duluan!" Ucap Bella tanpa sadar.


"Maksud Lo?" Darren terkejut.


Bella yang tersadar akan ucapan nya mulai merutuki kebodohan nya. Bella kan sudah berjanji untuk diam diam saja akan hal itu. Batin Bella.


Bella menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Iya, jadi dulu itu Shireen pas SMA udah lama suka sama Lo, cuma Lo nya aja yang gak peka!" Kesal Bella.


Darren melongo mendengar nya, namun sedetik kemudian ia mulai mengembangkan senyum nya.


"Lo beneran cinta kan sama Shireen? Lo gak bakal mainin dia kan?" Tanya Bella.


"Ck, gue emang beneran serius sama dia, cuma selama ini gue fikir dia belom bisa move on dari laskar makanya gue gak mau terburu-buru ngungkapin perasaan gue ke dia". Ucap Darren.


"Ck, bego Lo!" Kesal Bella .


"Btw, gue masih Inget kalo dulu Lo bilang Lo sukanya sama gue". Ledek bella terkekeh.


"Darren menyentil kening Bella geram. Eh belut sawah! Gak usah di Ingetin lagi!! Emang Lo mau gue nikung Rain?" Ledek Darren.


"Sembarangan!". Kesal Bella memukul bahu Darren.


"Mana mau gue Lo tikung! Cakepan Rain kemana mana dong". Sinis Bella.


"Ck, bodo amat bel" . Kesal Darren.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2