Leave Me Alone

Leave Me Alone
1. Injustice


__ADS_3

Brak!


Beberapa buku tebal dibanting keras ke meja. Alana tersentak lalu menghentikan kegiatan membacanya. Ia mendongak dan menatap takut pada dua cewek yang berdiri di depannya.


"Ada apa ya?" tanya Alana baik-baik pada kedua cewek tersebut.


"Pake nanya segala lagi. Kerjain PR gue! Siang ini kan mau dikumpul," titah salah satu dari mereka yang bername-tag Miska.


Lagi dan lagi, Alana harus menurut. Melawan Miska bukan ide yang bagus. Lebih baik ia menuruti segala kemauan Miska agar bisa aman.


Ayah Miska adalah donatur terbesar di sekolah ini. SMA Kasih Bunda. Sedangkan Alana hanya murid biasa yang masuk ke sana karena beasiswa.


"Istirahat kedua gue ambil. Awas kalau masih belum selesai!" ancam Miska lalu melenggang pergi keluar kelas bersama temannya tadi.


Alana menghela nafas panjang. Dengan berat hati ia harus mengerjakan tugas Miska.


Miska bukan lawannya. Sedikit saja memberontak, beasiswa akan tercabut. Sedikit saja melanggar, ia akan dipermalukan di depan umum.


SMA Kasih Bunda adalah sekolah yang besar dan berkualitas. Murid-murid yang masuk disini kebanyakan adalah orang mampu yang memiliki kekayaan luar biasa.


Murid beasiswa bukan sesuatu yang istimewa di sini. Beberapa dari mereka bahkan diperlakukan tidak senonoh oleh sebagian orang. Alasannya karena mudah dimanfaatkan dan diperalat.

__ADS_1


Bagi Alana sendiri, bullyan yang dia dapat sudah menjadi santapan sehari-hari. Tak jarang bahkan ada yang melakukan kekerasan padanya.


Bertahan adalah satu-satunya pilihan yang Alana punya. Dia tak bisa pindah sekolah. Dia bukan orang yang mampu untuk melakukan itu. Biaya hidup juga masih kurang. Untuk makan saja sangat susah baginya.


"Heh! Gue mau beli bakso! Siniin uang gue!"


Suara itu membuat Alana menggigit bibirnya. Astaga.. cobaan apa lagi ini.


Haikal Arditya namanya. Cowok berandalan yang sering memoroti uang Alana sejak awal masuk sekolah. Cowok itu selalu bilang kalau uang Alana adalah uangnya. Menyebalkan.


Tanpa memberi jawaban atau alasan. Alana merogoh sakunya dan memberikan dua lembar uang lima ribu pada Haikal.


Alana meringis. "Gue cuma punya segitu aja, Kal. Uang gue habis untuk bayar uang kas tadi," jawab Alana dengan alis berkerut. Mencoba marah tapi ia tahan.


"Alasan!" Tanpa permisi, Haikal merogoh saku Alana. Membuat Alana reflek memukul tangan Haikal dan memegangi dadanya.


"Lo gak sopan!" gertak Alana. Bagaimana tidak? Tangan Haikal merogoh kantong Alana yang berada di depan dadanya. Bukannya itu termasuk pelecehan?


"Gak sopan apa?! Lo pikir gue nafsu sama cewek cungkring kayak lo? Jangan mimpi!" Haikal menoyor kening Alana dengan keras. Setelah itu ia pergi dari kelas Alana menuju kantin.


Alana menunduk dalam-dalam. Matanya memanas dan mengeluarkan sedikit air karena perlakuan Haikal tadi.

__ADS_1


Semuanya terasa tak adil. Ia selalu bertanya kapan penderita ini akan berakhir? Berapa lama lagi ia harus menunggu?


Diriku yang malang..


"Alana."


Panggil seseorang dari belakangnya. Ia reflek menoleh kebelakang, menemukan sesosok cewek yang memandanginya sambil memperlihatkan deretan gigi yang tersusun rapi.


"Tolong kerjain PR gue dong."


\=\=\=\=\=


**To Be Continued..


Masih kuat mental untuk baca kelanjutan kisah Alana?


Jangan lupa like dan komen, ya. Kasih masukan dan kritik untuk cerita pertama aku.


Terima kasih sudah mampir😊.


See ya**!

__ADS_1


__ADS_2