Leave Me Alone

Leave Me Alone
8. The Secret of Haikal


__ADS_3

"Alana! Sini!" titah Haikal saat melihat Alana keluar dari kelasnya.


Alana hanya menurut. Ia tidak tau Haikal punya rencana apa lagi kali ini. Semoga saja tidak lebih buruk dari kemarin-kemarinnya.


"Lo beli jajan sana gih di kantin. Antar ke rooftop, gue tunggu di atas." Haikal menyodorkan uang lima puluh ribu pada Alana.


Alana menerimanya. Alana tidak akan membantah kali ini. Ia pergi ke kantin dan memberi beberapa jajan.


Agak aneh rasanya. Kemarin-kemarin Alana sering dimintai uang oleh Haikal. Tapi sekarang Haikal memakai uangnya sendiri.


Apa karena Haikal tau kalau Alana bekerja sendiri, makanya dia iba dan tak mau memakai uang Alana lagi.


Setelah membeli jajan, Alana pergi ke rooftop dan menemukan Haikal sedang duduk di sebuah balok sembari memainkan ponselnya.


Mengetahui Alana sudah datang, Haikal menepuk sebelahnya tanda menyuruh Alana untuk duduk di sana. Alana menurut.


Setelah ia duduk, ia letakkan kantong jajan yang ia pegang dekat Haikal.


"Buat lo aja. Tiba-tiba gue gak selera makan," ucap Haikal tanpa menoleh dari ponselnya.


"Makasih."


Setelah itu hening. Haikal sibuk dengan gamenya. Dan Alana hanya bergeming ditempat dengan pandangan kosong.


Tepat setelah game Haikal telah selesai cowok itu bertanya sesuatu yang mengagetkan Alana.


"Lo kenapa sih mau aja jadi pacar gue? Takut?"


Alana melirik ke samping. "Iya," jawabnya dengan ekspresi datar.


Haikal mengubah posisinya dari duduk ke jongkok di depan Alana. Sembari memegang kedua lutut Alana, Haikal juga memandang wajah Alana lekat-lekat.

__ADS_1


"Liat gue, Al."


Alana menunduk dan memandangi kedua mata Haikal. Ekspresinya tak banyak berubah, datar.


"Lo pasti ingat sama gue. Pasti. Jujur sama gue, Al."


Kening Alana mengerut. "Maksudnya?"


"Beneran gak ingat?" tanya Haikal dengan wajah piasnya.


"Ingat apasih?"


"Ardit, Al. Arditya lo yang dulu."


Alana bergeming. Arditnya? Arditnya yang dulu?


Mata Alana membulat. Untuk beberapa saat mereka diam tak bergerak. Saling memandang tanpa bicara.


Alana masih tak bisa mencerna ini. Ardityanya yang dulu, ternyata selama ini dia adalah Haikal. Apa dia tidak salah?


"Ingat kan sekarang?" Haikal meletakkan kepalanya di lutut Alana.


Tak lama kemudian, Alana merasakan lututnya basah. Haikal menangis.


"Maaf, Al. Maafin gue," ujarnya terisak. "Maaf karena udah nindas lo selama ini. Maaf karena udah buat lo takut selama ini. Maaf karena gue sering ambil semua uang lo. Maaf untuk segalanya."


"Ini apa maksudnya, Kal?" tanya Alana yang belum bisa mencerna apa yang terjadi.


"Gue lakuin itu semua demi bisa deket sama lo. Maaf, Al. Cara gue salah. Maaf," ucap Haikal dengan suara yang bergetar.


Alana berdiri, membuat Haikal reflek mundur. Alana ikut berjongkok di depan Haikal, lalu dengan sigap ia memeluk Haikal erat-erat. Alana ikut menangis.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya ia merasa beban di bahunya sedikit terangkat.


Apa yang dilalui Alana sampai saat ini benar-benar sangat berat. Saat bertemu Arditya lagi, rasanya Alana sangat senang dan terharu.


Sangat.


Haikal terus mengelus punggung Alana lembut. Ia tau, Alana sangat depresi. Ia tau itu.


"Cerita ke gue, Al. Ada apa sama orang tua lo?" pinta Haikal.


Alana melepas pelukannya. Ia mengelap air matanya dengan tangan, lalu duduk di lantai.


Haikal juga sudah duduk di lantai. Menunggu Alana untuk bercerita.


"Mereka baik, Kal. Mereka orang tua kandung gue. Gue ternyata juga punya seorang Kakak. Tapi semua berubah waktu liburan kelulusan Sd."


Ada jeda yang cukup lama.


"Gue kecelakaan pesawat."


Haikal tertegun.


"Tiba-tiba waktu gue bangun, gue udah ada di rumah sakit. Polisi bilang kalau orang tua gue gak ditemukan. Mereka tenggelam. Tabungan orang tua gue habis untuk biaya operasi gue. Semuanya tiba-tiba berubah. Semuanya tiba-tiba hilang. Semuanya tiba-tiba suram."


Alana kembali terisak.


Haikal memeluk Alana dan mengusap kepala Alana beberapa kali. "Udah gak pa-pa. Sekarang ada gue."


Alana menangis sejadi-jadinya. Ia menangis seperti anak kecil yang habis kehilangan.


Alana mengeluarkan semuanya di sana. Unek-uneknya, kesedihannya, depresinya, dan dia juga mengungkapkan betapa menderitanya dia selama ini.

__ADS_1


Haikal ikut menangis mendengarnya. Ia tak menyangka kalau Alana akan mengalami hal seburuk itu.


Haikal berjanji, ia tak akan membiarkan Alana menderita lagi setelah ini. Tidak akan.


__ADS_2