Leave Me Alone

Leave Me Alone
6. Feels Very Fast


__ADS_3

"Ini rumah lo?" tanya Haikal saat mereka sudah sampai di sebuah rumah kecil yang berwarna hijau.


"Iya."


Haikal tampak memandangi rumah Alana agak lama.


Rumah tersebut terbuat dari kayu, tidak ada halaman dan tidak ada pagar. Jaraknya sekitar satu meter dari rumah-rumah lain. Di depan ada sebuah pohon mangga yang tinggi dan berdaun lebat. Rumah ini tidak cukup buruk.


"Makasih udah mau nganterin gue pulang," kata Alana pada Haikal.


Haikal menoleh pada Alana. "Gak ditawarin masuk dulu gitu?" tanyanya.


"Udah malem banget, mending lo pulang," usir Alana dengan lembut.


"Nah karena udah malam, gue boleh dong nginep di rumah lo. Lagian gue gak berani pulang sendirian jam segini, besok juga libur kan." Haikal mencoba membujuk Alana.


Gadis itu tampak berfikir. Laki-laki menginap di rumahnya itu tidak masalah, tak ada tetangga yang akan komplain di sini. Karena tetangga-tetangga nya bukan tipe orang penggosip.


Yang Alana pikirkan adalah, maksud tersembunyi Haikal. Ia masih sangat takut pada cowok itu.


"Tenang aja, gue gak ngapa-ngapain," ujar Haikal yang seakan tau pikiran Alana.


"Oke, yuk masuk," putus Alana.


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah tersebut. Haikal tak percaya saat melihat dalamnya. Semuanya terlihat rapi dan bersih. Sebagian dari barang-barangnya Alana bahkan tampak mahal.


"Lan, lo gak miskin beneran kan?" tanya Haikal tak percaya.


"Soal itu, ini rumah peninggalan orang tua gue," jelas Alana saat melihat Haikal yang terpukau dengan isi rumahnya.


"Gue boleh tau kemana orang tua lo pergi?" tanya Haikal lagi. Ia duduk di sofa berwarna merah tua ruang tamu dekat televisi.


"Ibu gue meninggal, kalau ayah gak tau kemana," jawab Alana dengan entengnya.

__ADS_1


"Bukannya lo anak panti ya?"


Alana yang sedang sibuk merapikan rak sepatu langsung kaget dan tiba-tiba badannya mendadak kaku. "Tau dari mana?" tanyanya dengan suara tercekat.


Haikal ikut terdiam. Shit, salah ngomong, batinnya. Ia berfikir dengan keras apa yang harus ia katakan selanjutnya.


"Kata orang, gue denger dari orang-orang," ujarnya berbohong.


"Orang siapa?" tanya Alana lagi kali ini ia menoleh pada Haikal yang kini memandanginya dari sofa.


"Ya pokoknya orang, gue lupa siapa yang namanya."


Tak ada jawaban lagi dari Alana. Ia segera merapikan rak sepatu dan berjalan ke dalam.


Haikal menghela nafas panjang. Seharusnya dia tidak keceplosan. Saking keponya pada Alana ia sampai berkata seperti tadi.


Ia meraih remot televisi dan menekan tombol power. Mengganti-ganti saluran televisi dan berhenti di acara ftv malam.


Tak lama Alana kembali dengan dua gelas teh hangat dan beberapa camilan. "Maaf adanya cuma ini."


Alana duduk di depan Haikal. Ia ikut menonton ftv sambil menikmati cemilan keringnya.


Mereka berdua masih tidak percaya akan semua ini. Bukannya kemarin Haikal masih membully Alana, melakukan hal kejam pada Alana dan bahkan selalu meminta uang pada Alana.


Sekarang apa? Mereka berada di dalam rumah berdua pada jam dua pagi. Menonton sebuah ftv malam sambil menikmati camilan bersama. Semua terasa seperti mimpi.


"Gue mau tanya sesuatu," ujar Haikal tiba-tiba.


"Tanya apa lagi," balas Alana dengan jengah.


"Lo ... dendam gak sama gue?"


Alana memandangi Haikal sejenak lalu berkata, "Yah ... lumayan."

__ADS_1


Suasana hening. Mereka kembali menonton ftv malam sampai akhirnya iklan muncul.


"Sekarang giliran gue yang tanya," kata Alana tiba-tiba.


Haikal hanya menaikkan alis sebelahnya untuk menunggu hal apa yang akan ditanyakan Alana.


"Kenapa lo mau pacaran sama cewek cupu kayak gue? Mau jadiin gue babu? Atau terus minta uang gue? Atau minta kerjain pekerjaan rumah?" tebak Alana.


"Jadiin lo babu," jawab Haikal enteng.


Sudah Alana tebak. Ternyata ada maksud tersembunyi di balik niat aneh Haikal. Seharusnya dia tidak terbawa perasaan dulu.


Haikal mengambil gelas berisi teh hangat di meja depannya dengan hati-hati. Lalu ia meminum teh tersebut pelan-pelan.


Alana tersentak saat melihat sesuatu yang terasa familiar di leher Haikal. Ia menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi. Itu seperti ... bekas luka.


Setelah cowok jangkung tersebut meletakkan gelas itu kembali ke meja, Alana bertanya, "Yang di leher lo itu bekas luka, ya?"


Haikal diam sejenak. "Iya, jatuh waktu belajar motor."


Ah, ternyata hanya pikiran Alana saja yang aneh. Ia jadi teringat teman masa kecilnya, dia juga punya bekas luka di leher.


Tapi jelas tidak mungkin. Teman masa kecilnya sangat baik, tidak seperti Haikal yang suka membully dirinya.


Jelas gak mungkin.


----------


Plis komen dan like. Tambahkan cerita ini ke favourite kaliana



**Ini ada visualnya Haikal. Maaf kalau gak cocok, silahkan berandai sendiri Haikal itu seperti apa.

__ADS_1


Dah segitu aja, Babai** :*


__ADS_2