
"Alana, dipanggil sama bunda!"
Alana yang sedang membaca buku di kamarnya tersentak. Ia menoleh dan menemukan temannya berdiri di ambang pintu sambil memegangi dadanya yang naik turun karena nafas yang memburu.
"Dipanggil untuk apa, Ar?" tanya Alana dengan wajah polosnya.
Laki-laki kecil yang tadi di ambang pintu berjalan mendekati Alana yang tengah duduk di kasur. Ia duduk di samping Alana dan memandangi gadis itu dengan mata sayu.
"Gak tau. Tapi waktu bunda suruh aku panggil kamu, dia lagi sama seseorang. Kayaknya kamu bakal diadopsi, Al," ujar lelaki itu dengan wajah murung.
Mata Alana melebar. Ia segera berdiri dari tempatnya dan keluar kamar, disusul oleh anak laki-laki tadi. Alana berlari ke ruang tamu dan menemukan 'bunda' perawat sekaligus ibu baginya dan sepasang suami istri yang sedang duduk sambil bercengkerama.
"Alana, sini nak." Bundanya melambaikan tangan saat melihat Alana datang.
Alanapun berjalan dan duduk di pangkuan bundanya. Sedangkan lelaki kecil tadi duduk di bangku samping bundanya sambil memandangi kedua orang dewasa yang sekarang berada di depannya.
"Alana," panggil lelaki paruh baya yang ada di depannya.
Alana sedikit kaget dan menelan ludah. Dengan gugup iya menjawab, "Iya?"
"Umur kamu berapa?"
"Lima tahun, om." Alana melihat lelaki paruh baya itu sambil menunduk.
__ADS_1
"Mulai sekarang, panggil saya papa, ya." Lelaki itu tersenyum hangat sambil melihat Alana.
Alana mendongak untuk melihat bundanya. "Alana mau diadopsi, bun?" tanyanya dengan wajah sedih.
Bundanya tersenyum hangat. "Bukan diadopsi, sayang. Mereka itu orang tua kadung Alana."
Alana kembali memandangi dua orang yang mengaku sebagai orang tuanya. Ia menelan salivanya lagi. Jika ia diadopsi, pasti dia tak bisa melihat teman-teman sesama pantinya, terutama bunda yang dari dulu sudah merawatnya.
Alana turun dari pangkuan bundanya dan berlari kebelakang laki-laki kecil yang sedari duduk di bangku sebelah bunda. "Enggak! Alana gak mau diadopsi!" tolaknya mentah-mentah.
"Alana sayang... Mereka itu orang tua kandung Alana, orang yang sudah melahirkan Alana waktu kecil," ujar bunda meyakinkan Alana.
"Alana gak percaya!" teriak Alana. Tak sadar, air mata dengan cepat membasahi pipinya mungilnya.
Alana menggeleng lalu mengelap air matanya dengan tangan. Ia mundur beberapa langkah lalu berlari ke arah kamarnya kembali. Lelaki kecil yang sedari tadi diam menyaksikan kejadian itu juga pergi dari sana. Menyisakan bunda dan sepasang suami istri tadi di ruang tamu.
"Maafkan Alana ya, bu, pak. Mungkin dia belum bisa menerima ini semua." Rijan-bundanya Alana memandang iba mereka berdua.
"Ah, enggak papa, buk. Saya juga maklum, kami tiba-tiba datang dan langsung minta Alana. Pasti dia kaget," ujar wanita paruh baya tersebut.
Bunda berdiri dari tempatnya. "Saya akan coba meyakinkan Alana."
***
__ADS_1
Alana terbangun dari tidurnya. Ia mendongak melihat jam, jarum pendeknya masih terarah pada angka dua. Berarti ini masih pagi.
Tangannya mengusap mata yang entah mulai kapan mengeluarkan air. Bantalnya pun juga basah karena air matanya.
Mimpi itu ....
Nyata. Itu benar-benar terjadi. Tepatnya dulu saat dia masih kecil. Tak terbayang kehidupannya akan jadi seperti ini.
Air mata kembali membasahi pipi Alana. Ia mendongak menatap langit-langit dan memejamkan matanya kuat-kuat. Membuat air mata berjatuhan ke samping mata.
Perasaan ini, seakan membunuhnya. Emosi yang tertahan cukup lama di dalam lubuk hatinya. Seakan bisa meledak kapanpun dan di manapun.
Alana menghela nafas pelan.
"Bunda, Ardit. Alana kangen ..."
**To Be Continued...
Ciee.. double up.
Maapkan garing. Makasih yang udah mau mampir
See ya**.
__ADS_1