
"Habis nangis lo?" tanya Rendi dengan nada dan wajah tidak pedulinya.
Alana hanya tersenyum. Setelah ia curhat dengan Haikal tadi ia langsung diantar kembali ke kelas saat bel berbunyi.
Perasaan Alana sekarang ini bagaimana?
Pertanyaan yang bagus. Dia sangat-sangat-sangat-sangat-sangat lega. Seakan beban yang ada di bahunya sedikit terangkat.
Bahkan senyumnya sudah kembali sekarang. Selain itu, kebenaran tentang Haikal adalah Arditya (teman satu panti asuhannya dulu) membuatnya merasa tidak sendirian lagi.
Alana heran. Kenapa Haikal mendekatinya dengan cara menindas seperti itu. Apa Haikal pikir Alana sama seperti dulu? Sangat tegar dan menganggap semuanya hanya bercandaan.
Alana yang sekarang sudah sangat berbeda. Kehilangan banyak hal membuatnya jadi kehilangan alasan untuk hidup.
Orang-orang pasti akan bilang kalau Alana punya mental bayi. Iya, memang Alana payah. Alana bukan orang yang bisa memendam masalahnya, Alana bukan orang yang pura-pura bahagia saat sedang sedih, Alana bukan orang yang ceria dan menebar kebahagiaan setiap saat.
Alana manusia. Alana punya hati. Alana punya perasaan. Ada kalanya Alana lelah. Ada kalanya Alana terpuruk. Dan ada kalanya Alana ingin menyerah.
Semua orang pasti pernah dalam fase itu kan.
"Hari ini ada ulangan Fisika. Kita teman kan, Al? Bagi jawaban nanti," ujar Rendi dengan tampang datar dan tak merasa berdosanya.
"Cari orang lain aja, ya. Gue mau fokus kali ini."
Rendi diam sejenak. Ia mengubah posisinya dan mendekatkan kepala ke Alana. "Gue tantang lo dapet nilai sempurna di ulangan kali ini. Gimana?"
"Gue aja gak yakin bisa ngerjain soalnya apa enggak," tolak Alana secara halus. Ia tak balik menatap Rendi, pandangannya fokus pada buku fisika yang sedari tadi dibolak-bolikkan.
"Kalau aja lo dapet nilai lebih tinggi dari gue, meski cuma satu poin. Gue bakal kabulin apa yang lo mau selama satu minggu. Itu juga berlaku sebaliknya."
"Gak bisa. Gue gak ada persiapan."
"Gue juga gak ada persiapan." Rendi kembali bersandar pada bangkunya. "Nolak berarti menyerah. Menyerah berarti kalah. Dan kalah artinya lo harus nurutin apa yang gue mau selama seminggu."
"Memangnya gue mau?"
"Harus maulah. Kalau gak mau nanti gue aduin ke Misca. Mau lo?"
"Ngancem gue nih ceritanya?" Alana tersenyum miring. "Oke. Gue terima tantangan lo."
"Nah gitu dong."
__ADS_1
Rendi sungguh tak jantan. Alana tak mengira kalau Rendi orang yang seperti ini. Mengancam demi mendapatkan apa yang ia mau.
Ah ... seharusnya Alana sudah tau. Lebih baik ia segera menghapal rumus-rumusnya.
***
"Yes! Good job, Ren!" sorak Rendi pada dirinya sendiri sembari tersenyum miring pada Alana.
Sedangkan wajah Alana sudah memasam saat ini. Ia tidak menyangka akan kalah dari Rendi.
Nilai Alana 97. Dan nilai Rendi 99. Astaga, betapa pelitnya Bu Lilis memberi nilai pada muridnya.
"Sesuai kesepakatan. Seminggu dari besok ya."
Alana menghela nafas berat. "Iya!" jawabnya dengan nada sewot.
Rendi terkekeh. Lucu juga saat melihat wajah kesalnya Alana. "Besok gue minta lo bawain nasi goreng ya."
Alana diam. Nasi goreng? Entah kenapa perasaan Alana jadi tidak enak.
"Diam berarti iya," ucap Rendi sekenanya.
Lama kelamaan cowok ini terasa sangat menyebalkan di mata Alana.
"Buset perhitungan amat. Timbang bikin nasi goreng gak abis banyak kan."
"Gue gak mau rugi. Lagian di dunia ini gak ada yang gratis kan."
Rendi merogoh sakunya dan mengeluarkan gulungan berwarna merah yang tebal. Ia membukanya lalu memberikan dua lembar pada Alana.
"Buat seminggu. Cukup gak?" tanya Rendi.
Alana terkekeh. "Canda elah. Gak usah bayar."
"Yakin?"
Alana mengangguk pasti.
"Beneran? Gak masalah kalau lo mau ambil uangnya, gue tajir kok."
"Dih. Gak perlu gue. Mending lo kasih ke orang yang lebih membutuhkan daripada gue."
__ADS_1
"Gue rasa lo membutuhkan."
"Astaga, gue gak semiskin yang lo bayangkan kok."
"Yaudah." Rendi memasukkan uang tersebut ke dalam sakunya lagi.
Setelah itu hening. Tak ada yang membuka suara. Keadaan kelas yang ramai membuat suasana tak begitu canggung. Bu Lilis baru saja keluar kelas untuk mengurus sesuatu.
Rendi mendengarkan musik lewat earphone, sesekali melirik Alana yang tengah sibuk membenarkan jawabannya. Gadis itu sangat gigih.
Tiba-tiba seseorang terlihat mengetuk jendela di samping Alana. Itu Haikal.
Mata Haikal sempat bertemu dengan mata milik Rendi. Hanya sekejap, pandangan itu teralih pada Alana yang tersenyum senang.
"Ngapain ke sini? Gak ada guru di kelas?" tanya Alana dengan nada berbisik yang masih bisa didengar Rendi.
"Mau datangin pacar di sini. Ada guru sih tadi di kelas."
"Terus izinnya gimana?"
"Ya izin ke toilet."
Alana menggeleng. "Dasar."
"Dasar apa? Dasar ganteng! Iya, tau kok kalau gue ganteng."
"Idih pede amat."
"Lagi ngapain sih, pacar gue yang cantik ini, hm?" tanya Haikal melihat Alana sibuk mencoret-coret kertas penuh angka.
"Geli banget denger gitu, Ar." Arditya? Ah iya, setelah tau kalau Haikal itu Arditya, ia jadi memanggil dengan nama Arditya.
"Haha, gue juga geli. Tapi apa sih yang enggak buat pacar kesayangan gue ini?"
"Plis deh, stop. Gue bisa muntah di sini sekarang juga."
Alana dan Haikal tertawa bersama. Mereka terlihat akrab.
Lain dengan Rendi yang sibuk memperhatikan kemesraan mereka berdua. Perlahan ia mengepalkan tangannya.
Benar-benar sangat menyebalkan melihat adegan bermesraan mereka berdua.
__ADS_1
Menyebalkan? Tentu saja, karena Rendi benci Alana dan Haikal.
Sangat benci.