
Kriiing! Kriiing!
Tangan Alana bergerak memencet jam weker berbentuk bunga matahari. Suara bel alarm pun berhenti. Ia menggeliat sebentar lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai.
Segera ia mengambil air wudhu dan shalat. Setelah itu, ia membuat nasi goreng untuk sarapan pagi.
"Rajinnya pacar gue."
Alana yang sedang mengaduk nasi gorengnya di penggorengan tersentak dan menoleh kebelakang. Ia menemukan Haikal tengah bersender di ambang pintu sembari bersedekap.
Alana kembali fokus pada nasi goreng yang diwajan. Setelah jadi, ia hidangkan di dua piring lalu dimakannya di meja makan bersama Haikal.
"Maaf adanya ini aja," ujar Alana pada Haikal.
Haikal tak menjawab. Ia melahap nasi goreng dengan cepat. Tanpa sadar ia menangis. Rasa nasi goreng ini membuatnya teringat pada seseorang.
"Kal, lo nangis?" tanya Alana khawatir.
Segera Haikal mengusap kasar air matanya. "Sok tau! Kelilipan gue!" sewot Haikal.
Alana hanya mengangguk dan terus makan.
"Tadi gue liat ada foto lo sama ortu lo di luar, mereka kemana?" tanya Haikal tiba-tiba.
Alana menelan nasinya dengan susah payah. "Mereka kecelakaan. Terus meninggal."
"Terus, kenapa gak ada yang mau rawat lo?" tanya Haikal lagi.
"Gak ada saudara di sini, gue sebatang kara." Alana tersenyum miris. "Pasti lo berfikir gue gak jelas asal-usulnya."
Haikal tak menjawab. Ia lebih memilih mengalihkan pembicaraan. "Kadang gue berfikir, lo orang yang suka dibully. Padahal kalau diliat-liat, lo bisa melawan. Kenapa gak ngelawan?" tanya Haikal heran.
"Entah. Gue ngerasa, lebih baik diam. Gue bosen dan gak ada gairah untuk hidup," ucap Alana sembari mengaduk-aduk nasi gorengnya.
"Gue minta ..." Haikal menggantung kata-katanya. Ia ingin minta maaf karena sudah membully Alana, tapi rasanya sangat susah.
"Minta maaf?" Alana terkekeh. "Oke, gue bakal berusaha buat maafin lo."
Haikal hanya diam.
Bagaimanapun juga Alana bukan orang yang munafik. Jika ia disakiti, tentu saja ia dendam. Dia bukan orang yang mudah memaafkan ataupun melupakan kesalahan orang lain.
Alana is human too.
"Besok gue antar jemput," ucap Haikal.
__ADS_1
"Gak usah. Gue bisa berangkat sendiri."
"Mau gue bully?"
"Kalau orang tau kita pacaran, gue bakal sering dibully."
"Siapa yang berani ngebully lo, huh? Gue bunuh mereka," ancam Haikal.
Alana mengendus kecil. "Kalau lo yang ngebully gue?"
"Kalau gue gak pa-pa. Lo kan milik gue."
Deg.
Alana speechless. Apa itu?
*Lo kan milik gue.
Lo kan milik gue.
Milik gue*.
Apa ini dengan membuat Alana baper adalah bagian dari usaha Haikal untuk makin membullynya.
Alana harus waspada dengan Haikal.
Haikal benar-benar menepati janjinya. Ia menjemput Alana dengan motor gede berwarna hitam.
Mereka berangkat bersama ke sekolah dalam keadaan hening. Sesampainya di sekolah, keadaan tiba-tiba menjadi gempar saat orang-orang melihat Haikal dan Alana bergandengan tangan.
Mereka bertanya-tanya, ada apa dengan Haikal? Apa dia gila? Alana itu kan bahan bullyan.
"Istirahat gue jemput," ucap Haikal saat di depan kelas Alana.
Gadis itu hanya mengangguk kecil. Setelah itu ia masuk.
Haikal masih di depan kelas Alana. Memandang ke dalam kelas yang hening karena pemandangan Haikal dan Alana tadi.
Ia melambai ke arah Alana yang sudah duduk di bangkunya. Alana membalas dengan lambaian tangan juga.
Orang-orang yang melihat langsung melongo. Mereka tak bisa berfikir dengan jernih saat ini.
Yang mereka tanyakan adalah, kenapa Haikal dan Alana bisa semesra itu.
Apa mereka sakit?
__ADS_1
"Pacar lo?" tanya Rendi tiba-tiba.
Ingat Rendi tidak? Yap, teman sebangku Alana yang baru.
Alana hanya tersenyum kikuk.
"Jadi selera lo yang kayak gitu, ya," gumam Rendi sambil mengangguk pelan.
"Hm?" tanya Alana yang tak mendengar dengan jelas.
"Bukannya lo sering dibully sama dia," ucap Rendi dengan wajah datarnya.
"Iya, haha. Lucu kan. Mungkin aja dia lagi ngerencanain sesuatu untuk makin nindas gue." Alana tersenyum miris.
"Terus kenapa lo gak nolak?"
"Memangnya gue berani."
"Lo itu berani, tapi lo terlalu malas untuk melawan. Kayak gak ada gairah hidup."
Alana terkekeh. "Sok tau."
"Kalau gue memang tau gimana?"
"Kita gak sedekat itu untuk tau satu sama lain kan."
"Kalau gitu, ayo mulai PDKT."
"Pendekatan jadi pacar maksud lo?" tanya Alana sambil tersenyum miring.
"Gak. Pendekatan jadi teman. Kalau dipikir-pikir kita kan belum dekat. Lo mulai perkenalkan diri lo ke gue. Apa yang lo suka dan gak lo suka. Makanan dan minuman favorite. Hobi. Cita-cita. Pelajaran kesukaan. Keseharian lo apa."
Waw. Kalau kalian mau tau, itu kalimat terpanjang yang pernah Alana dengar dari seorang Rendi.
Alana menarik nafas panjang lalu berkata, "Gue Alana Riandani. Gue suka Macha Latte dan nasi campur buatan Mami Weti. Hobi gue nonton tv sama rebahan. Cita-cita jadi orang kaya. Pelajaran kesukaan Bahasa Inggris. Keseharian gue kayak anak-anak lainnya. Kalau lo?"
Rendi tersenyum penuh arti. "Gue Rendi Pradipati. Makanan kesukaan nasi goreng. Minuman kesukaan kopi luwak. Hobi main game. Cita-cita gue adalah pilot. Pelajaran kesukaan gue Sejarah. Keseharian gue ya main game, terus makan dan minum, terua tidur, terus sekolah. So, will you be my friend?"
Alana menatap langit-langit dengan raut wajah berfikir. "Mau gak, ya?" tanyanya lebih pada diri sendiri. "Eh bentar, kita udah saling kenal dan saling akrab kan'. Bukannya udah bisa dianggap teman, ya?"
"Iya juga ya."
Tepat setelah itu, mereka tertawa. Entah apa yang lucu. Tapi mereka tetap tertawa.
Dari kejauhan Misca melihat Alana dengan tatapan jengkelnya.
__ADS_1
"Lihat, udah punya Haikal tapi masih godain laki-laki lain. Ciri-ciri ***** tuh."