Leave Me Alone

Leave Me Alone
2. Night Shifts


__ADS_3

Alana berjalan pelan di gelapnya malam. Lorong-lorong sempit yang lembab membuat suasana sedikit mencengkam. Banyak sampah-sampah berserakan di sana sini.


Tak ada ekspresi jijik atau ngeri. Yang ada hanya wajah kantuk dan kaki yang terus melangkahi ke depan. Setiap malam, ia akan ketempat kerjanya lewat jalan ini.


Alana bekerja? Tentu iya. Bagaimana dia hidup jika tidak bekerja mencari uang.


Langkahnya berhenti di depan pintu yang terbuka. Cahaya lampu dari dalam menerangi jalan-jalan gelap yang ada di sana. Ia selalu masuk ke tempat ia bekerja lewat belakang.


Alana masuk ke dalam dan langsung menuju ke kasir. Mendatangi seorang wanita yang lebih tua lima tahun darinya.


"Lama banget sih lo! Pembeli udah pada ngamuk tuh!" protes Kak Meni - pekerja yang menjaga kasir.


"Maaf, kak. Tadi ada urusan sebentar," jawab Alana sambil memakai apron. Setelah itu ia mengambil buku menu dan mulai berkeliling mencatat pesanan.


Di sana ia hanya menjadi waiters. Tempatnya bekerja juga hanya sebuah kafe kecil di pinggir jalan yang menjual beberapa makanan seperti biasa. Hanya saja hari ini Alana dapat shift malam. Tak heran terkadang ia tidur di kelas karena kurang tidur.


Malam semakin larut. Pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Kebanyakan yang datang adalah laki-laki yang sepertinya sedang lewat dan mampir. Ataupun pelanggan setia yang bekerja di dekat-dekat sini.


Kafe semakin ramai saat segerombolan lelaki masuk dan duduk di meja paling pojok. Penampilan mereka seperti anak SMA, mereka serempak memaikai jaket hitam. Salah satu dari mereka memanggil waiter yang tak lain dan tak bukan adalah Alana.


Alana segera ke sana membawa buku menu dan buku catatan. Saat Alana sudah ada di dekat mereka, ia dibuat tercekat. Langkahnya jadi gentar mendekati mereka.


"Mbak! Menunya apa aja ya di sini?" tanya salah satu dari mereka.


"Jangan panggil 'mbak', ****! Lo gak liat dia masih muda?" ujar yang lainnya. Disusul tawa semua orang di meja kecuali satu cowok.


Alana memberikan buku menu pada mereka tanpa membuka mulut. Ia memandang datar pada cowok yang tak itu tertawa tadi.


Cowok itu juga balik memandangi Alana dengan senyum miringnya. Dia adalah Haikal. Orang yang sering membullynya di sekolah.

__ADS_1


Alana mengusap wajahnya dengan kasar.


Ini cobaan? Ini benar-benar cobaan yang berat!


****


"Ternyata lo kerja. Miskin banget ya hidup lo sampe kerja kayak gitu."


Perkataan itu terlontar dari bibir seorang Haikal. Pagi ini entah kenapa Haikal mendatangi Alana yang sedang tertidur. Terpaksa Alana bangun dan mendengarkan kata-kata menusuk dari seorang Haikal.


"Lo gak kerja yang aneh-aneh kan? Atau apa jangan-jangan lo sering melayani laki-laki?" terka Haikal dengan senyum miringnya.


Alana hanya diam. Tak berniat menjawab. Dia hanya mendengarkan Haikal dengan kepala yang menunduk.


Kelas masih sepi. Hanya ada Alana dan Haikal di sana.


Haikal mengubah posisinya jadi duduk di bangku sebelah Alana. Memandangi Alana dengan mata sinisnya. Lalu berkata, "Lo bisu? Jawab perkataan gue!" gertaknya.


"Soal lo melayani laki-laki hidung belang?" tanya Haikal masih dengan senyum smirknya.


"Itu gak bener, gue masih punya akal," jawab Alana lagi. Masih dengan sabarnya.


Alana heran kenapa Haikal menanyakan hal itu. Yang pasti Alana tau, Haikal akan memanfaatkan hal seperti ini untuk semakin membully Alana.


"Awas aja kalau sampai lo kerja kayak gitu. Gue sebarkan satu sekolah biar tau rasa lo!" ancam Haikal lalu ia pergi meninggalkan Alana.


Alana menghela nafas panjang. Ia tak peduli akan ancaman Haikal. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya ia bisa tidur dengan nyenyak.


Ia turun ke bawah meja menyingkirkan kursi ke samping lalu tidur sambil memeluk lutut dan bersandar di dinding.

__ADS_1


Setidaknya kenyamanan seperti ini akan bertahan. Mungkin hanya sebentar, tapi ia sangat menikmatinya.


"Tidur yang nyenyak, Alana."


Mata Alana tiba-tiba membelalak. Ia mendongak untuk melihat pintu. Suara itu terdengar jelas dari pintu. Anehnya tidak ada orang di sana.


Mungkin perasaan gue.


Ia kembali memejamkan mata. Tak memperdulikan suara tadi.


Lagi pula siapa yang akan berkata selembut itu padanya.


Alana yakin, itu hanya halusinasi.


Ya, halusinasi.


---


**Hai! Balik lagi dengan author yang kece dari lahir! #Canda


Gimana? Kurang nge-fell? Atau mau adegan pembullyan**?



Ini aku kasih cast-nya Alana biar seneng.



**Kalau merasa gak cocok dengan cast yang aku kasih, silahkan berhalusinasi sendiri Alana itu seperti apa.

__ADS_1


Sudah dulu ya, babai*:


__ADS_2