Leave Me Alone

Leave Me Alone
5. Bad Boyfriend


__ADS_3

Malam Minggu, biasanya adalah malam yang tentram bagi Alana saat bekerja. Tapi kali ini malamnya sedikit berbeda. Lebih menegangkan dibanding malam-malam sebelumnya.


Alana terus bergumam tidak jelas saat melihat satu cowok yang duduk sendiri di meja pojok ruangan. Cowok tersebut nampak terus memperhatikan Alana dengan mata tajamnya. Bahkan dari tadi ia sama sekali tak memanggil seseorang untuk memesan makanan. Matanya terus mengikuti Alana kemanapun dia pergi.


Sempat beberapa kali mata Alana beradu pandang dengan cowok itu. Tapi karena tak mau mendapat masalah lebih, Alana lebih baik menghindari tatapan mengerikannya.


"Mbak!"


Alana tersentak. Cowok yang sedari tadi memandanginya akhirnya memanggil. Dengan ragu, Alana berjalan menuju meja paling pojok.


"Mau pesan apa?" tanya Alana pura-pura tidak mengenal cowok itu.


"Nasi goreng sama es teh satu," pesannya. Ia lalu tersenyum miring dan melanjutkan, "Gratis ya."


Alana diam sejenak. Menatap lelaki itu dengan perasaan kesal dan dongkol lalu berjalan menuju kasir.


Setelah pesanannya jadi, Alana mengantarkannya pada sang pemesan.


"Tambah menu penutupnya juga, ya?" pinta lelaki tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Haikal.


"Maaf di sini gak ada menu penutup," bohong Alana dengan nada yang dikecilkan. Sebenarnya ada, tetapi Alana tak mau membayar semua pesanan Haikal. Bisa tambah miskin Alana.


"Kalau gak ada, gue bisa minta sesuatu dong buat penggantinya?" tanyanya masih dengan senyum miring.


Argh, menyebalkan sekali Haikal ini. Alana akan terus dibully jika ia tidak bertindak. Jika bertindak pun pasti juga akan salah.


"Penggantinya apa?" tanya Alana. Perasaannya tidak enak.


"Lo ikut makan bareng gue."


Tuh kan!


"Gak bisa." Alana menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. "Anda gak liat saya lagi sibuk?"

__ADS_1


"Sori kalau gitu, lo bisa balik."


Tanpa berpamitan, langsung saja Alana berjalan menuju dapur.


Haikal yang tidak pernah menyerah dan selalu punya ide di setiap saatnya berdiri lalu berjalan menuju kasih.


"Misi mbak. Saya punya pacar yang kerja di sini, namanya Alana. Boleh dong panggilin dan suruh makan sama saya, dia lagi ngambek. Ntar saya bayar berapa aja."


***


Apa lagi sih ini?! Batin Alana kesal. Sekarang posisinya sudah berada di depan Haikal yang kini tengah asik makan nasi gorengnya.


Alana tidak tenang. Ia terus memainkan jarinya dan melirik-lirik kasir. Bahkan posisi duduknya pun kaku.


"Apa yang lo tunggu? Cepetan makan! Udah gue traktir juga," titah Haikal saat melihat Alana yang masih belum menyentuh nasi goreng traktirannya.


"Lain kali jangan ngomong seenaknya, ya. Gue bukan pacar lo," kata Alana mencoba selembut mungkin.


Haikal reflek memandangi Alana dengan tatapan sulit diartikan. "Kalau gitu sekarang lo jadi pacar gue."


"Maaf, bahkan gue gak kenal lo," tolak Alana.


Cowok bertubuh jangkung itu menjatuhkan sendoknya ke lantai. Alana tersentak dan mencoba meraih sendok tersebut. Tapi Haikal menghentikannya.


"Lo beneran gak kenal gue?" tanya Haikal memandang tak percaya pada Alana.


Alana menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kenal sih, lo orang yang sering minta uang ke gue kan? Nama lo Haikal."


Tiba-tiba tersungging senyum miris di wajah Haikal. "Oh iya, gue lupa. Lo kan belum kenal gue."


Kenapa sih orang ini? Alana bertanya-tanya dalam hati. Berbeda dari biasanya.


"Ah iya, lo pokoknya harus jadi pacar gue. Gak ada penolakan. Ini bukan permintaan tapi ini perintah," ujar Haikal menegaskan.

__ADS_1


"Asal gue gak sering dibully aja," gumam Alana.


"Hm?" tanya Haikal yang tak jelas mendengar suara Alana. "Oh lo gak mau dibully terus ya? Kalau gitu gue mau tanya-tanya sesuatu dulu, gue janji setelah ini gue bakal kurangin ngebully lo," pintanya.


Alana memandangi Haikal untuk menunggu pertanyaan apa yang ingin ditanyakan.


"Kenapa lo kerja?" tanya cowok itu.


"Untuk cari uang."


"Buat apa? Memangnya lo se-gak-mampu itu ya sampai harus cari kerja?" tanya Haikal lagi. Kali ini bahasanya agak lebih sopan.


"Iya. Lo tau sendiri kan gue murid jalur beasiswa," jawab Alana mencoba untuk tersenyum.


"Ortu lo? Mereka gak mau ngebiayain lo gitu?"


Apa ini interogasi? batin Alana heran.


"Gue gak punya ortu."


Haikal terdiam. Ia memandangi lamat-lamat gadis bersurai panjang dan dikuncir kuda tak rapi.


"Gimana bisa?" tanya Haikal dengan suara yang mengecil. Ia kaget. Dan Alana bingung kenapa tiba-tiba ekspresi Haikal seperti ini.


"Kenapa lo jadi kepo gini?" tanya balik Alana dengan kepala yang miring.


Haikal menggeleng pelan seperti menyadarkan diri. "Lo balik kerja sana. Gue tunggu sampai selesai. Habis itu, gue antar pulang."


"Gausah. Gue bisa pulang sendiri kok," tolak Alana dengan halus.


"Gak ada penolakan. Gue bully lo kalau sering nolak gue!" tegas Haikal.


Dengan segera Alana berjalan ke arah kasir dan kembali bekerja.

__ADS_1


Dari kejauhan, Haikal memandanginya dengan perasaan menyesal. Seharusnya ia tak menggunakan cara membully untuk berdekatan dengan Alana sejak awal.


Ah ... Harus ubah strategi.


__ADS_2