
El lari secepat yang ia bisa menuju ke kandang griffin.Ia mencoba untuk melihat ke belakang.Kandang griffin berada di luar desa tepat di tepi jurang.
Nafas El mulai memburu karena terus terusan berlari.Namun ia tetap memaksa tubuhnya untuk berlari.Saat El berlari ia dikejutkan dengan benda besar yang tiba-tiba menghalangi El.
DUUUM!!!
"Nyaris saja."
El mengelus dadanya untuk menenangkan diri.Jantung El berdetak kencang tapi ia masih mencoba menenangkan dirinya.
Setelah tidak panik ia menemukan seorang Orc dengan palu berduri menghadang jalannya.Dia adalah Orc yang bertugas menangkap hidup hidup penduduk Griffondel.
"Hahaha aku suka perburuan yang mudah!"
Orc yang menghadang El tertawa lepas.
"Aku suka tugas ini,aku jadi tidak perlu repot-repot melawan musuh yang kuat."
El kebingungan mendengar bahasa yang diucapkan Orc tersebut.Karena memang bahasa mereka berbeda.
"Permisi kau bicara apa?"
El bertanya dengan berani dan cukup sopan.Kejadian yang konyol memang.
Orc itu menghantamkan palu berdurinya ke arah El sebagai jawaban.El berhasil menghindar dengan susah payah.Meski berhasil menghindari palu berduri.Tapi El masih mengalami lebam akibat terkena batu yang melayang akibat hantaman tadi.
"Payah aku tidak boleh mengulangi kejadian tadi!"
"Tadi aku selamat karena kakek itu menolongku."
"Dan kali ini hanya ada aku dan dia."
"Aku harus berpi...."
Belum tuntas ia berkata di laginlagi dipaksa menghindari serangan yang datang.
"Bahkan dia tidak memberiku kesempatan untuk berpikir."
"Aku anak kecil usia 12 tahun melawan moster dari antah berantah, sungguh pertarungan yang sangat adil."
Setelah berkata demikian El berlari ke arah Orc yang menghadangnya.Orc itupun mengayunkan palunya menyambut El.
Tapi El tiba-tiba justru belok kanan menuju rumah penduduk dengan cepat.Palu Orc itupun hanya menghantam tanah.Orc itu mencabut palunya dengan susah payah sebelum mengejar El.
Setelah masuk ke salah satu rumah penduduk El segera mencari sesuatu.Yang terlintas di benaknya hanya mencari senjata untuk melawan.
"Bagus! dia memiliki palu besi berduri,dan yang kumiliki hanya pisau dapur juga tentu saja tekad"
__ADS_1
"Tapi ini lebih baik dari pada tidak sama sekali,kali ini tidak ada yang kumintai tolong."
"Aku harus menepati janji ku pada kakek itu!"
BAAAAM!!!
Tiba-tiba tembok rumah tempat El bersembunyi roboh.El segera refleks lari keluar rumah lewat pintu belakang.
"Hah aku mengalami kejadian ini lagi?!"
"Dikejar moster dan perbedaan kekuatan diantara kita sangat jauh!"
Setelah rumah itu rata Orc itu sadar bahwa El sudah lari cukup jauh.Orc itupun segera menyusul El sambil berteriak.
"ROOAAR!!!"
Jantung El berdetak cepat ketika mendengar teriakan Orc yang memekikkan telinga.Jarak kandang griffin hanya tinggal beberapa meter dari El.El mencoba tidak panik dan memikirkan solusi dari masalahnya.
Tiba-tiba muncul ide dibenaknya,ia pun segera melakukannya.Dengan cepat El segera berbalik arah.Dia berlari secepat yang ia bisa menuju Orc yang mengejarnya.Orc yang mengejarnya pun tidak mengurangi kecepatannya.
Jarak diantara keduanya semakin dekat Orc itu mengambil ancang-ancang untuk menyerang El.Namun El mendahului serangan tersebut.Dengan satu gerakan yang cepat dan tegas El melempar pisau di tanganya ke telapak kaki Orc yang mengejarnya.
"ARGH!!!"
Pekik Orc itu kesakitan
Orc itu berhenti sejenak untuk mencabut pisau dari telapak kakinya.Memang itu bukan luka serius bagi Orc.Namun kakinya akan terasa sakit bila digunakan untuk berjalan.
El menggunakan kesempatan itu untuk lari menuju kandang griffin.Memang itu rencana El,melumpuhkan musuhnya kemudian melarikan diri.
Ia awalnya takut kalau bidikannya meleset,karena ia hanya memiliki satu kesempatan.Meski begitu ia lega telah berhasil melakukannya.
El memperlambat langkahnya saat hampir sampai di kandang grffin untuk mengambil nafas.Wujud kandang griffin sama seperti kandang hewan pada umumnya.Pagar,atap dan tempat untuk mengikat.
Kandang kayu berukuran 10×5 meter tersebut bisa menampung sekitar sepuluh griffin dewasa.Di kandang tersebut hanya tersisa tiga griffin.Karena banyak griffin yang digunakan untuk melarikan diri.
Sebenarnya ada 11 kandang grffin di Griffondel.Kandang kandang itu berada di luar desa di tepi jurang tepatnya.
El melepaskan dua griffin dan menyisakan satu untuk ia tunggangi.Ia membelai griffin tersebut dengan lembut.
"Aku khawatir dengan kakek yang menyelamatkan ku."
"Bahkan aku tidak tahu siapa nama penyelamat hidupku."
"Aku akan menunggumu disini kek!"
"Aku sudah menepati janji ku sekarang giliran kau menepati janjimu!"
__ADS_1
***
"Rasakan ini BLADE OF JUSTICE!!!"
Alexander menggunakan magic skill yang mengubah mana menjadi pisau cahaya.Pisau itu muncul saat Alexander mengayunkan pedangnya.
Nafas Alexander mulai memburu mananya terkuras banyak.Para prajurit elit yang tersisa bernasib tidak lebih baik.Mereka bahkan tidak sanggup untuk berdiri.Tubuh mereka dipenuhi luka-luka yang tidak ringan.
Pertempuran terus berlanjut Alexander menangkis serangan dari berbagai arah.Saat dia terpojok ia menggunakan magic skill untuk memukul mundur lawan.
"Menunduk!!!"
Alexander mengingatkan para prajurit elit agar mereka agar tidak terkena serangannya.
Alexander lagi-lagi menggunakan magic skill untuk memukul mundur lawan.
"ARGH"
Alexander hampir jatuh ke tanah kakinya tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya.Kakinya bergetar hebat karena dipaksa untuk berdiri.Sebelum ia jatuh Alexander menancapkan pedangnya dan menggunakannya sebagai tumpuan.
Para Orc tidak memberi celah untuk Alexander dan prajurit elit beristirahat.Mereka terus dipaksa bertarung tanpa henti.
Tak terasa matahari sudah berada di atas kepala yang merupakan pertanda hari sudah siang.Ini merupakan tamparan keras bagi para Orc karena terbukti mereka kewalahan menghadapi musuhnya.Meski kemenangan sudah pasti memihak mereka.
"AWAS!!!"
Alexander mengingatkan salah seorang prajurit elit untuk mengindari serangan yang datang ke arahnya.Tapi semua itu terlambat prajurit elit itu tidak sempat mengelak.
Kepalanya pecah terhantam kapak Orc yang mengenainya telak.Darah segar muncrat dari kepalanya ke segala arah.
Prajurit lainnya bernasib tidak jauh berbeda.Ada yang tertusuk tombak dadanya dan nasib naas lainnya.Akhirnya hanya tersisa Alexander yang penuh luka dan kehilangan banyak darah.
Pikirannya mengingat sosok bocah yang baru ia temui.Ia rasa bocah itu pantas menjadi penerusnya.
"Maaf nak aku tidak bisa menepati janjiku."
Alexander bergumam pelan meminta maaf kepada El.
"Aku tahu melanggar janji itu salah tapiii...."
"Apakah aku akan menjadi Jenderal Perang terakhir."
"Aku hanya berharap kau bisa menjadi penerusku nak,karena aku tidak memiliki keturunan."
"Entah kenapa aku berharap kau menjadi penerusku aku bahkan tidak mengetahui namamu?"
Alexander menghela nafas panjang bersiap menemui mautnya.
__ADS_1