LEGENDA JENDERAL PERANG

LEGENDA JENDERAL PERANG
Ch. 7 Griffondel


__ADS_3

"Pak apakah kita akan beristirahat di sekitar sini?"


"Hari sudah mulai gelap."


Tanya salah seorang prajurit elit kepada Alexander.


"Ya kau benar."


"Lantas kenapa kita tidak berhenti dan membuat api unggun?"


"Kita akan beristirahat di Desa Griffondel,jaraknya sudah tidak jauh."


"Bukankah itu berbahaya Pak?"


"Tenang saja aku memiliki trik untuk mengatasi gelapnya malam."


Jawab Alexander dengan santai.


Desa Griffondel terletak di tepi jurang.


Sesuai namanya desa ini dipenuhi griffin.Mahkluk setengah singa setengah elang.Karena tepi jurang adalah habitat griffin.


Hampir semua penduduknya berternak griffin.


Desa ini menjadi tempat lahirnya para prajurit penunggang griffin.


Jalan masuk ke Griffondel dari darat memang terjal karena letak Griffondel di tepi jurang.Penduduknya biasanya menunggangi griffin untuk keluar masuk desa.


Jalan menuju Griffondel yang terjal dan berbahaya membuat rombongan Alexander cukup terhambat.Tapi Alexander memiliki alasan sendiri.Dengan melewati jalur ini mereka hanya akan membutuhkan waktu 2 hari untuk sampai di Desa Pompon.


Perlahan matahari mulai tenggelam fan hari segera berganti malam.


"Pak hari sudah gelap,kita hampir tidak bisa melihat apa-apa!"


Alexander menjawabnya dengan memberi tanda agar rombongannya berhenti.Ia kemudian turun dari kudanya.


Alexander mengambil pedang besar dan lebar yang dibalut dengan kain dari punggungnya.Pedang itu berbobot sekitar sepuluh kilo dengan panjang satu setengah meter dan lebar seperempat meter.


Maka dari itu Alexander menunggangi kuda khusus yang mampu mengangkat beban yang berat.


Setelah Alexander turun dari kudanya ia lantas melepas kain yang membalut pedangnya.


Saat kain yang membalut pedangnya dilepas terlihat wujud pedang itu.Pedang tumpul yang besar dan lebar.Pedang itu dipenuhi ukiran kuno yang nampak indah dipandang.


Pedang yang dipegang Alexander adalah pedang turun temurun.Pedang yang diturunkan oleh general of war kepada penerusnya.


Setelah balutannya terbuka Alexander menganggat pedangnya tinggi tinggi dengan tangan kanannya.Pedang itu seolah-olah kehilangan beban di tangan Alexander.


Para pasukan elit mulai membicarakan pedang yang berada ditangan Alexander


"Bukankah itu pedang legendaris milik general of war."


"Ya hanya general of war yang boleh memegangnya."


"Ya tidak kusanggka aku mampu melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri."


Setelah mengangkat pedangnya tinggi tinggi


dengan satu tangan.Alexander memfokuskan diri dan mengalirkan mana yang ada di tubuhnya ke pedangnya.


Mana adalah sebuah energi yang ada di dalam tubuh manusia dan alam yang menjadi sumber sihir.


Setelah seseorang mampu mengendalikan mana ia dapat merubah mana tersebut menjadi kekuatan fisik maupun elemen.


Seseorang perlu fokus untuk mengendalikan mana.


Merubah mana menjadi kekuatan lain disebut perubahan energi.Merubah mana menjadi kemampuan disebut magic skill.

__ADS_1


Dalam tingkatan tertentu seseorang mampu menyerap mana alam dan menjadikannya mananya sendiri.


Tapi orang yang bisa menyerap mana alam dapat dihitung dengan jari.Karena memang itu bukanlah hal yang mudah.


Setelah Alexander mengalirkan mananya ke pedang.Perlahan muncul cahaya kuning keemasan dari pedang besar nan lebar tersebut.


Cahaya nya cukup terang untuk menyinari rombongan Alexander.Para prajurit elit ternganga melihat kejadian tersebut.


Bukan karena cahaya yang dikeluarkan Alexander, melainkan aura yang dikeluarkan Alexander begitu menenangkan.


Alexander kemudian menaiki kembali kudanya sambil ters mengangkat tinggi-tinggi pedangnya.Ia menggunakan tangan kanannya untuk memegang pedang dan tangan kirinya untuk mengendalikan kudanya.


"Mari kita lanjut perjalanan kita."


"Kita harus sampai di Griffondel sebelum tengah malam!"


Teriak Alexander kepada para prajurit elit.Alexander memimpin rombongannya memimpin rombongannya sambil menerangi sekitar dengan pedangnya.


"BAIK PAK!!"


Jawab mereka serempak.


Mereka menurukan kecepatan mereka karena karena jalan yang terjal dan berbatu.Medan yang mereka lalui menghambat mereka.Ditambah kuda mereka tidak terbiasa menghadapi medan yang terjal dan berbatu.


Perlahan namun pasti mereka menuju Desa Griffondel.


Satu hal yang tidak mereka ketahui Sherkhan dan Suku Serigala Salju juga sedang menuju Griffondel.


***


"Setelah kuamati kita tidak bisa menjadikan mahkluk pucat dan mahkluk bertelinga lancip sebagai tumbal."


Yang dimaksud Sherkan adalah Ras Elf dan Undead.


"Berarti kita hanya akan menangkap mahkluk cebol dan tetangganya."


Sherkan merenung sejenak.


"Artinya kita harus menangkap 2 jenis mahluk dan mengalahkan 2 jenis mahluk."


Ujar Sherkhan


"Itu artinya dunia yang kita taklukkan kini tidak akan mudah."


Jawab Kwanza sambil menggelengkan kepala.


"Mumpung kita berada di sini bagaimana kalau kita taklukkan tempat itu."


Sulong memberi usul sambil menunjuk bukit dimana Griffondel berada.


"Tidak kita ke sini untuk mengintai bukan untuk melakukan penyerangan."


Kwanza langsung menolak ide Sulong tanpa pikir panjang.


"Ide yang bagus kita tidak boleh pulang dengn tangan kosong."


Jawab Sherkhan setuju dengan ide Sulong


"Tapi kita memerlukan waktu yang tidak singkat."


"Kita baru akan sampai besok pagi."


Jawab Kwanza.


"Ayolah Kwanza bukankah kau sudah lama tidak menggunakan otot ototmu"


Sulong berusaha membujuk Kwanza.

__ADS_1


"Hm baiklah."


Jawab Kwanza dengan terpaksa.


"Baik mari kita menuju bukit itu!"


Ujar Sherkhan dengan suara seraknya


Sherkhan dan Suku Serigala Salju segera memacu serigala yang mereka tunggangi menuju Griffondel.


Mereka melaju dengan kecepatan penuh.Serigala mereka dengan mudahnya melewati medan terjal dan berbatu.Seperti membalikkan telapak tangan.


Serigala mereka terus berlari karena serigala Suku Serigala Salju berhabitat di gunung bersalju.Jadi medan seperti ini bukanlah masalah besar.


***


Sesampainya di Griffondel Alexander dan rombongannya langsung menjadi pusat perhatian.Karena pedang yang dipegang Alexander mengeluarkan cahaya.


Mereka langsung dipersilakan masuk ke desa.Saat malam Griffondel menggunakan obor dan kunang-kunang sebagai penerangan.


Mereka segera mencari penginapan untuk beristirahat.Griffondel adalah desa kecil dan terpelosok.Di sana hanya terdapat satu penginapan.


Setelah mengikat kuda,mereka langsung memasuki penginapan tersebut dan memesan kamar.


"Aku pesan 3 kamar."


Ujar Alexander sambil memberikan 3 koin emas.


"Maaf saya hanya mematok harga 5 keping perak per kamarnya."


Jawab pelayan penginapan sambil mengembalikan uang Alexander.


"Ambil saja kembaliannya dan tolong antar makanan dan wine terbaikmu."


"Oh benarkah terima kasih ,kami akan segera antarkan pesanan anda tapi kami tidak memiliki wine yang kami miliki hanya anggur perjamuan."


"Tidak masalah segera sajikan saja aku lapar."


Ucap Alexander sambil mengelus perutnya.


"Maaf jika penhinapan kami sederhana."


Pelayan itu merasa malu karena apa yang dipesan Alexander tidak tersedia.


"Ah tidak usah dipikirkan."


Para prajurit elit melepas baju besi yang mereka pakai dan senjata mereka lalu menaruhnya.Alexander hanya menaruh pedangnya yang besar dan lebar.Karena ia tidak memakai baju besi ia hanya mengenakan jubah berwarna biru yang panjang.


Selang beberapa saat pelayan penginapan menyuguhkan hidangan ke kamar mereka masing-masing.


"Maaf jika hidangannya sederhana."


Ujar pelayan sambil memberikan hormatnya.


"Ah tidak perlu sungkan."


Jawab salah seorang prajurit elit.


"Makanan apapun jika dimakan saat lapar pasti enak."


"Silahkan dinikmati."


Pelayan itu mempersilakan mereka menyantap hidangan dan segera pergi meninggalkan mereka.


Setelah pelayan itu pergi mereka langsung menyantap hidangan yang ada di depan mereka.Setelah puas mengisi perut mereka lantas beristirahat dengan tenang.


Mereka tidur dengan nyenyak tanpa tau bahaya yang menanti mereka.

__ADS_1


__ADS_2