
"Kek, kakek punya keluarga tidak?"
"Tidak." jawab singkat kakek Gi Sang Yu
"Dulu saya pernah punya seorang anak."
"Anak?"
"Ya, anak adopsi maksudnya."
"Kek boleh ceritakan kisah perjalanan kakek gak?"
"Eehhmmm....."
"Boleh."
"Ayo kek cerita."
Sekitar 70 tahun yang lalu hiduplah seorang pemuda yang bernama Gi Sang Yu. Pemuda itu dikenal karena orang yang cerdas, jujur, bertanggung jawab, dan membela kebenaran tanpa rasa takut.
Pada saat itu Gi Sang Yu dicari oleh tentara negeri Sato untuk dijadikan sebagai penyusun strategi diusia 17 tahun. Gi Sang Yu cukup lama bekerja sebagai pemikir atau penyusun strategi sekitar 23 tahun lamanya.
Gi Sang Yu kabur dari tempat militer itu pada saat malam hari. Gi Sang Yu berlari sangat kencang dan meninggalkan kota Sato dan berpindah ke desa paling makmur yaitu desa Vagas sebelah barat daya dari kota Sato.
Setelah setahun dia tinggal di desa Vagas dia bertemu dengan seorang wanita cantik nan baik. Gi Sang Yu jatuh cinta kepada wanita cantik itu yang bernama Van Van. Mereka berdua sempat jatuh cinta satu sama lain dan berencana untuk menikah. Tetapi ayah Van Van tidak menyetujuinya dan malah mengusir Gi Sang Yu dari rumahnya. Karena tidak terima Gi Sang Yu bertanya kepada ayah Van Van yaitu Tuan Wu Li sekaligus kepala desa Vagas. Tuan Wu Li tetap menolak tanpa jawaban pasti dan malah mengatakan hal kasar kepada Gi Sang Yu. Van Van pun menangis karena melihat kedua orang yang dia cintai dan sayangi saling bertengkar dan saling adu argumen.
Gi Sang Yu pun pergi dari rumah itu sambil meminta maaf kepada Van Van dan mengatakan bahwa dia akan kembali. 2 hari berlalu setelah kejadian itu. Tuan Wu Li wafat akibat serangan jantung. Gi Sang Yu pun mendengar kabar itu dan langsung mendatangi rumah Van Van. Setibanya di rumah Van Van dia malah diusir oleh seorang pemuda dan juga dia memfitnah Gi Sang Yu yang telah mengakibatkan Tuan Wu Li wafat. Van Van pun keluar dan menemui Gi Sang Yu, Van Van malah mengusir Gi Sang Yu dan mempercayai perkataan pemuda itu yang bernama Qick. Karena hal itu Gi Sang Yu pun merasa kecewa terhadap sikap dan keputusan Van Van. Gi Sang Yu pun langsung pergi dari rumahnya Van Van, Van Van pun menangis dan sedikit rasa menyesal karena telah mengusir dia dan lebih mempercayai orang lain.
Gi Sang Yu pergi dengan rasa amarah yang sangat bergejolak atas apa yang telah dia alami. Dia pergi ke lapangan dan berteriak dan membuat sekelilingnya menjadi tegang serta hembusan angin yang sangat besar.
Tiba-tiba ada seorang yang muncul dari balik kegelapan dan mencoba untuk menghasut Gi Sang Yu.
"Hei pemuda, aku tahu kamu pasti kesal dan benci kepada pemuda itu dan Van Van, ka?"
"Bagaimana kamu tahu?"
__ADS_1
"Saya selalu mengawasi tuan."
"Apa? Tapi kenapa saya tidak tahu?"
"Itu karena saya adalah ksatria kegelapan dan memiliki ilmu dan aura hitam yang sangat kuat. Jadi tuan tidak bisa merasakan kehadiran saya."
"Jika tuan mau memiliki kekuatan yang sangat kuat dan ingin membalaskan rasa benci tuan, maka saya akan membantumu dengan senang hati."
"Tidak! Saya tidak mau."
"Kenapa tuan?"
"Saya lebih baik seperti ini daripada harus balas dendam. Karena orang tua saya selalu bilang kepada saya untuk tidak membalas perbuatan seseorang, biarkan dewa Agung menghukumnya."
"Dewa Agung katamu? Hahahaha... hahahaha... hahahaha....."
"Dewa Agung tidak akan pernah membantu seseorang, apalagi anda!" teriak ksatria kegelapan.
"Tidak! saya percaya bahwa dewa Agung akan membalaskan segala dosa yang ada pada setiap makhluk hidup dan dia pula akan membalaskan segala perbuatan baik setiap makhluk hidup di dunia ini." bantah Gi Sang Yu.
"Hahahaha... hahahaha... hahahaha... hahaha....., Diam!!"
"Jika kata saya tidak, ya tidak makhluk bodoh!"
"Saya sangat yakin kepada apa yang saya yakini dan saya tidak akan pernah labil."
"Dasar! Beraninya anda mengatakan saya bodoh."
"Sudah saya lebih baik berdoa dan menunggu Kebijaksanaan dewa."
Gi Sang Yu pun meninggalkan tempat itu dan pulang kerumahnya. Diapun berdoa dan memohon kepada dewa Agung untuk menenangkan hatinya dan dapat membantu Van Van berfikir dua kali. Setelah selesai berdoa, dia langsung berjalan kearah kasurnya dan tidur.
Keesokan Harinya
Gi Sang Yu terbangun dari tidurnya, dia berjalan kearah dapur dan mengambil segelas air putih. Dia meminumnya. Setelah minum dia langsung berjalan kearah kamar mandi dan bersiap untuk mandi.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, dia pergi keluar untuk mencari udara segar. Gi Sang Yu tiba-tiba berfikiran akan mengadopsi anak, dia bingung kenapa tiba-tiba dia bisa memiliki pikiran itu. Tanpa dia sadari, dia berjalan dan melihat rumah asuh. Gi Sang Yu pun terkejut entah apa yang mengendalikannya. Karena penasaran, dia langsung masuk ke rumah asuh itu dan bertemu dengan seorang pemilik rumah asuh itu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Ehh..., saya hanya ingin melihat-lihat."
"Oh, silahkan tuan saya akan antar."
Mereka pun berkeliling, tidak lama berkeliling dia bertemu dengan seorang anak perempuan yang membuat hatinya penasaran. Anak perempuan itu menghampiri Gi Sang Yu dan langsung memeluk kaki Gi Sang Yu. Gi Sang Yu pun langsung melepaskan pelukannya.
Entah apa yang dipikirkan. Gi Sang Yu tiba-tiba memiliki rasa untuk mengadopsinya. Tanpa berfikir panjang, dia langsung mengatakan kepada pemilik rumah asuh itu untuk mengadopsi anak perempuan itu. Setelah Gi Sang Yu menandatangani segala surat perjanjian, dia pun bisa langsung mengajak anak itu tinggal bersamanya.
Gi Sang Yu pun mengajak anak itu kerumahnya.
"Tuan, ini rumah tuan?" dengan nada rendah.
"Iya."
"Ngomong-ngomong nama kamu siapa?"
"Ehh.. ehh... nama saya Sung Sang Xiang, tuan."
"Ohh..., salam kenal ya Sung Sang Xiang."
Mereka berdua hidup bersama cukup lama yaitu sekitar 2 tahun lebih lamanya. Hingga pada suatu ketika Gi Sang Yu dan Sung Sang Xiang pergi bersama berjalan-jalan ke taman.
Mereka bermain bersama dengan sangat bahagia. Setelah 2 jam bermain, tiba-tiba Sung Sang Xiang mendadak terjatuh dan mengeluarkan banyak busa yang keluar dari mulutnya. Nyawa Sung Sang Xiang pun tidak dapat tertolong dan dia pun wafat.
Setelah penguburan jenazah Sung Sang Xiang, Gi Sang Yu sangat sedih dan sangat kesal karena dewa telah merenggut segala hal yang dia sayangi.
Ksatria kegelapan itu muncul lagi pada saat malam hari dan mencoba untuk menghasut Gi Sang Yu lagi.
"Gimana, apakah dewa Agung membantu mu?"
Sebelum dia menjawab, tiba-tiba muncullah makhluk bercahaya dan langsung membuat ksatria kegelapan itu mental sangat jauh.
__ADS_1
Next Episode
Kisah Perjalanan Kakek Gi Sang Yu 2