
Lintang yang baru saja selesai bertemu dengan teman seprofesinya tidak langsung pulang karena ingin membeli ayam kriuk kesukaan Bima namun saat ingin membeli ayam kriuk Lintang malah melihat Tama bersama dengan seorang wanita dewasa dan anak perempuan yang berusia enam tahun sedang melakuakan belanja di mall tempat Lintang bertemu dengan rekan kerjanya.
"Mas tama?" gumam Lintang yang masih belum percaya dengan penglihatannya barusan. Lintang sangat penasaran sehingga Lintang segera memakai masker mengintai semua aktifitas Tama beserta dua wanita tersebut. Melihat begitu mesranya Tama pada dua wanita tersebut membuat hati Lintang bergemuruh hebat namun Lintang berusaha agar tetap tenang, dari jauh sayup-sayup terdengar suara bocah enam tahun tersebut menyebut Tama dengan sebutan Papa.
"Papa?" batin Lintang terkejut setengah tidak percaya, Lintang sambil melebarkan telinganya apalagi dengan ditambah bocah tersebut terlihat sangyat dekat sekali dan manja dengan Tama seperti halnya perlakuan Tama pada Bima, anak semata wayang Lintang.
Dengan hati bergemuruh dan menyimpan sejuta tanya Lintang, tetap berusaha tenang agar tidak terjadi salah paham dan mempermalukan diri sendiri. Lintang segera masuk ke toko tempat Tama dan dua wanita tersebut belanja, Lintang pura-pura memilih pakaian walau sebenarnya tidak ada niatan untuk membeli karena pakian yang di jual di toko tersebut modelnya tidak sesuai dengan selera Lintang.
"Mbak ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai toko tersebut pada Lintang yang hanya mengolak alike baju namun tidak fokus pada baju.
"Terima kasih, saya lihat-lihat saja dulu." sahut Lintang pura-pura memilih-milih baju sambil terus mengawasi gerak gerik Tama beserta kedua wanita tersebut.
Pegawai toko tersebut meninggalkan Lintang, setelah setengah jam dan belum ada tanda-tanda Tama dan kedua wanita tersebut menyudahi belanjanya Lintang memutuskan mengambil satu baju yang paling murah dan langsung membayarnya. Tama dan kedua wanita tersebut tetap sibuk memilih baju, mereka tidak menyadari jika masih dalam pengintaian Lintang.
Selesai membayar bajunya Lintang berkirim pesan pada pengasuh Bima untuk menemani Bima sampai Lintang pulang, Lintang mengambil posisi duduk di salah satu tempat duduk yang dekat dengan toko tempat Tama belanja, Lintang berpura-pura memainkan hand phone-nya namun matanya melirik ke arah gerak gerik Tama dam kedua wanita tersebut.
Tama dan kedua wanita tersebut keluar dari toko sambil menenteng barang belanjaannya, melihat mereka bertiga keluar Lintang segera bangkit dari duduknya dia dengan jalan tergesa-gesa berpura-pura menabrak belanjaan wanita tersebut.
"Sorry." ucap Lintang lirih sambil memungut belanjaan wanita tersebut dan mengembalikannya tanpa menoleh ke arah wanita tersebut maupun Tama.
"Kamu buta ya, Jalan gak pakai mata!" teriak wanita tersebut kesal.
"Sudah Ma, mungkin dia terburu-buru," nasehat Tama, namun Tama tetap tidak menyadari jika yang menabrak Lintang.
__ADS_1
Lintang tidak menjawab langsung ngeloyor pergi setelah mengembalikannya semua barang yang jatuh pada wanita tersebut.
"Hai! Kamu jangan pergi ganti rugi!" teriak Wanita tersebut.
Lintang tidak memperdulikan teriakan wanita tersebut, sebutan mama yang keluar dari mulut Tama menambah rasa sakit hati Lintang, langkahnya terus maju setengah berlari agar tidak terkejar oleh wanita tersebut dan juga Tama. Begitu sampai di parkiran Lintang mengirim pesan pada Tama.
[Mas ada di mana? pulang kapan? Bagaimana dengan proyeknya ada kendala apa tidak?]
Selesai mengirim pesan Lintang segera meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan hancur.
"Kamu harus kuat Lintang, kamu harus selidiki dan cari tahu ada hubungan apa suamimu dengan wanita tersebut." gumam Lintang dalam hati menenangkan hatinya sambil mengendarai sepeda motor maticnya.
Setelah hampir satu jam perjalanan Lintang sampai juga di tempat usahanya, Lintang memiliki bisnis Laundry yang memiliki karyawan dan juga sudah membuka dua cabang di dua Kecamatan yang berbeda. Usaha Laundry Lintang cukup bagus di samping melayani masyarakat sekitar Lintang juga bekerja sama dengan beberapa hotel serta wedding organisers. Di tempat laundry Lintang kini ada enam orang karyawannya dua laki-laki dan empat wanita jika kuwalahan maka Lintang mengambil orang kerja paruh waktu.
"Sore mbak Sekar, eh mbak tolong pesankan ayam kriuk kesukaan Bima, tadi Aku lupa," pinta Lintang sopan.
"Baik bu, kalau pesan suka lama datangnya, ini sekalian aku mau keluar aku belikan." ucap Sekar.
"Baiklah mbak aku tunggu ya," ucap Lintang seolah tidak terjadi apa-apa.
Sekarang segera pergi meninggalkan Lintang yang sedang duduk di kursi kasir menggantikan Sekar, tidak berselang lama hand phone Lintang bergerak tanda ada pesan masuk.
[Seperti rencana semula Mas pulang lusa, soal proyek semua aman terkendali, semoga semua lancar ya sayang muach].
__ADS_1
Lintang membaca pesan dari Tama di layar hand-phonnya tanpa membuka, setelah membaca Lintang tidak segera membalas, apa yang dilihat dan didengar tadi kembali berputar pada pikirannya, hampir saja Lintang menitikan air mata namun Lintang berusaha untuk menahannya. Pelanggan hari ini banyak yang datang dan pergi sehingga Lintang sedikit terhibur, walau hatinya sedang tidak baik-baik saja namun Lintang tetap tersenyum manis pada pelanggannya.
"Bu, ini ayam kriuknya." seteakha tiga puluh menit Sekar sudah kembali dengan sekantong ayam kriuk dan beberapa gelas Es untuk dirinya sendiri maupun titip an karyawan lainnya.
"Terima kasih mbak Sekar, oh ya Es nya ada sisa gak, aku mau satu saja haus." ucap Lintang santai.
"Tenang, tretetetetettt ini ada yang special buat ibu Es kopi moca kesukaan Ibu." ucap Sekar tertawa sambil memberikan segelas Es kopi moca pada Lintang.
"Makasih mbak Sekar, hari ini esnya biar Aku yang traktir, kembalikan uang mereka." ucap Lintang sambil mengeluarkan dua lembar uang sertusan ribu.
"Terima kasih Bu, ini masih sisa banyak bu." ucap Sekar.
"Buat besok lagi." jawab Lintang.
"Hai kita ditraktir sama Bu Lintang, dan besok masih ada uang untuk beli Es lagi!" seru Sekar bahagia.
"Terima kasih Bu!" seru semua karyawan bahagia.
"Baiklah kerja yang rajin, besok sudah tanggal muda, Aku pulang dulu ya." pamit Lintang dengan wajah senang, padahal hatinya tidak baik-baik saja.
"Hati-hati Bu, kita pasti semangat tagihan warung sudah menunggu bu!" ucap karyawan lainnya.
Lintang melajukan motor maticnya menuju rumah, jarak antara rumah dan laundry tidak jauh hanya berjarak dua ratus meter saja, dalam sekejap Lintang sudah sampai di sebuah rumah sederhana dan rumah tersebut masih teeing bangunan lama karena rumah tersebut merupakan rumah warusan dari kedua orang tua Lintang. Hari sudah sore di teras bocah laki-laki umur tiga tahun tersebut sudah mandi dan memakai bedak bayi serta minyak kusus untuk bayi, sehingga dari kejauhan susah dapat terciuk bau wangi khas bayi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum adik Bima sayang." Lintang setelah memarkir motornya segera menghampiri Bima yang sedang berada di teras bersama dengan pengasuhnya.