Lelah Mengalah

Lelah Mengalah
Kepedulian Lintang pada karyawannya.


__ADS_3

Jam dua belas siang Tama dan Bima baru kembali di rumah jangan di tanya lagi bagaimana rupa Bima, bocah tiga tahun tersebut penuh dengan keringat dan lumpur, beberapa jam Bima bermain air dan tanah di dekat rumah lansia tersebut, Tama dan Lintang biar tergolong mampu dalam finansial mereka selalu mengajarkan Bima, untuk bisa berteman dan berbaur dengan siapa saja tanpa memandang status sosialnya.


''Assalamu'alaikum,'' Tama masuk rumah sambil menggendong bima.


''Wa'alakum salam,'' sahut Lintang dari dalam dapur ''Kalian mandi dulu!'' perintah Lintang begitubmelihat kedua prianya penuh dengan keringat apalagi awjah Bima, yang tidak karuan.


''Siap,'' sahut Tama segera menujun akmar mandi.


Lintang menyiapkan handuk serta baju untuk anak dan suaminya, melihat sikap Tama, hati Lintang benar-benar tidak percaya dengan kejadian beberpa hari yang lalu, tidak pakai lama Tama dan Bima, sudah selesai mandi, setelah bersih Tama mengajak Bima untuk sholat berjamaah, selesai sholat berjamah dengan Bima, mereka menyantap makan siang bersama setelah menyantap makan siang mereka bermain sbentar hingga Bima, merasakan kantuk yang tidak tertahan Lintang, segera membawa Bima, ke kamar Bima, untuk tidur siang sedangkan Tama memilih rebahan di ruang tengah sambil menikmati acara televisi .


Bima sudah terbuai ke alam mimpnya, Lintang meninggalkan Bima untuk tidur sendirian Lintang mendekati Tama, yang masih terjaga sambil rebahan.


''Kalau ngantuk Ayah tidur saja,'' perintah Lintang.


''Ayah gak ngantuk cuma kangen Bunda saja,'' rayu Tama, seperti biasa ''Sini tiduran sama Ayah,'' pinta Tama sambil menarik Lintang agar jatu dalam pelukannya.


Lintang menuruti kemaun Tama, mereka berdua rebahan berdua sambil menikmati acara televisi.


''Bunda bagaimana pekerjaan Bunda, jika ada masalah besar cerita ke Ayah, semampu Ayah, Ayah pasti akan bantu, semua jangan dipendam sendiri, jika Ayah ada salah Ayah minta maaf,'' tutur Tama, lembut.


''Alhamdulillah semua baik-baik saja rencana Bunda akan membuka cabang lagi, kebetulan ada teman Bunda mau join dengan laundry Bunda, cuma sekarang kendalanya di modal, sedangkan teman BUnda sangat membutuhkan pekerjaan ini,'' tutur Lintang apa adanya.


''Butuh modal berapa?'' tanya Tama.


''Tidak banyak hanya butuh dua puluh juta saja kurangnya, kebetulan simpananku juga belum banyak setelah bulan lalu membuka cabang di kecamatan flamboyan,'' tutur Lintang lagi.

__ADS_1


''Kalau duapuluh juta Ayah ada, Bunda pakai saja yang penting teman bunda ada penghsilan tambaha,'' ucap Tama, yang selalu mendukung kegiatan istrinya selagi itu hal positif.


''Teman Bunda memang sangat membutuhkan pekerjaan ini, karena gaji suaminya tidak cukup untuk biaya hidup, di tambah baru saja membiayai pengobatan orang taunya di rumah sakit.' tutur Lintang jujur.


''Pakai saja uang Ayah,'' perintah Tama, pada Lintang kalau soal uang Tama sangat royal dengan siapaun entah itu keluarga atau teman.


''Uang itu bukan hak orang lain kan Yah?'' tanya Lintang untuk memastikannya.


''Itu tabungan untuk lebaran, jika sekarang ada yang lebih membutuhakan pakai saja toh sama saja to larinya meringankan beban orang,'' tutur Tama, bijak.


''Terima kasih Ayah, maaaf dengan kata-kata Bunda,'' tutur Lintang.


''Terus terang Ayah, sangat bangga punya istri Bunda, Bunda adalah anugerah yang paling berharga yang Ayah miliki,'' tutur Tama, tulus.


Lintang mendengar penuturan Tama, bukannya bahagia justru ,membuat dadanya menjadi sesak bahkan airmatnay hampir jatuh namu  masih bisa ditahan oleh Lintang.


Keduanya tidak lagi mengeluarkan sepatah katapun, mereka memilih fokus pada acara televisi, Tama sangat menikmati kebersamaannya denga Lintang, namun berbeda dengan Lintang yang pikirannya berkelana kemana-mana, Lintang berusaha untuk tidak memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu namun tetap tidak  bisa, bayangan itu terus mengantuinya.


''Bun, untuk beberapa bulan ke depan pekerjaan Ayah, sangat banyak bos memberi tamabahan proyek pada Ayah, jadi sebelumnya Ayah, minta maaf jika Ayah tidak bisa pulang dalam waktu yang agak lama,'' ucap Tama.


''Ayah, hati-hati jaga diri baik-baik jangan sampai capek, kami selalu merindukan Ayah jika Ayah kangen dan jika Ayah tidak keberatan biar kami yang datng menemui Ayah,'' tutur Lintang,lembut.


''Biar Ayah, saja yang pulang Bunda, jangan datang ke proyek Ayah,'' larang Tama, dari dulu Tama, memang melarang Lintang maupun Mona untuk datang ke proyek.


''Kenapa?'' tanya Lintang, padahal Lintang sudah tahu jawabannya.

__ADS_1


''Kenapa? tentu tidak boleh takut Bunda, diserobot orang lain, sungguh sulit untuk mendapatkan orang seperti Bunda,'' selalu itu yang menjadi alasan Tama, melarang istrinya datang ke proyek.


Lintang tidak lagi mau berdebat dengan Tama, mereka berdua mengubah topik pembicaraan menjadi obrolan ringan menemani hari santai mereka berdua, Bima yang baru saja bangun drai tidurnya ikut bergabung kedua orang tuanya wajah imut Bima, menjadi pelipur lara Lintang. Hari sudah menjelang sore Tama, memandikan Bima, sedangkan Lintang beres-beres rumah setelah mereka semua mandi dan sudah rapi mereka bertiga menuju laundry milik Lintang, tidak pernah lupa Tama, membawa buah tangan untuk semua karyawan Lintang.


Sambutan hangat dari karyawan Lintang, sudah menjadi hal biasa mengingat bos mereka berdua sangat baik dan dermawan biarpun pekerjaan mereka itu banyak namun karyawan Lintang sangat menikmati pekerjaannya.


Tama dan Bima, bermain sendiri di area laundry sedangkan Lintang, mengecek laporan keluar masuk laundrynya bersama dengan Sekar. Lintang mengutarakan rencananya untuk membuka cabang baru, sebenarnya lebih tepatnya menyewakan alat saja,karena untuk bekerjasama kali ini Lintang, tidak ambil banyak drai hasil lundrynya tujuan utama Lintang, membantu teman yang sedang kesulitan ekonomi saja.


''Mbak Sekar bebebrapa hari kedepan temanku belajar di sini selama seminggu tolong diajari ya kalau Aku sedang sibuk,'' pinta Lintang pada Sekar.


''Baik Bu, Bu nanti kita jadi lembur karena banyak sekali pekerjaaan,'' lapor Sekar.


''Lembur sampai jam berapa?'' tanya Lintang.


''Tadi kami sudah sepakat lembur sampai jam sepuluh,'' lapor Sekar.


''Baiklah, asal kalian tetap jaga kesehatan kalau begitu untuk makan malam biar aku pesankan saja, kalian tidak perlu capek-capek keluar untuk beli, oh ya kalau lembur masih kuwalahan ambil pekeja paruh waktu ya.'' tutur Lintang.


''Baik Bu, untuk saat ini kami masih bisa mengatasinya sendiri,'' tutur Sekar, sopan.


''Kalian mau makan apa?'' tanya Lintang.


''Tadi kami amu pesan soto ujung jalan itu saja Bu, murah dan enak.'' ujar Sekar jujur.


''Baik aku pesan sekarng yang spesial,'' Lintang segera memencet handphonnya memesan soto sesuai permintaan Sekar.

__ADS_1


Perhatian Lintang pada karyawannya membuat semua karyawannya betah bekerja padanya, selama mempunyai usaha laundry dan mempekerjakan karyawan sekalipun Lintang belum pernah memecat karyawannya, kalaupun ada yang keluar dari laundrynya karena hal pribadi karywannya, misalnya harus pindah rumah ikut suaminya atau sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus sesuai bidang pendidikannya.


__ADS_2