
''Dina namanya cantik sekali seperti orannya, kesini sama siapa tadi?'' tanya Lintang penuh selidik.
''Tadi sama mama dan papa, mama sedang di toilet, kalau tante ke sini sama siapa?'' dengan polosnya Dina balik tanya pada Lintang.
''Tante tadi kesini sendirian,'' sahut Lintang berusaha tenang.
''Kok sendirian Tante?'' cerocos Dina polos.
''Kan tante ke sini mau ketemu teman kerja, kalau Dina ke sini ngapain hayo?'' goda Lintang.
''Dina kesini liburan Tante, sudah lama baru bisa liburan sekarang habisnya papa sibuk terus, ini aja papa gak bisa pulang katanya pekerjaaanya banyak,'' keluh Dina polos, mendengar keluh kesah Dina hati Lintang semakin perih.
''Sabar ya Dina, dina kan anak pintar, memang rumah Dina tidak di kota ini?'' tanya Lintang segera begitu ada kesempatan.
''Rumah Dina jauh Tante ada di kota xx desa xxxx kec xxxx,'' sahut Dina pollos.
Dina bisa menyebutkan dengan jelas semua alamatnya, Lintang segera mencatat alamat yang disebut Dina tadi di hanphonnya.
''Terima kasih tante mau menemani Dina, mama katanya sakit perut jadinya gaka lama.'' ucap Dina jujur.
''Tidak apa Tante senang bisa menemani Dina di sini,'' sahut Lintang tetap ramah dan manis.
Tidak lama kemudian mamanya Dina sudah keluar dengan wajah sedikit pucat.
''Mama,'' panggil Dina polos.
__ADS_1
''Mama dina sudah selesai Tante pergi dulu ya,'' pamit Lintag tanpa menghiraukan keadaan mamanya DIna takutnay penyamarannya ketahuan.
''BaikmTante terima kasih,'' sahut Dina poloas.
Lintang berlalu pergi namun Lintang tetap berusaha untuk mengitai setiap gerak gerik Tama dan wanita tersebut.
''Siapa Din?'' tanya Mona mamannya Dina.
''Lupa gak tahu, gak tanya namanya tapi tante tadi baik, dia mau menemani Dina di sini kata tante takut Dina di culik orang makanya tante tadi menemani Dina,'' lapor Dina pada Mona.
''Maaf tadi mama sakit banget perutnya, ayo kita temui papa.'' pinta Mona sambil menggandenga tangan Dina menuju kedai tempat mereka makan tadi.
''Mama pucat sekali?'' tanya Tama penuh kekawatiran, begitu melihat Monalisa.
''Namanya hamil muda Pa,'' sahut Monalisa.
Tama bersama dengan Mona dan Dina segera meninggalkan mall tersebut dengan menggnakan taksi, Lintang dengan taksi juga mengikuti taksi yang ditumpamgi oleh Tama dan keluarganya, kepedihan hatinya membuat LIntang semakin ingin tahu tentang sekandal Tama, taksi yang menreka tumpamgi telah berhenti dislah satu hotel ternama yang ada di kota tersebut.
Dari kejauhan Lintang dapat melihat dengan jelas bagaimana Tama begitu mesra memperlakukan Monalisa, tidak dapat dipungkiri hati Lintang semakin ngilu dibuatnya, hampir saja Lintang kuat melihat pemandangan tadi.
''Kamu benar-benar tega mas, membohongi aku,'' geram Linatng dalam hati, linatang berusaha sebisa mungkin untuk tidak tumbang karena ada Bima anaka semata wayangnya.
''Pak kita jalan saja, antarkan saya ke tempat wisata air terjun.'' pinta Lintang, Lintang ingin menenangkan kekacuan hatinya dengan menikmati sejuk dan indahnya air terjun.
Setelah hampir setengah jam perjalanan Lintang sudah berada di tempat wisata yang dimaksud, Lintang segera duduk di pinggir air terjun diantara para pengunjung lainnya karena liburan sekolah maka banyak orang yang membawa keluarganya untuk berlibur, pandangan LIntang terus kedepan kepedihan hatinya tidak dapat dibendung lagi, airmata lintang jatuh bercucuran dibalik kaca mata hitamn dan Niqob jadi tidak kelihatan jika Lintang sedang menangis, orang yang berlalu lalang di sekitar tidak ada yang mempedulikannya semua sudah sibuk dengan atifitasnya masing-masing.
__ADS_1
Satu jam telah berlalu hari juga sudah menjelang agak sore, Lintang segera bangkit dari duduknya dengan berat hati Lintang meninggalkan tempat wisata tersebut mengingat tidak bisa meningglakna Bima dalam waktu yang lama, dan hari ini juga waktunya untuk menggaji karyawannya jadi harus sampai rumah sebelum jam tiga sore. Lintang segera mengganti pakaiannya dan segera memesan ojek onlin untuk kembali ke rumah, setelah menempuh perjalanana hampir satu jam Lintang sudah sampai laundrynya seperti biasa kedatangan disambut hangat oleh pekerjanya, apalagi saat seperti ini waktunya untuk gajian.
Kekacauan hatinya tidak membuat Lintang lupa akan kewajibannya, sebelum jam empat sore Lintang sudah memebagikan amplop gajian apara karyawannya, senyum sumringah terpancar diwajah para pekerjanya selesai membagikan amplop bgaji Lintang segera pulang setelah berpesan pada karyawannya agar segera tutup, Lintang selalu membneri kelonggaran waktu pada karyawannya begitu selesai gajian bisa pulang cepat dan dilarang lembur.
Bima bocah tiga tahun itu sejak pagi sudah mulai agak rewel Mimi yang sudah hafal dengan hal seperti ini hanya biasa menenangkan Bima dan menunggu kehadiran Lintang, dari pagi Bima tidak mau turun darigendongan Mimi makanpun juga hanya sedikit saja.
''Assalamu'alaikum,'' Lintang mengucap begitu mau masuk rumah.
''Wa'alaikum salam,'' sahut Mimi dari dalam sambil menggendong Bima.
''Bima sayang kok gendong Bu Mi, kenapa sayang?'' tanya Lintang .
''Bunda,'' Bima segera minta digendong oleh Lintang.
''Rewel Mbak?'' tanya Lintang sambil mengambil Bima dari gendongan Mimi.
''Iya mbak dari pagi rewel terus padahal badannya tidak panas,'' lapor Mimi.
''Ayo sini sama Bunda. Mbak Mi, tolong hari ini pulang agak telat ya, atau Mbak pulang dulu nanti kesini lagi,'' pinta Lintang pada Mimi.
''Saya pulang dulu saja Mbak, setelah mandi dan memberitahu bapaknya anak-anak dan anak-anak saya segera kesini, nginep di sini juga gak apa-apa, saya takut jika Bima sakit,'' ucap Mimi penuh kekawatiran.
''Baiklah mana baiknya saja, makasih Mbak Mi,'' ucap Lintang.
''Mbak mandi dulu biar Bima Aku ajak,'' perintah Mimi.
__ADS_1
''Gak apa-apa Aku mandi nanti saja kebetulan lagi datang bulan,'' saht Lintang yang sudah duduk di sofa sambil menggendong Bima.
Mimi memutuskan untuk pamit pulang dulu, Lintang memeluk erat Bima untuk menenangkannya, Bima bisa tenang dalam dekapan Lintang, ikatan batin anak dengan orang tua tidak bisa dipungkiri ,''Tenang sayang Bunda akan tetap melindungi kamu, Bunda tidak akan membiarkan kamu sedih, terima kasih sayang sudah menemani Bunda sampai saat ini, jangan bersedih ya sayang.'' batin Lintang sambil membelai lemmbut Bima yang sudah terlelap dalam pelukannya, tidak terasa airamata Lintang kembali menetes sebab kejadian hari ini dan kemarin terus berputar-putar dalam ingatannya. Lintang terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri''Salahku apa mas kenapa kamu tega sekali membohongiku, kamu tega memyakiti buah hati kita, kanapa kamu tidak jujur saja Mas, kalau dari awal aku tahu kamu sudah beristri tidak mungkin aku mau menikah dengan kamu mas,'' batin Lintang ditengah-tengah derai airmata yang terus mengalir tanpa henti, beruntung Bima tetap terlelap dalam pelukan Lintang, padahal tubuh Lintang, bergetar hebat karena tangisannya.