
Hari sudah menjelang sore Lintang, memutuskan untuk pulang karena Bima, sudah kelihatan lelah sekali, kekacauan hati Lintang, membuat dirinya tidak fokus menyetir mobil sehingga Lintang, memutuskan menggunakan taksi saja, Lintang masuk sebuah taksi yang ada di mall tersebut, taksi meluncur dengan cepat menuju alamat sesuai permintaan Lintang, selama dalam perjalanan Lintang, tidak banyak bicara pandangan Lintang, nampak tidak fokus, Mimi yang bersamanya tidak berani bertanya apa-apa.Taksi yang mereka tumpangi sudah sampai di alamat tujuan Lintang, tidak segera turun Lintang, tetap bengong sambil memeluk erat Bima, yang terlelap dalam mimpinya.
''Mbak Lintang< sudah sampai,'' panggil Mimi, lembut sayangnya panggilan Mimi, yang pertama tidak didengar oleh Lintang, setelah panggilan kedua dan tepukan lembut dari Mimi, Lintang, baru menyadarinya.
''Oh... ada apa mbak Mi, apa sudah sampai?'' Tanya Lintang sedikit gugup Lintang, setelah membayar taksi tersebut, mereka bertiga segera turun.
Mimi mengikuti langkah Lintang masuk ke dalam rumah, Lintang menidurkan Bima di dalam kamarnya setelah menidurkan Bima, Lintang segera membersihakn diri, sedangkan Mimi, membenahi barang belanjaannya dan barang bawaannya menaruh pada tempatnya. Selesai mandi Lintang segera menemui Mimi, yang masih sibuk dengan beres-beresnya.
''Mbak Mi, maaf sebelumnya untuk beberapa hari ini saya minta Mbak untuk menginap di sini ya, kebetulan saya lagi banyak pekerjaan dan mungkin akan sering pergi ke luar kota, jika tidak ada halangan minggu depan Aku, ada pekerjaan di luar kota ada pertemuan seperti biasa,'' jelas Lintang pada Mimi, walau kenyataannya Lintang ke luar kota bukan untuk pekerjaan Lintang sangat penasaran dengan Dina dan Mamanya, Lintang diam-diam sudah mengatur rencana untuk menyelidiki sendiri sebelum bertanya pada Tama.
''Baik Mbak Lintang, kapanpun Mbak Lintang, membutuhkan bantuan Saya siap membantu,'' jawab Mimi senang.
''Terima kasih mbak, pekerjaanya biar Aku, lanjutkan Mbak mandi dulu sudah sore,'' perintah Lintang pada Mimi.
''Tidak perlu Mbak, tinngal sedikit saja biar saya kerjakan Mbak Lintang, istirahat saja dulu,'' tolak Mimi halus.
Setelah mendapat penolakan dari Mimi, Lintang, meilih pergi meninggalkan Mimi, yang masih sibuk dengan menata barang-barangnya tadi, Lintang menuju kamarnya, Lintang memeriksa hand phonnnya namun sama sekali tidak ada pesan masuk dari Tama, tiga puluh menit Lintang, duduk termenung di atas ranjangnya Lintang, merenungi nasibnya dan memikirkan sesuatu hal jika sesuatu terjadi pada keluarga kecilnya, tentu Bima, yang menjadi pertimbangannya sebelum mengambil keputusan besar dalam kehipuan di masa mendatang.
''Assalamu'alaikum Bunda sayang,'' sebuah suara yang kas mengagetkan lamunan Lintang.
''Wa...Wa'alaikum salam,'' sahut Lintang gugup.
''Melamun apa Bunda sayang Ayah, pulang smapai tidak tahu?'' tanya Tama yang sudah berdiri di sebelah Lintang.
__ADS_1
''Ayah, ngegetin saja tumben pulang lebih awal tidak kasih kabar/'' tanya Lintang, berusaha tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
''Sengaj Ayah, ingin membuat kejutan untuk kalian semua,'' sahut Tama mencium kening Lintang mesra ''Papa ingin megajak kalian keluar kata Mbak Mimi, Bima, sudah tidur,'' lanjut Tama.
''Bima, kecapek-an Yah, tadi hampir seharian main terus di zona bermain,'' tutur Lintang, tetap tenang.
Seperti biasa Lintang dan Tama melepas rindu setelah hampir satu bulan berpisah, hari beranjak semakin gelap setelah satu jam melepas rindu Tama dan Lintang, keluar dari kamarnya menuju kamar Bima, di dalam kamar Bima, ada Mbak Mimi yang sedang menunggu bima, sednagkan Bima, amsih bermanja-manja dalam alam mimpinya.
''Mbak Mi, untuk hari ini mbak Mimi, puleng saja bair Aku yang mejnaga mereka,'' tutur Tama sopan pada Mimi.
''Baik Pak, Mbak Lintang, saya pamit dulu,'' Mimi segera bangkit berdiri dan pamit.
''Terima kasih Mbak Mi, sudah menjaga permata saya, ini ada sedikit oleh-oleh untuk keluarga Mbak,'' Tama menyodorkan sekantong makanan khas kota lain.
''Ambil Mbak Mi, tidak baik menolak rezeki,'' timpal Lintang seperti biasa.
''Terima kasih, Pak Tama dan Mbak Lintang memang sangat baik, semoga rezekinya semakin tambha dan berkah semiga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah,'' tutur Mimi tulus.
''Amiin ya Allah,'' sahut Tama dan Lintang bersamaan.
Mimi pergi meninggalkan Lintang dan Tama, kini mereka berdua duduk di ruang keluarga sambil sesekali melihat keadaan Bima, yang masih terlelap dalam mimpinya.
''Ayah kangen sekali pada kalian, sebulan rasanya seperti seabad,'' gombal Tama, seperti biasa.
__ADS_1
''Habis ini Ayah pasti akan lama di luar kotanya,'' tebak Lintang.
''Maaf Bunda sayang untuk dua bulan ke deapan Ayah ada proyek di luar kota, baru kemarin bos memberi tahukan tentang proyek tersebut, makanya hari ini Ayah disuruh cuti awal,'' tutur Tama, sambil memeluk dan sesekali memngahadiahi Lintang, sebuah kecupan manis di pipi dan di keningnya.
''Ayah hati-hati, di manapun berada, kami berdua akan selalu berdoa untuk Ayah dan tentunya kami sangat merindukan Ayah,'' tutur Lintang seperti biasa, agar Tama tidak curiga padanya.
''Bunda itu semakin lama semakin menakutkan,'' gombalan Tama mesara.
''Takut kenapa? takut kehilangan atau takut kabur,'' Lintang bersiakap seolah biasa walau di dalam hatinya ada rasa dongkol yang mendalam.
''Takut rasa cinta Bunda ke ayah luntur seperti bedak tabur yang gampang terbawa angin.'' gomabal Tama, seperti biasa.
''Bunda justru takut tidak bisa lari kencang untuk mengejar cinta Ayah yang terbawa kereta api ekpres,'' gomballan balik Lintang, walau sebenarnya sebuah sindiran syangnya yang disindir tidak mengerti.
''Akan aku sewakan jet tempu buat Bunda, untuk mengejat Ayah,'' timpal Tama, sambil tersenyum manja pada Lintan.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam namun sayangnya tidak ada tanda-tanda Bima akan bangun, Tama dan Lintang akirnyamemutuskan untuk masuk ke dlam kamarnya, Lintang bersikap seperti biasa sehingga Tama, sama sekali tudak curiga, apalagi lintang malah menunjukkan semakin mesra pada Tama. Malam semakin larut Tama sudah larut dalam mimpinya namun tidak dengan Lintang, diam-diam Lintang keluar dari kamarnya, lintang menuju kamar Bima, Lintang menumpahkan airmatanya dibalik bantal agar tidak terdengar oleh siapapun, menjelang pagi Bima, terbangun dari tidurnya Lintang, langsung menolongnya agar Bima, tidak menangis Lintang, berusaha menidurkan kembali Bima, namun sayangnya tidak berhasil Bima malah mangajak Lintang bermain, Tama yang terlelap dalam tidurnya akirnya terbangun juga begitu mendengar suara Bima, yang bercelotah.
''Hai anak Ayah, sudah bangun ya,'' sapa Tama yang sudah berada di dalam kamar Bima, tanpa Lintang, sadari.
''Yah... Yah... Yah ulang,'' Bima segera memeluk Tama yang sudah berada di dekatnya.
''Anak Ayah, Ayah kangen sekali sayang,'' Tama segera menciumi pipi gembul Bima.
__ADS_1
Lintang segera menghindari tatapan mata Tama, karena mata Lintang sedikit bengap sebab habis menangis beberapa jam.