Lelah Mengalah

Lelah Mengalah
part 9


__ADS_3

Dengan ramah dan lincah Lintang, mulai menawarkan dagangannya, Lintang menjual dagangannya dengan harga  murah dari harga warung sehingga banyak warga yang tertarik dengan dagangan Lintang.


''Ibu-ibu sini ada kopi murah!'' teriak salah satu ibu bergamis oranye, memanggil para tetangga lainnya untuk segera datang.


''Beneran mbak ini harganya segini seperti harga grosir,'' celetuk salah seorang ibu berkaos biru yang sudah dari tadi ikut nimbrung.


''Iya Bu, beneran silakan dipilih, cocok untuk dijual lagi'' ucap Lintang ramah dan tentu dengan senyum terbaiknya.


Beberapa Ibu-Ibu datang mereka sangat antusias dengan dagangan Lintang, namanya di kampung begitu ada rame-rame maka para warga lainnya tentu kepo sehingga semakin banyak Ibu-Ibu yang datang. Dari jauh Lintang melihat Dina dan Mona, mereka berdua seperti baru pulang dari sekolahan Dina terlihat Mona, baru memarkir sepeda motornya dan Dina yang masih memakai seragam sekolah baru turun dari motor.


''Eh, panggil Bu Mona, biasanya dia suka sekali membeli barang,''  usul Ibu-Ibu berabaju daster batik oranye.


''Betul juga siapa tahu kita dapat rejeki nomplok,'' sahut Ibu-Ibu berbaju biru.''Aku ke rumah Bu Mona, dulu mumpung suaminya belum pulang,'' timpal Ibu-Ibu berbaju biru lagi.


''Lah, memang kalau suaminya ada apa dilarang?'' Lintang sedikit kepo dengan pernyataan Ibu berbaju biru.


''Kalau suaminya pulang nempel terus kaya perangko, beruntung banget Bu Mona itu punya suami mapan, ganteng ,pengertian, wes pokoknya kebaikannya diborong sendiri sama pak Tama,'' terang ibu berbaju batik oranye antusias.


Hati Lintang tentu remuk redam mendengar penuturan ibu-ibu tadi, istri mana yang tidak sakit hati dibohongi oleh suaminya sendiri dan kebohongan suaminya berlangsung bertahun-tahun.


''Sayangnya jarang pulang,'' imbuh ibu-ibu lainnya.


''Yang penting duwitnya gak pernah telat,'' timpal ibu lainnya lagi.

__ADS_1


Lintang hanya mendengar dan tidak bisa berkata apa-apa lagi begitu mendengar sendiri gosip dari ibu-ibu tetangga Mona. tidak berselang lama Mona, Dina dan ibu berbaju biru tadi datang secara bersamaan dengan Dina sudah ganti sergam dengan pakaian rumah.


''Silakan dipilih Bu,'' Lintang tetap berusaha ramah daalam menawarkan dagangannya.


''Din, kamu mau jajan yang mana?'' tanya MOna pada Dina.


''Dagangannya mbak ini muerah-murah Bu, gak perlu keluar bensin sudah bisa mendapatkan barang murah dan berkuwalitas,'' tutur Ibu berdaster batik  orenye.


''Biar Dina milih sendiri,'' sahut Mona, santai.


''Bu apa belum mendapatkan pembantu?'' tanya ibu satunya berbadan gendut dengan daster batik merah.


''Belum Lek, susah sekarang cari pembantu yang mau nginap, sedangkan untuk ngurus ibukan butuh orang yang mau menginap,'' jawab Mona, sambil mengolak-alik dagangan Lintang.


''Mbaknya mau jadi pembantu soal gaji tidak masalah asal mau menginap dan menemani ibu sehari semalam,'' jelas Mona garis besarnya.


''Tidak apa-apa Bu, asal gajinya lumayan,'' tutur Lintang tanpa basa-basi berusaha akrab saja menutupi kepedihannya dan sayangnya serta rasa penasarannya yang mendalam.


''Pak Tama gak pulang Bu?'' tanya ibu-ibu lainnya.


''Pulang beberapa hari yang lalau dan kemarin baru kembali ke proyeknya,'' tutur Mona tanpa tedeng aling-aling sebenarnya tanpa diberi tahu para CCTV tetangga itu lebih akurat.


Mendengar penuturan Mona, hati Lintang semakin tidak karuan bagai kaca yang hancur lebur.

__ADS_1


''Bagaimana Mbak, Mbaknya benar-benar mau bekerja di rumah Aku/'' tanya Mona, meyakinkan ucapapan Lintang tadi.


''Kalau Ibu tidak keberatan tentu saya mau sekali Bu,'' jawab Lintang bersungguh-sungguh.


''Tentu Aku sangat senang sekali, apalagi untuk saat ini Aku sangat membutuhkan pekerja,'' tutur Lintang ramah.


''Baiklah besok datang saja langsung, oh ya ini kartu nama Aku'' timpal Mona langsung percaya.


Hampir dua jam Lintang berada di teras dan tentu dengan barang dagangannya, Mona denga ibu-ibu lainnya sangat antusias melihat hampir semua dagangan Lintang beberapa ibu-ibu langsung memilih dan minggir memberi ruang pada ibu-ibu lainnya. Perasaan antara senang dan berdebar kencang, soal dagangan habis atau tidak bukan menjadi soal bagi Lintang, bagi Lintang bisa menemukan tempat tinggal Mona itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.


"Oh ya Bu Mona, rumahnya yang mana ya?'' tanya Lintang sedikit gugup, untung Lintang mampu menyembunyikan kegugupannya.


''Bagaimana kalau habis ini ke rumah saja kan dagannya juga hampir habis gitu,'' ajak Mona. antusias bisa memiliki pembantu baru.


''Baik, saya tidak keberatan biar saya kemasi dagannya saya Bu,'' tutur Lintang sopan.


''Baik, jangan terburu-buru,'' perintah Mona.


Lintang mulai mengemas dagangannya yang tingggal sedikit sebagaimana ibu-ibu pada umumnya mereka duduk santai sambil bergosip, semua warga tahu tentang sifat Mona dan keluarganya karena diantara dengan warga sekitar kehidupan Mona, lebih baik dan mapan. Hanya dalam waktu sekejap semua sudah beres bahkan.' Lintang juga sudah membasuh mukanya setelah sudah Lintang menghampiri Mona dengan para Ibu-Ibu lainnya .


''['' lapor Mbak sudah,]''


''Lalu bagaimana

__ADS_1


__ADS_2