
Di dalam kamar sebuah hotel ternama Tama menikmati kebersamaannya dengan Mona dan Dina, sehari penuh Tama juga tidak menelpon Lintang, Tama hanya berkirim pesan pada Lintang, Tama memang jarang melakukan panggilan telepon jika sedang menggarap proyek, dengan alasan kejar target atau tidak ada sinyal. Soal tanggung jawab Tama pada keluarga memang tidak diragukan dari segi materi maupun kasih sayang tidak pernah kurang walau jarang pulang setiap hari pasti berkirim pesan pada keluarganya, teramsuk pada Lintang, terus terang Tama terlihat sempurna dimata para wanita yang berumah tangga, bahkan Tama selalu menjadi suami idaman bagi teman-teman Lintang, yang sudah mengenal mereka Tama terlihat sangat sempurna tiada cacat.
''Dina senang gak kalau Mama punya adik?'' tanya Tama pada Dina.
''Senang sekali Pa, nanti jika adik sudah lahir akan aku kasih nama sendiri Pa,'' pinta Dina bahagia.
''Tanya Mama dulu, sayang,'' sahut Tama penuh kasih.
''Bolehkan Ma?'' tanya Dina penuh harap.
''Tentu boleh Dina sayang,'' sahut Mona penuh kebahagiaan.
Mona kini telah hamil dua bulan keberdaannya di kota ini karena rengekan Mona, mau tidak mau Tama menuruti keinginan ibu hamil tersebut, mengingat sudah satu bulan Tama juga belum mengunjungi Mona di kampung, Dina sudah terlelap dalam tidurnya sedangkan Mona dan Tama masih terjaga.
''Pa, sampai kapan kita akan begini terus, hampir sepuluh tahun kita selalu terpisah, Mama bersedia mengikuti kemanapun Papa berada,'' pinta Mona penuh harap.
''Lalu bagaimana dengan Ibu, di kampung Mama tega meninggalkan Ibu sendirian, apa Mama tega menyerahkan semua pada pembantu, ibu sendiri juga tidak mau kita ajak pindah-pindah,'' ucap Tama mengingatkan akan keadaan sebenarnya tentang Ibunya Mona.
''Bagaimanapun Mona ingin kita bisa selalu berkumpul bersama, Mama tidak tega Papa rela tinggal di rumah petak demi membiayai hidup kita,'' kelih Mona.
''Kebahagiaan kalian adalah kebagiaanku, apalagi bisa melihat kalian semua sehat dan sebentar lagi keluarga kita akan bertambah sehingga Papa, harus lebih giat bekerja,'' kilah Tama, lembut.
__ADS_1
''Tapi Pa?'' protes Mona.
''Tidak ada tapi-tapian, ingat Mama harus jaga kesehatan, Mama fokus pada anak-anak dan Ibu, biar Papa yang bekerja mencari nafkah untuk kalian semua,'' tutur Tama lembut penuh kasih.
Tama dan Mona dapat merasakan sebuah kebahgiaan , melepas sebuah rindu yang sudah lama tak tersalurka, ditambah cuaca malam yang sangat cerah bintang bertaburan bulan bersinar sangat terang, beda halnya dengan Lintang dan Bima.
Selepas isya Mimi baru kemabli ke rumah Lintang, karena atas permintaan Lintang agar Mimi mau menginap untuk menemaninya, kepedihan dan kehancuran hati lintang tidak dapat di sembunyikan, beruntung Bima sudah terlelap dalam tidurnya sejak sore tadi.
''Mbak Lintang kelihatan kurang enak badan?'' tanya Mimi.
''Iya Mbak Mi, dua hari ke luar kota membuat tubuhku sangat capek sekali, Mbak Mi tolong bantuin jaga Bima ya, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,'' pinta Lintang pada Mimi.
''Baik Mbak, Mbak Lintang gak istirahat dulu tidur dulu saja kalau sudah baikan baru kerja gak baik memaksakan diri,'' nasehat Mimi.
Mimi masuk kedalam kamar Bima, sedangkan Lintang Masuk kedalam kamarnya di dalam kamar Lintang segera mengecek alamat yang diucapkan oleh Dina tadi siang, melalui akun media sosial Lintang berusaha mencari tahu tentang Tama dan Dina, beberapa aplikasi Lintang jajaki mulai menulis nama Dina, Tama serta penggabungan nama antara keduanya, hampir dua jam Lintang berkuata dalam media sosial namum tidak menemukan titik terang.
[Mas sudahbistirahat belum, jangan lupa cepat istirahat]
Lintang mengirim pesan pada Tama,'' Ah centang satu,'' keluh Lintang begitu melihat pesan singkat yang dia kirim.
Indahnya malamyang bertabur bintang tidak dapat mengubah kepedihan Lintang, di bawah terangnya sinar rembulan Lintang menumpahkan segala kepedihannya, Lintang masih belum percaya jika laki-alaki yang dia cintai selama ini telah membohonginya.
__ADS_1
''Apa mamak tahu kalau Mas Tama memiliki dua istri, jika tahu kenapa mamak merestui pernikahan kami, atau jangan-jangan mas Tama menyewa orang laian untuk pura-pura menjadi orang tuanya atau mereka bersekongkol kalau bersekongkol apa tujuan mereka?'' sejuta tanya memenuhi setiap celah otak Lintang, namun sayangnya semua tanya tersebut tidak ada yang mampu menjawabnya karena semua dipendam sendiri oleh Lintang.
Malam merayap pagi suasana hati Lintang masih belum tenang, beda halnya dengan Tama yang sudah beberapa kali bermandikan keringat kenikmatan bersama dengan Mona, pagi yang cerah ada senyum yang cerah pula di wajah Mona, tama dan Dina, mereka bertiga menyantap sarapan paginya di hotel tempat mereka melepas rindu hari ini Mona dan Dina akan kembaki ke kampung, karena waktu cuti Tama juga sudah habis. Sebelum kemabli ke kampung Tama mengajak Mona dan Dina untuk berwisata di kota tersebut, dua tempat wisata telah mereka kunjungi hingga waktu tengah.
Siang harinya mereka menikamti makan siangnya di sebuah restauran ternama yang ada di kota tersebut, selesai makan siang Tama mengantar Mona dan Dina ke sebuah stasiun kereta, perlakuan Tama yang tidak berubah sama sekali tidak membuat Mona curiga.
''Setelah sampai rumah segera kabari,'' pesan Tama pada Mona ''Dina sayang jaga Mama dan adik ya, maaf Papa tidak bisa mengantar kalian sampai rumah, ada cuti Papa pasti pulang,'' pesan Tama pada Dina.
''Papa jaga kesehatan jangan sampai telat makan, ayi Dina sayang nanti keburu ketinggalan kereta.'' ajak Mona.
Tama melepas mereka dengan sebuah ciuman dan pelukan hangat selayaknya seorang kepala keluarga kesedihan kekawatiran terpancar dari wajah mereka bertiga terutama Dina, bocah enam tahun tersebut masih menyimpan rindu untuk Papanya, begitu Mona dan Dina sudah masuk di dalam kereta Tama, segera meninggalkan stasiun , Tama segera kembali ke proyek untuk melanjutkan pekerjaanya, di sela- sela melakukan pekerjaanya Tama, membuka pesan yang dikirim oleh Lintang.
[Maaf Bunda sayang baru bisa balas maklum baru dapat sinyal]
Sebuah pesan permintaan maaf terkirim, Tama tersenyum melihat pesannya sudah di baca oleh Lintang, bahkan Lintang juga segera menjawabnya.
[Yang penting Ayah selalu sehat aku dan Bima selalu mertindukan kepulangan Ayah]
Tama begitu mendapat jawaban dari Lintang segera membalas kembali dengan cepat.
[Tunggu ya sayang Ayah pasti segera pulang, Ayah rindu kalian, sekarang Ayah lanjut kerja dulu ya]
__ADS_1
Lintang hanya menjawab dengan sebuah stiker love, lalu tidak menjawab lagi, Lintang menaruh handphonnya seharian ini Lintang tidak begitu semangat kerja, untuk menetralkan hatinya yang sudah berkeping-keping Lintang membawa Bima dan Mimi bermain di taman bermain. Mimi ,Lintang dan Bima menghabiskan waktunya di pusat berbelanjaan selain bermain di zona bermain mereka menonton film di gedung bioskop, namun yang mereka tonton sebuah film animasi yang menghibur.