Lika Liku Luka

Lika Liku Luka
BAB 15


__ADS_3

Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga.


Keluarga bahagia semuanya sama; setiap keluarga yang tidak bahagia menjadi tidak bahagia dengan caranya masing-masing.” Leo Tolstoy dalam Anna Karenina


Manusia manakah di dunia ini yang tidak ingin memiliki sesuatu yang sempurna, termasuk keluarga? Namun, hanya Tuhan yang berhak memiliki kesempurnaan. Bukan manusia. Keluarga adalah tempat utama di mana setiap individu manusia tumbuh dan menjalani asam garam perjalanan kehidupannya.


Aku adalah sulung dari tiga orang bersaudara. Saat ini umurku sudah menginjak kepala tiga dan masih melajang. Hubungan dengan keluargaku sangatlah erat. Bisa dikatakan aku tidak bisa hidup jauh dari keluargaku. “Teu bisa jeung teu luas hirup ninggalkeun kolot, indit ka tempat anu jauh." Begitu ibuku sering berkata dalam Bahasa Sunda. Artinya tidak bisa dan tidak berani hidup meninggalkan orang tua, pergi ke tempat yang jauh.

__ADS_1


Apakah aku benar-benar tidak punya keberanian untuk hidup jauh dari keluarga dan membangun kehidupan yang baru untuk diriku sendiri? Tentu saja tidak. Aku ingin bisa menginjak tempat hidup yang baru dan membangun hidup yang menjadi impianku. Keadaan yang serba terbatas membuat diriku belum mampu mewujudkan itu semua. Namun, aku selalu yakin bahwa Tuhan akan memberikan hidup yang baik bagi setiap hamba, cepat atau lambat, bermacam-macam jalan dan peluang, selama hamba itu selalu berbaik sangka kepada-Nya dan tetap berusaha di jalan yang benar bukan sebaliknya.


Aku adalah tulang punggung pencari nafkah bagi ayah, ibu, dan kedua adikku. Pendidikan yang hanya sebatas lulusan SMA membuat tak banyak pilihan pekerjaan yang bisa aku dapatkan. Apalagi di kota kecil tempat tinggalku saat ini. Sudah hampir sebelas tahun aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan yang berlokasi dekat dengan rumahku. Walaupun bergaji hanya sebatas angka UMK, pekerjaan ini terus aku lakukan karena aku belum bisa mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang lebih baik.


Aku sudah berusaha melamar pekerjaan ke tempat lain. Namun, belum ada rezeki. Kembali aku berusaha menanamkan persangkaan yang baik kepada Tuhan. Akan selalu ada ilmu dan pengalaman baru walau belasan tahun aku masih bekerja di perusahaan yang sama. Bagi diriku, rezeki bukanlah hanya sebatas uang yang bisa disimpan dalam tabungan.


Perjalanan hidup sebuah keluarga tentu tidak akan selamanya diiringi dengan kebahagiaan atau sukacita. Selalu ada kesedihan atau duka yang dialami masing-masing individu dalam kehidupan berkeluarga. Keputusan ayahku dua puluh tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2000, berdampak besar pada kehidupan diriku hingga hari ini.

__ADS_1


Akhirnya, ayahku pun pensiun dan menghidupi kami dari jatah uang pensiun bulanannya hingga hari ini. Walaupun tidak besar. Dari kompensasi yang diberikan perusahaan kepada para karyawan yang mengajukan pensiun dini, ayahku masih bisa membangun rumah permanen yang hingga kini masih kokoh untuk kami tinggali. Berbeda dengan beberapa rekan ayahku yang uang kompensasinya sama sekali tak berbekas alias habis di tengah jalan. Habis digunakan untuk berfoya-foya. Akhirnya, sampai ada yang mengalami gangguan jiwa dan ditinggalkan begitu saja oleh keluarga, istri, bahkan anak-anaknya.


Di titik ini aku sangat bersyukur. Di satu sisi, keputusan ayahku untuk pensiun dini adalah hal yang sangat kami sesalkan. Mengapa ayahku saat itu tidak mengambil opsi mutasi saja ke cabang perusahaan yang lain mengikuti sebagian rekan kerjanya? Mengapa ayahku juga saat itu menolak bantuan dari saudara ibu yang hendak memberikan modal untuk membuka toko elektronika karena tahu bahwa ayah bisa elektronika dan paham betul belum tentu sisa uang kompensasi yang ada bisa digunakan untuk modal usaha?


Semakin hari, semakin aku memahami bahwa hanya Tuhan yang bisa mengubah gerak hati dan pikiran manusia. Sekuat, setepat, dan sebagus apa pun argumen kita terhadap permasalahan seseorang, jika Tuhan tak berkehendak mengubah pendirian orang itu, tiada guna segala argumen kita. Aku berusaha menerima takdir Tuhan ini dengan lapang dada. Aku selalu berkeyakinan bahwa di balik setiap penderitaan, akan selalu ada kebaikan dan kebahagiaan yang sudah dipersiapkan Tuhan bagi setiap hamba yang mau menerima setiap pemberian Tuhan. Entah itu karunia atau entah itu musibah.


Hari-hari yang berat sudah tentu harus kami hadapi setelah keputusan ayahku untuk mengambil pensiun dini. Untuk tambahan biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah, walaupun tidak selalu ada setiap hari, ayahku menerima servis perbaikan alat-alat elektronik rumah tangga, pemasangan pompa air, hingga pemasangan instalasi listrik. Ayahku pun menerima pekerjaan freelance dari sebuah SPBU sebagai teknisi listrik dan mesin.

__ADS_1


Ibuku pun tak peduli pada gengsi. Untuk turut membantu ekonomi keluarga agar terus berputar, ibu menerima pekerjaan mulai dari mencuci baju dari tetangga, membersihkan rumah kos, memasak di resepsi pernikahan, hingga menjaga orang yang sedang dirawat di rumah sakit. Biaya sekolah pun sedikit terbantu karena saat SMP dan SMA beberapa kali aku mendapatkan uang beasiswa dari lomba menulis yang aku ikuti.


Setelah lulus sekolah dan mendapat pekerjaan, aku pun berusaha membantu perekonomian keluarga semampu yang aku bisa, di tengah segala keterbatasan. Sebagian besar gajiku habis untuk biaya pangan, utilitas, hingga biaya sekolah kedua adikku. Sisa gaji hanya cukup untuk membeli pulsa dan sedikit isi dompet untuk bekal di tempat kerja.


__ADS_2