
"Kamu tidak melihat dirimu sendiri di dalam dirimu? Coba ingat apa yang pernah kau kerjakan selama ini?"
"Aku berdoa untuk negeri ini, membantu orang-orang yang dekat denganku, terkadang juga tidak dekat, tetapi aku selalu tidak tega melihat semuanya."
__ADS_1
"Dengan apa kamu membantunya?"
"Kadangkala aku mengirim energiku kepada mereka? Ki Juru, kenapa wajahmu berubah menjadi aneh, katakan padaku apa yang terjadi?" Aku gemas melihat semua ini, rasanya seperti terjebak dalam permainan yang benar-benar akan memalukanku, dan semua ini membuat aku tidak sabar. Iya aku menyadari sepenuhnya, ketidaksabaran yang timbul atas nama kemanjaan kepada sesepuh sebagai momongan satu-satunya yang selalu dituruti semua keinginannya. Hm, iya aku menyadari sepenuhnya kemanjaan dan kecengenganku di depan mereka. Aku menarik nafas panjang dan berusaha mengendalikan diriku sendiri. Mengembalikan kesadaran diri bahwa aku tidak boleh terlalu manja dengan mereka, karena apapun kondisinya, mereka akan menerima dan mengasihiku dengan tulus.
__ADS_1
"Maafkan kami anakku, kami juga belum pernah melakukan ini semua. Tetapi sepertinya ada yang salah dalam prosesmu. Karena setiap perjalanan spiritual adalah sebuah perjalanan pembelajaran diri pribadi yang akan berbeda-beda satu orang dengan orang lainnya, demikian juga dirimu dengan sesepuh-sesepuh yang ada. Kami baru saja melihat dirimu berserakan di mana-mana, menjadi lambaran negeri ini, di ujung timur dan barat negeri ini, di setiap perbatasan negeri. Di tempat teman-temanmu, kenapa kamu bisa melihat dan mendengarkan mereka dengan sangat jelas, karena energi yang kau kirim sesungguhnya adalah bagian dari dirimu sendiri, nyawamu, rohmu. Dan, hek hek, (Gusti Haryo Mukti berusaha menahan tawa untuk meneruskan pembicaraannya), wajarlah jika sekarang kamu merasa kehabisan energi dan kehilangan hampir separuh nyawamu, karena memang nyawamu tanpa kau sadari kau berikan kepada orang-orang yang minta tolong kepadamu. Hahhaha, aduh anakku, maaf aku tidak tahan untuk tertawa, dan ragamu saat ini, ditempati oleh mereka-mereka yang menduduki tempat kosong, berikut semua sisa-sisa hasil pembakaran energi saat kamu sedang bekerja, panas tubuh yang semuanya menggerogoti tubuhmu."
"Anakku, kamu adalah manifestasi jagad ombo, di mana semua bagian negeri ini bisa mengecil dan menyatu di dalam dirimu. Dan apa yang ada dalam jangkauanmu sesungguhnya adalah dirimu sendiri, dan selama ini yang kau lakukan saat menolong teman-temanmu, saat menolong negeri ini, engkau telah mengorbankan dirimu sendiri. Tanpa kau sadari engkau telah memberikan nyawa dan kekuatanmu untuk mereka. Dan sekarang kamu harus merubah semua ini, sebelum semuanya akan habis dan mati menyusul kami."
__ADS_1
"Anakku, tidak ada yang perlu disalahkan, karena kamu belajar sambil mengerjakan, dan bukan belajar pakemnya, di jagad bathin belum ada pakem yang bisa ditulis, yang aku harap kamu akan mampu melakukannya, kamu berjalan tanpa guru dan tanpa kawan, seorang diri dan tidak ada yang mendampingimu. Wajar sangat wajar jika kamu melakukanbanyak kekeliruan, bahkan anak kecil yang belum tahu api, bermain api juga akan terbakar, demikian juga dengan dirimu. Hal yang sangat bisa dimaklumi, dan aku sangat bisa mengerti."
"Tugasmu sekarang adalah menyusuri jejak demi jejak yang pernah kau lakukan dalam seluruh perjalanan hidupmu dan menarik kembali apa yang pernah kau lepaskan dari dirimu, dan puzzle-puzzle itu akan kembali dan tersusun utuh di dalam dirimu. Di sanalah kekuatanmu. Dan anakku, sekarang kamu bisa mengerti kenapa mereka yang kau dampingi menjadi sepertimu, karena sesungguhnya bagian dari dirimu telah kau berikan untuk mereka, sebagian dari energi kehidupanmu. Sangat wajar, jika engkau merasa sangat lemah dan tepuruk tak berdaya, sakit dan menderita"
__ADS_1