Lintas Waktu

Lintas Waktu
Bab 1 Perjodohan


__ADS_3

Pagi nan cerah, seperti biasanya mas Abdul si tukang fotokopi perempatan jalan menyiapkan segala barang dagangan di tokonya. Menata setiap dagangan dengan rapi. Mengelap mesin fotokopi usangnya yang masih bisa menemani kerjaan setiap harinya. Lembaran kertas masih dengan normal bisa keluar dari mesin tua itu. Mas Abdul memang rajin dan disiplin dalam merawat setiap alat-alat di tokonya tersebut. Banyak pelanggan yang setia datang ke tokonya, karena di kecamatan kecil ini Fotokopi Al Hikmah nama tokonya mas Abdul terkenal dengan pelayanan yang memuaskan, di samping cepat, kualitas tintanya juga bagus, tidak kalah dengan mesin baru di tempat lain yang merupakan saingannya.


Belum selesai menata rak buku yang masih berhimpitan di dalam toko, karena jika tidak ditata dengan rapi barang lain nya tidak akan muat maklumlah ukuran yang hanya 3x3 meter ini bukan lah ukuran ideal untuk menata semua dagangan yang berjibun.


“Assalamualaikum mas terdengar suara seorang wanita yang mengucapkan salam, dari luar. suara itu sudah tidak asing lagi bagi mas Abdul. Benar dugaannya wanita itu adalah salah satu pelanggan setianya.


“Wa alaikumsalam, iya ustazah maaf sebentar yah sahut mas Abdul tanpa menoleh. Ustazah adalah panggilan untuk wanita itu, karena dia mengajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu . Sekolah Dasar swasta yang terkenal di kecamatan ini di sekolah, siswanya memanggil gurunya dengan sebutan Ustad atau Ustazah, ustazah Hana namanya.


"Iya mas enggak papa kok, santai saja" sambil membuka ponsel yang ada di genggamannya Ustazah Hana menjawab.


"Ada yang bisa di bantu Ustazah?" tanpa menatap wanita itu mas Abdul bertanya.


"iya mas, minta tolong foto kopikan dokumen ini yah, sekalian di jilid" sambil menyodorkan dokumen yang di genggaman nya.


"Iya mbak eh maaf ustazah maksudnya" kebiasaan mas Abdul Ketika berhadapan dengan Ustazah Hana pasti agak grogi .


mau sampul warna apa ustazah? tanyanya.


"apa yah yang bagus mas?" balik tanya Ustazah Hana.


"apa ya?biru muda aja bagaimana?" sambil menunjukan kertas warna biru , mas Abdul pura-pura melihat tumpukan dokumen di atas etalase kacanya.


oh.eh iya boleh Ustazah sambil masih grogi mas Abdul mulai mencatat no hp Ustazah Hana di hp miliknya.


****


Matahari mulai naik pertanda hampir tiba waktu sholat Duhur, kerjaan satu persatu selesai , termasuk dari Ustadzah Hana.


“Alhamdulillah selesai semua, oh iya saya harus kasih tau Ustazah Hana nih ya, bentar wa dulu lah


Dengan perasaan tidak biasa, ketika pegang hp dan mulai mencari kontak hp yang telah disimpan pagi tadi, aduh saya kasih nama siapa yah tadi? sambil terus berusaha mengingat nama kontak nya Ustazah Hana. Benar saja karena terlalu groginya, mas Abdul salah ketik nama sehingga lupa. Setelah beberapa saat mengingat akhir nya ketemu , ternyata di kasih nama Ukhty Hana. Sambil menghela nafas lega mas Abdul mulai mengetikan wa


Hp mas Abdul Berdering , sambil melanjutkan ketikan pelanggan , dia menoleh sekilas pada panggilan telepon, tertera di layar ponsel nya nama si pemanggil Pak Muntaha’, salah satu sesepuh yang sering menjadi Imam di Mushola tempat Mas Abdul biasa Salat.

__ADS_1


Assalamu alaikum ”


"Waalaikumusslam, apa benar ini dengan nak Abdul?”, jawabnya dari sebrang telepon, suaranya menggambarkan bahwa Pak Muntaha sudah sepuh, namun semangat berjamahnya luar biasa. Beliau datang sebelum waktu Salat tiba dan pulang paling belakangan sambil menutup pintu Masjid.


“ iya benar, maaf pak, adakah yang bisa Abdul bantu?” tanya mas Abdul


nak Abdul, apakah tawaran saya tempo hari sudah di pertimbangkan? ternyata Pak Muntaha menanyakan jawaban dari nya. Sebelum nya pak Muntaha menawarkan supaya Mas Abdul mau membantu dirinya mengurus Masjid dan TPQ di Masjid itu. Mas Abdul memang bukanlah penduduk asli di tempatnya sekarang, dia hanya perantau yang mencoba mengadu nasib membuka usaha fotokopi.


"maaf Pak, bukannya saya tidak mau, tapi saya malu pak, ilmu agama dan bacaan Al quran saya jelek sekali pak belum pantas rasanya Mas Abdul menjawab permintaan Pak Muntaha dengan perasaan bingung dan tidak percaya diri.


Nak Abdul , Allah telah menjelaskan dalam  (QS.Adz Dzariyat: 56) Allah berfirman Dia menciptakan manusia dan jin semata-mata agar mereka beribadah kepada-Nya. Allah menciptakan manusia bukan hanya untuk sekedar tidur, bekerja, makan maupun minum melainkan untuk melengkapi bumi ini dan beribadah kepada-Nya dan juga saya kasih tau ya nak, kita soleh sendiri saja tidak baik, selain soleh kita juga harus mensolehkan orang lain seperti yang telah banyak ustad di pengajian sampaikan adalah pesan Rasulullah Muhammad SAW ratusan tahun yang lalu. Beliau bersabda Khoirunnas Anfauhum Linnas sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lain.


Panjang lebar Pak Muntaha menasehati Mas Abdul agar bersedia, karena beliau yakin mas Abdul akan mampu melanjutkan perjuangannya yang selama ini beliau lakukan. Dia sadar usianya sudah terlalu senja untuk melakukan banyak hal. Dengan suara gemetar, Pak Muntaha masih melanjutkan pembicaraannya yang membuat mas Abdul tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Bismillah, insya Allah saya bersedia, tapi maaf pak saya masih tahap belajar dan selain itu saya tidak punya ilmu agama yang memadai. Mohon bimbingannya ya pak Dengan menahan nafas berat mas Abdul berusaha meyakinkan dirinya bisa.


Alhamdulillah, terimakasih ya nak Abdul , kalau begitu nanti malam ahad pekan depan silahkan datang ke Masjid habis Isya ya. Kebetulan akan diadakan musyawarah bersama Pak Muntaha Lega dengan ketersediaan nya mas Abdul.


"ya sudah nak, silahkan lanjutkan pekerjaannya, saya ada acara tetangga yang 3 hari lalu meninggal. Wassalamu alaikum tutup pembicaraan siang itu oleh Pak Muntaha


Mas Abdul kembali melanjutkan pekerjaan tokonya sambil melayani para pelanggan dengan berbagai kebutuhan masing-masing.


Habis isya sambil rebahan berusaha meluruskan tubuhnya yang terasa pegal, tiba-tiba ia teringat orang tua satu-satunya di kampung yang ia tinggal. Astagfirullah, lupa belum telephon Emak Bapak nya meninggal saat Mas Abdul duduk dibangku kelas 11 SMA. Dikampung Emaknya tinggal bersama dengan adik semata wayangnya yang masih duduk di bangku SMA kelas 12. Mas Abdul Langsung mencari hp nya yang tadi di cas di samping rak pakaiannya. Sesaat membuka hp nya, tiba-tiba melintas wa dari ustadzah Hana tadi siang, cantik dan sholehah yah gumamnya dalam hati. Dalam pikirannya sebenernya Mas Abdul sudah waktunya mencari pendamping hidup, mengingat sekarang usianya sudah 27 tahun. Akhir -akhir ini dia juga sering beli dan baca buku buku karangan Ustad Salim Fillah dari Jogja yang telah merilis banyak buku seputar remaja dan keluarga. Di antara buku yang best seller adalah Indahnya Pernikahan Setelah Pernikahan Dan juga Bahagianya Merayakan Cinta Ah sungguh aku ingin punya jodoh yang solehah ya Allah gumanya dalam hati.


Assalamu alaikum, Nissudaah tersambung


“ Waalaikumuslam mas, kenapa baru telepon sudah di tungguin emak tuh dari siang , kata emak ada yang mau di omongin. mas apakabar ? sehat kan?”panjang jawaban Danis


iya, alhamdulillah sehat, danis dan emak sehat juga kan? Nis kalau butuh kebutuhan apa-apa sekolah ,bilang Mas yah, ntar mas kirimin dari sini, atau kalau enggak ntar Mas Transfer saja ke rekening , numpang rekening Bibi Fatonah. biasanya Bibi fatonah dimintai tolong numpang nerima transferan


iya mas gampang itu mah, ntar Danis ngomong sama mas kalau Butuh apa-apatimpalnya.


"mana Emak?"

__ADS_1


"oh Iya, bentar , Danis panggilkan dulu" sambil lari ke dapur mencari emaknya


emaak… emaaak Nih mas abdul telepon


mana-mana? buru -buru emak membersihkan tangan menggunakan baju yang di pakainya.


"Assalamu alaikum dul?salam emak


waalaikumusslam emak jawab mas Abdul


Dul, bagaimana kabarmu ?


Alhamdulilah baik mak, emak sendiri bagaimana?


Alhamdulilah baik Dul Mas Abdul dan emak mengobrol panjang lebar sampai dimana pada pembahasan mengenai hal penting".


“kamu belum kepikiran nikah to?Tanya Emak


"kenapa emang mak? ya pengin lah mak, masak mau jadi jomblo selamnya?"


Canda ke Emaknnya


Dul, tadi Bu Sinah, ibunya Adel main ke rumah, dia bilang mau jodohin kamu sama Adel, tau gak, sekarang Adel sudah pinter dandan, pakaiannya pun bagus -bagus loh, ekonominya juga bagus apa saja kebeli emak jelasin kondisi Adel sekarang , yang tak lain adalah tetangga beda RT dengan mas Abdul.


"Apa mak Adel? mas Abdul kaget karena dia tau betul sifat Adel yang glamor yang pakainnya serba seksi, dandanan menor bak Artis ibu kota. Dia juga ingat cerita teman sekampungnya tempo hari , kalau Adel sering di antar jemput pria tak di kenal dengan mobil mewah.


Aduh, apa tidak salah dengar mak? Kita, kan keluarga sederhana mak, lagian ntar mana bisa menafkahi Adel yang seperti itu masih tidak percaya denga apa yang di sampaikan emaknya.


Tapi menurut Emak , Adel itu cocok buat kamu Dul, siapa tau dengan kamu menikahinya bisa merubah dia menjadi lebih baik. Sana di pikir-pikir dulu , jangan bikin malu emak ke Bu Sinah yah, kita sudah berhutang budi banyak ke Bu Sinah, dulu semenjak bapak kamu sakit-sakitan sampai meninggal?” Tiba-tiba Mas Abdul merasakan kepalanya sedikit berat saat mengingat permintaan emaknya.


Baru saja mas Abdul akan menyimpan ponsel nya Ada panggilan masuk ke Mas Abdul, dari pak Muntaha. Bukankah ia sudah mengiyakan permintaan pak Muntaha ada apa menelpon lagi?


'Assalamualaikum Nak Abdul, maaf menggangu waktunya. Nak Abdul kan sudah setahun tinggal di sini dan bapak juga sudah mengenal baik. Bapak ingin berbicara hal penting. Nak Abdul sudah ada rencana nikah belum? Saya berencana menjodohkan nak Abdul dengan putri saya".

__ADS_1


Ya Allah , apalagi ini? Kenapa hal yang sama tiba -tiba datang berbarengan?.


__ADS_2