Lintas Waktu

Lintas Waktu
BAB 7 Jangan Bersedih


__ADS_3

Hujan lebat diiringi dengan badai sudah turun sejak kemaren sore, alam seperti ikut tak menyetujui acara sakral yang sedang di lakukan itu. Air hujan membasahi tenda milik keluarga yang sedang mengadakan hajatan. Senyum yang terlihat dipaksakan itu, diberikan mempelai pengantin wanita, berbeda dengan mempelai pria yang tersenyum tulus, meski matanya tidak bisa membohongi jika menelisik lebih dalam ada pancaran kesedihan tapi dia mencoba untuk menutupinya.


Satu jam yang lalu, Mas Abdul telah mengucap Ijab qobul dengan di saksikan oleh keluarga nya sendiri juga keluarga dari Adel istri nya. Sekarang dia sudah resmi menjadi suami dari gadis yang bernama lengkap Adelia Putri itu. Namun, dibalik itu semua ada guratan kecemasan juga kekhawatiran dalam benaknya, bisakah dia menjadi sosok imam yang baik untuk istrinya itu. Bisakah dia dapat dengan sabar menghadapi tingkah Adel yang orang bilang nakal?.


Di sana seorang gadis baru saja tiba di acara resepsi pernikahan dengan mengenakan pakaian gamis berwarna biru dongker, lengkap dengan hijab yang berwarna senada membuatnya tampak terlihat anggun. Beberapa kali gadis itu, terlihat menghembuskan nafas berusaha terus meyakinkan diri bahwa dia bisa dan kuat.


Karangan bunga bertuliskan Happy Wedding Abdul Latif dan Adelia Putri terpampang disana.


“Owh ternyata nama nya Adel Dengan langkah yang berat, dia berjalan memasuki tempat acara. Di sana dua mepelai pengantin tengah sibuk menyalami para tamu. Hana gadis itu dia meremas ujung gamis yang di kenakan nya.


Kenapa harus sesakit ini melihat nya bersanding dengan wanita lain Umi yang tau perasaan anaknya memberikan kekuatan melalui genggaman tangan.


"Kamu kuat nak" Umi membisikan kata-kata itu. Sebelum nya sang Umi sudah melarang putrinya itu untuk ikut menghadiri undangan karena dia tidak ingin membuat anak nya semakin tersakiti.


Ditarik nya nafas sebelum akhirnya dihembuskan dengan kasar, berupaya menguatkan diri sebelum akhirnya masuk kesana.


Harusnya aku yang di sana, dampingi mu dan bukan dia. Seperti telah di rencanakan. Lagu dari salah satu group band terkenal itu, di putar saat Hana menaiki panggung untuk memberikan ucapan selamat.


Sesak rasa itu semakin melingkupi hatinya untuk sesaat, dia terdiam sebelum akhirnya melanjutkan jalan mendekati pasangan pengantin baru itu.


" Selamat yah Mas Abdul, semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Warohmah Kata-kata itu keluar dari bibirnya dengan sedikit bergetar".


'Terimakasih telah hadir”

__ADS_1


Hana gadis itu tak bisa lagi membendung air mata nya. Dia berjalan terburu-buru keluar dari acara itu setelah memberikan ucapan selamat. Didalam mobil itu Ustadzah Hana melampiaskan emosinya dia menangis sembari memukuli dadanya.


Kenapa sakit sekali padahal aku sudah menguatkan diri untuk hadir disini Hana semakin kuat memukuli dadanya.


Hana jangan menyakiti diri sendiri Istigfar nak, inget sama Allah.


'Astaghfirullahaladzim , Ya Rabb lapangkan lah dada ku untuk bisa mengihklaskannya' Hana beristigfar diiringi dengan Doa.


Hana putri Umi, sudah yah jangan menangis lagi, umi sakit melihat nya Ternyata Umi mengikuti Hana yang beralri keluar dari acara itu, meninggalkan sang suami yang masih berbincang dengan sang pengantin. Hana menghambur kepelukan Uminya, dia menangis sesenggukan.


"Tapi umi... hati Hana sakit”


" Kamu harus ingat Firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 40 La tahzan Innallaha maana. Jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita Wanita paruh baya itu menasehati putrinya.


Hari-hari berlalu seperti biasa tak ada yang berubah, manusia masih berjalan di atas bumi, Matahari masih bisa terbit, begitupun gadis itu semua tetap sama berjalan dengan semestinya, sama dengan hari-hari sebelum nya.


Waktunya di habiskan untuk belajar dan mengajar. Belajar adalah kegemaran nya sejak dari kecil . dia sudah seperti terkena syndrome di manapun ada waktu luang disitulah dia akan membaca mempelajari setiap hal yag belum di ketahui.


Hati yang semula lemah dan goyah dia perkuat lagi dengan semakin mendekatkan diri ke pencipta.


Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi alaa diinik Wahai zahat yang maha membolak- balikan hati teguhkan lah hatiku diatas agama-Mu. Doa nya disetiap selesai Solatnya.


Biarlah semua yang terjadi di ambil sebagai bentuk sebuah pelajaran untuk tidak lagi, menggantungkan hati kepada insan. Karena hal itu, hanya membawanya kedalam lembah kekecewaan. Seberapa dalam luka seseorang pasti dia akan menutup rapat dari publik. Terlepas bagaimana kisah hidup yang di alaminya. Itu juga yang kini sedang di lakukan ustadzah Hana. Tujuanyanya kini hanyalah menjalankan sekenario yang telah Allah SWT gariskan.

__ADS_1


"Han, katanya ada guru baru loh yang menggantikan Pak Rusdi yang baru saja pensiun" Cerita ustadzah Fitria teman sekaligus sahabat nya tiba-tiba.


"Oh, ya?" jawab Hana cuek


"Ish kamu ngeselin tau, kaya ada yang beda. Terlihat lebih ceria sih dari biasa nya tapi, kamu bukan seperti Hana ku yang dulu".


"Enggak akh aku tetap Hana yang dulu "


'Enggak Han. Kamu berbeda aku tau semua nya, tapi kenapa gak mau cerita' Ucap ustadzah Fitria dalam hati nya, tanpa berani mengatakan. Dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Umi diam-diam memberitahu kan semuanya pada Ustadzah Fitria berharap gadis itu bisa meghibur Hana.


"Memang ustad barunya siapa? Tanya ustadzah Hana akhirnya"


"Enggak tauh sih hehe.. denger-denger sih katanya masih muda"


"Terus kalo dianya masih muda, mau apa kamu nya? Tanya ustadzah Hana


Yah berharap saja semoga dia jodoh ku yang selama ini aku cari hehe, Pasti dia bisa menjadi imam yang baik yang bisa membimbingku dan dapat memberikan kasih sayang yang tulus. Yang sebelumnya, tidak pernah kudapat kan dari seorang lelaki. Sekalipun itu dari Ayahku" ucap ustadzah Fitria dengan sendu.


Jangan mengharapkan sesuatu kepada manusia, karena jika tidak sesuai ekspetasi mu yang ada hanya kecewa ingat Allah telah menjelaskan dalam Al-Quran surat AL-Insyirah: 8.


"Wa ilarabbikafarghob"


Dan hanya kepada Tuhan mulah engkau berharap Sebenarnya ayat ini lebih tepat ditujukan untuk dirinya nya. Dia seakan tertampar dengan ayat itu. Matanya berkaca-kaca sebelum sahabatnya mengetahui di hapusnya air mata yang keluar tanpa permisi.

__ADS_1


Syekh Nawawi menafsirkan "Wa Ila RabbikaFarghab" Dengan Makna: "Kepada Tuhanmu ajukan kebutuhan-kebutuhanmu; jadikan harapanmu hanya kepada Allah; dan jangan meminta kecuali kemurahan-Nya dengan bertawakal atau berpasrah diri kepada-Nya. Wallahua'lam. (Muhammad Nawawi Al-Jawi, At-Tafsîrul Munîr li MaâlimitTanzîl, [Surabaya, al-Hidayah], juz II, halaman 453).


__ADS_2