
Pagi hari yang cerah ini, tapi tidak secerah wajah seorang gadis yang baru saja keluar dri rumah nya. Terlihat dari bibir tipis dengan warna yang merah merona itu menggerutu. Dia berjalan sambil sesekali menendang batu kerikil di jalanan. Dia berhenti di sebuah konter hp rupanya, akan membeli pulsa. Biasanya orang lain di agi buta keluar rumah, pergi untuk membeli sayuran berbeda dengan nya yang justru membeli pulsa.
“Itu lihat si Adel, putrinya Bu Sinah kelakuan nya udah kaya apa aja pake pakaian gak ada sopan sopan nya udah kaya biduan aja”
“Iyah kasian kali orang tuanya punya anak gadis satu-satunya tapi modelnya kaya gitu”
“Bukan kaya Biduan lagi Dia mah udah jadi wanita malam yang suka keluar masuk diskotik itu”
“Wah kalo begitu mah pasti udah gak perawan itu, pergaulan nya bebas kasian sekali yah orang tuanya harus menanggung malu karena ulah anak nya"
“Orang tuanya juga gak bisa ngedidik gak becus, jadi kaya gitu deh jadinya” Adel yang mendengar orang tuanya di bawa-bawa pun menjadi panas. Siapapun boleh menjelekan dirinya terserah, semau mereka tapi, kalo sudah menyangkut soal orang tuanya dia tidak bisa tinggal diam.
“Ibu- ibu kalian padakan udah pada tua nih yah, mending yang di omongin itu tentang kematian biar kalian semakin mendekat kan diri sama Tuhan, bukan malah ngomongin orang, mana orang nya ada di sini. Udah tua bukan nya inget dosa malah nambah Dosa. Inget ibu-ibu Kematian itu bisa kapanpun dan di manapun ibu disini lagi gosipin orang tiba-tiba mati langsung masuk neraka di rebus dineraka mau?” Adel menyentil mereka dengan ucapan yang halus namun menjleb.
“Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka mengatakan, “Ini dari engkau (Muham-mad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?” (Quran surat An Nisa ayat 78).
Ibu-ibu itu langsung terdiam mendengar ucapan Adel yang baru pertama kali ini mnegur mereka, tidk mereka sangka ucapan nya begiu sangat mengena hati mereka.
Di sebuah kamar yang di dominasi dengan warna biru, Seorang gadis tengah berkutat dengan laptop mengetikan beberapa kata membentuk kalimat indah penuh makna. Gadis itu Adel Jika siang hari begini dia lebih suka berdiam diri didalam kamar dengan laptop dihadapan nya. Dilihatnya jam dinding ternyata sudah pukul 11.00 siang pantas saja perutnya meronta diisi.
Digeledah nya isi rak itu berharap dia menemukan makanan. Kosong tak ada makanan apapun selain telor ceplok, makanan paling menjijikkan yang tak di sukai Adel gadis itu. Baginya makan telor ceplok itu seperti memakan karet gelang, ada ada saja memang.
Tadi pagi Mamah nya pergi selepas meminta Adel untuk belanja sayuran. Adel pikir mamahnya pergi ke rumah bibinya hanya sebentar ternyata lama mana belum masak sayuran tadi pagi pun belum dirinya masak karena menunggu sang Mamah.
Matanya tertuju pada sebungkus mie instan yang terselip diantara tumpukan bungkus terigu. Seperti nya, ini ulah sang mamah yang sengaja menyembunyikan mie instan ini. Mamahnya akan mengomel jika mengetahui dirinya kembali makan mie instant. Tak menunggu waktu lama, mie instan itu sudah tersaji harum aroma wanginya sedap menguar menusuk hidung. Apa lagi cuaca hari ini sedikit mendung. Sangat cocok untuk menyantap mie.
"Mie terus... "ucap sang Mamah yang ternyata baru saja pulang sambil menenteng kresek yang entah berisi apa.
"Eh, Mamah hehe mau mah enak loh " tawar Adel saat melihat ibunya baru saja datang
"Enak, kalo perut udah sakit mah baru tau rasa"
__ADS_1
"Ish mama kok ngomong nya gitu ucapan itu doa loh mah, emang mau Adel sakit"
'Yah abisnya setiap hari makan mie terus gimana gak bakalan sakit "
"Ish gak lah, mana ada kemarin aku gak makan mie kok"
"Kalo diomongin orang tua jawab terus" ucap sang Mamah kesal seraya menjewer telinga Adel.
"Aduh duh ampun mah sakit"
"Mah Hp Mamah bunyi terus nih dari tadi" terdengar teriakan dari ruang tamu siapa lagi kalo bukan suami nya.
Iyah bentar mas
Di sana tidak tertera nama si pemanggil artinya nomor itu asing. Bu sinah ragu antara mengangkat nya atau tidak, setelah lama berpikir akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat telepon itu.
"Assalamualaikum apa benar ini nomor nya Bu sinah terdengar suara dari seberang telepon"
"Maaf Bu mengganggu waktunya"
"Saya Abdul, Putra nya Bu Imah"
Bu Imah gumam Bu sinah
mengernyitkan dahinya untuk sesaat.
"Owalah kamu Abdul anak nya Bu Imah yang katanya merantau di kota itu yah?
Iyah Bu"
"Ada keperluan apa yah Nak Abdul?" Tanya Bu Sinah yang penasaran.
__ADS_1
Begini Bu, saya ingin membahas perjodohan yang Ibu dan Emak saya rencanakan sebelumnya. Saya setuju dengan Perjodohan itu, jika ibu memperkenankan malam ini saya akan datang untuk melamar Putri ibu. Adel wajah Bu Sinah senang bukan main mendengar nya. Sudah lama sekali dia menginginkan putri nya itu menikah.
"Siapa mah? Selingkuhan nya ya" senyum-senyum seperti itu setelah engangkat telepon
"Sembarangan asal nuduh. Malam ini kita akan kedatngan tamu yang akan melamar Adel"
"Yang benar mah?" Bu Sinah menjawab dengan anggukan.
Sebentar lagi kita akan menimang cucu
Adelia gadis itu baru saja tiba di depan rumah nya setelah bertemu dengan sahbatnya. Dia merasa bingung kenapa rumahnya begitu ramai ada apa sebenarnya dengan mengendap dia berjalan menuju pintu dapur dengan tangan menenteng heals. Baru saja membuka pintu Adel sudah diseret masuk oleh sang Mamah dan membawanya masuk ke dalam kamar.
“Sekarang kamu cepetan mandi terus abis itu pake baju ini” sang Mama menyodorkan baju gamis berwarna navy lengkap dengan jilbab.
“Ini sebenarnya ada apa sih Mah?, kenapa juga Adel harus pake baju kaya gini gak maulah”
“Udah gak usah banyak protes cepetan mandi mama tungguin disini”
Adel keluar dari kamar mandi dan benar saja mamahnya masih berada di dalam kamar . Setelah selesai mendandani putrinya itu Bu Sinah membawanya ke ruang tamu dimana disana keluarga Mas Abdul sudah datang dari tadi.
Adel gadis itu duduk di samping mamahnya menatap penuh heran pada rombongan Mas Abdul.
“Ada apa ini sebenarnya?” Tanyanya pada diri sendiri.
“Bapak, Ibu sekalian mohon maaf jika kehadiran kita mendadak maksud kedatangan kami disini ingin melamar Putri kalian Adel, untuk ponakan saya Abdul”
Mendengar ucapan itu membuat Adel membolakan matanya karena terkejut bagaimana mungkin tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba dia di lamar
“Lamaran, gak ada-gak ada, apa apaan sih kalian ini. Kenal enggak tau enggak orang nya main lamar lamar aja”
“Siapa bilang kamu gak kenal, kamu kenal kok dia teman SMA kamu dulu. Abdul” Beri tau mamahnya.
__ADS_1
“Abdul...”