Lintas Waktu

Lintas Waktu
Bab 3 Ikhlas Ku Demi Emak


__ADS_3

Langit tampak indah menampilkan semburat warna jingga yang identik dengan senja. Sore ini, mas Abdul sedang bertamu, memenuhi undangan Pak Muntaha. Baru saja dia duduk berkumpul dengan orang-orang disana, dering telepon berbunyi membuat nya harus undur diri untuk mengangkat telepon.


"Mas Abdul, kenapa pagi tadi tidak mengangkat telepon Danis?" Tanya Danis dari sebrang telepon tanpa mengucapkan salam.


"Maaf, Nis. mas lagi kerja, tadi sempat mau mengangkatnya tapi keburu mati dulu"


"Mas pulang sekarang yah" Abdul mengernyitkan keningnya saat Danis adiknya itu memintanya untuk pulang secara tiba-tiba, ada apa sebenarnya pikir Mas Abdul.


"Ada apa emangnya Nis?" Tanya nya. Danis terdiam dia malah menangis tersedu-sedu membuat Abdul khawatir kepada adik satu satunya itu.


"Emak mas..." Danis menangis tak mampu meneruskan ucapan nya, tenggorokan nya tercekat.


"Emak mas, emak masuk Rumah Sakit" Deg mendengar hal itu membuat Hp digenggaman Mas Abdul jatuh . Setelah mendengar itu tanpa pikir panjang ia langsung berpamitan.


Pikirannya sudah tidak fokus, naik motor pun seperti tak ada tenaga. Tubuhnya lemas hampir saja tadi, ia menabrak mobil didepannya, jika tidak langsung mengerem. pikirannya hanya satu. Ia ingin segera sampai ke tempat tujuannya. Waktu diperjalanan terasa lama membuat mas Abdul kesal dibuatnya, ditambah ada konpoi anak sekolah yang sedang merayakan kelulusan membuat jalanan menjadi macet.


Di lorong Rumah Sakit ia berlari seperti orang kesetanan menuju meja resepsionis. Setelah berbincang sebentar kembali berlari setelah mendapatkan informasi yang diinginkan nya. Dirinya sungguh sangat menyesal, andaikan ia pagi tadi langsung menerima telepon dari adiknya mungkin, ia tidak akan telat mendapatkan kabar ini.


Di sana ia mematung saat melihat tubuh itu sudah terbujur kaku.


Emak... Pemuda itu berteriak histeris berlari memeluk tubuh itu Emak bangun jangan tinggalin Abdul, Emak mau lihat Abdul nikah kan mak, ayo bangun . Abdul mau nikah sama Adel mak, ayo bangun mak.


Dirinya tidak menyangka jika permintaan waktu itu, adalah permintaan terakhir dari emak nya. Andaikan ,ia tau pasti langsung menuruti keinginannya, tanpa harus ada perdebatan lagi. Andaikan waktu bisa diputar dia akan langsung mengabulkan keinginan emaknya itu. Semua itu hanya bisa menjadi kata andaikan.


Air mata membasahi pelupuk mata, dia sangat meneyesali hal itu, dada terasa sesak semuanya terlihat menghitam, Mas Abdul pria itu jatuh tidak sadarkan diri.


Mas Abdul... sebelum tubuh itu jatuh, Danis menangkapnya. Remaja itu, memapah sang kakak untuk ditidurkannya di brankar kasur Rumah Sakit yang kebetulan kosong. Danis menuangkan minyak kayu putih di tangan dan di dedekat kan nya ke hidung Sang kaka.


Mas Abdul menggeliat saat mencium aroma minyak kayu putih, perlahan mata itu terbuka. Ia bangun seraya memegang kepalanya seperti orang bingung. Seperti telah kembali ke kesadaran nya, dia mengedarkan pandangan nya mencari sosok emaknya. Dia berharap ini semua mimpi


"Mas, akhirnya kamu sudah sadar syukurlah" ucap Danis.


"Emak di mana Nis?" tanya mas Abdul.


Emak di mana Danis?!" Tanya ulang Mas Abdul tak sabaran seraya mengguncang tubuh adiknya yang diam mematung.

__ADS_1


"Emak lagi dibawa ke kamar jenazah mas untuk dimandikan" ucapan Danis membuat tubuh itu langsung merosot ke lantai ternyata ini bukan mimpi.


Tak ada air mata yang keluar walau satu tetes pun dari matanya yang ada, hanya rasa sakit yang menggerogoti hati. Dada terasa sesak sulit bernafas. Untuk terakhir kali nya ia harus melihat sang Ibu sebelum di ke bumikan. Sungguh ia tak sanggup untuk melihatnya. Wajahnya ia palingkan saat para penggali kubur mengangkat tubuh yang sudah kaku itu.


Satu minggu setelah kepergian sang Ibu, ia masih sedih juga merasa kalut dengan masalah perjodohan. Satu sisi almarhum emaknya,menginginkan dirinya untuk menikah dengan Adel dan satu sisi ada Pak Muntaha yang juga sedang menanti jawaban atas perjodohan yang ditawarkan nya.


Malam semakin larut, namun mata tak kunjung juga mau menutup. Gemercik suara turun nya air hujan dari genting terdengar seperti irama pengiring malam. Ke sana kemari merubah posisi tidur, bergulingan mencari posisi yang nyaman namun, tetap saja ia masih terjaga. Di tatap nya dinding yang terdapat jam. Dengan iseng nya ia ikut menghitung pergantian detik jarum jam. Dan ajaibnya secara perlahan mata itu tertutup.


Jam satu malam Mas Abdul seperti biasa terbangun untuk melaksanakan salat malam. Dimalam itulah waktu tempatnya mengadu kepada sang Rabb-nya.


Waktu tahajud adalah waktu yang mustajab untuk berdoa dari jabir ra ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW, bersabda:


Sesungguhnya pada waktu malam terdapat satu saat, apabila seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah SWT. Baik berkaitan denganku urusan dunia maupun akhirat, niscaya Allah SWT. mengabulkan permohonan nya dan saat demikian itu ada pada setiap malam( HR. Muslim).


Dulu, semasa kecil saat mendiang Abahnya masih hidup ia melihat Abahnya melaksanakan salat ditengah malam.


Samar - samar Abdul kecil mendengar suara Abahnya mengaji. Ia terbangun dari tidurnya berjalan mendekati sang Abah yang sedang membaca Al-quran.


Abah abis sholat? Tanya Abdul kecil yag melihat pakaian Abah nya yang mengenakan kokok lengkap dengan sarung dan peci.


Abah baru saja melaksanakan salat tahajud ucap sang Abah seraya menarik Abdul kecil untuk duduk dipangkuan nya.


"Salat tahajud itu, emang solat apa Bah? Kok Abdul baru tau ada solat terbaru namanya lucu lagi. Tahajud, sujud hehe cengir Abdul Abah ciptain sendiri yah?" Tanya polos Abdul kecil. Abah tersenyum kecil mendengar ucapan putranya itu.


Salat tahajud itu salat yang dilaksanakannya diwaktu tengah malam, biasanya solat ini dilakukan setelah kita bangun dari tidur. Solat tahajud ini hukumnya sunah bukan wajib yang seperti biasa Abdul sama Abah lakukan yaitu solat 5 waktu. Tapi, walaupun ini sunah tapi sangat dianjurkan karena di dalam nya banyak keutamaan


"Dan pada sebagian malam hari bertahjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan rabbmu mengangkat kamu ketempat yang terpuji.(QS.Al-isra ayat:79)”


"Owh jadi gitu" ucap Abdul seraya mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan Abah


"Iyah, jadi Abdul juga harus melaksanakan solat tahajud setelah tau keutamaannya. allah swt sendiri telah menjanjikan imbalan syurga bagi siap saja umat muslim yang melaksanakan solat tahajud seperti yang di jelaskan dalam Alquran"


"Apa itu Abah? abdul mau denger" ucap Abdul penuh semangat


Abah membacakan Ayat Al-quran surat Adz-zariat dan menjelaskan maksud ayat itu kepada Abdul kecil.

__ADS_1


Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air mata air, sambil menerima segala pemberian rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Didunia mereka sedikit sekali tidur malam. Dan selalu memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar. (QS,addzariyat ayat 15-18).


Dari ayat Al-quran itu Abdul tau bahwa orang yang rajin melaksanakan solat tahajud kelak di akhirat nanti akan mendapatkan imbalan berupa surga.


"Abdul mau masuk surga?"


"Mau Abah, abdul mau masuk surganya Allah"


"Kalo gitu Abdul juga harus rajin solat tahajud yah?" sang Abah menganggukan kepala senang mendengar penuturan anak sulungnya itu.


****


Suasana rumah masih dalam kondisi duka Mas Abdul mengumpulkan keluarga besarnya yang memang sedang berada di rumah sejak dikabarkan jika ibunya meninggal dunia.


"Paman, Abdul ingin berbicara kepada kalian semua" Mereka semua yang ada disana memfokuskan pandangan kepada Mas Abdul.


'Sebelum emak meninggal, ema pernah meminta kepada saya untuk menikah


Menikahlah Dul, benar kata almarhum emak mu. Kau sudah cukup dewasa, sudah saatnya untuk berumah tangga, Jika sudah ada calon nya segeralah kau lamar" ucap sang Paman.


"Siapa? orang mana calon mu itu Dul" Tanya tante Widya.


"Dia bukan orang jauh tante, dia masih satu daerah dengan kita" Semua orang saling berpandangan, siapa yang dimaksud Mas Abdul.


'Adel, tante". Dia putrinya Bu Sinah ucap Mas Abdul memberi tau.


"Adel, maksud kau si Adel rambut pirang itu kah, yang sering menggunakan pakaian seksi itu, kau yang benar saja" Dul ucap Tantenya kurang setuju.


"Luna juga tidak setuju kalo Mas Abdul menikah dengan dia. udah dandanan selalu menor ,pakaian nya seksi udah macam biduan aja" ucap sepupunya Mas Abdul yang juga tidak setuju.


" Ini sudah menjdi keinginan emak sebelum meninggal tante, biarlah keputusan ini Abdul ambil sebagai bentuk berbaktinya Abdul kepada emak"


"Apa kau tidak mempunyai pujaan hati Dul? sehingga kau lebih memilih Adel yang menjadi istri mu ingat loh Dul, Adel itu orang nya seperti apa, pergaulan nya juga bebas seperti itu tidak jelas. Walaupun dia dari keluarga terpandang, kalo seperti itu untuk apa?" Untuk sesaat Abdul terdiam ia kembali mengingat wajah Ustazah Hana. Sosok wanita pujaan hatinya. Mas Abdul menarik nafas panjang biarlah dia korbankan cintanya demi memenuhi bakti kepada almarhum ibunya.


Benar kata pepatah cinta tak harus memiliki bukan? jadi biarlah Abdul rasakan itu.

__ADS_1


Jika Allah SWT. Tidak mentakdirkan Mas Abdul bersama dengan Ustazah Hana ,di dunia biarlah kelak diakhirat nanti dia bersanding dengan nya.


__ADS_2