Lintas Waktu

Lintas Waktu
Bab 2 Dilema cinta


__ADS_3

Berulangkali pria berkopiah itu menghembuskan nafas , diraupnya wajah itu dengan kasar. Guratan raut kesal tergambar jelas diwajah nya yang putih bersih.


Astagfirullahaladim Mas Abdul pria itu, beristigfar hati dan pikirannya sedang tak sejalan. Tidak biasanya, ia seperti ini, berulang kali dia harus mengulang bacaan Al-quran karena banyak ayat yang dibaca salah . Mata tertuju pada Al-quran. Namun hati dan pikirannya menyelam masuk ke memori, teringat kembali dengan perkataan Ema yang memintanya untuk menikah dengan anaknya Bu Sinah(Adel). Perkataan emak terus terngiang dikepala Mas Abdul membuat nya pusing sendiri.


Menikah memang sudah menjadi target Mas Abdul di tahun ini. Namun, ia belum tau dengan siapa dirinya akan menikah. 27 tahun umur yang cukup matang,untuk membangun bahtera rumah tangga. Mengarungi lautan, menapaki taman surga bersama sang pujaan kelak di surganya Allah merupakan impian mas Abdul. Pakaian tertutup dengan jilbab terurai panjang menutup dada hingga pinggul. Dialah bidadari dunia yang mas Abdul harapkan. Tapi, ema malah meminta dirinya untuk menikahi Adel yang jauh sekali dari kriteria yang di inginkan nya. Memang benar apa yang dikatakan ema, jika Bu Sinah sangat berjasa untuk keluarganya selama ini dia tak menepis hal itu.


Namun, apakah harus Mas Abdul gadaikan cintanya dengan atas nama balas jasa?


Matahari sudah menampakan diri bersiap menjalankan tugas nya, birunya awan menjadi penampakan paling indah . Mas Abdul mendorong rolling besi toko milik nya, dibersihkan nya debu yang menempel disetiap meja menggunakan kemoceng.Mas Panggil pelanggan yang baru saja tiba di toko fotokopi itu. Tak ada sahutan dari Mas Abdul padahal jaraknya cukup dekat dengan tempat berdiri pelanggan nya itu.


"Mas!" pelanggan kembali memanggilnya denga nada suara yang lebih keras.


"Eh... iya tunggu sebentar" dia meletakan kemoceng itu asal, berjalan mendekati pelanggan.


Ada yang bisa saya bantu? Tanya Mas Abdul


Ini mas, saya mau cetak foto ukuran 3x4 cm tiga lembar


Background nya mau warna apa Bang? Tanya mas Abdul kepada pelanggan nya itu.


warna merah mas , masak iya warna biru itu udah kaya orang mau nikah aja , saya sebenarnya mau aja nikah lagi. Tapi saya takut mas, nanti pas selesai ijab qobul bukan nya menempuh hidup baru sama pasangan, keburu sudah pindah alam dulu hehe Mas Abdul tertawa geli mendengar candaan abangnya mungkin maksudnya si Abang sudah memiliki istri tidak mungkin dia menikah lagi bisa-bisa digorok istrinya.


Dering telephon mengalihkan perhatian Mas Abdul yang sedang ngeprint itu. Dia mencari sumber suara ponsel, mklum terlalu sibuk sampai lupa menyimpan ponsel dimana. Ternyata ponselnya tertimbun tumpukan kertas, disana tertera nama adiknya Danis.


Ada apa lagi yah telepon? gumam mas Abdul. Baru saja akan mengangkat panggilan, sudah lebih dulu mati. Dimasukan nya ponsel itu kedalam saku, biarlah pikirnya nanti juga jika penting pasti adiknya akan menelpon nya lagi. Mas Abdul kembali melanjutkan pekerjaan nya.


"Mas Abdul makan siang dulu, ini saya baru beli nasi padang dua bungkus Terdengar Suara Andi karyawan satu-satunya yang dia miliki"


"Terimakasih duluan saja, saya belum lapar tolaknya halus"

__ADS_1


"Ayolah mas, saya enggak enak toh makan sendirian, kalo ada teman nya kan enak ayolah uenak pasti ini nasi padang kesukaan nya mas Abdul"


"Kamu ini Andi bisa aja , ya sudah sini saya temani"


"Assalamualaikum" Baru saja Mas Abdul akan menyendokan nasi kemulut datang lagi pelanggan.


"Waalaikumussalam, kamu lanjutkan makan biar saya saja yang melayani kata Mas Abdul" Andi menjawab dengan anggukan, sesekali melirik pada pelanggan yang baru datang itu.


'Mas, saya mau beli isi ulang tinta, yang warna hitam ada?" Tanya pelanggan itu.


Ada Ustazah, sama apa lagi? Mas Abdul memanggil pelanggan itu dengan panggil ustazah karena dia juga salah satu guru, yang mengajar di tempat yang sama seperti Ustazah Hana. Bisa dibilang dia ini teman dekatnya Ustazah Hana. Karena biasanya dia selalu melihat mereka pergi bersama. Menurut karyawan nya Andi , mereka itu seperti dua kembar.


"Sudah itu saja mas"


"Ustazah. Fitri, mana kembarannya tumben sendirian saja" Tanya Andi yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Mas Abdul.


"Hehe iya mas, Ustazah Hana hari ini enggak ngajar libur dulu, katanya lagi ada acara dirumahnya mas" Diam-diam mas Abdul mendengarkan percakapan Andi dan Ustazah Fitri.


Salat itu tiang Agama, jika tiangnya saja tidak didirikan bagaimana bisa semuanya berdiri kokoh?. Ibarat pepatah yang sering digunakan para Ustad, jika bangunan tidak ada tiang untuk menopangnya pastilah roboh. Itulah gambaran Agama. Salat adalah hal yang sangat penting dibandingkan dengan urusan dunia lainnya.


Pokok urusan dari segala urusan adalah Islam , penopang nya adalah sholat dan berjuang dijalan Allah adalah puncaknya.(HR. Trimidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Muadz).


Sholat hukumnya wajib Bagi setiap orang Muslim yang sudah mukalaf (balig) dengan syarat, rukun serta bacaan yang sudah ditetapkan. Sholat merupakan Ibadah yang dimana didalamnya berisikan bacaan Dzikir dan Doa. Semua dalam gerakan sholat berisikan Doa dan Dzikir.


Dan mohon pertolonganlah (kepada Allah) dengan sabar dan solat . Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali, bagi orang-orang yang khusyuk.(Q.s. Al-baqoroh ayat 45).


Rasa tenang dan damai itu masuk ke relung jiwa, rasanya plong saat sudah mengerjakan salat seperti hilang sudah beban berat yang dipikulnya.


Matahari sangat terik membuat Mas Abdul harus memicingkan mata karena silau. Dipersimpangan jalan menuju toko, ia melihat gerobak es campur sepertinya segar pikirnya. Mas Abdul memutuskan untuk mampir sebentar. Namun, tak dilihat nya pemiliki gerobak es disana, diedarkan nya pandangan menacari sang pemilik.

__ADS_1


"Mau beli es campur mas?" Tanya penjual yang tiba-tiba sudah ada disamping Mas Abdul.


"Eh.. iya ini bapak yang jualan?”


"iya mas, maaf lama, saya baru pulang salat dari Mushola depan". MasyaAllah sungguh senang Mas Abdul mendengarnya. Walaupun sedang berjualan bapak ini, tetap mementingkan beribadah, biasanya kadang ada saja para penjual tetap berjualan walaupun Adan sudah berkumandang. Mereka menghiraukan panggilan Allah SWT. Padahal salat tidak memakan waktu banyak.


"iya engga masalah pak, saya juga baru ke sini"


"Mau berapa bungkus mas?"


"Dua bungkus saja pak" Sengaja dia membeli dua bungkus, satu bungkus untuk dirinya dan satu bungkus untuk Andi. Rasa segar terasa ditenggorkan saat menyeruput es campur, haus dahaga hilang sudah tersiram dengan dinginnya es.


Bunyi dering telepon kembali terdengar tanpa membaca siapa pemanggilnya mas Abdul langsung mengangkatnya.


Assalmu alaikum , ada apa lagi Danis? Tanya Mas Abdul dirinya berfikir jika yang menelfon adalah adiknya, sebenarnya dia enggan untuk mengangkatnya pasti ujung ujungnya Ema akan mengungkit masalah perjodohan lagi.


"Waalaikumussalam nak Abdul Mata Mas Abdul langsung melotot saat mendengar suara dari sebrang telepon, tunggu jangan bilang ini pak Muntaha gumamnya. Merah sudah wajah nya saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel pak Muntaha.


Eh maaf ini pak Muntaha yah.. saya pikir ini adik saya, Danis Maaf pak sekali lagi


Hehe iya enggapapa nak saya cuma kaget, baru telepon langsung di omelin hehe".


"Maaf pak"


"Iya enggak papa nak, ini maksud saya telepon mau mengundang nak Abdul, untuk datang ke rumah saya nanti sore' Mendapat undangan itu membuat jantung Abdul deg-degan sendiri. Ia takut maksud pak Muntaha mengundangnya, ingin membahas masalah perjodohan yang waktu itu. Mas Abdul menggaruk kepalanya pusing, memikirkan bagamana ia harus memberikan jawaban. Belum masalah dengan ibunya sekarang ditambah satu lagi.


Abah, semuanya sudah beres, tinggal menunggu kedatangan tamunya saja Suara lembut itu terdengar dari seberang telepon, mengapa suaranya begitu tak asing dipendengaran mas Abdul, Ustazah Hana. Nama itu yang terlintas dalam pikiran nya. Benarkah itu Ustazah Hana. Wanita yang diam-diam dikagumi Mas Abdul adalah putri dari Pak Muntaha seseorang yang akan dijodohkan dengan nya .


Betapa senangnya hati mas Abdul jika itu memang benar, wajahnya merah merona hatinya berbunga-bunga senang bukan main jika memang benar tentu dia akan langsung siap untuk menikah dengan nya. Tapi, raut wajah bahagia itu secepat kilat berubah menjadi sendu saat dia teringat kembali dengan permintaan Ema tercinta yang meminta dirinya untuk menikah dengan Adel, putri dari Bu Sinah.

__ADS_1


Pujaan hati sudah menanti didepan mata haruskah Mas Abdul dengan ikhlas melepaskan nya?


__ADS_2