Lintas Waktu

Lintas Waktu
Bab 5 Dalam Balutan Luka


__ADS_3

Seperti rutinitas biasanya setiap pagi, Rumah sederhana berwarna hijau dengan taman bunga disekitar halaman rumah nya itu terdengar samar-samar orang mengaji Al-Qur’an. Setiap ba’da subuh keluarga itu seperti biasa mewajibkan anak nya untuk membaca Al-Qur’an. Walaupun itu hanya satu surat yang dibaca. Sang kepala keluarga akan mengecek kamar anaknya untuk melihat, jika mereka benar membaca Al-Qur’an. Visi misi dalam menjadikan keluarga hafidzoh sudah ditanam kan bersama suami istri itu ketika awal mula mereka menjalin tali pernikahan.


“Anak-anak Abah semuanya harus rajin membaca Al-Qur’an yah, biar hidupnya tenang dan berkah” sang kepala keluarga selalu mengingatkan itu kepada anak-anak nya.


“Ingat yang dikejar jangan hanya duniawi saja, semua nya harus seimbang. Duniawi iya akhirat juga iya. Beri masing-masing porsi itu. Kita hidup di dunia ini hanya sementara akhirat tempat kelak kita berpulang. Jadi, selagi kita masih di dunia, perbanyaklah amal buat bekal kita nanti” Anak-anak dengan serius mendengarkan petuah dari sang Abah itu, inilah yang disukai dari Abah di mana saat saat berkumpul sang Abah akan senantiasa memberikan nasihat.


Ustazah Hana gadis itu, tengah mengaji sekaligus muroja’ah kembali hafalan nya. Rasanya belum tenang, jika dirinya belum mengaji. Biasanya Ustadzah Hana akan meminta bantuan adiknya (Sulaiman) untuk menyimak hafalan nya. Baginya menghafal adalah sebuah tantangan yang sangat menarik.


Ustazah Hana gadis yang cukup ambisius, apapun itu akan dilakukan nya demi mencapai keinginan nya. Saat masa sekolah dulu dia bertekad untuk menjadi juara umum dan benar saja dia mati-matian belajar dari pagi sampai malam, waktu nya di habiskan untuk belajar dan semua memang tidak menghianati hasil. Tak ada waktu untuk bermain, hidup nya terlalu monoton. Dia disibukkan dengan tumpukan buku-buku. Orang tua yang melihat anaknya semangat dalam belajar pun menjadi senang. Namun juga khawatir secara bersamaan, karena anaknya menjadi seperti seorang anak anti sosial karena dia tak suka bermain. Saat menjelang kelulusan SMP orang tuanya memutuskan untuk memasukkan nya ke pesantren agar anaknya itu bisa memiliki teman tidak selalu menyendiri, karena selalu sibuk belajar.


Di pondok Pesantren Al-Huwannisa. Di sanalah Ustazah Hana melanjutkan pendidikan. Disana pola pikirnya sedikit berubah, ternyata dia juga butuh orang lain butuh teman untuk mengeluarkan keluh kesahnya. Dulu, dia beranggapan jika dirinya tidak butuh siapapun selain keluarga.


“Abah, bagaimana, sudah ada jawaban belum?” tanya ustazah Hana mendekati Abah yang sedang duduk sambil meminum kopi. Sang Abah menoleh pada putri sulung nya itu.


“Seperti nya, anak Abah ini enggak sabaran sekali” ucap sang Abah dengan lembut.


“Ish Abah, kan Hana pengen tau” ucapnya dengan manja"


“Jawaban apa toh, ini maksudnya?” tanya umi yang juga ikut duduk di samping Abah nya. Mendapatkan pertanyaan itu, membuat Ustazah Hana gugup dibuat nya. Karena sebelumnya, sang Umi tidak diberitahu mengenai hal yang sedang dibahas bersama Abah nya.


“Ini loh Mi, sebelum nya Hana meminta kepada Abah untuk di jodohkan dengan nak Abdul, pemilik toko fotokopi itu.....” Abah menceritakan semuanya kepada istrinya yang membuat nya tersenyum.


Diam-diam ternyata ustadzah Hana, memiliki perasaan kepada Mas Abdul. Dan ustadzah Hana jugalah yang meminta sang Abah( pak Muntaha) untuk menjodohkan dirinya dengan Mas Abdul.


“Akhirnya, anak Umi mau menikah juga “ ucap sang Umi dengan senang.


Sebelumnya banyak lamaran yang datang untuk meminang Ustazah Hana. Salah satunya Ridwan anak nya pak Kades. Sayang, lamaran itu ditolak Ustazah Hana. Padahal, Ridwan adalah sosok laki-laki yang baik lagi alim. Dia juga merupakan jebolan dari pesantren Gontor.


“Siapa Mi, yang mau nikah?” tanya Sulaiman adik Ustazah Hana yang sudah rapih mengenakan baju putih lengkap dengan celana biru seragam SMP.


“Kepo?” ucap Uminya.


“Dih Umi, sok pake bahasa gaul” ucap Sulaiman.


“Udah beres semuanya Dek? Tanya ustadzah Hana.


“Udah mbak”


“Yakin, yang benar sudah semua belum keperluan nya enggak ada yang ketinggalan. Kasian embak mu, harus balik lagi ngantar kamu nanti, kalo ada yang ketinggalan.”


“Iyah enggak. Benar sudah semua Umi ikh!” Ucap Sulaiman yang kesal meninggikan suara karena Uminya mengungkit kejadian tempo hari.

__ADS_1


“Jaga nada bicara suara mu Sulaiman!, yang sopan berbicara dengan orang tua. Jangan menggunakan nada tinggi, minta maaf kepada Umi mu sekarang” Abah menegur tindakan Sulaiman.


“Sulaiman minta maaf Umi, enggak seharusnya Sulaiman membentak umi” ucap Sulaiman sambil menundukkan kepalanya mendengar teguran dari sang Abah.


“Iyah, sudah Umi maaf kan”


“lain kali jangan seperti itu yah. Allah SWT melarang seorang anak berperilaku kurang baik kepada orang tuanya. Baik kepada Umi, maupun Abah. Seperti yang telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-isra : 23-24.”


“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu, berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23-24).


“Iyah Abah” Sulaiman sangat merasa bersalah akan tindakan nya barusan.


Sore ini, hujan turun dengan deras. Suara petir bergemuruh disertai angin lebat membuat baju yang dikenakan bocah kecil berusia sekitar 9 tahun itu basah kuyup. Dia adalah Tono, seorang anak laki-laki yang sehari-harinya berjualan tisu di lampu merah dan juga menjadi ojek payung saat musim penghujan tiba. Usianya terbilang masih sangat belia untuk bekerja. Sejak kepergian ayahnya tiga tahun silam, Tono terpaksa harus berhenti sekolah dan menjadi tulang punggung keluarga.


Ustazah Hana yang saat itu, baru saja pulang mengajar merasa iba melihat bocah itu. Dia menepikan sepeda motor nya, disebuah bangunan Ruko. Berniat untuk menghampiri Tono. Baru saja dia menstandar kan motornya, dilihatnya bocah itu sedang ditarik paksa, oleh seorang wanita yang mengenakan pakaian seksi. Tanpa pikir panjang Ustazah Hana, berlari mengikuti wanita itu meninggalkan motor nya begitu saja.


“Siapa nama mu, anak kecil?”Tanya wanita itu.


“Nama saya Tono” Ucap anak itu dengan sedikit ketakutan.


“Minum lah teh hangat ini” Wanita berpakaian seksi itu menyodorkan segelas teh hangat dan sebungkus nasi Padang yang tadi dipesan nya. Wanita itu pergi sebentar , lalu kembali lagi dengan menenteng bingkisan.


“Bukalah” ucap wanita itu. Dengan ragu bocah itu membukanya ternyata isinya satu buah kaos lengkap dengan celana.


“Iyah itu untuk kamu. Sekarang kamu habiskan makanan nya dahulu setelah itu, ganti baju mu menggunakan itu”


“Makasih ka...”


“Panggil saya Ka, Dari”


“Dari..” ucap ulang anak itu namanya aneh sekali pikir nya


“Iyah Dari, Kepanjangan nya Bidadari” anak itu menganggukkan kepala nya meskipun dia merasa sedikit aneh dengan nama itu.


Ustazah Hana ternyata dari tadi memperhatikan interaksi keduanya. Dia pikir, wanita itu ingin berbuat jahat kepada Tono. Ternyata dugaan nya salah wanita itu justru baik hati mau menolong nya.


“Astagfirullahaladzim. Maaf ya Rabb, tidak seharusnya hamba berperasangka buruk.” Ustazah Hana beristighfar tidak seharusnya dia berburuk sangka.Setelah dirasa semuanya tidak ada yang mencurigakan, gadis itu memutuskan untuk kembali pulang saja.


“Kenapa seperti ada orang yang memperhatikan yah” Gumam wanita berpakaian seksi itu. Di edarkan pandangan nya, nihil tidak ada siapapun di sana mungkin itu hanya firasat nya saja.


Dengan Pakaian yang basah, Hana masuk kedalam rumah nya. Tubuhnya terasa menggigil. Kepalanya pun mulai terasa nyut-nyutan.

__ADS_1


“Astagfirullah. Hana kenapa, kamu basah kuyup begini nak” Sang Umi yang melihat Putrinya dalam kondisi basah kuyup itu khawatir. Dengan gesit umi langsung membuat teh dan memasak bubur. Jika sudah begini putri nya itu pasti akan tumbang.


“Diminum dulu teh nya biar anget. Sudah tau hujan kenapa, nerobos terus maksain pulang bukan nya berteduh dulu”. Sang Umi sudah mengeluarkan omelannya.


Adzan Maghrib sudah berkumandang dengan tubuh lemas, Hana bangun dari tempat tidur nya. Selepas menunaikan Ibadah dirinya kembali membaringkan tubuhnya.


Tubuh ustadzah Hana tiba tiba terasa gatal dan timbul bentol-bentol merah.


“Umi, tubuh Hana gatal-gatal kenapa yah?”


“Gatal bagaimana?” tanya Umi khawatir mendengar penuturan anak nya itu. Umi memeriksa tubuh Ustadzah Hana.


“Seperti nya kamu terkena alergi dingin “ ucap sang Umi membuat nya mengernyitkan dahi


“Alergi dingin, emangnya ada yah Umi?” tanya nya


“ Ada Hana, Alergi dingin adalah biduran yang muncul akibat udara dingin. Alergi dingin ditandai dengan bentol dan gatal di kulit yang muncul beberapa menit setelah terpapar suhu dingin. Sudah sekarang kamu Istirahat dulu, besok baru kita berobat.


“Iyah Umi”.


Jam 09.00 Hujan sudah mulai reda pak Muntaha baru saja pulang dari kajian yang biasanya rutin di adakan pada malam Selasa. Hujan lebat tidak membuat pak Muntaha malas untuk mengikuti kajian toh lagian tempat nya pun dekat.


Baru saja mengunci pintu, ada suara mesin motor mati rupanya ada tamu datang. ‘ Siapa malam-malam begini bertamu? Tanya pak Muntaha pada dirinya sendiri.


“Assalamualaikum”


“Wa ‘alaikumussalam, nak Abdul. Mari silahkan masuk” Pak Muntaha mempersilahkan mas Abdul masuk.


“Umi, tolong buatkan teh ada tamu ini” perintah pak Muntaha pada istrinya.


Samar-samar Ustazah Hana mendengar orang mengobrol. Kenapa suaranya seperti Mas Abdul yah pikir ustadzah Hana. “Tapi, bukankah Mas Abdul sedang pulang kampung kata Mas Andi monolog ustadzah Hana.


“Maaf pak, malam-malam mengganggu” ucap Mas Abdul


“Tidak papa nak Abdul ngomong -ngomong ada keperluan apa yah, yang membuat Mas Abdul harus datang malam-malam begini?” Tanpa menjawab pertanyaan Pak Muntaha, mas Abdul mengeluarkan surat undangan dari tas nya.


“undangan, siapa ini?


“Maafkan saya pak. Itu undangan pernikahan saya dengan calon istri .”


Tanpa mereka sadari,ternyata ustazah Hana ada disana. Mendengarkan percakapan mereka berdua.

__ADS_1


Lelaki yang selalu dihindari tatapan matanya, tapi selalu ada dalam setiap Do’anya. Disepertiga malamnya dia selipkan nama nya. Lalu untuk malam ini Allah SWT menjawab atas Do’anya. Dengan datangnya surat undangan, dari seseorang yang selalu dia sebut dalam sepertiga malam nya.


'Ya Allah. Hatiku rasanya sakit sekali, kuatkan aku untuk menerima ini semua'.


__ADS_2