
"Sayang, aku dapat proyek baru dan siang ini aku akan menemui klienku untuk menandatangani kontraknya"
Lea tak mendengar apa yang Dion katakan. Dia malah asyik membayangkan garis tegas wajah Axel dan mengingat tingkah konyolnya didepan tuan mudanya itu. Merasa di abaikan Dion pun menepuk pundaknya.
"Eh...a-a-apa...kau bilang apa tadi?"
"Jadi dari tadi aku bicara sendiri ya? Kau sedang memikirkan apa sampai senyum sendiri begitu"
" I-i-iitu kau ditilang!", jawab Lea sembarang
Dion bingung darimana Lea tahu kalau tadi pagi dirinya ditilang polisi
"Aduh keceplosan! Dasar gadis bodoh", gerutu Lea dalam hati. "Sebenarnya sewaktu ditilang aku melihatmu, tapi karena ada quiz aku tidak turun dari taksi", jelasnya
"Kau tadi naik taksi?"
Lea mengangguk tapi batinnya tidak tenang karena bohong. Berbohong bukanlah bakat yang dimiliki Lea, dia tak terbiasa dengan ini.
"Tuhan, ampuni aku karna sudah bohong", ucapnya dalam hati
"Bagus, kau sudah menuruti apa yang aku mau".
Lea tersenyum kecut. Dion dan Lea baru dua bulan menjalin hubungan, tapi Dion sudah mendikte Lea agar menjaga jarak dengan Tuan muda Axel. Bukan karna alasan cemburu saja, Sebagai tipe pria dominan Dion tidak suka jika miliknya di ganggu orang lain lebih tepatnya berbagi. Prinsipnya milikku hanya milikku.
"Masih memar ya?"
Dion menaikkan lengan baju Lea dan meniup-niup luka memar gadisnya itu.
"Sudah tidak apa-apa". Lea menepis tangan Dion dan menutup kembali lengannya. Sejenak dia memandang wajah pacarnya itu dan menghela napas.
"Aku punya sesuatu untukmu"
Dion mengambil earphone dari dalam tasnya kemudian langsung memasangkan alat itu ketelinga Lea. Terdengar Instrumen indah ditelinganya tanpa sadar matanya memejam dan tangannya memeluk lengan Dion dengan erat. Dion tau cara meluluhkan Lea.
"I love You, Odie" bisik lembut Dion ketelinga Lea.
Berbeda dari orang lain, Dion enggan memanggil pacarnya dengan sebutan Lea. Dia lebih suka memanggil Lea dengan nama Odie. Menurutnya nama Lea adalah panggilan umum, dia ingin memanggil kekasihnya dengan panggilan khusus dan hanya dia saja yang boleh memanggilnya dengan nama itu.
Tak lama Lea melepaskan earphonenya sambil tersenyum. "Makasi ya, tapi aku gak bisa lama-lama karna udah mau ganti sift. Aku harus cepet-cepet nyampe mini market"
"Aku antar ya?"
"Tidak usah, aku naik ojol aja. Lagipula kau kan sudah ada janji mau ketemu dengan klienmu"
"Aku antar!", Dion menggertakan giginya
"Yasudah, terserah kau saja"
Dion benar-benar mendominasi hingga Lea tidak bisa membantah apa kata Dion. Sepanjang jalan mereka hanya diam seperti orang yang sedang bermusuhan. Dion tipe orang yang irit berbicara, dia tidak akan memulai percakapan jika menurutnya tidak penting. Jika dibandingkan dengan Tuan muda Axel sangat jauh berbeda. Axel orang yang murah senyum dan banyak bicara, dia juga termasuk orang yang humoris tapi Axel juga bisa serius diwaktu yang bersamaan.
TING...(pesan masuk)📱💌
Lea menyentuh layar ponselnya untuk melihat notifikasi pesan, ternyata Tuan muda Axel.
^^^Aku butuh bantuan^^^
Gadis itu mengabaikan pesan dari Axel dan segera menyimpan ponselnya kedalam tas. Dion melepar tatapan mengintimidasi seolah bertanya pesan dari siapa.
"Temanku segera pulang, tolong cepat sedikit"
Dion pun menaikkan kecepatan mobilnya.
Drtt...drtt...drtt... ponsel Lea bergetar tanda ada panggilan masuk. Lea mulai panik karena dia menebak pasti panggilan dari Tuan mudanya.
BRAK!!!
__ADS_1
"Aw, Kau ini tidak bisa hati-hati ya! Apa kau mau kita mati !!!!"
"Turun!", bentak Dion
Tanpa bantahan Lea turun dari mobil Dion. Tidak ada basa-basi apapun Dion langsung mengnjiak pedalnya dan pergi begitu saja.
"Huh! dasar pemarah"
Drtt...drtt...drttt ponsel Lea kembali bergetar. Lea masuk kedalam mini market sambil meraba ponselnya yang berada didalam tas.
"Halo?"
"Ini ibu, nak"
"Ibu?" Lea mengecek nomor yang ada dilayar ponselnya
"Ponsel ibu hilang, ini nomor baru"
"Ah, iya bu"
"Apa aku bisa minta tolong?"
"Iya, katakan saja"
"Sebenarnya aku malu berulang kali minta bantuanmu, bagaimana ya...aduh"
"Apa ibu butuh uang? katakan saja jumlahnya"
" Aku butuh 5 juta"
"Kenapa banyak sekali, bu?"
"Mau memberiku tidak?"
"Baiklah, aku segera mengirimnya"
"Lea, Semangat bekerja"
"Ah, iya. Makasi Mil"
"Aku pulang duluan ya"
"Hati-hati!" Lea melempar senyum, Mila pun membalas dengan senyuman manis lalu keluar dari mini market.
"Eh!", gumam Lea. Matanya membulat ketika Axel tiba-tiba muncul di depan pintu mini market. Axel tidak langsung menemui Lea yang berada di tempat kasir. Dia mengambil kopi panas dan roti lalu duduk menatap keluar jendela melihat orang lalu lalang sambil sesekali menyeruput kopinya. Secara diam-diam Lea memperhatikan tuan mudanya itu, tanpa sengaja Axel melirik Lea dan menagkap matanya. Lea terkejut dan menunduk malu.
"Heh! bekerjalah dengan benar, coba lihat dipojok kirimu", ejek Axel
Lea spontan melirik cctv mini market yang terletak di pojok kirinya.
"Berapa semuanya?"
"37.500"
Axel pun mengeluarkan selembar uang 50.000.
"Jika sedang bekerja apa tidak boleh melihat ponsel?"
"Tidak!"
"Hari ini kau pulang jam berapa?"
"Ini kembaliannya, terima kasih"
"Heh, aku tanya pulang jam berapa?"
__ADS_1
"Maaf tuan, aku sedang bekerja. Coba lihat cctv yang ada di pojok kanan Tuan"
Axel menghela napas kesal dan keluar dari mini market itu. Setelah Axel tidak terlihat Lea tekekeh geli karna berhasil menjahili tuan mudanya. Dia merasa impas.
...❤❤❤...
Lea bersiap pulang karna waktu bekerjanya telah selesai. Dia sangat terkejut melihat mobil Dion sudah ada di seberang jalan. Tanpa pikir panjang Lea berlari menghampiri Dion.
"Tok...tok...tok"
Dion membuka kaca mobilnya dan Lea pun segera masuk kedalam mobil.
"Hey! kenapa tidak bilang dulu kalau kau mau menjemputku?"
"Takut Tuan muda jemput?"
"Aishhh!!!"
"Enak ya kalau kerja di temenin sama gebetan "
"Maksudnya?"
"Lajang tua itu tadi minum kopi disini kan?"
"Apa yang kau katakan barusan? coba ulangi sekali lagi! Lajang tua?
"Cihhh! Dasar pria tua tidak tau diri. Harusnya dia sadar pria dewasa hanya cocok berkencan dengan wanita seusianya juga bukan dengan bocah ingusan"
"Dia tidak setua itu, usianya baru 30 tahun. Berhentilah menyebutnya lajang tua!"
" Kenapa kau yang marah?! faktanya memang dia sudah tua"
"Yasudah terserah kau saja", Lea malas berdebat dengan Dion karna hal yang tidak penting.
Dion menyetel radio untuk mencairkan suasana. Mendengar lagu rock yang diputar, Lea jadi teringat tuan mudanya. Axel sangat suka mendengarkan lagu rock saat santai. Biasanya Axel menikmati lagunya dengan secangkir susu dan roti. Lea tersenyum tipis mengingat Axel yang ikut bernyanyi sambil mencelupkan roti kedalam susunya.
"Kenapa di ganti?, celetuk Lea
"Kau terlalu menikmati lagunya, pasti sambil memikirkan seseorang"
"Dasar sok tau!", balas Lea dengan kesal
"Kita langsung pulang atau makan dulu?"
"Pulang saja"
"Kau marah karna aku ganti lagunya?"
"Tidak"
"Oh, iya. Aku baru sadar kalau rumahmu berhadapan dengan rumah si tua itu"
"Memangnya kenapa?"
"Kau masih mengontrak kan?, bulan depan aku mau kau pindah"
"Kau ini sudah tidak waras ya?!"
"Oh! tidak ingin dipisah?"
"Boleh cemburu tapi jangan berlebihan begini. Aku masih punya tanggung jawab besar dirumah itu untuk menjaga nenek"
" Alasan!". Dion terlihat sangat kesal, matanya memerah jari-jarinya menggeram. Sadar akan hal itu, Lea meminta Dion untuk berhenti karna takut terjadi sesuatu.
"Berhenti disini!", pinta Lea
__ADS_1
Tanpa bertanya Dion menghentikan mobilnya dan Lea pun segera turun. Kesal marah capek semua campur aduk jadi satu, rasanya Lea ingin mengakhiri hubungan yang tidak sehat ini mumpung masih baru. Tapi ada janji yang mengikatnya. Tanpa sadar Ia meneteskan air matanya. "Andai waktu bisa di ulang pasti aku tidak membuat janji itu", lirihnya