LIPTINT CHERRY

LIPTINT CHERRY
KETUJUH


__ADS_3

"Kenapa kau melihatku seperti itu?", ketus Lea


"Seberapa dekat kau dengan Tia?", tanya Dion serius


"Aku berteman dengannya sejak kami duduk dibangku menengah pertama. Kenapa tanya begitu?"


"Aku curiga padanya"


"Apa maksudmu?"


"Sudahlah, abaikan saja kata-kataku barusan"


"Huh! Dasar pria tidak jelas!


"Kau bilang apa? coba katakan sekali lagi?". Dion memicingkan matanya


"Aku tidak mengatakan apapun"


"Kau pikir aku ini tuli ha?", balas Dion sambil menggelitiki Lea


"Ha ha ha astaga ampun"


Dion pun berhenti menggelitiki Lea. Ia tersenyum tipis merapikan rambut kekasihnya itu. Sambil menangkap mata Lea, Dion pun memberanikan diri mendekatkan wajahnya hingga tidak ada jarak antara keduanya.


"Eh kau mau apa?", tanya Lea gugup. Jantungnya seketika berhenti berdetak saat Dion menempelkan bibirnya. "Ya Tuhan, dia menciumku", batinnya.


KLEK


"HEH! apa yang sedang kalian lakukan?"


"Ne-ne-nek", ucap Lea terbata. "Nenek tadi melihat kami berciuman tidak ya?", tanyanya dalam hati.


"Dimana Axel? Kenapa kalian dibiarkan berduaan", sambung nenek


"Astaga si tua ini mengganggu saja", celetuk Dion


"Dion jaga bicaramu", bisik Lea


"Siapa anak berandalan ini?", ketus nenek. Nyonya Wijaya itu tampak tidak senang dengan keberadaan Dion


"Aku -",


"Dia temanku nek", Lea memotong ucapan Dion


"Sebentar lagi kau ini akan menjadi nyonya muda di keluarga kami. Ada baiknya jika mulai dari sekarang kau menjaga jarak dengan pria tidak jelas sepertinya. Kau harus menjaga nama baik keluarga Wijaya, khususnya suamimu nanti"


Dion yang mendengar ucapan nenek merasa terkejut. Ia mencoba mencerna apa maksud perkataan nenek. "Suami? Nyonya muda? Apa dia mau menikah?", ribuan pertanyaan pun berputar dikepalanya. Dion menatap tajam kearah Lea seolah meminta penjelasan.


"Nek, aku mengerti maksudmu. Kau tidak perlu cemas", ucap Lea dengan senyum simpul


"Ah sudahlah. Bagaimana keadaanmu?", tanya nenek


"Aku sudah lebih baik,nek. Oh iya bagaimana nenek tau kalau aku dirawat?"


"Axel yang mengatakannya"


"Aku hanya kecelakaan kecil saja nek. Harusnya nenek tidak perlu datang kesini. Kesehatan nenek juga harus diperhatikan. Nenek kan tidak boleh terlalu capek"


Mendengar ucapan Lea hati nenek mulai mencair kembali. Ia memukul pundak Dion agar bergeser. Kemudian nenek pun duduk di samping kasur Lea menggantikan posisinya.


"Anak manis ini selalu perhatian padaku", puji nenek senang. "Heh! kau keluarlah", titah nenek ke Dion


"Memangnya kau ini siapa?", bantah Dion

__ADS_1


"Dion keluarlah", lirih Lea


"Ya Tuhan! apa ini. Kau juga menyuruhku keluar karena si tua ini"


"Lea kenapa kau bisa berteman dengan pria kasar seperti ini?", ketus nenek


"Nek, maaf"


"Darah tinggiku bisa kumat kalau terus bertahan disini"


"Tidak ada yang menyuruhmu datang kesini. Sebaiknya kau pulang saja jika tidak mau cepat-cepat dimakamkan", balas Dion


"Dion jaga bicaramu. Kau harus bersikap sopan pada yang lebih tua"


Nenek mengambil ponselnya dari dalam tas. Kemudian ia mencari kontak Axel dan menghubunginya.


Tut...Tut...Tut...


"Kenapa jadi begini", batin Lea.


"Halo, kau cepatlah kesini"


"Apa yang terjadi? nenek dimana sekarang?


"Aku dirumah sakit menjeguk Lea. Cepatlah kesini"


"Baiklah, aku segera kesana"


"Syukurlah, nenek sudah menghubungi tuan", ucap Lea dalam hati


Suasana didalam kamar Lea mencekam seperti tidak ada kehidupan. Axel duduk di sofa pojok sambil memainkan ponselnya. Sementara nenek duduk disamping Lea dengan raut wajah merah menahan amarah.


KLEK


"Sesibuk apa pekerjaanmu dikantor!", tanya nenek pada Axel dengan nada tinggi


"Hari ini aku ada rapat dengan para pemegang saham, ada proyek besar"


"Kau bisa kehilangan calon istrimu kalau memikirkan pekerjaan terus. Aku tidak ingin cucuku gagal menikah untuk kedua kalinya", lirih nenek sambil meneteskan air matanya.


Melihat nenek menangis Lea menjadi panik. Gadis itu memeluk sang nenek untuk menenangkannya. "Tuan, sebaiknya bawa nenek pulang kerumah. Aku takut terjadi sesuatu", ujar Lea.


Axel mengangguk setuju dan mencoba memberi pengertian ke nenek. "Nek, ayo kita pulang. Lagipula Lea perlu istirahat dan nenek juga perlu istirahat".


"Aku ingin kalian berdua segera menikah. Mungkin dengan begitu hatiku menjadi lega", pinta nenek


"Masalah ini nanti kita bicarakan jika Lea sudah pulih"


"Nenek tidak perlu cemas", sambung Lea meyakinkan


"Baiklah, Axel ayo kita pulang"


Axel pun merangkul nenek Wijaya dan membawanya keluar ruangan.


BRAK!!!


Dion melemparkan ponselnya ke tembok. "Cihh!!! Dasar wanita murah penipu!"


Lea menahan air matanya agar tidak tumpah. Umpatan Dion melukai hatinya. Ia tidak bisa mengatakan apapun karena baginya percuma memberikan penjelasan pada Dion.


"Kenapa kau diam saja?"


"Ma-maaf"

__ADS_1


"Kau tau kan aku benci kata itu"


"Aku tidak tau harus menjelaskannya darimana"


"Sudahlah, tidak perlu!"


TAP TAP TAP


"Kau mau kemana?", tanya Lea. Entah mengapa ada perasaan takut dalam benaknya.


Dion menghentikan langkah kakinya. "Bukan urusanmu",tegasnya


"Jangan pergi!"


"Aku rasa hubungan kita selesai sampai disini saja"


Air mata Lea pecah seketika. "Apa dia akan menghilang?", batinnya


Tanpa menoleh kebelakang, Dion pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Kecewa, marah, bingung, dan sedih semuanya jadi satu.


"Harusnya aku lega hubungan ini selesai. Bukannya ini yang aku mau. Kenapa hatiku rasanya sangat sakit. Dadaku juga terasa sesak aku tidak bisa bernapas", Lea mengomel sambil menangis sesenggukan


KLEK


"Dion!", teriak Lea


"Ini ayah, nak"


"Ayah", lirihnya


"Kenapa kau menangis?. Apa kau bertengkar dengan Dion?"


"Ayah peluk aku. Hiks". Tangisan Lea semakin menjadi-jadi saat dipeluk ayahnya. Lea pun menceritakan pada ayahnya tentang penyakit nenek hingga pernikahan kontrak yang diajukan Tuan Axel dan hubungannya dengan Dion.


"Pernikahan itu hal yang sakral bukan mainan. Aku tidak akan mengizinkan putri semata wayangku melakukannya. Ayahmu ini ingin menyerahkan putrinya dengan pria yang mencintaimu", tegas ayahnya


"Tapi yah. bagaimana dengan nenek?"


"Aku tidak ingin kau mengorbankan masa depanmu demi orang lain"


"Tuan Axel orang baik yah. Aku yakin dia tidak akan menyakitiku. Lagipula, dia sudah membuat batasannya"


"Apa kau sedang meyakinkanku?"


"Aku hanya kasihan pada nenek"


"Kau siap dengan segala resikonya?"


Lea mengangguk seolah mantap dengan keputusannya


"Bagaimana jika suatu saat perasaanmu pada Axel menjadi sungguhan?"


"Sebenarnya Tuan muda pernah menyukaiku"


Ayah Lea merasa sedikit lega dengan pernyataan puterinya. Itu artinya tidak masalah jika Ia mengizinkannya. "Lalu bagaimana dengan perasaanmu?",tanya ayah.


"Aku tidak bisa memastikannya, yah. Sekarang yang ada dipikiranku cuma nenek"


"Berapa lama kontraknya?"


"Tidak ada batasannya. Kapan pun aku mengehntikannya Tuan muda tidak mempermasalahkannya"


"Aku ingin Axel menemuiku segera"

__ADS_1


"Baiklah, yah. Aku akan meminta Tuan muda sesegera mungkin menemuimu. Terima kasih ayah sudah mengerti aku"


__ADS_2