
Tiga bulan setelah kejadian dirumah sakit Dion tidak pernah lagi menghubungi Lea. Dia benar-benar menghilang dan Lea pun mencoba membuka lembaran baru. Keluarga Axel sudah melamar Lea secara resmi. Pernikahan Lea akan dilakukan bulan depan atas permintaan nenek.
"Lea, terima kasih untuk semuanya"
"Tidak perlu berterima kasih. Aku ikhlas melakukannya"
"Nona, ini gaunnya. Silahkan dicoba. Kau pasti akan terlihat sangat cantik saat memakainya"
"Ah kau ini bisa saja. Baiklah akan aku coba"
"Cepat sana! aku tidak sabar melihatnya", sambung Axel
"Iya iya!". Lea pun membawa gaunnya kedalam fitting room
Mata Axel tidak berkedip saat melihat Lea memakai gaun pengantinnya. "Sangat cantik", gumamnya.
"Tuan bagaimana?"
"Eh?". Suara karyawan memecah konsentrasi Axel.
"Apa aku cantik?", tanya Lea dengan polos
"Tidak!. Heh kalian kenapa membuat baju seperti ini untuk calon istriku. Coba lihat gaun yang dia pakai sangat terbuka". Semua karyawan melihat kearah Lea. Memang gaun yang dia pakai agak sedikit terbuka, tapi Lea terlihat cantik dan anggun dengan gaun yang memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya.
"Ya Tuhan, tuan ini sangat manis. Nona, kau sangat beruntung memiliki suami yang protectif sepertinya", celetuk salah satu karyawan disana
"Aku hanya tidak ingin aset istriku dilihat semua orang"
"Tapi aku suka dengan gaun ini. Aku merasa seperti puteri disney"
"Tuan tidak masalah jika hanya sehari nona ini memakainya", sambung karyawan
"Iya benar, setelah menjadi istrimu kau bisa melarangnya berpakaian terbuka", sahut karyawan lain
Lea menatap sendu ke Axel. Raut wajahnya terlihat lucu seperti anak anjing kecil yang sedang memohon Tuannya. "Ayolah!", lirihnya
"Yasudah! terserah kau saja. Aku akan terlihat seperti calon suami yang jahat jika melarangmu", ucap Axel pasrah.
"Terima kasih", balas Lea dengan senang
"Cium! cium! cium!", sorak semua karyawan
"Eh, Jangan!", tolak Lea dengan semburat merah dipipinya.
"Kau harus menuruti mereka sebagai balasannya", ucap Axel sambil mengedipkan mata kanannya
Lea menjadi salah tingkah karenanya. "Apa dia sudah gila?", gerutu Lea dalam hati
"Ayo! ayo! ayo!", para karyawan kembali bersorak
"Tidak!"
Tanpa aba-aba Axel merengkuh pinggang kecil calon istrinya itu dan mencium pipinya."Kau sangat cantik", bisik Axel. Seketika semburat merah kembali menghiasi wajah Lea. "Sembunyikan pipi udang rebusmu itu", ejek Axel merasa menang.
"Sial! Aku kalah telak", maki Lea dalam hati
"Apa kau nyaman aku peluk begini?", bisik Axel lalu meniup telinga Lea
"Dasar pria tua mesum!", teriak Lea sambil menghentakkan kakinya menginjak kaki Axel
"Akh!", pekik Axel kesakitan
Semua orang yang berada disana tertawa melihat tingkah pasangan itu. Mereka terlihat romantis dan unik seperti adegan di drama Korea.
__ADS_1
...❤❤❤...
"Lea, maaf aku tidak bisa mengajakmu makan karena meeting dengan klienku kali ini tidak bisa di cancel"
"Iya, tidak masalah. Tapi bisakah kita singgah sebentar ke mini market dekat lampu merah?"
Axel mengangguk setuju. Dia pun meminggirkan mobilnya. Lea turun dari mobil dan masuk kedalam mini market untuk membeli beberapa makanan kecil.
sepuluh menit kemudian...
Tok Tok Tok
Lea mengetuk kaca mobil Axel. Axel tak bergeming. Lea mengintip mesti samar-samar tapi dia bisa melihat Axel tertidur. Pria itu tampak kelelahan. "Aku tidak tega membangunkannya", gumam Lea
DRRT
Axel terbangun karena getaran ponselnya. "Iya, aku sudah dijalan. Tunggulah sekitar dua puluh menit lagi". Dia pun segera menutup ponselnya kemudian menstarter mobil. "Astaga Lea. Hampir saja aku meninggalkannya. Dimana anak itu". Axel melihat sekelilingnya, terlihat gadis kecilnya itu berdiri didepan mini market sambil mengunyah roti.
TIN TIN TIN!
Mendengar suara klakson mobil Axel, gadis kecil itu segera berlari dan masuk kedalam mobil.
"Maaf, aku ketiduran"
"Aku tadi ingin membangunkanmu tapi tidak tega karena Tuan terlihat lelah"
"Gadis ini benar-benar masih lugu. Dia bahkan rela berpanas-panasan demi aku", batin Axel
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Axel mengambil sapu tangan dari dalam sakunya. " Keringatmu bercucuran", ucapanya sambil menyeka air yang menetes
"Biar aku sendiri saja yang mengelapnya. Fokuslah menyetir"
"Tuan, aku tadi membeli roti dan beberapa snack". Lea menjelaskan sambil menunjukan barang-barang yang Ia beli dari mini market tadi. Kemudian dia mengambil salah satu diantaranya. "Kau mau roti cokelat atau roti isi selai kacang?", tanyanya pada Axel
"Aku alergi kacang"
Lea memasukan kembali roti isi selai kacang kedalam kantong palstik. "Eumm..cokelat ya", gumamnya sambil menyobek bungkusnya. "Ayo buka mulutmu!", titahnya
"Belum jadi isteri sudah perhatian"
"Eung...Tuan menggodaku?"
Axel menggeleng sambil mengunyah rotinya. Pandangannya lurus kedepan seolah-olah fokus menyetir.
"Aishhh! Ini makan sendiri saja", ucap Lea dengan nada sedikit kesal
"Kenapa?", tanya Axel pura-pura polos
"Tidak ada"
"Klienku sudah menunggu. Kau ikutku ke kantor saja ya. Nanti supir menjemputmu"
"Aku bisa naik taksi"
"Kata tetua orang yang mau menikah darahnya manis. Aku takut terjadi sesuatu padamu"
"Terserah Tuan saja"
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
"Katakan saja!"
__ADS_1
"Aku ingin pernikahan kita tidak sebatas kontrak. Bagaimana pendapatmu?"
"..."
"Apa kau masih menyukai Dion", sambungnya
"Aku tidak tau"
"Yasudah tidak usah dibahas", ucap Axel dengan raut wajah kecewa
"Kenapa Tuan muda menyebut nama Dion sih. Aku jadi merindukannya", gerutu Lea dalam hati
DRT DRT DRT
Ponsel Axel bergetar. "Lea tolong angkat aku tidak memakai earphone". Dengan segera Lea mengambil ponsel Axel dari dalam saku celananya.
"Astaga kenapa letaknya disini sih", omel Lea dalam hati. Ia meraba tanpa melihat karena merasa malu
"Aku menyuruhmu mengambil ponselku bukan meraba pahaku"
"Aku tidak bermaksud begitu", bantah Lea. Pipinya bersemu merah dan Ia menjadi salah tingkah
"Hei! cepat ambil"
"Iya iya!". Lea sedikit kesal dengan nama yang ada dilayar ponsel. "Noona Helen", gumamnya
"Siapa? Kenapa wajahmu cemberut gitu?", tanya Axel penasaran
"Nih, Noona Helen"
"Kenapa tidak diangkat?"
"Kau saja!"
"Apa gadis ini sedang cemburu?", ejek Axel
"Tidak. Kenapa aku harus cemburu?"
"Yasudah angkat!"
Dengan terpaksa Lea pun mengangkat panggilan itu. "Halo?", ucapnya sebagai kata pembuka
"Ini siapa? aku tidak salah nomor kan?", tanya Helen
"Anda tidak salah. Tuan Axel sedang menyetir jadi aku yang mengangkat ponselnya"
"Berikan padanya! aku ingin membicarakan hal penting"
"Baiklah", Lea pun menyerahkan ponselnya pada Axel. "Noona Helen ingin bicara padamu"
Axel memberi kode bahwa Dia tidak ingin menerimanya. Lea pun mengangguk paham maksud Axel
"Noona, Tuan muda tidak bisa bicara denganmu"
"Berikan padanya!"
"Sudah ku katakan, Tuan muda tidak ingin bicara denganmu. Tolong jangan memaksa!"
"Kau ini siapa?", ketus Helen
"Aku calon isterinya", jawab Lea dengan lantang
Karena kesal mendengar ucapan Lea helen pun memutuskan panggilannya
__ADS_1