
Ketika Lea berjalan di koridor kampus, Ia melihat Axel. Lea ingin menyapa Axel tapi Ia mengurungkan niatnya karena melihat Tuan mudanya itu tidak sendirian. Axel bersama dengan seorang wanita cantik yang Ia kenal. Wanita itu adalah Helen. Helen merupakan Dosen muda dikampus Lea, usianya masih 27 tahun tapi karena kepintarannya Ia sudah banyak mencetak prestasi.
"Sejak kapan Tuan muda dan Miss Helen saling mengenal?, batinnya
DUARRRRR!!!
Lea dikejutkan dengan suara ledakan yang berasal dari ruangan LAB Kimia. Mendengar suara ledakan itu Lea berlari panik. Dia teringat hari ini Tantia teman baiknya sedang melakukan eksperimen. Lea sangat cemas takut terjadi hal buruk pada temannya.
"TIA!!!!!, teriaknya
Asap putih tebal memenuhi seluruh ruangan Lab Kimia membuat Lea semakin panik.
"TIA!!!! APA KAU BISA MENDENGARKANKU?!!! AYO KATAKAN SESUATU!!!
"UHUK...UHUK...!!! Lea nekat menerobos kedalam ruangan tersebut karena tidak mendapatkan respon. Otaknya sudah tidak dapat berpikir jernih, Ia hanya ingin temannya selamat.
"Astaga!! asap ini membuat mataku pedih". Pengelihatan Lea mulai terganggu Ia pun menutup kedua matanya dan berjalan meraba.
Disisi lain Axel berjalan menuju parkiran bersama dengan Helen. Axel memperlakukan Helen dengan manis. Ia membukakan pintu mobil untuk Helen. Entah kemana mereka akan pergi.
Selama 10 menit perjalanan suasana didalam mobil Axel hening. Axel merasa risih dengan Helen yang dari tadi sibuk memainkan ponselnya. "Kau tidak pernah berubah ya?", tegur Axel
Helen melirik Axel dengan sudut matanya dan tetap sibuk dengan ponselnya
"Jika bukan ibu yang memaksaku. Aku tidak akan repot-repot menjemputmu"
Helen menghela napas pendek. "Kau juga tidak berubah. Dasar anak mama!"
"Bagaimana hubunganmu dengan Stuart?", tanya Axel
"Buruk", jawab Helen singkat
"Kalian sudah putus?"
"Entahlah", balas Helen dengan menaikkan bahunya. Tatapannya berubah menjadi pandangan kosong dengan mata yang berkaca-kaca. Axel melirik Helen, Ia merasa bersalah sudah menanyakan hal pribadi yang membuat Helen menjadi sedih.
"Kau mau makan apa?", ujar Axel mengalihkan topik
"Axel apa kau mau kembali padaku?", tanya Helen lirih
Pertanyaan Helen membuat Axel terkejut karena yang dia tau wanita itu sangat mencintai Stuart. Meski hubungan Helen dan Stuart toxic, Helen tetap bertahan. Axel mengingat kejadian 2 tahun yang lalu. Saat itu Axel menolong Helen dari serangan Stuart. Jika hari itu Axel tidak menolongnya mungkin wanita yang berada disampingnya sekarang sudah mati konyol karena cekikan Stuart. Akan tetapi, perbuatan baik Axel sia-sia. Bukannya mendapatkan kata terima kasih malah Axel dicaci maki Helen. Sejak hari itu hubungan Axel dan Helen merenggang. Padahal mereka sahabat baik bahkan kedua orang tua mereka sudah merencanakan perjodohan
"Tidak!", balas Axel dengan tegas
"Maaf, waktu itu aku menghianatimu. Jika aku tau Stuart keji pasti aku tidak akan memilihnya dan meninggalkanmu begitu saja"
"Aku pikir kita lebih cocok berteman. Lagipula sudah ada orang lain yang mengisi hatiku"
Helen sedikit terkejut dengan pengakuan Axel, namun meski begitu Ia tetap berusaha meyakinkan Axel agar mau kembali padanya.
__ADS_1
"Dulu kau bilang aku ini cinta pertamamu dan kau tidak akan bisa mencintai orang selainku"
"Semua bisa berubah seiring berjalannya waktu"
DRT DRT DRT
Percakapan serius mereka teralihkan karena suara getar ponsel Axel. "Panggilan darurat dari Lea", gumamnya. Axel seketika panik, tidak biasanya Lea menggunakan panggilan SOS. " Helen bisakah kau turun disini?", pinta Axel
"Apa terjadi sesuatu?"
"Turun saja! Ini tidak ada hubungannya dengan kau"
"Baiklah"
Kepanikan Axel semakin menjadi-jadi karena Lea meriject panggilannya berulang kali. Dengan bantuan GPS Axel mencari posisi Lea. Axel sedikit lega karena lokasinya masih disekitaran kampus.
...❤❤❤...
Lea mulai membuka matanya secara perlahan. Pandangannya masih terlihat kabur. Ia menggerakkan tangannya kemudian mengelus kepala Dion. "Ternyata dia yang menyelamatkanku. Aku sudah berhutang dua nyawa padamu", gumamnya
"Unghh! Kau sudah sadar?", tanya Dion
"Kalau kau lelah tidur saja"
Dion menggelengkan kepalanya. "Aku cuci muka dulu ya", ujar Dion disusul dengan menguap. Dengan langkah terhuyung dan nyawa yang belum terkumpul, Dion masuk kedalam kamar mandi.
"Ayahmu lagi dijalan", sahut Dion yang baru keluar dari kamar mandi
"Kata dokter bagaimana keadaanku?"
"Tidak ada hal yang serius. Kau pingsan karena kekurangan oksigen"
"Lalu dimana Tantia?"
"Pada saat kejadian tidak ada siapapun di ruang lab. Tantia sedang berada diperpustakaan."
"Syukurlah!"
"Dasar gadis bodoh! hampir saja kau mati konyol. Kenapa kau nekat??!!! Apa tidak bisa minta bantuan orang lain"
"Aku terlanjur panik"
"Sudahlah, jangan dilakukan lagi"
KLEK
Axel membuka pintu ruang rawat inap Lea. Melihat Axel wajah Dion seketika berubah masam. Sementara Lea merasa senang karena ternyata yang ada dipikirannya salah. Meski terlambat menolongnya, Tuan mudanya itu masih meluangkan waktu untuk melihat keadaannya.
"Bagaimana keadaanmu?", tanya Axel
__ADS_1
"Aku baik-baik saja"
"Ekhem!", Dion berdehem. Ia merasa risih saat Axel dan Lea saling memandang.
"Maaf, aku terlambat menolongmu"
"Tidak masalah, Lea masih ada aku", sahut Dion
"Ah! terima kasih", balas Axel
"Tidak perlu berterima kasih. Aku ini kekasihnya, sudah menjadi kewajibanku menjaga Lea. Jadi kau tidak perlu repot-repot", ketus Dion
"Dion kau jangan begitu pada Tuan muda!"
"Oh iya, aku hampir lupa. Ini aku bawakan buah ceri". Axel meletakannya diatas nakas
"Kenapa orang tua ini bisa tau kesukaan Lea", batin Dion
"Wah! terima kasih Tuan. Ternyata kau tau kesukaanku"
Sebenarnya Axel hanya menebak buah kesukaan Lea. Dia teringat pada saat mereka berciuman, bibir Lea beraroma ceri.
Dion merasa kalah telak. Selama ini dia berpikir kalau hanya dia yang tahu apa yang Lea suka dan tidak suka. Hatinya bergemuruh, rasanya Ia ingin menendang kepala Axel. "Kau pulanglah!", titah Dion
"Dion kau tidak sopan. Tuan Axel baru datang tapi kau usir"
"Aku hanya menjalankan amanah dokter. Kata dokter kau harus banyak istirahat"
"Sudah tidak apa-apa, lagipula aku tidak bisa lama-lama disini. Ada banyak pekerjaan dikantor"
"Sekali lagi, terima kasih sudah menjengukku"
Axel mengacak-acak rambut Lea "Semoga lekas pulih"
"Okey dokey", Lea menaikan jempolnya
"Astaga! berani-beraninya pria tua ini memegang asetku", kesal Dion dalam hati. "Sudah! sudah! Lea butuh istirahat!", ketusnya
Axel pun pergi meninggalkan ruangan itu. Lea tampak cemberut, dia merasa kesal dengan kelakuan Dion. "Kau jahat!", ucap Lea sambil menyelimuti seluruh tubuhnya
"Memangnya aku salah apa?"
"Pikirkan saja sendiri!", sahutnya dari balik selimut
"Haishhhh!!! sudahlah. Aku mau keluar sebentar. Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku"
GDUBRAK
Dion pun keluar dari ruangan dengan membanting pintu
__ADS_1