LIPTINT CHERRY

LIPTINT CHERRY
SEMBILAN


__ADS_3

"Helen mantan kekasihku"


Lea hanya melirik kearah Axel, lalu kembali sibuk memainkan ponselnya.


"Aku mengatakan ini agar kau tak salah paham", sambung Axel


"Boleh aku mendengarkan radio?", ucap Lea mengalihkan topik pembicaraan


"Kau marah?"


"Tidak"


"Kau tidak ingin menanyakan apapun?"


"Kita ini hanya kawin kontrak. Aku tidak akan melewati batasanku dengan mengulik privasimu"


Mendengar kata kawin kontrak hati Axel merasa terluka. Meski begitu ia tak bisa menyalahkan Lea. Cinta tak bisa dipaksakan meski sudah berusaha mati-matian jika bukan kau orang yang dicintai bisa apa. "Kau ingin mendengarkan radio kan?", ucap Axel sambil menekan tombolnya


Malam itu aku menemukan seorang gadis dibawah hujan. Dia seperti anak anjing, tubuhnya basah dan ia menggigil kedinginan. Aku jatuh cinta saat mata indahnya memohon. Ah aku tidak bisa meneruskannya. Ini sangat menyakitkan


"Dion", gumam Lea. Lea mengingat kembali kejadian setahun yang lalu.


#Flashback#


Saat itu Lea mengunjungi ibu dan adik-adiknya. Dia tidak tahu bahwa dihari yang sama ibunya membawa teman prianya. Hal yang pahit baginya saat menyaksikan cara bertahan hidup ibunya dengan menjual diri.


"Kenapa hidup ibu jadi begini?, tanya Lea sambil terisak


"Aku tepaksa melakukannya demi menyambung hidup"


"Apa gadis ini anakmu?", ucap seorang pria yang baru keluar dari kamar ibunya. "Cantik juga. Kenapa kau tidak bilang kalau kau punya anak yang sudah dewasa", sambungnya sambil mencolek dagu Lea


"Eh jangan macam-macam ya!. Ibu aku takut"


"Menjauhlah! jangan sentuh anakku!"


"Hutangmu lunas jika kau memberikan anak ini untukku"


"Kau sudah gila ya. Tidak akan ada ibu yang menjual anakknya. Cukup aku saja yang rusak tidak dengan anak ini"


"Cihhh sombong!"


"Pergi atau aku berteriak!"


"Lihat saja apa yang aku lakukan", ucap pria itu dengan nada mengancam.


Lea meremas tangan ibunya sambil menangis ketakutan. "Ibu..hiks", isaknya. Ia pun memeluk erat ibunya. "Ibu, bawa adik-adikku pergi dari sini. Aku akan mencarikan tempat untuk kalian", pinta Lea dengan nada memohon


"Bagaimana aku bisa pergi jika masih banyak hutang dengannya. aku lari ke lubang semut saja mungkin dia tetap mengejarku"


"Apa aku boleh mengasuh adik-adikku?"


"Aku senang jika kau perduli pada adikmu.Tapi, apa ayahmu menerimanya. Mereka masih punya hubungan darah denganmu tidak dengan ayahmu. Kau pulanglah sekarang, aku takut pria monster itu kembali kesini"


"Baiklah, aku pulang sekarang. Untuk masalah mengurus mereka aku akan membicarakannya pada ayah. Aku pamit bu"

__ADS_1


"Hati-hati dijalan ya. Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang"


"Tidak masalah bu. Aku pulang naik taksi. Oh iya, ini ada sedikit uang untuk membeli makanan mereka"


"Aku merasa tidak enak selalu merepotkanmu"


"Ibu jangan bicara begitu, aku melakukan ini karena memang sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang anak"


"Anak baik",lirih ibunya sambil mengusap pipi Lea


Lea berpamitan mengecup pipi ibunya lalu ia pergi dari tempat itu.


Ibu Lea tinggal dilokalisasi pinggiran kota. Tempat tinggal yang rawan dengan tindakan kriminalitas karena memang tempat berkumpulnya banyak jenis manusia. Keadaan saat itu gerimis, tak ada satupun taksi yang lewat. Setiap ia mengunjungi ibunya, dia harus menyiapkan mental baja untuk menghadapi situasi apapun.


"Jika ayah tau aku kesini pasti mengomel. Apa aku minta bantuan Tuan muda saja ya"


TAP TAP TAP


Terdengar suara langkah kaki yang mengikuti Lea dari belakang. Ia melirik ke arah jalan dan melihat bayangan hitam. Bulu kuduknya mulai berdiri. Meski nemiliki jiwa pemberani, jika perempuan sendirian bisa apa. "Siapa kau!", teriak Lea sambil menoleh kebelakang. "Kenapa tidak ada siapapun?", gumamnya. Ia melihat sekelilingnya. "Dasar pengecut! Ayo keluar!"


Hahahahaha


"Kalian si si siapa?", ucap Lea kaget bercampur agak sedikit ketakutan


Tanpa babibu kelima pria itu mengepung Lea. Mereka tertawa besar membuat Lea jijik mendengarnya. "Apa kalian tidak malu menghadang gadis main keroyokan begini!", teriak Lea


"Wow galak! Biasa gadis seperti ini main liar", ucap salah satu dari mereka


"Cuih!". Lea semakin jijik mendengarnya


"Tunggu dulu! Boss? Siapa boss kalian?", tanya Lea lantang. Dia merasa selama ini tidak punya musuh


"Ah!!!! jangan banyak tanya!". Dengan kasar mereka menarik lengan Lea.


"Heh! jangan kasar dengan wanita ya!", Lea memberontak


"Jika kau menurut kami tidak akan kasar"


"Aku tidak mau ikut dengan kalian. Jangan paksa aku atau aku akan berteriak!"


"Teriak saja sampai suaramu habis. Tidak akan ada yang menolongmu. Ini wilayah kekuasaan kami"


"TOLONG!!!"


HAHAHAHAHA


BRAKKKKKKKKK!!!


Lea dilempar ketanah. "Selamat datang wanita ******", ucap seorang pria yang suaranya tidak asing. "Lihat aku!", bentaknya. Pria itu meletakkan ujung sepatunya didagu Lea membuat gadis itu mendongak.


"KAU!', pekik Lea


"Apa kau sudah siap bersenang-senang denganku?"


"CUIHHH!!! AKU TIDAK SUDI DISENTUH PRIA MENJIJIKAN SEPERTIMU!!!"

__ADS_1


"Ah!!! tadinya aku ingin membawamu ketempat yang nyaman. Diruang berAc, kasur yang empuk, dan suasana yang romantis. Sayang sekali kau menghinaku begini. Ya mau tidak mau kau harus melayaniku di lorong sempit ini. DASAR PEREMPUAN BODOH!!!". Pria itu menendang kepala Lea hingga gadis itu tersungkur


"Kau seperti binatang!", ucap Lea gemetaran


SREK! pria itu menarik lengan baju Lea hingga robek. "Dan kau tikus kecilku", bisiknya ketelinga Lea. "Kau dan aku seperti tikus yang kawin di selokan. Sepertinya lorong ini akan menjadi tempat paling indah bagiku" sambungnya. Pria itu membuka gespernya. Lea semakin bergetar ketakutan


"Aku tidak boleh pasrah. Tuhan bantu aku, kirimkan seorang malaikat untukku. Ku mohon", doanya dalam hati. "TOLONG!!! TOLONG AKU!!". Lea berteriak seencang-kencangnya berharap masih ada orang yang bisa membantunya


"Berteriaklah lebih kencang", tantang pria itu sambil menjambak rambut Lea


"Cuih!!" Lea meludahi wajah pria itu. Gadis itu memberontak sekuat tenaganya tapi pria kejam itu malah makin menghipit tubuh kecilnya. Bak ular yang sedang memangsa, ia melilit buruannya agar kehabisan tenaga. Lea mulai melemas karena tenaga pria lebih kuat darinya.


"Ayah", lirihnya. Lea pun menutup mata, tampak buliran bening keluar dari sudut matanya.


BUK!!!


Sepertinya Tuhan mendengar doa Lea. Malaikat itu datang langsung menendang kepala pria jahat yang sekarang menghimpit badannya.


"Dasar pria ******!", bentaknya


"Kau siapa! berani sekali kau datang kesini. Apa kau tidak tau kalau ini wilayah kekuasaanku. Kau akan mendapatkan masalah jika berani denganku"


"Aku tidak takut denganmu. Lepaskan gadis itu!"


"Oh! kau ingin menjadi pahlawan kesiangan untuknya. Hahaha lucu sekali"


"Lepaskan dia!"


"Rupanya kau menantangku. Siap-siap kehilangan nyawamu"


Malas beradu mulut, Pria itu langsung memberikan tendangan pembuka ke perut lawannya. Dan akhirnya mereka pun menjadi adu jotos.


"Tuan apa yang terjadi", tanya anak buah pria jahat itu.


"Jangan banyak tanya. Bereskan pria sok pahlawan ini"


Mendengar suara ribut-ribut Lea terbangun dari pingsannya. Gadis itu melihat seorang pria dengan tubuh babak belur karena dikeroyok. "Apa pria itu yang menolongku?", gumamnya. Lea melihat ponsel tergeletak ditanah, mungkin ponsel itu milik pria jahat. Tidak ingin melewati kesempatan, Lea pun mengambilnya dan langsung menghubungi polisi. Setelah itu Lea pura-pura pingsan kembali agar misinya berhasil.


Tak lama kemudian polisi pun datang. Semua berlari menyelamatkan diri agar tidak tertangkap. Kini yang tersisa tinggal hanya Lea dan malaikat penyelamatnya. "Bangunlah! Ku mohon jangan mati. Aku akan melakukan apapun untukmu sebagai balasanya", ucap gadis itu sambil menangis terisak. Lea sedikit lega melihat jari telunjuk pria itu bergerak. Itu artinya ia mendapat respon.


"Noona kau baik-baik saja?", tanya polisi


"Iya, tapi temanku terluka"


"Kami akan membawa kalian kerumah sakit"


"Lea! apa kau mendengarku?", Axel menepuk pundaknya


"Eh aku? Iya aku mendengarmu"


"Kau sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada!"


"Kita sudah sampai. Ayo turun!"

__ADS_1


__ADS_2