
Cahaya matahari dari sela-sela jendela menusuk mata Lea. Dia pun menggeliat, perlahan membuka matanya. Kamarnya yang Ia tempati sekarang terlihat asing.
"Aku dimana?",batinnya
Aroma bubur ayam menggelitik hidungnya. "Kryuk" suara perut Lea tidak bisa di ajak kompromi. Jujur saja Lea memang kelaparan karna seingatnya tadi malam dia belum makan.
KLEK
Pintu kamar terbuka, ternyata tuan muda Axel. Pemandangan indah di hari minggu pagi, tuan muda mengenakan celana pendek dan kaos terlihat handuk kecil melingkar di lehernya. Tetesan keringat dari helai rambutnya jatuh kepipi menambah ketampanan tuan muda Axel.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?
Lea mengangguk lalu mengucek matanya, nyawa gadis itu belum sepenuhnya terkumpul. Dia menguap dan menutup mulutnya. Melihat tingkah Lea, Axel menjadi gemas.
"Kenapa aku bisa berada dirumah Tuan?"
"Kemaren malam kau tergeletak dijalanan"
"Astaga aku pingsan ya? tapi kenapa aku tidak dibawa kerumah saja, kan ada ayah yang mengurus"
Tanpa menjawab Axel mengulurkan tangannya ke kening Lea mengecek suhu badannya. Dia tersenyum senang karna panas Lea sudah turun.
"Setelah sarapan kembalilah kerumah temui ayahmu"
"Apa Tuan sudah makan?"
Axel mengangguk. Lea mengambil buburnya dan memasukan kedalam mulutnya. Entah karna lapar atau memang rasa buburnya yang enak, Lea menggoyangkan kepalanya.
"Aku akan melindungi gadis kecil ini", janji Axel dalam hati
TING...(Email masuk) ✉️
Sdr. Zea Alodie Leandra, permintaan resign anda diterima. Terima kasih atas kerja keras dan dedikasi anda selama ini.
Lea tersedak dan panik. Dengan sigap Axel mengambil segelas air putih lalu menepuk pelan punggung gadis itu.
"Minumlah"
Lea pun meneguk airnya dan merasa sedikit lebih baik
"Hiks..."
"Loh kenapa nangis?"
"Aku dipecat"
"Syukurlah"
__ADS_1
"Kurang Ajar! aku dipecat dan tuan malah bersyukur"
Axel tidak ingin memperpanjang urusannya dengan Lea. Dia pun segera keluar dari kamar. Akan lebih kacau jika Lea tau bahwa Axel lah yang mengajukan resign atas nama Lea.
...❤❤❤...
Setelah sarapan Lea kembali kerumahnya. Ia menyusuri ruang mencari keberadaan ayahnya. Saat di dapur tak sengaja ia melihat asap tipis yang keluar dari sela tudung saji. "Sarapan penuh cinta untuk putriku yang cantik". Membaca memo singkat dari ayahnya, seketika hati Lea menjadi hangat. "Ayah, sudah lama kita tidak memiliki waktu khusus. Ketika ayah tidur aku baru pulang dan sebaliknya saat aku terbangun Ayah sudah berangkat kerja", keluhnya
Drt...Drtt ...Drtt.. (panggilan masuk) 📞
"Halo Mil?"
"Lea apa benar kau resign?"
"Iya, dipecat lebih tepatnya"
"Tapi mengapa keterangannya disini resign. Aku jadi bingung"
Lea kembali mengecek emailnya. Ternyata yang Mila katakan benar bahwa dia resign bukan dipecat. Dia pun menghela napas panjang, waktu membaca pesan tadi nyawanya benar-benar belum terkumpul. "Bagaimana aku bisa memberi ibu uang jika aku sudah resign lebih awal. Ini akan menjadi masalah baru", pikirnya
"Halo Lea. Apa kau mendengar suaraku?"
"Ah iya Mil, sudah dulu ya" Lea menutup panggilannya
TING (Pesan Masuk) 📱💌
Lea melirik notifikasinya. "Hari gini siapa yang mengirimku uang", batinnya. Dia pun membuka pesannya untuk memastikan.
"OMG! 10 juta", teriak Lea memekik karna kaget. Merasa ada yang janggal Lea berpikir dan menarik kesimpulan.
TUTTTT...TUTTTT...TUTTT.... 📞
Tanpa babibu dan dengan emosi yang meledak-ledak Lea mengubungi Axel. Sudah bisa dipastikan bahwa Tuan mudanya lah yang mengajukan resign dan karena merasa bersalah Ia mentransfer sejumlah uang yang cukup banyak. Lea merasa bahwa tuan mudanya sudah melewati batas mencampuri urusan pribadinya.
Sementara di kediaman Axel terlihat sibuk menyambut kedatangan nenek dan ibunya. Sudah hampir sebulan mereka berada di Eropa untuk mengunjungi kerabatnya sekaligus mengecek kesehatan nenek. Axel tampak bahagia melihat kedua wanita berharga dalam hidupnya sampai dirumah dengan keadaan sehat.
"Nenek!", Axel memeluk erat neneknya
"Ya ampun cucuku, kenapa jadi kurus dan kusam begini. Padahal baru seminggu aku meninggalkanmu. Kan sudah aku katakan berulang kali menikahlah biar ada yang mengurusimu. Aku ini sudah tua, kalo aku mati hari ini bisa dipastikan arwahku gentayangan karna belum merasakan bahagianya menimang cicitku", omel neneknya
"Aku tidak mau menikah"
"Heh! apa kau sudah bosan jadi cucuku", bentak nenek yang merasa kesal sambil memukuli cucu kesayangannya menggunakan tongkat.
"Ampun nek sakit! sama cucu sendiri kejam. Axel tuh sayang banget sama nenek dan gak mau nenek mati"
Mendengar ucapan Axel nenek tersenyum dan mengusap pipi cucu semata wayangnya itu dengan kasih sayang.
__ADS_1
GDUBRAKKKK
Seketika suasana menjadi hening. Lea yang berada di ambang pintu kaget dan malu karna sudah bertindak brutal di depan nenek Wijaya.
"Maaf, nek." Lea menundukan kepalanya merasa bersalah, dia sadar apa yang baru dilakukan sangat tidak sopan
"Kemarilah!", titah nenek Wijaya
Lea melangkahkan kakinya dengan perasaan takut. Ibu Axel hanya diam memperhatikan.
"Kenapa kau semarah itu?, tanya nenek
"Hiks", karna ketakutan gadis itu menumpahkan air matanya yang tak terbendung
"Jangan takut aku tidak akan marah. Katakan uneg-unegmu!", ucap nenek meyakinkan
"Tu-Tu-Tuan Axel melecehkanku", Lea mengatakannya terbata-bata dan menangis semakin kencang
Semua orang kaget mendengar ucapan yang dikatakan Lea barusan. Pelayan yang membersihkan vas bunga sampai tak sadar telah menjatuhkan benda disekitarnya. Ekspresi nenek yang kaget berubah menjadi senyuman penuh tanda tanya.
"Kirana!"
"Iya bu", jawab ibu Axel
"Aku ingin kau mengatur pernikahan Axel dengan Lea bulan depan"
Mendengar ucapan nenek, Kirana merasa seperti disambar petir. Berbeda dengan nenek yang sangat menyayangi Lea, ibu Axel agak kurang suka dengan Lea. Di matanya Lea hanya pengasuh ibu mertuanya, apalagi Kirana sudah punya kriteria dan standart menantu idaman. Menantu yang dia inginkan haruslah dari kalangan yang sepadan dengannya mempunyai kehormatan dan kekayaan selevel. Dia tidak akan rela jika anak semata wayangnya menikah dengan Lea.
"Apa ibu yakin?"
"Jangan ada yang membantah keputusanku!"
Lea terdiam mematung, otaknya blank untuk beberapa saat. "Nek tapi ak-", kalimatnya belum selesai tapi nenek sudah pergi masuk ke kamarnya
" AXEL WIJAYA!!! APA BENAR KAMU UDAH MENODAI GADIS INI?". Ibu Axel sebelumnya tidak pernah meninggikan suara.
"Maaf bu, Aku akan menyelesaikan semuanya", tegas Axel sambil menarik pergelangan tangan Lea.
"Ikut aku sekarang!"
Lea mengangguk mengikuti Axel yang membawanya ke kamar. Sesampainya di kamar Axel langsung membanting Lea ke atas tempat tidur.
"Ehhh mau apa?", Lea benar-benar ketakutan
Axel tak menjawab apapun dia membuka kaos yang dipakainya dan melempar sembarang. Lea terlihat semakin panik. Otaknnya sudah tidak dapat berpikir jernih.
"Tolong dengarkan penjelasanku dulu, pelecehan yang aku maksud kau menjatuhkah harga diriku karna memberiku uang. Bukan pelecehan anu", Lea mencoba menjelaskan
__ADS_1
Axel tak menghiraukan apa kata Lea. Dia melirik ke arah Lea lalu masuk kedalam kamar mandi. Lea yang berpikiran kotor langsung bergegas keluar kamar tapi, "sial pintunya dikunci", lirihnya