
Lea tertidur meringkuk didepan pintu kamar Axel seperti anak kucing. Suara langkah kaki Axel yang baru keluar dari kamar mandi membangunkannya. Gadis itu melihat Tuannya bertelanjang dada dengan bawahan yang hanya dililit handuk putih. Semakin Axel mendekat kearahnya, detak jantungnya pun tak beraturan.
"Aku tau kau tidak tidur"
Saat ini Lea memang sadar tapi sewaktu Axel mandi dia benar-benar ketiduran. Lea punya kebiasaan sehabis nangis pasti tidur.
"Tuan ampuni aku", ucap Lea memelas
"Apa kau tahu bagaimana bentuk orang baik hati ketika berubah jadi monster?"
Lea menggeleng pelan
"Daripada difitnah lebih baik dilakukan sungguhan"
"Tapi kan aku sudah menjelaskan kalau apa yang ku maksud bukan itu"
"Sudahlah! kita ini akan segera menikah, dilakukan sekarang ataupun bulan depan aku rasa sama saja". Seperti mendapatkan mainan baru, Axel membuat Lea semakin ketakutan. Dia sangat gemas melihat kepolosan Lea.
"Tuan ku mohon jangan lakukan itu", Lea kembali memelas
"Berdiri!", titah Axel
Lea pun berdiri, tangannya mengepal gemetaran. Tanpa aba-aba Axel mempersempit ruang gerak Lea. Axel menaikan dagu Lea dan menangkap mata Lea yang berisyarat memohon.
"Bermain lembut atau kasar?", bisik Axel
Pertanyaan barusan membuat Lea bergidik hingga membuat bulu-bulu halusnya berdiri. Sebenarnya Axel tidak tega melihat gadis kecilnya ketakutan begini, tapi baginya mainan kali ini sangat seru. Axel memulai aksinya dengan mencium kening Lea, kemudian turun kehidung mancungnya. Merasa tak ada perlawanan Axel menatap mata Lea dengan spontan gadis itu menutup matanya.
"Hahahahahaha", tawa Axel pecah karna tidak sanggup lagi meneruskan aktingnya.
Dengan spontan Lea menginjak kaki Axel sekuatnya, Ia baru sadar kalau dari tadi dirinya sedang dipermainkan
"Akhhh!", pekik Axel
"Tuan mengerjaiku ya?!"
"Sial! kenapa kau menginjak kakiku. Rasanya sakit sekali", protes Axel meringis kesakitan.
"I don't care!. Dasar lajang tua!"
"Aku ini calon suamimu bicaralah dengan sopan, panggil aku mas"
Mendengar kata mas Lea menahan tawanya dan tak lama kemudian tawanya pun meledak. "Hahaha"
"Lucu ya?"
"Hahaha ya ampun mas?...hahaha". Lea tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya
"Hihss", gumam Axel. Merasa kalah telak Axel berbalik arah ke walk in closet dan berganti pakaian di dalam sana.
__ADS_1
...❤❤❤...
Axel dan Lea menuruni anak tangga, nenek yang melihat mereka turun secara berdampingan menjadi tersenyum senang. "Pasangan yang sempurna", gumam nenek Wijaya
"Kemarilah cucu dan cucu menantuku!"
Mereka berdua segera menghampiri nenek. Tak sengaja Lea melirik ke arah Axel. Menyadari dirinya dilirik Lea, Axel pun mengedipkan sebelah matanya menggoda Lea. "Dasar lajang tua genit", gerutunya dalam hati
Nenek Wijaya menyodorkan cicin berlian, "Dulu aku mendapatkan cincin ini dari kakekmu dan aku berjanji akan memberikannya pada cucu menantuku", jelas nenek
Kirana merasa iri karena selama berpuluh tahun menjadi menantu dikeluarga Wijaya, ia tidak pernah diberi hadiah apapun oleh mertuanya. Padahal selama ini dia sudah setia mengurus nenek Wijaya dan memberikannya cucu yang tampan yaitu Axel Wijaya
"Nek, aku rasa ini terlalu berlebihan", ujar Lea
"Tidak, ini belum seberapa. Semua aset keluarga Wijaya juga bisa menjadi milikmu kalau kau mau"
Hati Kirana semakin panas mendengar apa yang sudah dikatakan mertuanya. Dia merasa tersaingi Lea anak kemaren sore yang dianggap tidak sebanding dengan dirinya.Tak tahan melihat dan mendengar semuanya, Kirana menghempaskan kakinya dan pergi masuk kedalam kamarnya.
Lea memberi kode ke Axel dengan menarik-narik ujung lengan bajunya. "Tuan katakan sesuatu pada nenek", bisiknya
"Ekhem! Nek, pakaikan saja cincin itu ke jari Lea, dia malu", ujar Axel
Lea kembali berbisik, "Apa Tuan sudah gila, bukan itu maksudku"
Dengan senang hati nenek memasukan cincinnya ke jari manis Lea. Nenek Wijaya tersenyum puas sambil mengelus pipi Lea. "Jaga cucuku ya, jangan sakiti dia", pesan nenek. Lea tersenyum simpul sambil menginjak kaki Axel
"Akhh!", pekik Axel
"Cucu menantu nenek baru saja menyakitiku", jawab Axel dengan manja ke neneknya
"Dasar pengadu!", kesal Lea dalam hati
"Lea gadis yang manis, aku tidak percaya kalau dia sengaja melakukannya. Aku yakin bahkan semut sekalipun tidak akan disakitinya", bela nenek
Lea tersenyum puas dan menjulurkan lidahnya ke Axel. Raut wajah Tuan mudanya itu berubah seketika.
"Oh iya, aku hampir lupa. Besok malam ajak lah ayahmu untuk makan malam disini. Kami para orang tua akan membahas persiapan apa saja yang perlu dilakukan"
"Nenek tidak usah cemas, biar aku sendiri yang mengatakan langsung pada ayahnya". Sebelum Lea menjawab Axel mencuri start lebih dulu. Lea sama sekali tidak diberi kesempatan bicara atau pun menjelaskan.
"Tuan aku ingin kita bicara!", ucap Lea
"Ah, ok!", Axel pun menyetujuinya
"Nek, kami pamit ya", Lea mencium tangan nenek Wijaya dengan sopan. Begitu juga dengan Axel
...❤❤❤...
"Tuan menjebakku ya?!", bentak Lea dengan suara tinggi. "Aku tidak menyukai semua ini, menurutku ini konyol!", jelasnya
__ADS_1
"Sebelumnya aku minta maaf, aku pikir karna kamu pengasuh nenek kamu juga paham sama kondisi kesehatan nenek yang sekarang. Ternyata aku salah"
Apa yang Axel katakan barusan membuat Lea merasa bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud begitu", lirihnya
Axel memberikan map biru ke Lea. "Baca semua dengan teliti", perintahnya
Lea membuka map biru itu dan mulai membaca point-poin isi surat didalamnya. "Apa ini semacam nikah kontrak?", tanyanya
"Maybe yes!"
"Aku masih punya mimpi jadi designer", ucap Lea lirih
"Coba baca Point nomor 4!"
"Artinya?"
"Kamu bisa melakukan apapun karena aku tidak memberi batasan", terang Axel
"Termasuk pacaran?"
"Iya, apapun itu"
"Tapi apa boleh aku berpikir-pikir dulu?"
"Silahkan! Aku malah merasa lega jika kau berdiskusi dulu dengan ayahmu dan Dion"
"Aku pasti akan menjelaskan yang sebenarnya pada Dion tapi tidak dengan ayahku, Ayah pernah gagal dalam berumah tangga. Aku yakin dia akan marah besar kalau tau akan hal ini. Ayah pernah bilang kalau dia mau melihat putrinya menikah dan bahagia"
"Atur saja bagaimana baiknya", ujar Axel sambil mengelus kepala Lea. "Lea, aku berharap banyak sama kamu", tegasnya
"Apa Tuan masih menyimpan rasa padaku?"
Pertanyaan Lea sedikit menyengat hati Axel. Dia bingung harus jawab apa. "Cepat sana masuk rumah!", titah Axel yang mencoba mengalihkan pertanyaan Lea
"Ihhh, Apaansih. Jawab dulu", pinta Lea
"Apa kau lupa kalau aku ini CEO, masa disodorin pertanyaan konyol begitu"
"Astaga, Jawab saja apa susahnya sih"
"No!"
"Oh! sudah tidak cinta ya?"
"Eh, maksudnya aku tidak mau menjawabnya"
"Berarti kau masih cinta kan?"
"Sial! bisa-bisanya terjebak sama anak kecil", gumam Axel
__ADS_1
Melihat gelagat Axel yang tidak bisa menjawab Lea pun memberi tantangan kepada Axel. Coba cium aku sekarang!", pintanya