
Sore nan cerah, Mahes dan Yuda mengajak Saka ketemuan di Cafe Melo bersama dengan Arin, Andira beserta Ayuna. Mereka ingin bercengkerama sesaat sebelum berangkat menuntut ilmu ke Jakarta.
"Beneran gak mau bareng Dira?" tanya Mahes sudah ketiga kalinya, melalui telepon.
"Enggak. Nanti kak Mahes minta traktir Terderloin, kan baik kalau ada maunya doang!" ucap Dira, dengan mata fokus pada layar ponsel, lalu tertawa.
"Hahaha, terserah kamu Dira, padahal yang biasa minta traktir siapa? Sampai ketemu di cafe Melo, hati-hati di jalan, " Jawab Mahes sambil tertawa lepas.
"Ya udah deh. Kakak juga hati-hati," Sahut Andira.
Yuda, dan Saka sudah menunggu Mahes di ruang tamu, duduk sambil menikmati camilan yang disediakan Bunda Mahes. Sengaja mereka bertiga akan berangkat bareng menggunakan mobil Yuda, akan menikmati malam minggu terakhir di Toraja. Meskipun sebenarnya masih bisa malam mingguan ketika mereka pulang kampung. Akan tetapi malam ini akan menghabiskan dengan diskusi dengan para pasangan, kecuali Saka yang di temani Ayuna.
"Arin, jadi jemput gak? Aku udah mau berangkat dari rumah Mahes. Tanya Yuda lewat sambungan telepon.
" Maaf Kak Yuda, Arin baru pulang dari ekstrakurikuler jadi sekalian bareng Ayuna saja,"
"Ok, kakak tunggu di Cafe Melo, Hati-hati dijalan bye,"
Segera Yuda siap-siap mengajak temannya segera berangkat, karena sudah tidak ada yang di jemput. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di Cafe Melo, berjalan menuju gerbang halaman cafe yang sudah ramai pengunjung. Menunggu para gadis duduk di kursi panjang yang tak jauh dari gerbang, sambil mainkan gawai game online tembak-tembakan sesekali membuka aplikasi sosial media. Saka terperanjat saat melihat seseorang duduk di di bangku indomaret point yang berada di sebrang jalan. Spontan, Saka menggeser duduk mendekat Yuda sambil berbisik "Eh Yud, itu di sebrang sana Kayla bukan?"
"Mana Bro? Oh ya gadis yang pakai jilbab warna navy itu memang Kayla, terus dia sama siapa Bro?" Celoteh Yuda sambil balik bertanya pada Saka.
"Bodo Amat Yud, mau sama siapa saja sudah bukan urusan aku, terlanjur sakit hati, sesak hanya sekedar melihat dia,"
"Ok Bro, jangan marah aku juga emosi lihat dia apalagi kamu," Jawab Yuda menenangkan Saka.
Saka lalu membuang muka ke lain arah sambil mengepalkan telapak tangan, sepertinya menahan amarah atau dendam. Terlihat sekali jika wajahnya merah, mata elang milik Saka menelisik segala arah, kecuali di sebrang jalan. Kali ini terlihat benar-benar Saka masih mengendalikan emosi, sesekali dia menyentak napas kasar, lalu mendongak menatap langit sore yang sedikit mendung.
"Saka tenang, tenang tahan amarah, karena itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah." Monolog Saka dalam hati.
__ADS_1
Yuda tak ingin melihat Saka tambah emosi, lalu mengajak Saka dan Mahes segera masuk mencari meja kosong sambil menunggu para gadis cantik. Setelah mendapat meja, segera Saka pesan ice lemon tea untuk mendinginkan kepala yang sudah mengepul, menahan amarah. Terlihat sekali dari mata elangnya yang tajam ingin membidik semua orang yang ada di dekatnya. Beberapa kali menarik napas lalu mengeluarkan berlahan.
"Tenang Bro, sekarang mau pesan makanan apa?" Tanya Yuda pada Saka dan Mahes.
"Apa saja, aku ikut." Jawab Saka singkat.
"Tenderloin double Bro, sama kentang goreng," Sahut Mahes sambil tersenyum manis pada Andira yang berjalan menuju meja.
"Ok, semua sama ya, termasuk para gadis cantik,"
Dari pintu masuk tampak tiga gadis manis berjalan mencari seseorang yang sudah menunggunya. Ayuna berdiri, sementara Arin dan Andira segera duduk di samping Mahes dan Yuda. Saka akhirnya bergeser memberi tempat duduk Ayuna dekat dengan Andira, "Silahkan duduk gadis cantik, kak Saka akan geser di samping Yuda,"
"Makasih kak." Jawab Ayuna sambil tersenyum manis lengkap dengan lesung pipi, lalu duduk di sebelah Andira.
Akhirnya pesanan mereka datang, dan siap dinikmati bersama. Selama makan, semua hening tanpa ada yang bicara, rasanya terlalu nikmat serta lezat hidangan yang ada di atas meja. Bahkan Saka tampak lahap sekali mengunyah tenderloin steak seperti orang kelaparan, apa lagi Yuda yang sibuk tanpa mempedulikan Arin yang kesusahan memotong daging. Benar hening, hanya terdengar bunyi sendok, garpu dan pisau yang berderit, sahut menyahut menimbulkan bunyi musik tersendiri.
Melihat sikap Saka yang tengil, kembali hati Ayuna bahagia, berbunga seperti ada kupu-kupu menari. Hanya mendengar suara Saka, dan melirik wajah tampannya, sebahagia itu hati Ayuna. Tidak ada yang paham, dia menikmati momen ini dalam diam. Ayuna memegangi ujung bajunya dengan kedua tangan, menatap pria tengil itu dengan tatapan sendu, seolah tidak ingin berpaling, meski sekedar meneguk minuman.
"Ayuna, kenapa menatap kak Saka sampai seperti itu?" Tanya Andira tidak sopan, sampai membuat hati Ayuna mau copok.
"Tidak kok Dira, itu lo aku lihat cowok yang di depan bawa gitar, " Jawab Ayuna malu-malu sambil menunjuk seorang cowok yang membawa gitar. Ayuna menepuk kepala sendiri, bisa-bisanya menatap kak Saka begini, jadi malu sendiri.
"Kenapa Ay tepuk kepala sendiri? Ada nyamuk atau ada aku dalam pikiranmu?" Sahut Saka menggoda Ayuna.
"Ih, aku suka kalau dengar kak Saka panggil Ayuna, spesial banget sepertinya," Sahut Arin tanpa dosa.
"Emang kenapa Rin?" Tanya Ayuna penasaran.
"Kayak romantis gitu,"
__ADS_1
"Sudah sudah, malah bahas Saka sama Ayuna, terus kak Yuda dicuekin dong... " Sahut Yuda tidak terima dengan Arin yang membahas Saka.
"Eh Arin, kamu tahu tidak kenapa mataku cemburu dengan hatiku ?" Tanya Yuda pada Arin sedikit menggoda sambil menatap gadisnya.
"Apa ya kak? Arin tidak paham."
"Itu karena kamu selalu dekat di hati dan sebentar lagi jauh dari mataku, kita akan LDR," Sahut Yuda tertawa cengengesan.
"Wah Yuda sudah mulai nih, ayo Mahes giliran kamu," Celoteh Saka.
"Dira, kamu tahu tidak perbedaan kamu dengan jarum jam?" Tanya Mahes pada Andira sambil tersenyum manis, menatap wajah ayu Andira.
"Apa ya kak? Mungkin kalau jarum jam kurus kalau Dira gemuk," Jawab Andira meraba-raba.
"Hehehe, bedanya kalau jarum jam muterin angka, tapi kamu muter-muter di pikiran aku," Sahut Mahes sambil tersenyum.
"Ayo sekarang giliran Saka,"celoteh Yuda mengejek sahabatnya.
"Ampun ampun, maaf Bro kali ini Saka tanya pada Yuda dan Mahes ya, silahkan disimak. Kenapa mencintai itu seperti narkoba?"
"Apa ya... Aku menyerah," Jawab Mahes singkat.
"Wah aku tahu, karena mencintai itu bikin candu," Sahut Yuda sambil tersenyum penuh percaya diri.
"Mendekati Bro, lebih tepatnya sekali coba bikin candu, tidak dicoba bikin penasaran, kalau ditinggalin bikin sakaw, hahaha betul tidak?" Sahut Saka memberi penjelasan pada semua yang menaruh rasa penasaran.
Mereka semua tertawa, berbagi kebahagiaan meskipun kali ini Saka masih memilih jomblo. Lanjut diskusi cerita dari sabang sampai merauke, dari utara sampai selatan. Sampai jam sembilan malam, masih enggan rasanya untuk berpisah, padahal esok hari Saka, Mahes dan Yuda harus berangkat ke Jakarta. Pemuda itu akan memulai hidup untuk masa depan. Akhirnya mereka semua mengucapkan sampai ketemu kembali semoga masih dalam formasi yang sama ya...
Bersambung
__ADS_1