
Ayuna tidak bisa tidur setelah pembicaraan siang tadi dengan Yesi. Gadis aktivis kampus itu ternyata sangat mencintai Saka sejak awal masuk di Fakultas Kedokteran. Ayuna merasa jika akan segera kehilangan laki-laki yang dicintai sejak SMP. Namun, hati kecilnya merintih, memohon kepada Allah Sang Pembolak-balik Hati agar Saka bisa melunak dan bisa membalas cintanya. Meskipun entah kapan itu akan terjadi, Ayuna masih berharap besar, karena penantian sudah lebih enam tahun.
Gadis itu takut jika Saka akan masih seperti dulu, hanya spesial dalam memanggil dirinya, selebihnya tetap dingin, cuek dan tidak peduli. Jika benar kalau Saka sedekat itu sama Yesi, maka akan memorakporandakan yang bernama sekeping hati milik Ayuna. Apa masih kurang sabar, menunggu sejak SMP, apa kurang berkorban kalau mencintai dalam diam.
Ayuna berharap bisa minta tolong pada sahabatnya, tapi nyatanya masih sama, belum ada kemajuan dalam hubungannya dengan Saka. Atau mungkin Saka masih trauma dengan kisah cintanya bersama Kayla, padahal dia pemuda yang cuek, tengil dan dingin. Tidak semestinya merasakan trauma sampai berkepanjangan atau karena alasan keluarga. Tidak cukup itu, Kak Mahes dan Kak Yuda juga ikut membantu atau Yesi yang merupakan perempuan yang menjadikan Saka sulit membalas cinta Ayuna.
Malam yang mulai bertambah pekat, menemani Ayuna yang kehilangan semangat. Dia mulai berbaring, menatap langit kamar yang berwarna biru tampak teduh. Air matanya kembali menetes membasahi bantal. Mengingat perjalanan cintanya yang tak kunjung bersatu.
Cukup lama gadis itu terus meratapi nasib. Hingga akhirnya, mata indah itu terpejam karena perih akibat terlalu lama menangis. Dia tidur dengan rasa yang tak lagi sama. Dia takut jika saat bangun esok hari, sikap Saka akan lebih tak acuh lagi.
***
Sementara di rumah kontrakan Saka, Mahes dan Yuda masih asik cerita tentang para gadisnya. Perjalanan wisata siang itu membuat mereka tampak lebih dekat bisa memahami satu sama lain. Akan terus saling mendukung dalam memperjuangkan cita-citanya. Hanya Saka yang masih setia dengan status jomblonya.
"Saka, kenapa dirimu tidak segera memutuskan Ayuna atau Yesi? Mereka berdua sudah setia menanti cinta sang Arjuna, bahkan Ayuna sudah enam tahun menanti." Tanya Yuda dan Mahes bersamaan.
"Entah Bro, Yesi baik, cantik dan cerdas tapi hati ini belum nyaman, terus Ayuna manis, cerdas dan setia. Namun masih sedikit trauma perjalanan cinta diriku." Jawab Saka sambil menatap kedua sahabatnya.
"Bro, itu dulu sekarang sudah waktunya menentukan pilihan, ikuti kata hati InsyaAllah tidak akan pernah salah," Sahut Yuda memberikan penjelasan sambil tersenyum.
"Itulah, kalau bicara hati sepertinya lebih nyaman bersama Ayuna, dia baik banget anaknya sabar mencintai dalam diam. Namun, aku masih belum yakin Bro,"
"Nah itu Bro, hati sudah memilih tinggal sedikit memupuk keyakinan saja. Tenang kesempatan ini Little Dad akan segera menemukan Little Mom," Sahut Mahes sambil tersenyum cengengesan.
"Iya, tadi pas lihat Ayuna menatap kamu dari belakang, sorot matanya tampak jelas cinta Ayuna dalam banget." Celoteh Yuda memberikan dukungan pada Saka.
"Makasih Bro, kalian berdua sahabat terbaik, pasti akan segera aku pikirkan. Lebih tepatnya akan istikharah biar lebih mantap dan tidak salah langkah."
Mahes dan Yuda menepuk punggung Saka bersamaan, memberikan dukungan penuh. Mereka bertiga tertawa bersama, sambil menyesap kopi hitam sebagai teman begadang malam ini. "Nikmat banget rasanya Kopi Toraja memang tiada duanya." Celoteh Yuda sambil menyesap kopi hitam khas tanah kelahiran.
"Jelas Bro, memang Andira pengertian sekali membawakan Kopi Toraja ini," Sahut Mahes memuji pacarnya.
"Eh jangan salah Bro, Ayuna juga membawakan Kopi Toraja buat diriku," Sahut Saka tidak mau kalah memuji Ayuna.
"Nah itu Bro, sudah tahu kalau Ayuna pengertian, baik, manis dan setia, terus masih kurang apa itu Ayuna?" Tanya Yuda menggebu.
Para pemuda itu akhirnya menatap langit malam ini yang begitu indah, bintang-bintang bertaburan, sinar rembulan juga terang memberi warna kehidupan. Melihat ke bawah juga tampak indah lampu-lampu kota dari balkon lantai dua rumah kontrakan ini.
"Sana tidur, katanya mau istikharah, biarkan kami berdua yang menikmati malam minggu." Celoteh Yuda mengusir Saka.
"Kan tidak harus sekarang juga Bro, malam ini tetap milik kita bertiga begadang malam minggu sambil kerja tugas laporan praktikum." Jawab Saka singkat.
"Lebih cepat akan lebih baik, biar Little Dad segera menemukan pasangan." Sahut Mahes meledek Saka, sambil menjulurkan lidah.
"Asem Bro, Saka jomblo juga baru tiga tahun, lihat Galang jomblo sejak lahir sampai sekarang hahaha,"
"Dasar Little Dad bisa aja cari alibi," Sahut Yuda sambil berdiri jalan ke dalam ruang TV buat ambil gitar.
Tragedi yang dialami Saka itu memang sangat di luar dugaan, menyisakan rasa trauma untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Apalagi baru beberapa bulan lalu dia dapat telepon dari SMA Cipta Bangsa kalau Kayla datang ke sekolah bersama komnas HAM dan Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak. Mereka menuntut keadilan sekolah dalam kasus Saka dan Kayla. Namun, akhirnya dapat diatasi oleh sekolah.
"Jangan diingat lagi kejadian yang lalu. Ayuna itu sudah sangat sabar menghadapi dirimu Bro," Celoteh Mahes, menghentikan lamunan Saka saat menatap langit malam yang pekat.
__ADS_1
"Santai Bro, cuma teringat kasus dulu,"
"Tidak perlu diingat Bro, jadikan pelajaran saja buat masa depan." Sahut Yuda singkat.
ahh… capek, Saka menghempaskan tubuh di atas sofa bed kesayangan yang berada di ruang TV. Hari ini Sungguh hari yang sangat melelahkan buat Saka, bukan hanya secara fisik. Tapi juga secara emosionl benar-benar terkuras mengingat enam tahun Ayuna mencintai dalam diam, dan mengingat Yesi gadis yang selalu peduli padanya. Rasanya Saka benar-benar terkena dilema seperti yang dirasakan kebanyakan pemuda labil jaman sekarang.
“akkhhh..!” Saka mengacak rambut hitamnya frustasi. Ayuna..? bullsh*t jika kukatakan aku tak lagi mengharapkannya. Mungkin aku sudah sedikit tertarik dengan gadis pemilik senyum manis yang akhir-akhir ini memenuhi otakku. Namun kenyataannya tetaplah sama, menghapus rasa trauma tidaklah semudah menghapus tulisan di papan tulis. Jangankan dalam waktu semalam saja, bahkan bertahun-tahun pun tidaklah mudah. Sampai detik ini Saka masih belum yakin dengan perasaannya.
Masalah ini benar-benar membuatku nyaris gila. Perlahan kucoba menutup mataku, berharap rasa kantuk akan menghapus setidaknya untuk sementara masalah yang membebaniku ini. Ya allah, tunjukanlah jalan terbaik untuk hamba ini. Agar kelak aku tak menyesal dengan keputusan dan langkah yang kutempuh nanti. Jujur aku bukanlah pemuda kuat seperti superman, sekuat-kuatnya aku menahan sakit ini, toh juga akan ada saatnya dimana aku tak bisa lagi menahannya.
Saka kembali mengacak rambut frustasi, menatap Yuda dan Mahes sedang menyanyi di balkon. Kembali keluar, menyesap Kopi Toraja, menikmati malam sambil ikut menyanyi lagu surat cinta untuk Starla.
Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini
Aku slalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini
__ADS_1
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Dan tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Hidupku
Hidup dan matiku
Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci
Ku kan tetap disini
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Karena tlah kuhabiskan
sisa cintaku hanya untukmu
Menyanyikan lirik lagu tersebut secara berulangkali, sesekali menyesap kopi lalu makan kue tori khas Toraja yang dibawakan Arin. Sudah lama sekali tiga tahu tidak pulang kampung, demi meraih mimpi, menjadi dokter handal bagi Mahes dan Saka, menjadi arsitektur mahir bagi seorang Yuda.
Saka masuk ke dalam, menjatuhkan tubuh di sofa, kembali memejamkan mata agar malam ini bisa melaksanakan sholat istikharah. Ingin segera menentukan pilihan agar tidak menyakiti dua gadis secara bersamaan.
Bersambung
__ADS_1