
Tiga tahun kemudian, Ayuna, Arin dan Andira menyusul ke Jakarta. Pertama datang di kampus Ayuna sempat menjadi pujaan para kakak tingkat. Saat kegiatan penerimaan mahasiswa baru, Ayuna terlihat begitu cerdas. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Fakultas Kedokteran merasakan perasaan haru, was-was dan rasa bahagia bercampur menjadi satu. Saat ini Ayuna mengumpulkan niat harus bersungguh-sungguh menggapai cita-cita menjadi Dokter karena tuhan telah memberikan kesempatan emas ini untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya.
Perkenalkan namaku Ayuna, dan teman-teman biasa memanggil Yuna, kecuali seseorang memanggilku Ay. Ayuna keterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melalui jalur undangan. Sejak hari pertama kuliah, dia melihat sesosok pria yang begitu tampan, cinta dalam diamnya, misterius, dan tentunya sangat dingin. Semakin hari rasa penasaran tentangnya semakin kuat hingga akhirnya Ayuna tahu kalau sosok pria yang menjadi idola selama ini masih jomblo setelah tiga tahun berpisah. Dia yang bernama Saka, terkenal sebagai calon dokter bertangan dingin, selain pintar dia juga aktivis dan mengikuti beberapa organisasi. Selain itu Saka sangat pandai bermain gitar, sehingga dia menjadi lelaki pujaan gadis kampus.
Saka masih tetap sama, dia satu kelas dengan Mahes, saling berkompetisi meraih prestasi dan masih juga bersahabat dengan Yuda meskipun beda fakultas. Karena Saka dan Mahes aktivis kampus akhirnya mendapat ruang bertemu dengan Ayuna, saat mereka menjadi panitia kegiatan seminar nasional. "Hai Little Dad, masih ingat saya?" Tanya Ayuna sambil tersenyum manis.
"Hai Ay, kamu masuk kedokteran juga, kenapa tidak pernah kasih kabar?" Sahut Saka balik bertanya pada Ayuna.
"Iya kak, ternyata masih ingat dengan saya," Jawab Ayuna singkat.
"Waow, sepertinya takdir mengantarkan jodoh kita Bro," Celoteh Mahes ikut memberikan respon pada Ayuna.
"Kak Mahes, tahu kan kalau Andira dan Arin juga kuliah di UI?"
"Tidak tahu,"
"Memangnya Dira tidak kasih kabar?"
__ADS_1
"Tidak Yuna, berarti kalian bertiga tinggal di satu rumah kontrakan? Kapan-kapan bisa mampir?" Sahut Mahes.
"Iya kak, kayaknya disengaja mau kasih surprise. Silahkan kalau mau mampir kami tinggal di perumahan Delima blok U No 4," Jawab Ayuna sambil memberi alamat.
Saka hanya memperhatikan interaksi Mahes dan Ayuna, sampai akhirnya dia merasakan, ada yang berbeda dengan rasa hatinya sangat kencang dan lidah Saka kelu bahkan sangat sulit mengendalikan detak jantungnya yang jumpalitan. Hingga memutuskan untuk segera memejamkan mata sambil menarik napas dalam, berharap mendapatkan ketenangan. Ya Tuhan anak itu masih sama seperti Mahes dan Yuda selalu memanggilku Little Dad.
Semakin lama terpejam, justru semakin kencang debaran dada Saka, menatap wajah manis Ayuna dengan mata teduh, cukup membuat sedikit tenang. Saka travelling mengingat cara Ayuna mencintai dalam diam, bahkan dia tidak pernah sakit hati dengan perlakuan Saka yang cuek. Gadis itu selalu tenang dalam perilakunya, tidak pernah agresif.
"Hai kak Saka, Ayuna mau tanya dong, bagaimana kuliah di kedokteran?"
"Kuliah di Fakultas Kedokteran selain diajarkan mengenai ilmu saintik, juga diajarkan mengenai ilmu sosial dan seni serta mendapat Latihan Dasar Kader (LDK), Tak hanya diLatih Dasar Kader sampai Seniorita dan jiwa kebersamaan/kesejawatan, namun juga mendalami tentang humaniora dan Etika kedokteran, ini membuat pendidikan dokter itu seru, sebab sudah mencakup semua ilmu bahkan ilmu agama pun sangat dijunjung tinggi." Celoteh Saka panjang lebar memberikan sedikit pengetahuan kuliah di Fakultas Kedokteran.
"Sama-sama Ay, itu tadi Mahes kemana?" Tanya Saka, setelah menyadari kalau dia ditinggal begitu saja oleh sahabatnya.
"Oh, katanya ada praktek kak,"
"Astamat, iya aku juga ada praktek, sontoloyo itu anak main pergi saja, duluan Ay bye,"
__ADS_1
Saka pamit pada Ayuna dan pergi menuju tempat praktek hari ini. Sampai di dalam ruang praktek, sudah terlambat lima menit gara-gara melamun menatap wajah Ayuna yang teduh. Praktek hari ini kami tidak hanya diajari tentang penyakit, pemeriksaan, ataupun pengobatan, tapi juga diasah tentang kemampuan berkomunikasi dan membina hubungan dengan pasien. Hal ini menjadi penting karena dokter tidak berhadapan dengan mesin seperti seorang teknisi, namun berhadapan dengan seorang manusia dengan berbagai kepribadian dan keunikannya. Tapi, dokter juga tidak asal berkomunikasi, dia tetap dituntut untuk selalu mengasah otak demi kesembuhan pasiennya (salah satu tugas wajib dokter adalah belajar sepanjang hayat).
Saka teringat dengan firman Allah “…dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku” (QS. Asy-Syu’araa: 80). Lalu dia bertanya pada dosen yang memberikan kuliah praktek “Dok, berhubungan dengan surat Asy-Syu'araa ayat 80, Apakah seorang dokter bisa menyembuhkan penyakit?”
"Tidak Saka, firman Allah itu yang benar, seorang Dokter tidak bisa menyembuhkan penyakit karena dokter bukanlah Tuhan, namun dokter adalah seorang manusia yang sudah menghabiskan waktu untuk belajar berbagai penyakit dan pengobatan selama bertahun-tahun. Dengan demikian, dokter diharapkan mampu menerapkan keilmuannya untuk berikhtiar menjadi perantara kesembuhan dari Allah untuk pasien. Dokter juga tidak hanya berperan untuk mengatasi berbagai keluhan yang dirasakan pasien, lebih dari itu, dokter berperan untuk memanusiakan manusia. Tugas utama dokter tidak hanya sekedar menyembuhkan atau menghilangkan keluhan, tugas utamanya adalah memberikan kehangatan dan ketenangan; to cure sometimes, to relieve often, to comfort always. (hippocrates)" Penjelasan dosen panjang kali lebar kali tinggi sehingga membuat Saka menganggukkan kepala.
Selesai memberikan penjelasan pada Saka, dokter yang menjadi dosen tersebut mengajak para mahasiswa melakukan praktek anatomi tubuh dengan kadaver (mayat yang diawetkan). Praktikum anatomi ini keren sebab bisa belajar setiap organ secara detail mulai dari kulit luar hingga pembuluh darah setipis senar gitar yang mengalirkan darah ke jantung, kesan yang Saka dan Mahes dapatkan selama mempelajari manusia-manusia awet dan potongan-potongan anatomi tubuh cukup bervariasi, perasaan ngeri jelas ada, bagaimanapun juga potongan tangan, kaki, kepala, dan bagian tubuh manusia lainnya bukan merupakan pemandangan yang umum ditemukan sehari-hari. Memang keren belajar di Fakultas Kedokteran, benar harus serius karena akan berhubungan dengan pasien.
Usai praktek berakhir, Mahes mengajak Saka singgah di rumah kontrakan adik kelasnya. "Bro, mampir di tempat Dira mau?"
"Boleh Bro, lama kita tidak membuat gombalan sama mereka, telpon Yuda dulu biar tambah rame," Jawab Saka serius.
"Assalamu'alaikum Bro, ada kuliah tidak? Kalau kosong kita mampir di rumah kontrakan adik kelas mau?" Celoteh Mahes ketika sambungan telepon diangkat dari sebrang.
"Kosong Bro,"
"Ok, aku kirim lewat chat alamatnya," Sahut Mahes sambil mematikan telepon lalu mengirimkan alamat kontrakan Dira.
__ADS_1
Mahes menarik tangan Saka untuk segera mengikuti langkahnya menuju parkiran Kampus. Mereka masuk dalam mobil jazz warna putih milik Saka, melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota lewat Jalan Margonda Raya Pondok Cina Depok, masuk gerbang perumahan delima muter-muter mencari alamat tujuan.
Bersambung