Little Dad Is A Doctor

Little Dad Is A Doctor
Ketemu Adik Kelas


__ADS_3

Kota Depok sore hari, tampak cerah dengan pemandangan langit biru nan indah. Enam mahasiswa asal Toraja bertemu dalam suasana bahagia. Saka, Mahes, Yuda, Ayuna, Arin dan Andira tertawa penuh haru seolah ketemu saudara di kota metropolitan ini. Nostalgia masa SMA membuat semakin seru, ditemani sepiring tempe goreng dan teh hangat, membuat suasana tambah menggebu. Cerita pertemuan terakhir mereka di cafe Melo menyisakan rasa sakit bagi salah satu dari mereka. Namun, justru dia menikmati cinta dalam diamnya.


"Kak Saka, sore ini Arin mau tanya, menurut kak Saka Ayuna cantik tidak?" Celoteh Arin pada Saka.


"Umm, cantik manis dan cerdas," Jawab Saka sesuai fakta.


"Terus Kak Saka suka?" Sahut Andira.


"Waow, suka dalam arti apa ya...?"


"Maksudnya cinta gak sama Ayuna?" Sahut Arin sambil senyum penasaran.


"Waduh, gimana ya, kalau urusan cinta biar hati yang memilih, Itu kata Yuda." Jawab Saka tersenyum sambil menatap Yuda.


"Yup, betul betul betul, jika hati belum memilih jangan pernah bilang cinta," Sahut Yuda mendukung penjelasan Saka.


"Itulah, suatu hari nanti, pasti Little Dad akan menemukan Little mom," Celoteh Mahes sambil tertawa cengengesan.


Saka diam sambil menatap Ayuna yang menunduk, tampak sekali gadis itu malu-malu. Sampai akhirnya tatapan mata mereka berdua bertemu sesaat. Jelas sekali jika detak jantung Ayuna jumpalitan ketika menatap Saka, namun kembali gadis manis itu, menyembunyikan perasaan. Dia justru mengalihkan tema cerita tentang masa penerimaan mahasiswa baru.


"Kak, pas acara MABA kok kita tidak ketemu ya, padahal saya dengar waktu pengenalan panitia ada nama Kak Saka dan Kak Mahes, terus kalian kemana?" Tanya Ayuna sambil senyum.


"Oh, Saka ikut acara mahasiswa berprestasi, terus aku ada kegiatan di UKM penelitian, pasti kamu cari Saka ya? Jawab Mahes sambil meledak Ayuna.

__ADS_1


"Hehehe iya pas kegiatan, aku cari kalian berdua,"


"Ups! Cari kami atau cari Saka?"


Ayuna tidak menjawab, dia memilih berpaling muka, lalu menatap langit yang tampak cerah sore ini. Sesekali Ayuna melirik Yuda dan Arin yang masih asik ngobrol bincang-bincang masa depan. Lanjut tengok kanan mencuri pandang ke arah Saka, menikmati cintanya. Lalu kembali menatap langit indah, traveling memikirkan suatu hari nanti bisa jadian dengan Saka.


Ayuna merasa alangkah baiknya jika mereka bisa berteman akrab. Ayuna juga penasaran dengan pacar teman-temannya, meskipun sudah saling kenal, namun bisa mengenalinya lebih dekat lewat triple date. Semua sifat mereka yang protektif terhadap teman baik, memudahkan Ayuna dalam mengobservasi dan menilai. Karena sudah terlalu sering mereka berkumpul atau kencan, dan aku merasa hanya sebagai pendamping saja buat menemani Kak Saka, tapi tiap triple date, aku bisa merasakan perasaan cinta. Cinta pertamaku pada pandangan pertama pada Kak Saka sejak dari SMP.


Akan tetapi yang Ayuna rasakan, sepertinya bertepuk sebelah tangan, dari pandangan Kak Saka seperti cuek, datar tanpa rasa cinta. Hingga pertemuan kembali di jakarta, masih belum ada perubahan, Saka hanya memandang Ayuna sebagai adik kelas, tidak lebih. Berbeda dengan Yuda setelah sekian lama tidak bertemu, tampak binar bahagia di matanya bahkan sejuta rayuan untuk Arin juga terdengar dari mulut manisnya.


"Hai Arin, ketika kamu di Toraja dan aku di jakarta, tampak jarak kita bagai Matahari dan Pluto saat ephehelium. Namun amplitudo gelombang hatimu berintervensi dengan hatiku, tiap waktu." Celoteh Yuda pada Arin sambil tersenyum jahil.


"Bisa saja kak Yuda," Sahut Arin.


"Masih ada lagi Arin, kalau kamu adalah bumi, maka aku adalah atmosfernya. Dengan begitu setiap saat bisa melindungi kamu dari sakitnya serangan meteor dan komet."


"Kometnya para teman cowok dan meteornya para penggemarmu," Sahut Yuda asal.


"Ayo sekarang saatnya Mahes beraksi," Celoteh Saka sambil mencubit lengan Mahes.


"Kan aku realistis, tidak suka ngegombal kayak Yuda," Tutur Mahes mengejek Yuda.


"Biarin, yang penting Arin bahagia," Jawab Yuda sambil menjulurkan lidah didepan Mahes dan Saka.

__ADS_1


Akhirnya mereka berenam tertawa lepas, menyesap teh hangat sambil makan tempe goreng. Merencanakan pergi bareng buat mengenal kota Jakarta lebih jauh, sekalian ingin merasakan kuliner ala betawi yang sering terdengar dan belum pernah menikmati. Arin penasaran sama kerak telur, kalau Andira penasaran dengan laksa, sedangkan Ayuna cuma diam ingin ikut saja daripada sendirian di rumah.


"Ay, kamu pingin coba makanan apa?" Tanya Saka memecah keheningan Ayuna.


"Saya ikut saja kak, ingin coba semuanya hehehe"


"Ok, berarti besok pagi kita mulai wisata pantai Ancol, Dufan, TMII dan sore kita akan keliling kota lama, bagaimana Bro?" Tanya Saka pada Yuda dan Mahes.


"Rute ikut yang punya mobil," Jawab Mahes santai sambil tersenyum memandang Andira.


"Eh maaf, tapi mobil tidak cukup kalau pergi berenam," Sahut Saka.


"Wah tapi kurang seru kalau perginya terpisah, terus enaknya bagaimana?" Sahut Yuda sambil balik bertanya pada Saka.


"Umm, nanti mobil coba saya tukar sama mobil Yesi, siapa tahu anak itu tidak pergi." Jawab Saka.


"Pasti bisa Bro, apalagi kamu yang tuker," Sahut Mahes.


Ayuna tampak beringsut, membuang muka, dia merasakan dadanya tiba-tiba sesak hingga kesulitan bernapas. Jelas sekali, gadis itu menarik napas lalu membuang secara berlahan. Padahal hanya mendengar nama Yesi, dia belum mengenalnya. Namun, rasa sakit itu begitu menusuk hati, ketika yang menyebut nama itu Saka.


Hati Ayuna diliputi rasa cemburu tatkala mendengar nama Yesi disebut, apalagi melihat mereka jalan bareng, pasti semakin hancur. Gadis itu tiba-tiba mengingat kakak tingkat yang bernama Yesi, sepertinya dia juga aktivis kampus, yang pernah jadi moderator saat kegiatan MABA. "Mbak Yesi gadis yang cantik, juga cerdas, pasti dia idola kak Saka," Monolog Ayuna dalam hati.


Kembali lagi Ayuna memberi semangat pada dirinya sendiri, bahwa cinta tak pernah membutuhkan alasan, maka tidak perlu risau, cinta juga akan tetap hadir secara misterius. Datang tanpa pernah diduga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kita tak pernah tahu seberapa besar ia akan membuat hidupmu bahagia. Menatap langit beberapa saat, kembali pada keyakinan hati bahwa Saka pilihannya. Maka, akan selalu diperjuangkan, sampai suatu saat nanti akan terbukti.

__ADS_1


Bertahun tahun lamanya aku menunggu, terus menjaga cinta ini, dan berharap dia akan melihat kesempurnaan cinta Ayuna pada Saka. Jika masih konsisten dengan kesabaran pasti akan membuahkan hasil, pengorbanan akan memberikan harapan. Jika enam tahun lamanya, mampu mencintai dalam diam, pasti akan indah pada waktunya. Langit tidak selamanya mendung, akan ada cerah juga. Cinta tidak selamanya diam, pasti akan terbalaskan juga.


Bersambung


__ADS_2