
Enam tahun kemudian, akhirnya hari yang dinanti-nanti oleh Saka datang juga. Hari dimana dirinya nanti akan resmi dilantik dan disumpah profesi sebagai seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Hari dimana impian dan cita-citanya terwujud. Segala perjuangan serta usaha kerasnya selama beberapa tahun seakan terbayar lunas sudah untuk hari ini.
Saka bersama Ayah dan Bunda beranjak memasuki gedung dan menempati tempat sesuai dengan nomer yang ditetapkan. Saka duduk di barisan terdepan bersama dengan rekannya dokter spesialis yang akan menjalani prosesi penyumpahan. Sementara Ayah yudistira dan Bunda dipersiapkan duduk di barisan orang tua dan wali yang berada di belakang para dokter.
Keluarga yang lain beserta teman-teman Saka hanya bisa mengikuti prosesi pengambilan sumpah di pelajaran gedung dengan menyaksikan lewat layar besar. Meskipun demikian tidak mengurangi rasa khusuk prosesi tersebut.
Acara ini sangat sakral dilakukan dengan seksama dan hidmat. Satu persatu nama dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang akan dilantik,dipanggil untuk maju ke tengah ruangan. Nama, gelar, tempat tanggal lahir, nama orang tua serta asal daerah mereka pun di sebutkan satu persatu sebagai tanda kehormatan.
Pembawa acara prosesi meminta hadirin untuk berdiri sesaat menyanyikan lagu Indonesia raya. Selanjutnya acara pengambilan sumpah dokter spesialis, dengan pembawa acara kemudian memperkenalkan salah satu perwakilan dari dokter yang bertugas untuk membacakan ikrar sumpah mereka yang akan diikuti oleh rekan-rekannya.
"Kepada dr. Saka Alfa Yudistira spesialis jantung dan pembuluh darah, silahkan mengambil posisi."
Saka melangkah mengambil posisi dengan di ikuti beberapa pemuka agama dari berbagai agama yang dianut oleh dokter peserta sumpah menghampiri barisan, mengambil posisi dan menyodorkan kitab suci yang akan menjadi saksi. Kemudian suasana hening sesaat acara pengambilan sumpah dimulai. Saat kalimat terakhir yang diucapkan Saka "Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertahankan kehormatan diri saya," semua terharu, menangis bahagia lalu melakukan sesi acara foto bersama.
Usai acara pengambilan sumpah profesi, Saka dan keluarganya segera berkemas untuk terbang ke tana Toraja. Ayah, Bunda dan sakti cuma ambil cuti tiga hari, sehingga harus segera kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan aktivitasnya. Apalagi Sakti akan segera melangsungkan pernikahan bersama kekasihnya. Kebetulan Saka juga ambil cuti satu pekan untuk menumpahkan kerinduan pada kota asalnya, dan akan menuntaskan ibadah diri Saka untuk menghalalkan Ayuna.
***
Sampai di Toraja, Saka langsung di sambut oleh Ayuna, Mahes, Yuda, Arin dan Dira. Mereka semua ingin mengungkapkan kebahagiaan sudah berhasil dalam studinya. Namun mereka semua tidak bisa healing mengenang Tana Toraja dengan segala keindahannya.
Rencananya pagi hari ini Saka akan berjuang dalam perang kemerdekaan menghadapi seorang Jenderal panglima tentara Kodim Hasanudian Bapak Arya.
"Lima menit lagi, kita berangkat ke rumah kamu Ay, aku mau ketemu papa kamu,"
"Hah, jangan bercanda kak,"
"Kok bercanda sih? Aku serius ini"
"Beneran kamu mau menghadapi papa?"
"Iyalah, ngapain ditunda-tunda, sudah lama kekasih dianggurin, dicuekin, berjuang koas sendiri dan diriku berjuang residen sendiri hahaha..." jawab Saka tertawa cengengesan
__ADS_1
"Takutnya kamu gak siap pas di intrograsi papa." Sahut Ayuna dengan wajah penasaran.
"Udah,kamu tenang aja Ay, biar aku juga secepatnya halalin kamu."
"Hah... halalin?" Ayuna mengerjapkan kedua matanya demi mendengar ucapan saka yang seperti sangat serius.
"Iya, biar kita bisa secepatnya nikah. Kamu cukup berdoa saja, biar aku bisa pulang dengan selamat. Biar pulang tidak tinggal nama saja!" Saka menambahkan dengan nada menggoda.
"Enak aja! Memang papa binatang buas?" Ketus Ayuna tidak terima.
"Bukan binatang buas sih, lebih tepatnya mau ketemu papa kamu itu kayak mau berangkat Perang,"
"Hahaha ada-ada aja Kak Saka, Perang mahabarata ya?"
"Hemmm bukan. Lebih mirip Perang kemerdekaan untuk melawan kompeni Belanda, dan aku bersenjatakan bambu runcing."
"Kasihan banget sih." Ayuna menggoda sambil tertawa renyah.
"Emang kasihan banget, karena papa kamu bersenjata Bazoka, aku cuma bawa bambu runcing dan satu lagi..."
"Cinta. Aku bawa cinta seluas cakrawala buat kamu."
"Idih gombal, sebentar aku telepon papa dulu kalau kamu mau ketemu."
Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sampai di halaman rumah Ayuna. Segera keluar dari mobil inova warna hitam milik Sakti yang dipinjam Saka mengantar Ayuna, turun dan siap menemui calon mertua.
"Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam saka, ayo masuk katanya mau ketemu papa Ayuna!" Jawab papa dan mama ayuna yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Iya Om, Saka ingin silaturahim agar lebih dekat dengan om dan tante," jawab Saka singkat.
__ADS_1
"Ok, katanya Saka sudah selesai pengambilan sumpah dokter spesialis? Sekarang kerja dimana?"
"Alhamdulillah om, Saka sejak residen sudah kerja di poliklinik dan beberapa rumah sakit di Jakarta."
"Terus kamu sama Ayuna itu gimana?" Jenderal Arya memulai pertanyaan utama tentang hubungan Saka dan putri bungsunya.
Eng ing eng! Ini dia perangnya dimulai! Saka menarik napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya. Sedikit grogri menghadapi pak tentara yang sudah biasa perang di medan pertempuran, sedangkan Saka baru akan mulai.
"Gimana ini maksudnya apa ya om?" Saka menanyakan maksud pertanyaan Papa ayuna. Dia takut salah jawab bisa kena senjata bazoka.
"Apa kamu serius akan hubunganmu dengan Ayuna?"
Pak Arya memperjelas pertanyaan langsung tepat sasaran bagaikan tembakan mematikan. Dia juga memindai penampilan saka dengan lebih seksama. Saka anak muda yang berpenampila menawan,sopan, tampan dan cerdas. Perawatan tinggi tegap, kulit putih, rambut hitam legam cara berpakaian rapi serta dia seorang dokter spesialis, calon menantu idaman.
"Tentu saja saya serius dengan Ayuna om," Saka menjawab setelah menarik napas dalam.
"Terus kamu punya apa?"
Ups! Ini pertanyaan apalagi coba? Gawat darurat.
"Hem, saya punya pekerjaan dan punya cinta. Jika om mengijinkan hari ini saya akan melamar Ayuna. Akan saya jaga Ayuna seperti Om dan Tante menjaganya, akan aku bahagiakan dia."
"Kami sebagai orang tua hanya bisa memberi restu, kalau Ayuna mau ya silahkan." Jawab pak Arya penuh wibawa.
"Bagaimana Ay? Tanya Saka dengan hati dag dig dug dan penasaran, sambil menatap Ayuna penuh iba.
"Mau pa," jawab Ayuna dengan senyum manis
Saat itu juga saka berloncat kegirangan "asik, diterima semoga segera bisa dihalalin." Tersenyum malu ketika sadar ditatap lekat oleh calon mertua.
"Sebaiknya segera bawa orang tua kamu Saka, biar lamarannya serius." Sahut mama Ayuna
__ADS_1
"Siap tante, secepatnya Saka akan mengajak keluarga silaturahim."
Dalam ruang tamu keluarga Ayuna tampak penuh bahagia, senyuman merekah menyambut hari bahagia akan datang bersama dengan sejumlah uang panaik dari Keluarga Yudistira. Apakah selanjutnya akan lebih mudah jalan untuk Ayuna ?